
pagi hari tiba,, saatnya mereka pergi ke sekolah dan melanjutkan hidup dengan belajar
"pagi dunia tipu tipuu' ucap Ririn keluar dari kamar asramanya dengan pakaian rapi
"selamat pagi dunia haluuu" ucap Lia keluar dengan pakaian yang sama seperti yang di kenakan Ririn
"aahh good morning duniakuu" ucap Vreya yang menyusul mereka.
"mbak Aisyah mana?" tanya Ririn
"mbak Aisyah pergi ke sekolah duluan sih katanya tadi dia piket kelas gitu" ucap Vreya
'oh gitu ya udah berangkat bareng yuk" ucap Ririn
"kuy.. let's go" ucap Lia
mereka berjalan melewati koridor sekolah di pesantren itu. melewati banyak santri dan santriwati yang yang memperhatikan mereka. tak heran jika mereka di sapa banyak santri saat berjalan di koridor tersebut
"Hay Rin..tambah manis aja nih" ucap salah satu santri
"ya lah bapak ane yang punya pabrik gula" ucap Ririn
"apa kabar ni cantiknya Abang" ucap santri yang lain menggoda Vreya
"ah kabar Baek aku lah bang..Abang mau tau nomor ponsel aku juga kah?" ucap Vreya
"aaiishh apaan sih Vre..kok malah mau di kasih nomor ponsel segala" ucap Ririn
"ya nggak papa loh Rin..siapa tau Abang ni jodoh aku kan lumayan" ucap Vreya
"ah kumat lah tu dia" ucap Lia
"eh ada si imut Lia nih" ucap santri yang lain ingin menyentuh tangan Lia
"hey! jangan sentuh dia" terdengar suara lelaki dari belakang mereka
Lia Ririn dan Vreya menoleh karena mendengar suara tersebut
"mas Muslim" ucap Lia
"hah? mas Muslim?" ucap Vreya dan Ririn bersamaan
"ngapain kalian pagi pagi gangguin santriwati yang mau masuk ke kelas?" ucap muslim bertanya kepada santri yang hendak mengganggu Ririn and the geng
"ah nggak kok kami nggak mengganggu..hanya menyapa" ucap santri itu
"menyapa hanya dengan kata kata. bukan dengan bersentuhan seperti tadi" ucap Muslim tegas
"iya maaf bang" ucap santri itu
"nyali kamu masih terlalu kecil untuk melawan saya" ucap Muslim
"emangnya Abang ini siapa?" tanya salah satu santri lainnya
"saya temannya Sofyan. dan saya di rekrut langsung oleh pemilik pesantren ini sebagai pengajar kalian di sini" ucap Muslim
"hah? pengajar?" ucap Lia Vreya dan Ririn bersamaan
"untuk kalian bertiga masuk ke kelas kalian. saya akan mengurus santri nakal ini ke kyai Hamdan" ucap Muslim
"iya" ucap Ririn kemudian menuju ke kelasnya di ikuti oleh Lia dan Vreya
"jadi apa yang kamu mau? saya hukum kamu atau kyai Hamdan yang hukum kamu. silahkan di pilih!" ucap Gus Sofyan tegas
__ADS_1
"saya memilih untuk di hukum ustadz Muslim saja" ucap santri tersebut
"ustadz? tadi kalian berani panggil saya Abang..lalu kenapa sekarang panggil saya ustadz?" ucap Muslim
"maaf kan kami ustadz.. kami janji tak akan mengulanginya lagi" ucap salah satu santri tersebut
"ya sudah saya hukum kamu untuk berdiri di bawah tiang bendera hingga jam pulang nanti" ucap muslim
"i-iya ustadz" ucap santri tersebut
*******
"assalamualaikum" ucap Ning Izah memasuki kelas Erina
"waalaikumsalam" ucap seluruh santri dan santriwati yang berada di kelas tersebut
mereka memulai pelajaran pagi dengan pengajar cantik yang berhasil menutup aurat sepenuhnya.
"baiklah..siapa yang bisa maju ke depan untuk menjawab pertanyaan itu?" tanya ning Izah
"kalau tak ada yang mau maju biar kan saya yang tunjuk. gimana?" sambungnya
"ya sudah kalau begitu saya pilih santriwati yang namanya Lia" ucap Ning Izah
"karena saya juga ingin tau yang mana wanita yang di sukai oleh kawannya si Sofyan itu" ucap Ning Izah dalam hati
Lia maju ke depan dan menjawab pertanyaan yang di berikan oleh Ning Izah.
"oke Lia terima kasih" ucap Ning Izah
"oh jadi itu..dia cantik..dia juga pandai..tak heran jika muslim tertarik padanya" ucap Ning Izah dalam hati dan tersenyum di balik cadarnya
pelajaran di kelas tersebut berjalan lancar dan tak ada kendala apa pun. hingga seluruh mata pelajaran hari ini selesai pun..tak ada masalah dengan kelas tersebut. para santri dan santriwati kembali ke kamar asramanya masing masing.
