
Gus Sofyan mendekat ke arah brankar. ia tak memperdulikan luka yang ada di tubuhnya, memar yang ada di pipi dan darah yang keluar dari sudut bibitnya
"Erina, kamu sudah sadar? apa ada yang sakit?" ucap Gus Sofyan khawatir
"biar Lia panggil dokter" ucap Lia lari keluar ruangan untuk memanggil dokter
Ririn tersenyum tipis dan mengangkat tangannya. tangan Ririn menunjuk dada Gus Sofyan "Abi yang sakit" lirihnya
Gus Sofyan menggeleng "nggak sayang, abi nggak sakit..Abi nggak papa" ucap Gus Sofyan meneteskan air matanya
"Ririn nggak papa" ucap Ririn lemah
tak lama kemudian datang dokter bersama dengan satu perawat. mereka langsung memeriksa kondisi Ririn
dokter Anya tersenyum manis ke arah semua orang di ruangan itu "di luar dugaan kami, pasien pulih lebih cepat dari biasanya. mungkin juga karena di bantu oleh baby baby di dalam" ucapnya
"Alhamdulillah" ucap semuanya serempak
"jadi Ririn sudah pulih dan bisa melakukan perawatan dengan normal dok?" ucap Vreya
dokter Anya mengangguk dan tersenyum "untuk ke depannya tolong tidak beramai ramai seperti ini ya, jika menjenguk. karena kini pasien sudah bisa melakukan proses pemulihan, jadi tak baik jika harus membuat ruang menjadi lebih kecil" jelas dokter Anya
"baik dok baik. kami akan segera pulang. jika pasien masih membutuhkan lebih banyak ruang, saya akan beli rumah sakit ini" ucap Lia yang mengundang kekehan dari semua orang
"baiklah kalau begitu, saya permisi dulu" ucap dokter Anya tersenyum manis
"terima kasih dok" ucap Deni. kemudian dokter Anya segera meninggalkan ruangan Ririn
*******
"hallo assalamualaikum" ucap Muslim mendahului
"waalaikumsalam mas. cuman mau ngasih tau, kalau Ririn sudah sadar dari komanya" ucap Lia girang
"Alhamdulillah..syukurlah kalau gitu. nanti mas kasih kabar ini ke Abah Hamdan dan yang lainnya" ucap Muslim
"iya mas terima kasih..ya udah kalau gitu Lia tutup ya.. assalamualaikum" ucap Lia
"waalaikumsalam Li" ucap Muslim kemudian menutup saluran telfon
__ADS_1
Muslim segera menuju ke kantor pesantren, di mana kyai Hamdan berada.
"assalamualaikum bah" ucap Muslim mengetuk pintu
"ah ya waalaikumsalam Muslim..sini masuk masuk nak. ada apa?" ucap kyai Hamdan
"berita gembira bah. Ririn sudah sadar dari komanya" ucap Muslim
"Alhamdulillah..syukurlah kalau begitu. tapi Abah tak dapat ke rumah sakit sekarang" ucap kyai Hamdan
"tak apa bah. kita masih bisa ke rumah sakitnya nanti" ucap Muslim
"ya sudah kalau begitu. kamu lanjutkan tugas kamu, Abah mau memberitahukan berita gembira ini kepada ummah" ucap kyai Hamdan gembira sembari keluar ruangan tanpa salam
"assalamualaikum bah. hati hati" ucap Muslim sedikit berteriak
*******
Ririn menatap Vino dengan tatapan tajamnya
"Ririn benar tak ada yang sakit nak?" ucap Syakira
"itu bekas jahitan, sayang. jadi wajar saja" ucap Vania
"jahitan? Ririn kenapa ma?" ucap Ririn menatap Vania
"kamu di operasi beberapa hari yang lalu" ucap Deni
"di operasi? emangnya kenapa?" ucap Ririn dengan wajah polosnya
"kata dokter tulang belakang Kakak retak. jadi dokter membuka punggung kakak, dan memperbaiki tulang yang retak itu" ucap Rere menjelaskan
"jadi tak suci lagi deh tubuh mulusku" lirih Ririn
"heh Maemunah! bukannya bersyukur masih idup,,malah khawatir sama tubuh" ucap Lia kesal
"tau tuh. kita selama beberapa hari terakhir nggak bisa tidur nyenyak, tau nggak?! karena apa? karena mikirin kamu lah Rin..susah susah kita mikirin kamu, eh kamu malah mikirin tubuhmu yang nggak berguna itu" gerutu Vreya kesal
"kan aku nggak minta kalian khawatir" ucap Ririn santai
__ADS_1
saat Lia mau menimpali omongan Ririn, terpotong dengan suara Aisyah terlebih dahulu "sudah lah sudah..harusnya kita bersyukur kalau Ririn masih bisa membuka matanya dan sadar dari koma. bukan malah ribut seperti ini" ucapnya melerai
"kami sih nggak heran Syah" ucap Syakira
Aisyah menoleh ke arah Syakira "maksud mommy?" tanyanya tak mengerti
"ya kita sih nggak heran dengan tingkah mereka. sakit nggak sakit pun tetap sama. selalu ribut kayak mau ngejar maling" ucap Syakira memutar bola matanya
"sudah lah..lebih baik kita pulang saja" ucap Vino
"oh jadi setelah puas mukulin suami Ririn, Abang mau melarikan diri?" ucap Ririn dengan tatapan tajamnya
Vino menelan ludahnya dengan susah payah. melihat tatapan mematikan dari adiknya, membuat nyalinya menciut
"ng-nggak kok. A-abang nggak melarikan diri..orang Abang nggak salah juga" ucap Vino takut
"mukulin orang dengan kasar tanpa mengetahui yang sebenarnya itu nggak salah bang?" ucap Ririn terus menatap abangnya
Vino menoleh ke arah Reno "ayah nggak ikutan" ucap Reno mengangkat tangannya
Vino membuang nafasnya kasar "ya lagian dia juga yang salah. dia nggak bisa jagain kamu" ucapnya membela diri
"yang salah itu Mita" ucap Lia santai
Gus Sofyan menoleh cepat "M-Mita?" ucapnya
Lia dan Vreya mengangguk "siapa lagi Gus? mereka yang dorong Ririn sampai jatuh ke sungai tempo hari. jadi lebih baik kita cari hukuman yang pas aja buat mereka. iya kan?" ucap Vreya yang di angguki oleh Lia
"yup benar sekali" Lia menimpali
"ah yaaa!! b-benar sekali..nanti kita hukum Mita bersama yaa" ucap Vino gugup
"tak perlu mengubah topik pembicaraan bang! pokoknya setelah Ririn keluar dari sini, Ririn mau hukum bang Vino sampai puas! jangan coba coba melarikan diri loh! paham!!??" ucap Ririn tak terbantah
Vino menelan ludahnya kasar "i-iya" pasrahnya
"hahahahahahha" tawa semua pecah saat melihat ekspresi wajah Vino yang ketakutan
"berani beraninya mereka melakukan hal seperti ini kepada Erina. tunggu hukuman dari saya, Mita!" ucap Gus Sofyan dalam hati
__ADS_1