
Seorang pria gagah berjalan di tengah tengah banyaknya mahasiswa yang memperhatikannya. namun semua pandangan mata yang mengarah padanya tak di notice sedikitpun olehnya
Pria itu membuka kacamatanya saat telah sampai ditujuan ya keluar apartment hari ini. ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru tempat umum tersebut. Pria tampan itu adalah Vino yang tengah mencari keberadaan wanita yang kerap di panggil Alin
"ah itu dia" pekiknya berjalan menuju meja tempat Alin berada
"Excuse me, may I sit here? (permisi, bolehkah saya duduk di sini?)" ucap Vino sembari menunjuk kursi yang berada di hadapan Alin
Alin mendongak menatap pria yang tengah berada di depannya itu. dengan malas ia mengangguk pelan
Vino duduk dengan rasa gugupnya. dia takut jika wanita didepannya ini akan berbuat macam macam padanya. seperti halnya pelet dukun semisal, pikirnya. ia berdehem singkat guna mengurangi rasa gugup yang tengah ia rasakan
"If I may know, why did you invite me to meet? (kalau boleh tau, kenapa kamu ngajak saya ketemuan?)" tanya Vino
Alin menarik nafasnya pelan "bicara bahasa Indonesia saja. aku bisa kok" ucapnya
"ah okee..jadi kenapa kamu ngajak saya ketemuan?" ulang Vino lagi
"katanya mau minta maaf?" ucap Alin heran
"lah kan tadi di telfon udah minta maaf..kenapa minta maaf lagi" protes Vino
"kamu minta maaf karena apa?" ujar Alin
"karena udah ngomong nggak sopan dan kasar" jawab Vino
"ya udah minta maaf" ucap Alin menatap tajam Vino
"kan udah" ucap singkat Vino
Alin menarik nafasnya panjang "kamu kemarin nggak sopannya di kantin ini kan..jadi ya minta maafnya juga di kantin ini..bukan di telfon!" geram Alin
Vino mengangguk kecil "aahh iya iya..maafin saya ya" ucap Vino
"oke. aku maafin kok, asal kamu traktir aku moccalatte di kantin ini" ucap Alin menahan senyumnya
"mo-moccalatte?" ulang Vino
"iya moccalatte..cepet sana belikan" ucap Alin memerintah
Vino gelagapan "ah iya oke tunggu bentar" ucapnya bergegas menuju penjual moccalatte di kantin kampus itu
__ADS_1
Alin menatap punggung Vino sembari terkekeh pelan "lucu" lirihnya dengan senyum manis
tak lama kemudian, Vino datang dengan membawa dua gelas berisi moccalatte sesuai keinginan Alin.
"nih" ucapnya menyodorkan gelasnya kepada Alin yang sedang memainkan handphone nya
"makasih" ucap Alin tersenyum manis
"kamu mahasiswa psikologi ya?" ucap Vino memulai
Alin yang mulanya menatap layar ponselnya, kini beralih menatap Vino dan terkekeh kecil "lebih tepatnya aku guru psikologi disini" ucapnya lembut
"ah gurunya" Vino mengangguk kecil
"kamu kerja apa? kenapa sering ada di kampus ini?" tanya Alin
"saya dokter ahli jantung. saya diundang oleh pemilik kampus ini untuk mengisi materi praktek mahasiswa jurusan kedokteran" ucap Vino menjelaskan
"oh gitu" ucap Alin mengangguk pelan
"gila woyy garing banget" geram Vino
"kamu asli orang Spanyol?" ucap Vino mencoba untuk tidak sebeku mungkin
Dan yaa,,kini Vino berada di Spanyol. ia berangkat ke Spanyol mulai Ririn sadar dan boleh pulang kerumah. seperti yang dikatakannya tadi, ia ke Spanyol hanya untuk urusan kerjaan dan butuh sedikit refreshing saja
"Mommy asal Indonesia dan Daddy asal Spanyol. aku lahir di Indonesia tapi dibesarkan di sini" ucap Alin
"kalau ada waktu, aku juga sering pulang ke rumah mommy di Indonesia. jadi tak heran kalau bahasa Indonesia ku cukup lancar" sambungnya lagi
"Indonesia mana? saya juga Indonesia loh" ucap Vino
"Bandung" jawab Alin singkat
"ah gitu..kalau saya dari Surabaya. kapan kapan main ke rumah ya" ucap Vino
"aneh..kok rasanya aku Deket banget sama dia sih" ucapnya dalam hati
"eh dia kan psikolog, kira kira bisa nggak ya untuk nyembuhin penyakit trauma Ririn?" tanyanya dalam hati
"saya--" ucap Vino terhenti karena dering telfon dari handphone Alin
__ADS_1
"eh sorry..aku angkat dulu ya" ucapnya kemudian beranjak menjauh untuk menerima telfon
tak berselang lama, Alin mengambil tasnya yang berada di kursi depan Vino "sorry ya..sepertinya aku ada kelas mendadak..tentang omonganmu yang terputus, nanti aku hubungi kamu kalau udah renggang yaa..bye" ucapnya kemudian melenggang pergi
Vino hanya menarik nafasnya panjang "unik" lirihnya
*******
"assalamualaikum sayang..Abi pulang" ucap Gus Sofyan sedikit berteriak
"kok cepet?" ucap Ririn keluar dari dapur kemudian mencium punggung tangan Gus Sofyan
"kangen kamu hehe" ucap Gus Sofyan terkekeh sembari mencium pipi kanan Ririn
Ririn tersenyum manis dan berjalan kembali ke arah dapur "mau makan?" ucapnya
Gus Sofyan terdiam tampak seperti sedang berfikir "boleh deh..kamu masak apa?" tanya Gus Sofyan duduk di meja makan
"cuma nasi goreng aja. nggak yakin bakal enak" ucap Ririn ragu
"haha pasti enak lah.. kan istri Abi yang buatin" ucap Gus Sofyan layaknya menghibur
Ririn berjalan ke arah meja makan sembari meletakkan dua piring nasi goreng "nih" ucapnya
"makasih sayang" ucap Gus tersenyum manis
mereka mulai makan dan sesekali Gus Sofyan menatap Ririn sayang dengan senyuman hangatnya
"eh sayang..aku mau ngomong sesuatu" ucap Gus Sofyan memulai
"apa?" tanya Ririn terus mengunyah
"kamu mau nggak, kalau Abi ajak ke psikiater" ucapnya ragu
Ririn terdiam "apa Ririn gila?" ucapnya dalam hati
Gus Sofyan yang mendengarpun dengan cepat menggenggam tangan Ririn "nggak sayang..Erina nggak gila kok.. psikiater itu untuk melunakkan mental kamu.. biar cepet sembuh seperti semula" jelas Gus Sofyan
Ririn menatap manik mata Gus Sofyan lekat "iya Ririn mau" lirihnya
Gus Sofyan tersenyum manis dan kemudian mencium punggung tangan Ririn "makasih ya sayang" ucapnya yang mendapat anggukan dari Ririn
__ADS_1