
-Di Bali
Sore hari yang indah di kota orang membuat Reno dan yang lain terpesona. mereka tiba saat hari masih siang. namun,,karena mengikuti usulan Vreya, jadi mereka berbelanja terlebih dahulu. sebenarnya belanja sesuatu tidak berguna, karena di hotel sudah lengkap peralatan yang mereka butuhkan.
"uhh sampai juga di hotel..capek ya guys" ucap Vreya melemparkan tubuhnya di atas kasur
"kan kamu yang ngasih saran untuk belanja" ucap Aisyah duduk di sofa kamar
"iya tuh. buat apaan sih belanja banyak banget?" ucap Lia
"yang pasti bukan buat anee" ucap Vreya berdiri dari tidurnya
mereka bertiga tidur satu kamar. karena bagi mereka, jika mereka memiliki kamar masing masing, akan sangat sunyi dan sepi. jadi,, Reno memberikan kamar khusus untuk ketiga putrinya itu.
"terus untuk siapa?" ucap Aisyah
"untuk orang Bali lah. siapa lagi?" ucap Vreya santai
"maksudnya?" ucap Lia yang tak mengerti
"jadi tadi waktu di bandara,, aku liat ada beberapa orang yang pakaiannya tak layak pakai gitu.. jadi aku mutusin untuk ngajak kalian berbelanja banyak. supaya bisa di bagi bagikan gituu" ucap Vreya menjelaskan
"owalah..oke oke paham" ucap Lia
"eh iya, mbak mandi dulu ya. soalnya mbak belum sholat nih. kalian bisa ngantri kan?" ucap Aisyah
"aelah mbak,, santai aja. kita istimewa kok, jadi nggak sholat" ucap Lia
"oh ya udah kalau begitu. mbak duluan ya" ucap Aisyah
*******
"waahh..ini kamarnya Fan?" ucap Firman
"luas banget ya. sesering apapun aku booking hotel, nggak pernah lihat kamar seluas ini. sumpah" ucap Irfan
"lebay deh. biasa aja kali. makin kelihatan kalau kampungan haha" ucap Rehan
"ih nggak loh. aku juga sering tidur di hotel tauu" ucap Firman
"eh kalian udah pada sholat belum?" ucap Irfan
"udah sih tadi" ucap Rehan
"berarti kita udah nggak ada tanggungan ya. ya udah kalau begitu, kita beres beres barang sekarang" ucap Irfan
mereka bertiga juga tinggal satu kamar. Karena mereka mengikuti Vreya and the geng yang tidur satu kamar bersama. mereka juga sangat sungkan pada Reno jika harus memiliki kamar masing masing.
setelah mereka membereskan barangnya masing masing, mereka beristirahat sejenak menghilangkan lelah seharian.
"gimana perasaan kamu Fan?" ucap Firman
"perasaan apa?" ucap Irfan
"perasaan kamu saat melihat Ririn nikah, kemarin" ucap Rehan
__ADS_1
"munafik sih kalau aku bilang nggak sakit. tapi sesakit apa pun, aku juga nggak bisa maksa Ririn kan. lagi pula Ririn sendiri yang milih Gus Sofyan untuk pendamping hidupnya. jadi aku nggak bisa apa apa" ucap Irfan
"kalau Gus Sofyan yang menjaganya, aku bisa ikhlas kok. lagian aku nggak terlalu sayang juga sama dia" sambungnya
"dih. sok tegar lah tu" ucap Rehan
"hahaha capek nggak Fan?" ucap Firman
"capek lah kan seharian nggak istirahat" ucap Irfan berdiri
"aku duluan ya" ucap Irfan berjalan menuju kamar mandi
"ih kasian loh sama si Irfan. sad boy dia hahah" ucap Firman
*******
-di rumah Ririn
Gus Sofyan duduk santai di ruang keluarga. terlihat dia yang sedang membaca buku dengan segelas teh yang menemaninya.
