
"apa dengan cara seperti ini ayah Abang dan Rere bisa bahagia? apa dengan nikah muda bisa buat keluarga Ririn bahagia? kalau seperti itu Ririn akan ikuti alur ceritanya saja" ucap Ririn dalam hati
Ririn berfikir cukup keras untuk menjawab pertanyaan yang cukup serius itu. dia cukup bimbang dan takut untuk menjawab
"Erina" Gus Sofyan memecah lamunan Ririn
"e-eh iya ustadz?" ucap Ririn
"gimana?" ucap Gus Sofyan
Ririn menatap semua orang yang ada di sana. dia takut jika jawabannya mengecewakan yang lain
"bagaimana jika jawaban saya mengecewakan kalian?" ucapnya dengan rasa khawatir
kyai Hamdan dan umi Hamidah beralih menatap Gus Sofyan "ummah yakin Sofyan akan terima apapun yang menjadi jawaban kamu nak" ucap umi Hamidah
Gus Sofyan mengangguk kecil "saya akan terima apapun yang menjadi keputusan kamu Erina..bolehkah saya tau apa yang kamu inginkan sekarang" ucap Gus Sofyan lembut
Ririn menarik nafasnya panjang "bismillahirrahmanirrahim" lirihnya
"saya mau menikah dengan ustadz Sofyan" sambungnya
"Alhamdulillah" ucap semua orang yang ada di dalam rumah tersebut
"tapi tidak sekarang" ucap Ririn yang mampu membuat semua orang merubah ekspresi wajahnya
"maksudnya?" ucap Vino
"ya maksud Ririn,,Ririn mau menikah dengan ustadz Sofyan tapi setelah Ririn sarjana" ucap Ririn
"SARJANA??!!" ucap semua orang serempak
"he em" ucap Ririn yang hanya mengangguk kecil
"kakak yakin mau buat kak Sofyan menunggu begitu lama?" ucap Rere
"selama kita saling percaya satu sama lain,,kenapa tidak?" ucap Ririn beralih menatap wajah Gus Sofyan
"gimana nak Sofyan?" ucap Reno
"gimana apa ya om?" ucap Gus Sofyan tersenyum
"kamu sanggup menunggu Ririn hingga ia menggenggam gelar sarjananya?" ucap Reno
__ADS_1
Gus Sofyan tersenyum manis "bismillahirrahmanirrahim,,saya akan menunggu sampai Erina siap menjadi pendamping hidup saya om" ucap Gus Sofyan dengan sangat yakin
"baiklah kalau begitu semua sudah siap dan setuju dengan keputusan mereka berdua,,Abah dan ummah juga sudah setuju,,jadi alangkah baiknya jika kita makan siang bersama sekarang. Abah sudah sangat lapar" ucap kyai Hamdan terkekeh di ujung kalimatnya
semua orang tertawa karena ucapan kyai Hamdan. mereka semua menuju ke meja makan untuk makan bersama
*******
-di kamar asrama Aisyah
"kira kira Ririn ngapain ya di sana?" ucap Lia rebahan dengan menatap langit kamar
"ntah lah mana ane tahuu" ucap Vreya
"tahu tahu..eh btw kalian punya cita cita apaan sih?" ucap Lia
mendengar pertanyaan dari Lia,, Aisyah pun meletakkan buku yang tadinya ia baca di samping bantalnya.
"kenapa liat aku gitu?" ucap Lia karena kedua kawannya itu tiba tiba menatapnya
"ya pertanyaanmu sangat buat aku heran sih" ucap Vreya
"apanya yg heran? emangnya aneh ya kalau aku nanya tentang cita cita kalian" ucap Lia
"he em tuh" ucap Aisyah
"ih kalian apaan sih..jawab aku sekarang cita cita kalian apaaa?" ucap Lia menatap Vreya dan Aisyah bergantian
"klo mbak sih pengen jadi dokter. nggak tau kenapa dari dulu setiap melihat orang melahirkan tuh pengen banget nolongin mereka padahal mbak mah masih bocah haha" ucap Aisyah terkekeh
"kenapa dokter?" ucap Lia
"mbak pengen menyelamatkan Malaikat Malaikat kecil supaya bisa melihat dunia dan ibunya" ucap Aisyah tersenyum
"oh begituu..you?" ucap Lia menatap Vreya
"klo aku pengen punya banyak restoran" ucap Vreya
"kenapa restoran?" ucap Lia
"karena kalau aku punya restoran,,aku bisa makan banyak makanan yang ada di restoran tempat aku ituu hahaha" ucap Vreya tertawa
"ishh dasar rakus!!" ucap Lia dan Aisyah bersamaan
__ADS_1
"kok kalian kompak banget sih..ih jadi gumush deh" ucap Vreya dengan memegang pipinya sendiri
"tuh kan mulai lagi gilanya..dah lah aku mau jalan jalan keluar" ucap Lia kemudian berdiri menuju pintu
"eh mau kemana?" ucap Vreya
"keluar jalan jalan..ngapa?" ucap Lia
"nitip mie goreng dong di depan gerbang" ucap Vreya
"ya kalau aku minat keluar gerbang.. assalamualaikum" ucap Lia kemudian berlalu meninggalkan kamarnya
"ish dasar curut" gerutu Vreya
*******
"Alhamdulillah" ucap Ririn duduk di sofa ruang keluarga
"sudah kenyang kah?" ucap Reno sambil merangkul anaknya itu
"ya dong gimana nggak kenyang coba,,dia makan saat lagi bahagia yah,,mau di nikahin ustadz impiannya..iya nggak iya nggak?" ucap vino yang merangkul adik bungsunya itu
"iya doongg" ucap Rere dan vino bersamaan
"ihh Abangg..rereee" ucap Ririn mengerucutkan bibirnya
"hahahaha" semua orang tertawa
"sudah ah bang..kasian Ririn merah tuh pipinya hehe" ucap Reno terkekeh dengan memegang pipi anaknya itu
"apaan sih yah..nggak juga kok" ucap Ririn tersipu malu
"dari pada aku di sini terus selalu jadi bahan ketawa mereka,,lebih baik aku balik ah lagian aku malu juga di sini masih agak canggung dengan ustadz Sofyan" ucapnya kemudian berdiri dari tempat duduknya
"emm Ririn balik dulu ya" ucap Ririn kepada semua yang ada di dalam rumah itu
"hah? baru juga selesai makan..kamu mah emang nggak ada malu ya dek..bisa bisanya kamu mau pulang setelah baru selesai makan" ucap Vino
"eh iya juga ya..ah bego banget sih Rin..jadi tambah malu kan" ucap Ririn kemudian terduduk kembali di tempat duduknya
"eh nggak jadi lah" ucap Ririn menyunggingkan senyumnya
mereka kemudian mengobrol santai satu sama lain untuk memecah keheningan yang ada di ruangan tersebut
__ADS_1