Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 27


__ADS_3

mobil yang di kendarai oleh Vino telah sampai di suatu rumah yang sangat megah dengan cat dominan berwarna putih yang di hiasi oleh berbagai macam bunga di sekitarnya,,termasuk bunga duka cita yang berada di depan rumah tersebut. tak lupa juga dengan bendera kuning yang menancap di pagar rumah megah itu ikut menyambut kedatangan jenazah sang pemilik rumah.


"hallo pak..pak Toni sehat?" tanya Rere kepada supir pribadi sekaligus penjaga gerbang rumahnya itu


"sehat kok non.. syukur Alhamdulillah" jawab pak Toni dan langsung mendapat anggukan kecil dari Rere


"ini rumah Ririn?" tanya Aisyah kepada Vreya yang berada di sampingnya dan hanya mendapat anggukan kecil darinya


"waahh megah dan sangat indah di pandang. di dalam rumah ada berapa orang?" tanya Aisyah lagi


"mungkin 5 sampai 7 orang" ucap Lia yang mendengar pertanyaan Aisyah


"rumah semegah ini hanya di huni 7 orang? nggak salah?" ucapnya terkagum kagum


"ya nggak lah mbak..emangnya kenapa dan apa yang aneh?" tanya balik Vreya


"ya nggak papa sih..boleh nggak mbak aja yang tinggal di sini?" ucap Aisyah lagi


"boleh boleh aja sih mbak..yang penting mbak jadi kakak ipar aku" ucap Rere yang sedari tadi mendengar perbincangan mereka


Vreya, Lia, dan Rere tertawa melihat reaksi Aisyah dengan pipi merona "ih apaan sih kalian" ucap Aisyah berusaha memberhentikan mereka yang menertawakannya


"ada apa ni kok malah ketawa diluar?" tanya Ririn yang tiba tiba datang


"mbak Aisyah bilangnya pengen jadi kakak ipar Rere kak" ucap Rere kepada Ririn


"ah yang bener..emang gitu mbak?" tanya balik Ririn dengan senyum menggoda


"ih nggak gitu tau..mbak cuman nggak percaya kalau rumah sebesar ini hanya di huni oleh 7 orang..bukan berniat jadi kakak ipar seperti yang Rere bilang" ucap Aisyah mengerucutkan bibirnya


tanpa mereka sadari Vino sedang memperhatikan mereka dari kejauhan dan ikut tertawa melihat adiknya tersenyum seperti itu.


"ayo masuk" ucap Vino sedikit berteriak karena posisi Vino dan yang lainnya agak jauh


mereka pun masuk ke dalam rumah di sambut oleh beberapa ART termasuk bi Mar. tampak di wajah mereka masih ada kesedihan atas meninggalnya nyonya besar mereka.


"assalamualaikum..gimana kabar kalian?" tanya Ririn

__ADS_1


"Alhamdulillah kami disini baik dan sehat sehat saja kok non..non Ririn gimana di pesantren?" ucap bi Mar mewakili seluruh ART


"saya baik baik saja kok bi..di pesantren tidak terlalu rumit juga..tidak seperti apa yang saya bayangkan dulu" ucap Ririn tersenyum


melihat senyum Ririn yang indah,,bi Mar meneteskan air mata karena tak menyangka bahwa dalam hal seperti ini,,Ririn masih terlihat kuat


"bi Mar nggak boleh nangis..Ririn tau kalian semua sedih karena kehilangan bunda..tapi bunda akan lebih sedih kalau Kelian menangisinya..jadi jangan nangis ya Bi..Ririn Abang dan Rere nggak nangis kok hihi" ucap Ririn tersenyum memperlihatkan giginya


"permisi,, jenazah sudah datang segera siapkan perlengkapan untuk mengaji bersama karena jenazah sebentar lagi akan segera dimakamkan" ucap pak Toni


mendengar hal itu,,Rere dan Ririn memperlihatkan wajah sendunya kembali..namun karena Vino melihat hal itu,akhirnya dia berusaha menghibur adik adiknya itu


"Rin..tau nggak?" ucap Vino yang langsung mendapat gelengan kepala dari Ririn


"waktu kamu pergi ke pesantren,,Rere nggak berhenti nangis lho..dia nangis tiap malem dan saat Abang nanya dia kenapa,,dia selalu bilang gini Rere kangen kakak bang Rere kangen..dan setelah itu dia tidur tengkurap sampai ingusnya jatuh jatuh di bantal hiii" ucap Vino dengan memperagakan gerakan Rere saat itu


"ih abaaaanngg" ucap Rere mengerucutkan bibirnya


"hahaha lucu hahahaha" semua tertawa setelah mendengar cerita Vino


*******


-di ruang tamu


"sudah malam ni..nggak ada yang mau tidur?" tanya Deni saat melihat semua putrinya berkumpul di ruang tamu


