Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 76


__ADS_3

Ririn pergi bersama Gus Sofyan dan Afiz untuk membeli pakaian yang akan di kenakan oleh dokter Johan. selama di perjalanan tak ada pembicaraan di antara mereka. suasana di dalam mobil sangat hening dan sunyi tak ada suara


ddrrttt..


ddrrttt..


ddrrttt..


suara getaran dari handphone Afiz yang mampu memecahkan suasana sunyi di dalam mobil tersebut


"siapa?" ucap Gus Sofyan menoleh sekilas menatap wajah Afiz


"teman kak" ucap Afiz tersenyum


"jangan di angkat!" ucap Gus Sofyan tegas


"lah kenapa?" ucap Afiz heran


"teman Afiz itu cewek atau cowok?" ucap Gus Sofyan


"cewek kok..tapi ini dia nelfon dari nomor pacarnya kak. tadi dia bilang handphone nya lowbet jadi ya ini nomornya cowok lah..cowoknya diaa" ucap Afiz menjelaskan


"yakin dia pacarnya teman kamu? pacarnya teman atau pacarnya kamu nih?" ucap Gus Sofyan menggoda Afiz


"ih apaan sih udah ya Afiz jawab dulu.. kasian" ucap Afiz mengangkat telfon dari kawannya itu


"hallo assalamualaikum" ucap Afiz mendahului


"...."


"oh iya kamu di mana?" ucap Afiz


"...."


Afiz menoleh ke arah kanan dan kiri seperti sedang mencari sesuatu "oh oke oke aku lagi di dekat situ juga kok" ucap Afiz


"oke aku on the way.. assalamualaikum" ucap Afiz menutup telfonnya


"ada apa Fiz?" ucap Ririn


"kak berhenti kak" ucap Afiz membuat Gus Sofyan terkejut dan langsung menginjak rem


"aaww" teriak Afiz dan Ririn bersamaan ketika kepala mereka terbentur ke jok di depan


"kenapa?" ucap Gus Sofyan tanpa merasa bersalah


"sakit lah" ucap Afiz memegang keningnya


"ah bukan yang itu..maksud kakak,,kenapa harus berhenti" ucap Gus Sofyan


"lah iya maksud Afiz itu berhentinya pelan pelan di tepian kak..malah ngerem mendadak,,kan jadi sakit nih jidatnya akoohh" ucap Afiz memonyongkan bibirnya

__ADS_1


"ya udah sih maaf,,lagian buat kaget aja" ucap Gus Sofyan


"ya udah Afiz turun dulu ya" ucap Afiz membuka seat belt yang ia kenakan


"lah Afiz mau kemana?" ucap Ririn


"oh iya lupa..jadi sebenarnya tadi itu Afiz di telfon sama temen Afiz..katanya dia mau ngomongin hal penting yang nggak bisa di tunda gitu loh kak..dia ngajak ketemuan di kafetaria depan tuh tuh tuh" ucap Afiz menunjuk sebuah kafe di seberang


"lalu?" ucap Gus Sofyan


"ya Afiz harus turun di sini dong..kan nggak baik kalau buat orang menunggu lebih lama" ucap Afiz membuka pintu mobilnya


"eh eh tunggu" ucap Gus Sofyan memegang lengan Afiz,,menahannya turun


"temannya itu cewek atau cowok? terus kalau Afiz turun,,kakak gimana?" ucap Gus Sofyan


"teman Afiz itu cewek kaaakk..tanya Mulu ih dari tadi..dah di bilang cewek juga masih tanya aja" gerutu Afiz


"nah terus kalau untuk kak Sofyan..kan ada kak Ririn..lagian kalian kan bentar lagi mau nikah tuh..jadi ya harus ada pendekatan gitu hehe" ucap Afiz terkekeh di ujung kalimatnya


"ingat! jangan Macem macem" sambungnya melotot ke arah Gus Sofyan


"ya udah ya Afiz duluan.. assalamualaikum" ucap Afiz kemudian turun dan menyeberang jalan yang sangat ramai kendaraan


