
Saat sadar dari pingsannya,,yg pertama kali Ririn liat adalah Gus Sofyan dan Aisyah..setelah cukup lama berdiam diri, akhirnya ada satu air yang menetes dari matanya..lagi lagi dia tak percaya bahwa orang yang paling dia sayang telah tiada
"sudah ya,semua ini sudah dalam takdir Allah" ucap Aisyah dengan memeluk Ririn hangat
"bundaaa..Ririn belum kuat di tinggal bunda mbak hiks hiks..bunda harus tetap ada di sisi Ririn hiks" ucapnya menangis di pundak Aisyah
"sudah Rin..kamu kuat kok,mbak yakin kamu pasti bisa jalanin semua ini" ucap Aisyah menenangkan hati Ririn
"Erina,,kamu harus kuat dan nggak boleh terlalu larut dalam kesedihan..hal itu nggak baik untuk kesehatan kamu.. walaupun beliau sudah tak ada,kamu harus bisa melanjutkan hidup Erina..saya yakin kamu bisa" batin Gus Sofyan
"sudahlah,apapun yang terjadi nggak perlu di tangisi terus menerus.. kehidupan dan kematian itu hanyalah milik Allah..makanya kamu nggak boleh terlalu bergantung sama orang supaya nggak sedih saat ditinggalkan" ucap Gus Sofyan dingin
dada Ririn sakit saat mendengar ucapan Gus Sofyan yang bilang supaya tidak bergantung kepada orang lain..karena kata itu menyakitkan,akhirnya Ririn berusaha kuat dan menghapus air matanya kasar
"ayo pulang, kamu sudah bisa jalan sendiri kan?" lanjut Gus Sofyan yang langsung diangguki oleh Ririn
"saya tunggu di tempat parkir" ucapnya kemudian pergi tanpa mengucapkan salam
"apa kalimat saya tadi menyakitkan hati Erina ya,, maaf ya Allah tapi sebenarnya saya tidak bermaksud seperti itu..saya hanya tidak ingin melihat Erina terlalu larut dalam kesedihannya..maafin hamba ya Allah" batinnya lagi sambil berjalan menuju parkiran
"sini aku bantu jalan" ucap Aisyah dengan memegang pergelangan tangan Ririn
"omongan Gus Sofyan yang tadi jangan di masukin ke Hati ya Rin..kamu tau kan Gus Sofyan orangnya memang gitu..mbak yakin maksud dia nggak seperti omongannya" lanjutnya lagi
"ah iya mbak aku paham kok.lagian ustadz Sofyan memang benar kalau kehidupan dan kematian hanya milik Allah" jawab Ririn tersenyum simpul
*
*
*******
-di dalam mobil
"kamu kenapa diam saja Rin?" tanya Aisyah
"oh nggak papa kok mbak" ucap Ririn
__ADS_1
"kamu yakin kamu nggak papa? apakah masih merasa pusing?" tanya Aisyah
"nggak kok" jawab Ririn singkat
sejak masuk ke dalam mobil hingga sampai di pesantren,Ririn tak banyak bicara..dia merenungkan hidupnya jika tak ada ibu tersayangnya. dan saat sampai di pesantren,Ririn terkejut karena pesantren nampaknya sangat sepi..
"assalamualaikum Gus,maaf saya mau menyampaikan sesuatu" ucap Rehan kepada Gus Sofyan
"ya bicarakan saja.ada apa ini? dan kenapa pesantren sangatlah sepi?" tanya Gus Sofyan
"mereka semua sekarang sedang berada di aula..pak kyai meminta untuk seluruh santri ikut mendoakan jenazah ibunya Ririn, dan saya di minta untuk menjemput Gus Sofyan saat sudah berada di pesantren" ucap Rehan sopan
"oh ya sudah mari kita ke sana" ucap Gus Sofyan yang langsung diikuti oleh Ririn, Aisyah, dan rehan di belakangnya
"assalamualaikum" ucap Gus Sofyan
"waalaikumsalam' jawab seluruh santri dan santriwati yang ada di aula pesantren
tubuh Ririn kaku saat melihat ada satu jenazah yang di kelilingi oleh seluruh santri dan santriwati pesantren. terdapat ayahnya juga di samping jenazah tersebut. Ririn berjalan menuju tempat ayahnya berada dan duduk tanpa berkata apapun. seolah ada yang mengunci tenggorokannya sehingga dia tak mampu untuk mengeluarkan satu kata.