"ngapain ustadz" ucap Ririn yang tetiba datang
"salam dulu, Erina" ucap Gus Sofyan
"ehehe maaf maaf. assalamualaikum" ucap Ririn mengulang
"waalaikumsalam" ucap Gus Sofyan
"ini lagi baca buku. kenapa?" ucap Gus meminum tehnya kemudian memandang Ririn sekilas
Gus Sofyan meletakkan bukunya. dia menatap istri yang berada di sampingnya. ditatapnya dengan intens hingga membuat Ririn salah tingkah
"ustadz kenapa? kok ngeliat Ririn kayak gitu sih" protes Ririn
"cantik" ucap Gus Sofyan
Ririn tertawa "hahaha emang dari dulu kali ah..Ririn kira apaan hahaha" ucapnya
"enak ya punya istri" ucap Gus Sofyan
Ririn langsung terdiam "maksudnya?" ucap Ririn
"iya, enak punya istri. tidur ada yang nemenin,, mandi ada yang nyiapin bajunya,, makan pagi siang malam ada yang masakin,, santai santai pun ada yang bawain buah" ucap Gus Sofyan tersenyum
"kalau tau begini enaknya, udah dari dulu saya nikah" sambungnya
"sama siapa?" ucap Ririn
"Arumi hahah" ucap Gus Sofyan tertawa lepas
"iihh ustadz apaan sih" ucap Ririn memonyongkan bibirnya
"nggak lah nggak. bercanda doang, sayang" ucap Gus Sofyan
Ririn yang mulanya kesal, jadi melongo tak percaya melihat suaminya "ustadz tadi ngomong apa?" ucapnya
__ADS_1
"apa?" ucap Gus Sofyan pura pura tak mengerti
"ustadz panggil Ririn, sayang?" ucap Ririn
"ah iya kah? sepertinya nggak deh" ucap Gus Sofyan menahan senyumnya
"iihh nggak mungkin Ririn salah denger loh.. ustadz tadi panggil sayang kan?" ucap Ririn tak percaya
"terus kenapa kalau saya panggil istri saya dengan sebutan sayang? orang kenyataan kok, saya sayang sama dia" ucap Gus Sofyan tersenyum manis
"huwaaa senangnya di panggil sayaaangg.. nggak nyangka deh, ternyata kulkas dinginnya Ririn bisa mencair juga ya..ihh jadi gumush dehh" ucap Ririn dalam hati dengan tersenyum kuda
"saya Sofyan Ali Hamdan. bukan kulkas" ucap Gus Sofyan
"hahahaha kok ustadz bisa tau sih kalau Ririn ngomongin ustadz kulkas" ucap Ririn tertawa lepas
"ini kamu nggak tau dari saya. saya sebenarnya seorang dukun" ucap Gus Sofyan serius
"ah yang bener?" ucap Ririn tak percaya
"beneran loh. saya dulunya pernah nyantet orang" ucap Gus Sofyan
"hahahaha dasar dukun nggak sekolah hahaha" ucap Ririn tertawa keras
"lah kenapa ketawa?" ucap Gus Sofyan
"ya,, mana ada dukun yang ngaku kalau dia pernah nyantet orang hahaha" ucap Ririn terus tertawa
Gus Sofyan terkekeh saat melihat Ririn tertawa lepas "saya mau tanya satu hal sama kamu" ucap Gus Sofyan
"apa?" ucap Ririn
"sini deh" ucap Gus memanggil Ririn
Ririn duduk di dekat Gus Sofyan "kenapa?" ucap Ririn
Gus Sofyan menarik dan kemudian merangkul Ririn "saya kedinginan" ucapnya
"ganteng doang, mau peluk alasan kedinginan" ucap Ririn terkekeh
"ya sudah nggak jadi dingin kalau begitu" ucap Gus Sofyan mulai melepas rangkulannya
"ih ih baperan. Ririn rela kok dipeluk sampe mampus kalau ustadz kedinginan" ucap Ririn
"hahaha" tawa Gus Sofyan
"eh iya, ustadz mau tanya apa?" ucap Ririn sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah tampan Gus Sofyan
"kamu mau ikut liburan ke Bali? nyusul ayah dan yang lainnya?" ucap Gus Sofyan
"hemm..kalau Ririn sih terserah ustadz aja. ustadz mau nyusul mereka, atau nggak. karena Ririn sekarang sudah istri, berarti Ririn harus ikut ke manapun suami Ririn pergi kan" ucap Ririn menggenggam tangan Gus Sofyan
Gus Sofyan mengelus kepala Ririn lembut dan tersenyum "ya sudah kalau begitu, besok siang kita berangkat ya" ucap Gus Sofyan yang diangguki oleh Ririn
tak lama kemudian,, mereka mendengar adzan Maghrib berkumandang. mereka masuk ke dalam kamar untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah. mereka masih menggunakan kamar untuk tempat sholat, karena ruang yang mereka siapkan sebagai ruang sholat masih belum sempat di rapikan walaupun sudah bersih.
__ADS_1