
"Saya nggak bersalah pak! dia yang lari sendiri..bukan saya yang dorong!" ucap Arumi menyangkal
"anda masih mau membela diri disaat bukti sudah didepan mata?" ucap polisi itu
"bukti ini tidak terlalu kuat untuk menjadikan saya tahanan disini!!" ucap Arumi sedikit berteriak
"ini kantor polisi. tolong kerja samanya dan tak perlu berteriak seperti itu nona" ucap polisi yang lain sopan
"terserah! tapi saya tak bersalah pak! ayolah percaya sayaa!!" ucapnya lagi
"masih bisa anda berkata tak salah, disaat sudah ada korban karena perlakuan anda?" ucap polisi itu
"sudah berapa kali saya bilang sih pak?! dia yang lari sendiri. bukan saya yang dorong!" ucap Arumi membentak
"CCTV ini sudah menjadi bukti kuat untuk kami menahan anda, nona" ucap polisi tadi
"bisa saja didalam CCTV itu editan kan pak! saya benar benar nggak bersalah dalam hal ini" ucap Arumi terus berusaha
polisi itu mengkode bawahannya untuk membawa Arumi ke dalam ruangan yang sama dengan Mita, sesuai perintah Lia.
polisi itu mengerti dan mengangguk cepat "sudah cukup nona, mari ikut saya" ucapnya sedikit menarik lengan Arumi
"lepaskan saya!! saya nggak bersalah! akan saya tuntut kantor ini!! lepaskan sayaaa!!" teriak Arumi memberontak
*******
__ADS_1
Disisi lain, ada sekumpulan keluarga yang sedang dilanda kepanikan. pasalnya, keluarga mereka baru saja kedatangan seorang bayi lucu namun bayi tersebut kini tak bernafas lagi
"cepat panggil dokter!! dokter harus menyelamatkan anak Ririn! cepaatt!!" teriak Ririn
Dokter Johan segera berlari untuk menjemput dokter yang biasa menangani Ririn dirumah sakit itu. sementara Vino segera mengambil bayi itu dan melakukan tindakan CPR kecil di dekat jantung si bayi
"selamatkan bayi Ririn! selamatkan hiks" ucap Ririn terus menangis
"kamu tenang dulu ya sayang. itu bang Vino sudah berusaha" ucap Gus Sofyan mengelus rambut Ririn yang tertutup hijab
"kamu bisa kan Vin? tolong selamatkan cucu ayah, Vino' ucap Reno menahan air matanya supaya tak jatuh
tak hanya melakukan CPR, Vino juga memberikan nafas buatan kepada bayi kecil itu. namun hasilnya nihil, tak ada gerakan pada jantung kecilnya.
semua orang mulai menangis. Aisyah mendekati Vino "apa itu kalimat yang pantas diucapkan seorang dokter?!" ucapnya tegas
"Pantas atau tidak pantas, jika keadaannya sudah seperti ini mau bagaimana lagi? harus menentang kehendak Tuhan?!" ucap Vino tak kalah tegas
Gus Sofyan mengkode Rehan supaya melerai Aisyah dan Vino. dengan cepat Rehan menghampiri Aisyah dan segera memeluk istrinya itu. tak lama kemudian dokter Anya memasuki ruangan Ririn dengan tergesa gesa bersama dua perawat dibelakangnya
"tolongin bayi saya dok hiks hiks" ucap Ririn tak kuasa menahan tangis
dokter Anya segera melihat keadaan bayi dan langsung menutup seluruh tubuh bayi kecil itu. dokter Anya tersenyum simpul
"Tuhan tak berpihak kepada kita. tolong segera ikhlaskan bayi mungil ini supaya bisa berpulang dengan tenang" ucap dokter Anya
__ADS_1
"NGGAAKKK!!" teriak Ririn histeris
"anak Ririn masih adaaa!!!" tegasnya lagi terus memberontak di dalam pelukan Gus Sofyan
"KAMU! AKAN SAYA TUNTUT KAMU KE JALUR HUKUM!" ucap Ririn berteriak sembari menunjuk dokter Anya
"maaf sebelumnya Bu. bukankah saya sudah menyarankan untuk bayi Difa dirawat diruangannya saja? tetapi apa? ibu dengan egoisnya meminta ayah dari bayi untuk membawa bayinya keruangan ini" ucap dokter Anya
"maaf tuan Fahriza..bukannya saya bermaksud lancang atau tidak sopan, tapi saya juga merasa sakit karena tak bisa menyelamatkan nyawa seorang bayi yang tak berdosa" ucap dokter Anya kepada Reno yang hendak menangis
"tapi kamu mengizinkan bayi saya untuk dirawat diruangan ini?!!" ucap Ririn membentak
"karena saya tampak kasihan dengan usaha bapak dari sang bayi yang memohon supaya melihat istrinya bahagia kembali. saya juga seorang ibu, saya tau perasaan anda seperti apa. tapi tolong jangan egois seperti ini. keegoisan hanya akan memperkeruh keadaan" ucap dokter Anya panjang lebar
"lalu kenapa kamu mengiyakan suami saya saat hendak membawa bayinya?!!" ucap Ririn terus menyalahkan dokter Anya
"karena bapak dari bayi berjanji tak akan membiarkan siapapun menyentuh bayinya yang masih sensitif itu" ucap dokter Anya tegas
semua orang tak berani membantah lagi. mereka menangis dalam diam. belum sempat berumur tiga hari, dua bayi telah pergi meninggalkan keluarga mereka.
"jika ibu mau menuntut saya, silahkan. terlebih lagi ibu adalah anak dari tuan Fahriza, pemilik rumah sakit ini. saya tak akan membela diri saya di kantor polisi nanti" ucap dokter Anya tersenyum simpul
"kalau begitu saya pergi dulu. cari saya di ruangan jika polisi sudah datang" sambungnya kemudian menunduk hormat dan pergi dari ruangan Ririn
Ririn terus menangisi anaknya. di dalam pikirnya terus bimbang. ia harus menyalahkan siapa atas kejadian itu. kedua bayi yang telah ia kandung selama delapan bulan itu pergi dulu meninggalkannya
__ADS_1