tanpa ia sadari,air matanya kembali jatuh mengalir di pipinya "ini bunda?" tanya Ririn dengan senyuman (senyum terpaksa lebih tepatnya)
Ririn mengusap air mata di pipinya "ih ayah,nggak boleh nangis. kalau ayah dan semua yang ada di sini menangis,bunda tak akan bisa bahagia di sana" ucapnya dengan mengusap air mata ayahnya yang kembali menetes
"iya sayang iya,ayah nggak nangis kok kalau Ririn juga nggak nangis' ucap Reno kemudian
"ehehe ini Ririn nggak nangis kok" ucapnya tersenyum
"bunda,,Ririn sayang bunda. sebenarnya kalau di kasih pilihan,ingin rasanya Ririn yang menjadi bunda sekarang,,karena kalau bunda yang pergi,siapa lagi yang akan buat ayah bahagia? siapa lagi yang nyiapin sarapan buat ayah? bunda tau kan kalau ayah nggak suka masakan bi Mar" ucap Ririn tersenyum simpul
"di sini masih banyak yang membutuhkan bunda. tapi takdir Allah tak mendung Bun,tak mendukung kita untuk bersama lebih lama lagi..semua keluarga sudah ikhlas bunda pergi,nanti Ririn kasih tau resep makanan kesukaan ayah supaya ayah bisa masak sendiri..karena kita hidup di dunia ini tidak boleh bergantung kepada siapapun kecuali Allah kan bun" sambungnya lagi
mendengar hal yang di katakan Ririn kepada mendiang ibunya,,tak mampu menahan air mata sang ayah. lagi lagi Reno meneteskan air mata tak percaya bahwa ia sudah kehilangan istrinya
setelah berdoa dan mengaji untuk almarhumah,,seluruh santri dan santriwati diperintahkan untuk kembali ke asrama masing masing karena hari sudah malam. sementara Ririn dan keluarganya,,Vreya dan keluarganya,,dan liat dengan keluarganya tidur di rumah kyai Hamdan
*
__ADS_1
*
*******
-ruang tamu kyai Hamdan
"terimakasih bah atas doa dan semuanya" ucap Reno kepada kyai Hamdan
"tidak apa apa nak,,saya turut berdukacita atas nama pesantren karena meninggalnya ibu Ririn" ucap kyai Hamdan
"apakah almarhumah ibunya Ririn akan di makamkan di sini?" tanya kyai Hamdan
"saya berencana ingin membawa almarhumah pulang ke Surabaya besok pagi, supaya saat saya dan anak anak rindu padanya, bisa mengunjungi makam itu tanpa jarak yang jauh bah" ucap Reno dengan sopan
"ah ya benar,,lebih baik istirahat dulu karena besok harus berangkat pagi ke Surabaya,,kasian nak Reno pasti lelah" sambung kyai Hamdan
"iya bah, saya permisi dulu. assalamualaikum" ucap Reno
"waalaikumsalam" ucap kyai Hamdan
*******
-di kamar kyai Hamdan
kyai Hamdan masuk ke kamar dengan wajah lelahnya "assalamualaikum'
"waalaikumsalam bah..gimana?" tanya umi Hamidah
"nak Reno akan membawa almarhumah pulang ke Surabaya besok pagi" ucap kyai Hamdan
"ya sudah Alhamdulillah..lalu bagaimana dengan kita?' tanya umi Hamidah
"setidaknya kita harus ikut mereka sampai dengan hari ke tujuh" jawab kyai Hamdan
"lalu pesantren?" tanya umi Hamidah
"ummah,, pesantren bisa kita titipkan ke Hariz dan Izah kan..Abah yakin mereka bisa mengurus pesantren" ucap kyai Hamdan yang langsung diangguki oleh umi Hamidah
__ADS_1
"ya sudah ayo kita tidur,besok kita harus bangun pagi untuk ikut serta pergi ke Surabaya" lanjut kyai Hamdan