"kemana?" tanya Aisyah
"ke rumah Abah Hamdan. aku mau membicarakan tentang kuliah Ririn itu loh mbak' ucap Ririn
'oh ya sudah ayo" ucap Aisyah dan mereka berempat berjalan menuju rumah kyai Hamdan
saat sampai di luar gerbang pesantren,, Ririn tak sengaja melihat mobil keluarganya berada di depan rumah kyai Hamdan
"ayah" ucap Ririn tak percaya bahwa ayahnya ke pesantren tanpa pemberitahuan
"ayaahh!" ucap Ririn berlari menuju ke pelukan ayahnya
"aahh putri ayah' ucap Reno mencium pucuk kepala Ririn
"gimana sekolahnya?" tanya Reno
"sipp dong" ucap Ririn mengacungkan jempolnya
"wahh hebat" ucap Reno
"kamu sehat kan nak? nggak kurang makan nggak kurang apa apa kan? kalau kurang sesuatu bilang aja sama ayah..nanti ayah kirimkan buat kamu" ucap Reno
"nggak kok yah..Ririn nggak butuh apa apa..di sini sudah cukup kok hehe" ucap Ririn
"Reree" ucap Ririn memeluk adiknya itu
"Rere kangen banget sama kakak" ucap Rere
"iya dong kakak tau kan kalau nggak ada kakak di rumah sepi banget" ucap Ririn dengan PD nya
__ADS_1
"dih PD banget..tapi emang iya sih kak hehe' ucap Rere
"eh kak tau nggak,,Rere baru aja di beliin DVD terbaru loh sama ayah" ucap Rere
"oh ya? kapan kapan waktu kakak balik ke rumah kita liat bareng ya" ucap Ririn
"oke siap" ucap Rere
"ehem..nggak ada yang mau meluk Abang nih ceritanya? ya udah Abang masuk dulu aja" ucap Vino kemudian berjalan menuju rumah kyai Hamdan
"Abang!" panggil Ririn
Vino menoleh melihat adiknya itu dengan senyum manis dan merentangkan tangannya sebagai kode. kemudian Ririn berlari memeluk abangnya yang sangat ia rindukan itu.
tanpa di sadari,,ternyata Gus Sofyan melihat adegan peluk memeluk tersebut. Gus Sofyan terlihat sangat marah karena ada lelaki yang berani menyentuh wanita yang ia cintai.
Bughh
Bughh
Bughh
Gus Sofyan memukul Vino tanpa ampun dan tak meminta penjelasan terlebih dahulu. Gus Sofyan telah salah faham terhadap abangnya Ririn itu.
"Abang.." ucap Ririn terkejut melihat kejadian itu
"ustadz udah ustadz udah..dengerin penjelasan Ririn dulu" sambungnya lagi
"ustadz Stoopp!!" ucap Ririn berteriak dan akhirnya Gus Sofyan berhenti memukul Vino
"ustadz kenapa sih mukul bang Vino kayak gitu? apa salahnya?" tanya Ririn
"saya nggak suka dia peluk kamu seperti tadi. saya nggak suka kalau ada cowok lain yang nyentuh kamu kecuali mahram kamu sendiri. sudah tau kan salahnya dia..masih mau bertanya apa lagi?" ucap Gus Sofyan menahan amarahnya
"dengerin penjelasan Ririn dulu dong" ucap Ririn
"nggak ada yang harus di jelaskan Erina..saya nggak suka dia sejak awal karena dia selalu memperlakukan kamu seperti itu. saya melihat dia mencium kening kamu. menggenggam tangan kamu. bahkan saya juga sering melihat kalian berpelukan. saya sudah Tahan itu sejak awal. tapi saya tak bisa menahannya lagi sekarang" ucap Gus Sofyan kemudian memukul Vino kembali
"Sofyan cukup!" ucap kyai Hamdan
"semua santri dan santriwati masuk kembali ke pesantren" ucap ustadz Haris
"kalian semua ikut Abah ke dalam" ucap kyai Hamdan
mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu. Ririn mengobati luka yang ada di wajah abangnya itu dengan menangis
"apa yang kamu lakukan Yan? itu sangat kekanak-kanakan tau!" ucap kyai Hamdan
"Sofyan hanya tak suka dia memperlakukan wanita dengan tak sopan bah" ucap Gus Sofyan
"kamu dengarkan Abah dulu" ucap kyai Hamdan
"perlakuan tak sopan mana yang telah ia perbuat hingga membuatmu Semarah ini?" ucap kyai Hamdan
"tadi Sofyan melihat dia memeluk Ririn bah. dan Sofyan nggak menyukai hal itu" ucap Gus Sofyan
"salah kah jika ada seorang kakak yang memeluk adik kesayangannya karena rindu? salah kah jika kamu berpelukan dengan mbak Izah? salah?" ucap kyai Hamdan
"k-kakak?" ucap Gus Sofyan
Muslim Anwar
__ADS_1