Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 75


__ADS_3

Saat tim medis menangani Rere,,semua orang yang ada di sana sedang menunggu di depan ruangan. mereka semua sangat bersyukur karena kembalinya detak jantung Rere.


"semua akan baik baik saja. Ririn jangan khawatir ya" ucap Reno


"Ririn sayang Rere yah" ucapnya bersandar di pundak ayahnya


"iya nak. semua orang yang ada di sini sayang sama Rere. karena kami sayang,,kami semua dengan sabar menunggu kabar atas keadaan Rere yang sedang kritis" ucap umi Hamidah


"jangan nangis Erina..semua akan baik baik saja" ucap Gus Sofyan


mendengar Gus Sofyan yang melarangnya menangis,,Ririn segera menghapus air matanya dan tersenyum simpul menatap wajah Gus Sofyan


"iya ustadz..Ririn nggak nangis kok" ucapnya


"dihh giliran Gus Sofyan aja yang ngomong langsung di turuti..lah klo aku yang ngomong pasti di tampar lagi" ucap Lia memonyongkan bibirnya


"hehe..maaf Li tadi aku terbawa emosi" ucap Ririn tersenyum menampakkan giginya


"dasar bucin! giliran Gus Sofyan aja nggak emosi" ucap Vreya


"waww impresif" ucap Lia ketika melihat seorang dokter yang sangat tampan sedang berjalan menuju mereka.


semua orang beralih menatap dokter tersebut dengan seksama. dokter itu tak asing bagi Ririn.


"permisi..apa ini ruangan Reina?" ucap dokter itu dengan tersenyum


"kamu..?" ucap dokter itu dengan menunjuk Ririn


"dokter Johan?" ucap Ririn menebak


"ah hallo..nggak nyangka ternyata bisa bertemu denganmu di sini" ucap dokter Johan


dokter Johan menatap semua orang satu persatu dan kemudian matanya menemukan Reno yang sedang berdiri "hallo tuan Fahriza. senang bertemu dengan anda" ucap dokter Johan dengan membungkuk sebagai rasa hormat


"iya dok..senang bertemu anda" ucap Reno tersenyum


"ah iya dok di sini ruangan Rere" ucap Ririn menunjuk ruangan Rere

__ADS_1


"saya masuk dulu ya.. permisi" ucap dokter Johan kemudian masuk ke dalam ruangan


melihat Ririn mengenali dokter Johan,,Gus Sofyan hanya tersenyum kecut dan terus berfikir tentang hubungan mereka.


"siapa dokter itu? kenapa bisa kenal dengan Erina? mereka kenalnya dimana? apa hubungan mereka?" ucap Gus Sofyan dalam hati


"jangan nething dulu Sofyan..siapa tau dia hanya ketemu dua hari yang lalu..ah sudah lah bukan saatnya untuk memikirkan hal yang seperti itu" ucap Gus Sofyan


*******


"gimana keadaan Rere dok?" ucap Reno ketika para dokter telah keluar dari ruangan Rere


"Alhamdulillah, sebuah keajaiban datang sehingga dapat membantu jantung baru itu bisa berdetak dengan baik kembali" ucap dokter Riko


"untuk kondisinya saat ini,,masih belum saatnya ia sadarkan diri. Rere sudah melewati masa kritisnya namun masih belum membuka matanya" ucap vino


"lalu bagaimana dengan pengobatannya yang dulu dok? dulu Rere pernah menjalani pengobatan di luar negeri. dan dokter yang menangani Rere itu mengatakan bahwa Rere telah sembuh. tapi kenapa sekarang bisa kambuh lagi?" ucap Reno menatap dokter Riko dan dokter Johan secara bergantian


"pengobatan yang saya lakukan dulu sudah benar dan mengikuti prosedur yang ada tuan. namun sepertinya ada kesalahan dari pihak kami yang salah menyuntikkan cairan ke dalam tubuh Reina" ucap dokter Johan


"dan sepertinya cairan itu hanya bereaksi sementara. oleh karena itu saya mengatakan bahwa kondisi Reina sudah sembuh karena saya sudah melihat tubuh Reina yang sudah fit saat hendak kembali ke Indonesia" sambung dokter Johan


"sudah tak apa kok dok. saya memaklumi kok. lagian kan kondisi Reina sekarang sudah dapat di sembuhkan. dan di sini juga ada para dokter hebat ini yang siap menjaga kondisi Reina dua puluh empat jam" ucap Reno tersenyum manis


"iya kan dok?" ucap Reno menatap vino dan dokter Riko bergantian


"iya pak kami siap" ucap dokter Riko di ujung kalimatnya


"Rin" Reno


"hah? iya ada apa yah?" ucap Ririn kemudian berdiri dari tempat duduknya


"bisa minta tolong nggak?" ucap Reno


"minta tolong apa? Ririn baru juga pulang dari jauh' gerutu Ririn


"tolong belikan baju ganti untuk dokter Johan. beliau sepertinya tak membawa baju cadangan dari Jerman. untuk sementara waktu ini, dokter Johan menginap di rumah kita" ucap Reno menatap Ririn

__ADS_1


"ah sudah tuan. tak apa saya menggunakan pakaian ini kok" ucap dokter Johan menolak


"sudah sudah..nggak papa kok dok, sekalian dia bisa jalan jalan juga. kan dia baru pulang dari Jerman. pasti belum melepas rasa rindunya dengan kampung halaman" ucap Reno


"harus Ririn ya yah? Ririn capek nih" ucap Ririn


"vino aja yah' ucap Vino menimpali


"emm..maaf dokter Vino. saya ingin berbicara dan rapat dengan anda beserta dokter Johan juga. sepertinya anda tak dapat ikut untuk membeli bajunya" ucap dokter Riko


"oh gitu ya..ya udah kalau gitu hayuk rapat" ucap Vino


"saya juga?" ucap dokter Johan menunjuk dirinya sendiri


"he em" ucap dokter Riko mengangguk


"ya sudah kalau begitu kami permisi" ucap dokter Riko kemudian mereka bertiga pergi meninggalkan sekumpulan orang yang ada di depan ruangan Rere


"Terus kalau Abang nggak bisa nganterin Ririn,,Ririn sama siapa dong ke mall nya?" ucap Ririn memanyunkan bibirnya


"nyetir sendiri nih ceritanya?" sambungnya lagi


"jangan" ucap Gus Sofyan cepat


"emm maaf om,,bolehkah saya yang mengantarkan Erina untuk membeli bajunya dokter Johan?" ucap Gus Sofyan


belum sempat Reno menjawab,,Gus Sofyan mendahului "Afiz bersama kami kok om" ucap Gus Sofyan


"oh ya sudah kalau begitu pergilah. hati hati" ucap Reno kemudian duduk di kursi


Ririn menghampiri ayahnya yang sedang duduk dan memberikan telapak tangannya "uang?" ucap Ririn


"kamu mau ke mall yang mana sayang? jangan pergi ke mall yang harus bayar..punya uang harus di hemat Rin" ucap Reno


"ishh iya iya iya. dasar marahan. Ririn pergi ya assalamualaikum" ucap Ririn kemudian pergi menuju mall untuk membeli baju yang akan dikenakan dokter Johan


dokter Johan

__ADS_1



__ADS_2