Gus Sofyan membuka jendela kemudi "hati hati dan jangan nakal" ucap Gus Sofyan sedikit berteriak


setelah Afiz pergi,,suasana menjadi semakin canggung dan sunyi


"hm?" ucap Gus Sofyan menoleh ke arah kursi belakang


"nggak mau lanjut jalan?" ucap Gus Sofyan


"duh gimana ya..eemm nggak enak banget lagi ngomongnya" ucap Gus dalam hati


"ustadz?" panggil Ririn karena tak ada jawaban dari Gus Sofyan


"saya nggak mau dianggap sebagai supir kamu" ucap Gus Sofyan dingin


"hah? supir? maksudnya?" ucap Ririn tak mengerti


"duh Erina juga nggak paham lagi..gimana cara ngomongnya sih" ucap Gus Sofyan dalam hati


"i-iya supir..saya di depan dan kamu di belakang" ucap Gus Sofyan gugup


"owalahh haha ustadz maunya Ririn duduk di depan nih?" ucap Ririn terkekeh


"nggak ada maksud lain loh" ucap Gus Sofyan tersipu


Ririn tertawa kecil dan membuka pintu mobilnya, kemudian ia pindah duduk di kursi depan bersama Gus Sofyan yang mengemudikan mobil tersebut


"iya kok ustadz Ririn paham, ustadz hanya mau duduk sama Ririn kan haha" ucap Ririn menggoda Gus Sofyan

__ADS_1


"apaan sih nggak gitu" ucap Gus Sofyan salah tingkah


"terus kalau bukan itu alasannya, kenapa ustadz masih nggak jalanin mobilnya?" ucap Ririn menahan tawa


"oh itu..anu..ini mau jalan" ucap Gus Sofyan gugup


"hahaha jadi lucu deh raut wajahnya kalau malu" ucap Ririn tertawa lepas


"apaan sih..siapa yang malu? saya nggak malu tuh" ucap Gus Sofyan mengelak


"hahaha ya udah sih iya iya nggak malu haha" ucap Ririn terus menertawakan tingkah Gus Sofyan


setelah Ririn puas tertawa,,akhirnya suasana di dalam mobil kembali sunyi dan tenang. bahkan sepertinya nyamuk malu dan tak mau untuk terbang di depan mereka.


"gimana kabar kamu selama di sana?" ucap Gus Sofyan memulai pembicaraan


"Ririn? oh Ririn baik baik aja kok..nggak ada perubahan sih ustadz..mungkin hanya kecantikan Ririn yang berubah hehe" ucap Ririn dengan PD nya


"ya udah Alhamdulillah kalau begitu" ucap Gus Sofyan yang hanya di balas anggukan kecil dari Ririn


"Erina bakalan jawab nggak ya kalau saya tanyakan hal itu?" ucap Gus Sofyan dalam hati


"eemm kamu kenal dokter Johan dari mana?" ucap Gus Sofyan


"dokter Johan nyapa Ririn saat berada di bandara tadi pagi. dia ngiranya Ririn ini adalah Rere,,pasien yang dulunya pernah ia tangani. sejak tadi pagi Ririn kenal dokter Johan deh" ucap Ririn dengan jujur


"oh syukurlah" ucap Gus Sofyan pelan hampir tak terdengar


"kok syukur ustadz? emang kenapa?" ucap Ririn yang mendengar perkataan Gus Sofyan


"hah? apa? nggak kok?" ucap Gus Sofyan gugup


"kamu yakin,,kalian nggak ada hubungan yang spesial?" ucap Gus Sofyan


"iya nggak ada apa apa kok ustadz..dia dokter dan Ririn hanya saudara temennya dia. udah gitu aja" ucap Ririn menjelaskan


"memangnya kenapa ustadz?" sambungnya


"ah nggak papa kok hanya penasaran aja" ucap Gus Sofyan tersenyum simpul


"kayaknya si ustadz cemburu nih gara gara tadi aku nyapa dokter Johan" ucap Ririn dalam hati


"nggak kok nggak!" ucap Gus Sofyan menyangkal batinan Ririn


"hah? nggak apa ustadz?" ucap Ririn terkejut


"duh.. keceplosan lagi kan ya Allah kenapa begini" batin Gus Sofyan


"ah itu kan..anuu..eem..nggak itu maksudnya..nggak..nggak perlu ngisi bensin lagi..nah iya begitu" ucap Gus Sofyan bingung hendak menjawab apa


"oh gitu" ucap Ririn yang masih terheran

__ADS_1


__ADS_2