"ih Daddy,,ini mah masih sore bukan malam..masih kurang waktunya untuk kita tidur..kalau Daddy mau tidur duluan ya tidur aja lah dulu..kan sudah di siapin kamar sama ayah Reno' ucap Lia kepada Deni


"bukan gitu nak..kalian harus perhatikan kesehatan kalian..perhatikan juga sahabat baru kalian tu..sepertinya dia sudah mengantuk.. iya kan nak?" tanya Deni kepada Aisyah yang hanya mendapat senyuman


"ih Daddy mah..ya udah lah ayo kita pergi..dari pada di sini di suruh tidur Mulu..ke kamar yok ke kamar" ajak Ririn


"ke kamar siapa?" tanya Rere


"ya ke kamar masing masing lah..mbak dah ngantuk nih hehe' ucap Aisyah senyum memperlihatkan giginya


"ih dasar..ya udah good night all" ucap Ririn pergi duluan menuju kamarnya

__ADS_1


*******


-di kamar Ririn


"surat?" tanya Ririn kepada dirinya sendiri saat melihat amplop berisi surat di atas meja belajarnya


"surat siapa ini?" tanyanya lagi


" baca nggak ya" sambungnya


"ah baca aja lah dari pada penasaran kan nggak baik" ucapnya kemudian membaca surat itu


-isi surat


"hallo manisnya bunda..kamu sudah kembali ya dari pesantren..kembali dalam rangka apa nak? Ririn tau nggak bunda itu kangen banget sama Ririn..bunda ingin jenguk Ririn sesekali di pesantren, tapi bunda takut Ririn nggak bisa mandiri nantinya..jadi bunda urungkan niat untuk sering jenguk Ririn di sana..maafin bunda ya kalau bunda maksa kamu buat masuk pesantren..bunda hanya ingin anak bunda menjadi mentari pagi buat bunda dan keluarga..kalau kamu mengganggap bunda dan ayah nggak sayang kamu karena kami memasukkan kamu ke pesantren,, kamu salah sayang..sejak kamu tidak di rumah ini, setiap sebelum tidur ayah selalu bilang ayah rindu Ririn..ayah bunda Abang dan Rere sayang Ririn. bunda punya satu keinginan..suatu saat jikalau bunda atau ayah tiada,Ririn bisa jadi sinar buat kami..maka dari itu bunda mengizinkan ayah mengirim kamu ke pesantren. memiliki putri lulusan pesantren adalah salah satu keinginan terbesar bunda nak,,jadi jangan anggap pesantren itu penjara buat Ririn ya. love you putri bunda"


menangis lah Ririn saat membaca surat itu. tak sanggup membendung air mata yang ingin ia keluarkan sejak tadi. seperti semua sendi tak berfungsi,,kaki Ririn lemas saat membaca surat tersebut. alhasil dia jatuh tak berdaya di lantai dekat ranjangnya


"bundaaa" ucapnya dengan menangis..


"Ririn kangen bundaaa" sambungnya


"astaghfirullah Rin..kamu kenapa sayang? cerita sama ayah..ada apa nak?" tanya Reno saat melihat putrinya duduk di lantai dalam keadaan menangis


"bunda yah hiks hiks' ucapnya terputus


"iya sayang ada apa? sini cerita dulu jangan nangis nak" ucap Reno memeluk putrinya


tanpa berkata apapun,,Ririn memberikan surat yang dituliskan oleh bundanya itu kepada Reno..setelah membaca surat itu,,dengan sekuat tenaga Reno tidak menangis dihadapan putrinya


"sudah ya nak,,jangan nangis lagi. bunda sudah bahagia di sana. yang bunda butuhkan saat ini adalah doa kita sayang..Ririn berdoa aja ya buat bunda supaya bunda perginya tenang" ucap Reno mengusap air mata di pipi Ririn


"ayo sini berdiri dan segera tidur..sini sini ayah bantu" Reno membantu Ririn berdiri menuju tempat tidurnya..dan membaringkan Ririn di kasur empuknya itu.


"kamu sekarang tidur ya" ucap Reno kemudian mencium kening Ririn dan pergi meninggalkan kamar Ririn


"Tuhan lebih sayang sama bunda,,bunda harus bahagia di sana,,ayah janji akan selalu jagain anak anak buat bunda..jika di beri kesempatan lagi, ingin rasanya ayah bertemu dan memeluk bunda kembali..anak anak sangat terpukul dengan kepergian bunda yang begitu cepat..yang tenang di sana ya Bun" ucap Reno yang masih berdiri di depan pintu kamar Ririn dengan tak sengaja meneteskan air matanya

__ADS_1


Rumah Reno Fahriza (ayah Ririn)



__ADS_2