
-di ruangan Rere
"nggak tidur nak Reno?" ucap kyai Hamdan
"sepertinya saya tidak tidur dulu bah..Abah duluan aja yang tidur..saya mau tunggu sampai Rere bangun" ucap Reno menatap Rere sendu
"jika kamu tak tidur,,saat Rere bangun nanti akan sedih melihat ayahnya yang memiliki kantung mata" ucap umi Hamidah
"ummah dan Abah pulang duluan nggak papa kok..bentar lagi supir saya jemput, jadi ummah dan Abah bisa ikut pulang" ucap Reno beralih menatap umi Hamidah dan kyai Hamdan secara bergantian
"kamu yakin nggak mau ikut pulang bareng kami?" ucap kyai Hamdan
"iya bah..biar saya sendirian saja di sini menunggu sampai Rere membuka matanya" ucap Reno yakin
"ya sudah kalau begitu ummah dan Abah pulang dulu ya. kalau ada apa apa langsung telfon Abah ya nak" ucap kyai Hamdan menepuk bahu Reno
"iya bah..Abah dan ummah hati hati ya" ucap Reno tersenyum
"ya sudah kalau begitu..Abah pulang ya assalamualaikum" ucap kyai Hamdan kemudian berjalan menuju luar ruangan
saat baru keluar dari ruangan,,kyai Hamdan dan umi Hamidah bertemu dengan vino yang hendak masuk ke dalam ruangan Rere
"eh Abah..udah mau pulang ya?" ucap vino
"iya, Abah dan ummah mau pulang. memangnya kenapa?" ucap kyai Hamdan
"ah tak apa apa kok bah.. ya sudah mari Vino antar sampai di luar rumah sakit" ucap Vino mempersilahkan kyai Hamdan berjalan mendahului
mereka berjalan hingga luar rumah sakit dan menunggu supir yang di utus oleh Reno untuk menjemput mereka datang. selama di Surabaya,,mereka tinggal di rumah Reno. selain sepi, rumah itu juga sangat megah untuk di huni beberapa orang saja. jadi tak akan berpengaruh jika keluarga kyai Hamdan tinggal bersama mereka
"ya sudah Abah pulang dulu ya" ucap kyai Hamdan
"iya Abah" ucap Vino mengangguk
"tolong jaga ayah dan adik kamu ya nak" ucap umi Hamidah
"iya baik ummah" ucap Vino kemudian berjalan menuju pintu kemudi
vino mengetuk kaca mobil pengemudi dan sedikit membungkuk "hati hati ya pak, jangan ngebut" ucap Vino memperingati
"iya baik tuan" ucap seorang supir tersebut
seperti biasa,,pak Toni selalu siap untuk mengantar jemput majikannya. namun untuk saat ini pak Toni tak bisa menerima perintah dari Reno karena ia sedang sakit. oleh karena itu, supir yang menjemput kyai Hamdan dan umi Hamidah adalah salah satu supir cadangan di keluarga Fahriza
*******
Gus Sofyan dan Ririn telah sampai di salah satu mall terbesar di Surabaya. mereka baru saja turun dari mobil dan hendak masuk ke dalam mall megah itu
"besar sekali..tak seperti di daerah rumah saya" ucap Gus Sofyan melihat ke arah mall yang sangat luas itu
__ADS_1
"mau masuk sekarang atau hanya melihat sekeliling gedung gini aja?" ucap Ririn sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap sekilas wajah tampan Gus Sofyan
j
"ayo masuk sekarang" ucap Gus Sofyan mendahului Ririn
"ihh tuh kan di tinggal" gerutu Ririn dengan memonyongkan bibirnya kemudian menyusul Gus Sofyan yang sudah berada jauh di depannya
mereka memasuki mall itu bersama. mengelilingi mall secara perlahan dan mencari beberapa barang yang ingin mereka beli.
Ririn melihat sebuah gaun yang sangat indah "waahh bagus ya ustadz" ucap Ririn dengan meraba gaun tersebut
"tak bagus jika kamu yang pakai" ucap Gus Sofyan dingin
"dihh sensi banget sih..memangnya kenapa kalau Ririn yang pakai?" ucap Ririn kesal
"nggak bagus untuk mata para kaum pria. jika kamu yang pakai, akan semakin memikat mata pria di luar sana untuk melihatmu lebih inci" ucap Gus Sofyan menyilangkan tangannya di depan dada
"ah ustadz bisa aja hehe" ucap Ririn memukul lengan Gus Sofyan
"astaghfirullah" ucap Gus Sofyan terkejut
"ih ustadz mah cuman di pukul gitu aja udah istighfar..gimana kalau di sentuh halus halus cobak?" ucap Ririn dengan mengangkat alisnya untuk menggoda Gus Sofyan
"astaghfirullah..sudah lah Erina mari cari apa yang kita perlukan saja" ucap Gus Sofyan berjalan meninggalkan Ririn di depan patung gaun itu.
