
Gus Sofyan menjenguk umi Hamidah yang sakit di suatu kamar. "assalamualaikum" ucapnya masuk ke dalam kamar itu
"waalaikumsalam. eh Sofyan kamu sudah pulang nak" tanya umi Hamidah
"iya ummah. katanya om Reno,ummah sakit ya..kenapa ummah?" tanya Gus Sofyan sembari duduk di dekat kaki umi Hamidah
"ummah nggak papa nak. hanya kurang istirahat saja. besok ummah dan Abah pulang. apa kamu mau ikut dengan kami?" ucap umi Hamidah
"lalu kalau Sofyan nggak ikut kita, dia pulangnya kapan ummah?" tanya kyai Hamdan
"Sofyan kan bisa pulang bareng Ririn dan yang lainnya bah. tapi terserah Sofyan sih mau ikut atau tidak" ucap umi Hamidah
"Sofyan mau ikut Abah dan ummah saja" ucap Gus Sofyan tanpa berfikir panjang
"apa yang lainnya juga ikut dengan kita bah?" tanya Gus Sofyan
"kalau mereka sudah tak berduka, kita harus membawa mereka kembali" ucap kyai Hamdan
"ya sudah kalau begitu Sofyan mau beres beres dulu ya bah" ucap Gus Sofyan kemudian berdiri dan berjalan menuju tempat umi Hamidah
"ummah cepat sembuh ya. jangan sakit lagi" ucap Gus Sofyan dengan mencium kening umi Hamidah
"ya sudah Sofyan keluar ya.. assalamualaikum" lanjutnya kemudian berjalan menuju dapur
*******
"eh tuan Sofyan,,ada yang perlu saya bantu?" tanya bi Mar yang saat itu sedang ada di dapur
"oh nggak kok bi. saya hanya haus saja" ucap Gus Sofyan berjalan menuju dispenser yang ada di dapur tersebut
Gus Sofyan duduk di kursi ruang makan dan meminum air yang telah ia ambil dari dapur. setelah meminumnya hingga habis,Gus Sofyan berdiri dan teringat ucapan bi Mar saat bilang bahwa Ririn mengingat bundanya
"bi, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Gus Sofyan kepada bi Mar
"iya tuan. kalau bibi bisa jawab, insyaallah bibi jawab dengan jujur kok. apa yang ingin tuan tanyakan kepada bibi?" ucap bi Mar
__ADS_1
"sebenarnya saya masih tak mengerti apa yang bibi ucapkan tadi" ucap Gus Sofyan
"ucapan yang mana ya tuan?" tanya bi Mar
"saat bibi bilang bahwa Erina mengingat bundanya. maksudnya gimana ya Bi?" ucap Gus Sofyan
"oh itu sebenarnya kebiasaan non Ririn tuan" ucap bi Mar
"setiap kali non Ririn masuk ke dalam rumah, kalimat yang pertama kali dia ucapkan hanya memanggil ayah dan bundanya. itu adalah kebiasaannya sejak kecil dan mungkin sekarang tak bisa ia lakukan lagi" sambung bi Mar
Gus Sofyan mendengar ucapan bi Mar dan mencermati kata demi kata dari ucapan tersebut "ah ya sudah kalau begitu saya mengerti. makasih atas jawabannya dan maaf sudah mengganggu kesibukan bi Mar" ucap Gus Sofyan sopan
"tidak apa apa kok tuan. kalau tuan Sofyan ingin mempertanyakan sesuatu yang tuan tak tau, jangan sungkan untuk bertanya kepada ART yang ada di sini termasuk saya" ucap bi Mar
Gus Sofyan mengangguk paham "ya sudah kalau begitu saya naik dulu ya Bi. ingin segera istirahat. assalamualaikum" ucap Gus Sofyan dengan terkekeh pelan di ujung kalimatnya
"iya tuan waalaikumsalam" jawab bi Mar
"apa hanya saya yang mengira bahwa sepertinya tuan Sofyan menyukai non Ririn. ah sudah lah saya tak boleh berfikiran seperti itu" ucap bi Mar pelan dan segera melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
*******
Reno keluar kamar menuju balkon kamarnya untuk melihat indahnya bintang di malam hari.
"di sini pertama kalinya ayah merasa bahwa ayah adalah orang yang paling beruntung di dunia ini Bun" ucapnya dengan melihat bintang bintang di atas langit
"bunda ingat nggak apa yang bunda katakan saat sedang hamil Ririn dan Rere?" tanya Reno yang tak mendapat jawaban dari siapapun
FLASHBACK ON
"dingin ya yah" ucap Fita keluar dari kamar untuk menyapa suaminya yang sedang berdiri di balkon kamarnya.
"bunda kenapa keluar? Vino sudah tidur?" tanya Reno yang hanya mendapat anggukan dari Fita
"ayah ngapain di sini malam malam?" tanyanya lagi
__ADS_1
"ngapain ya? mikirin nama anak kita mungkin" ucap Reno dengan menyentuh hidung Fita
"hmm udah dapat namanya?" tanya Fita lagi
"belum. bunda sih ganggu konsentrasi ayah. kan ayah jadi nggak bisa mikir lagi karena melihat kecantikan bunda" ucap Reno menggoda istrinya
"apaan sih yah" ucap Fita dengan terkekeh pelan kemudian menyenderkan kepalanya ke bahu sang suami
"bunda capek?" tanya Reno
"nggak kok. hanya sedikit kebas aja nih kaki karena terlalu lama berdiri mungkin" ucap Fita
"yaudah sini ayah peluk" ucap Reno merangkul istrinya
"nggak ada hubungannya juga ih. kan yang sakit kaki bunda bukan tubuhnya" ucap Fita yang membuat suaminya tertawa
"ayah beruntung bisa menikahi bunda" ucap Reno yang tak terselesaikan
"emang kenapa?" tanya Fita dengan menoleh melihat wajah suaminya
"ya karena bunda orang yang paling cantik sedunia ini. paling baik juga. paling setia juga bisa. paling istimewa deh di hati ayah pokoknya" ucap Reno
"hm iya bunda juga merasa beruntung dinikahi ayah" ucap Fita
"lah emangnya apa yang membuat bunda beruntung. apa ayah sangat spesial di hati bunda?" ucap Reno heran
"nggak" ucap Fita dengan kekehan kecilnya
"kalau bukan karena ayah nikahin bunda, bunda mungkin akan menjadi istri ke 6 dari rentenir jahat" ucap Fita tertawa yang diikuti oleh suaminya
"tenang aja yah. bunda nggak akan pergi ninggalin ayah kok. janji" ucap Fita dan mengaitkan jari kelingking mereka
"ya udah ayo masuk. semakin malam akan semakin dingin udaranya. nggak baik untuk adeknya Vino' ucap Reno dengan mengelus perut buncit istrinya kemudian mereka masuk ke dalam kamar
FLASHBACK OFF
__ADS_1