"apaan sih nggak lah. ngapain juga saya malu sama kamu" ucap Gus Sofyan mengalihkan pandangannya
mereka berjalan bersama untuk mencari toko baju yang pas untuk dokter Johan. tak lama kemudian,, mata Ririn menangkap sebuah baju Koko yang sangat elegan. dia menghentikan langkahnya kemudian menyentuh baju itu
"kenapa?" ucap Gus Sofyan menoleh karena melihat Ririn berhenti di sebuah toko
"bagus nggak ustadz?" ucap Ririn menunjukkan baju tersebut
Gus Sofyan melihat label harga yang tergantung di bagian leher baju itu. ia terkejut karena melihat harga baju Koko itu sangat tak wajar
"nggak" ucap Gus Sofyan dingin
"ih ustadz mah..jawab jujur lah" ucap Ririn memonyongkan bibirnya
"kalau saya bilang nggak bagus ya nggak bagus. jangan di paksa" ucap Gus Sofyan kemudian berjalan meninggalkan Ririn
Ririn berlari menyusul Gus Sofyan dengan memegang baju Koko yang sudah iya pegang tadi.
mereka melanjutkan jalan dan menemukan toko yang cocok untuk mencari pakaian dokter Johan.
"carinya cepat ya..ini sudah larut" ucap Gus Sofyan setelah mereka memasuki toko tersebut
"ini sama ini lebih bagus yang mana ustadz?" ucap Ririn memperlihatkan dua pakaian yang berbeda
__ADS_1
"bagus semua sih" ucap Gus Sofyan
"lah menurut ustadz gimana? lebih cocok yang ini atau yang ini untuk di pakai dokter Johan?" ucap Ririn meminta pendapat
"terserah kamu saja Erina..kan yang disuruh beliin pakaiannya kamu,,bukan saya" ucap Gus Sofyan
"ih ustadz mah nggak bisa di ajak kerja sama nih..Ririn kan bingung ustadz" gerutu Ririn kesal
"jangan terlalu lama. ini sudah larut Erina" ucap Gus Sofyan memperingati
"ya udah mbak. yang ini saya mau semua. bungkusin aja ya" ucap Ririn kepada seorang pegawai toko
pegawai toko tersebut hanya menerima baju yang Ririn pesan dan terus menatap Ririn dengan heran. seperti ada yang ingin ia bicarakan
"saya tau saya cantik mbak..mbak pasti mau tanya resep kecantikan saya kan haha ngaku aja mbak" ucap Ririn dengan PD nya
"nona Fahriza?" ucap pegawai itu
Ririn tersenyum manis menampakkan giginya "iya mbak ini saya" ucapnya
"eh ini benar nona Fahriza? ya Allah saya sudah lama sekali tak melihat anda berkunjung ke toko kami. suatu kehormatan bagi saya bisa melayani anda secara langsung nona" ucap pegawai tersebut
Gus Sofyan membalikkan badannya dan mendengarkan mereka berbicara. ia hendak menegur pegawai itu karena telah membuang waktu mereka
"mbak,,ngobrolnya nanti saja. ini sudah malam dan sepertinya kami harus segera pulang. langsung di hitung aja berapa totalnya" ucap Gus Sofyan dingin
pegawai itu menatap Gus Sofyan sekilas dan tersenyum "apa beliau adalah calon tuan Fahriza berikutnya nona?" ucap pegawai itu bertanya kepada Ririn
Ririn menahan tawa di balik senyumannya "insyaallah" ucap Ririn sedikit berbisik namun masih terdengar oleh Gus Sofyan
pegawai itu menghitung dan memasukkan barang belanjaan Ririn ke dalam papper bag yang lumayan besar karena belanjaan Ririn yang cukup banyak.
"ini belanjaan anda nona. terima kasih sudah berkunjung di toko kami. semoga anda senang dengan pelayanan kami" ucap pegawai tersebut sembari memberikan papper bag yang sudah berisi belanjaan Ririn.
"iya terima kasih. insyaallah saya akan kembali jika ada waktu. saya permisi dulu ya. assalamualaikum" ucap Ririn tersenyum manis
"waalaikumsalam. hati hati nona, tuan" ucap pegawai itu dengan ramah
Gus Sofyan dan Ririn berjalan menuju tempat parkir "jika masalah panggilan tuan dan nona,,mungkin itu sudah biasa di lakukan oleh pegawai toko. tapi jika kamu belanja dengan gratis, apa itu juga termasuk kebiasaan dalam toko tersebut?" ucap Gus Sofyan
"haha nggak gitu juga ustadz. jadi sebenarnya, mall ini adalah mall keluarga kami. mall ini di bangun saat eyang Ririn masih ada" ucap Ririn yang mampu membuat Gus Sofyan terkejut tak percaya
"setelah eyang nggak ada,,penerus selanjutnyalah yang harus membangun mall ini lebih besar dan mengelolanya" jelas Ririn
"Ririn dulu sering ke sini bareng Vreya dan Lia. bahkan keluarga mereka juga sudah terkenal di mall ini. katanya sih, papa dan Daddy menyumbang berapa persen gitu dari pembangunan mall ini. Ririn lupa persentasenya hehe" ucap Ririn tersenyum menampakkan giginya
"ya sudahlah saya tak mau dengar lagi. berita ini cukup membuat saya tak percaya bahwa benar benar ada keluarga sultan di dunia ini. dan sepertinya saya akan menjadi menantu dari keluarga tersebut sebentar lagi" ucap Gus Sofyan berjalan lebih cepat menuju mobil
Ririn tersenyum mendengar perkataan Gus Sofyan. bukan karena Gus Sofyan menyebut keluarga Ririn sebagai keluarga sultan. tapi karena Gus Sofyan bilang bahwa ia akan segera menjadi menantu di keluarga Fahriza.
__ADS_1