Suami Pilihan Allah

Suami Pilihan Allah
Episode 74


__ADS_3

Ririn tersadar dan ia terdiam sejenak untuk mencerna perkataan Vreya. ia menyadari bahwa ia telah kehilangan saudari kembarnya itu.


Ririn menjatuhkan dirinya di lantai. ia tak kuasa untuk mengimbangi berat badannya sendiri karena kabar duka itu. Ririn menangis tersedu-sedu dan tetap tak percaya bahwa sekali lagi ia telah kehilangan orang yang di cintainya


vino menghampiri Ririn yang tengah menangis. ia merangkul adiknya itu dengan penuh rasa kasih "Rere saya sama kamu Rin. bahkan sebelum dia di operasi tadi, dia masih bertanya keadaan dan kabar kamu. sanggupkah kamu melihat dia menderita setelah kamu datang kembali? ikhlaskan dia ya" ucap Vino


Ririn menatap wajah vino "kenapa Abang hiks nggak ngasih hiks tau Ririn hiks hiks tentang hal ini hiks?" ucapnya dengan tetap menangis


"kenapa ayah nggak hiks ngomong tentang hiks hiks penyakit Rere yah?" ucap Ririn menatap ayahnya samar


Ririn berdiri menghadap semua orang yang ada di tempat itu "kenapa kalian nggak ada yang memberi kabar ini kepada Ririn? apa salah Ririn sehingga kalian nggak ngasih kabar buruk ini?" ucap Ririn menghapus air matanya kasar


"maafin Abang. Abang yang salah dan Abang minta kamu ikhlaskan Rere ya" ucap Vino memeluk Ririn


"nggak bang! Rere masih hidup! dia nggak meninggal!" bantah Ririn


"ikhlaskan saja dia Erina..kalau kamu seperti ini terus,,akan memberatkan jenazah untuk bisa menemukan jalannya" ucap Gus Sofyan


"nggak ada ustadz..nggak ada yang jadi jenazah!" ucap Ririn membantah


"sadar Rin. dia udah pergi dan kini saatnya kita untuk mempersiapkan makam untuknya Rin. dia sudah tiada" ucap Lia


PLAAKK!


Ririn menampar pipi Lia. ia merasa muak dengan semua omongan orang yang mengatakan bahwa Rere sudah meninggal. ia tetap tak percaya dengan omongan semua orang di sana


"kalian apaan sih..nggak ada yang meninggal di sini! nggak ada yang harus di persiapkan!" ucap Ririn marah kemudian ia berlari menuju ruangan Rere


semua orang yang melihat Ririn berlari pun mengikuti Ririn karena mereka takut akan terjadi hal hal yang tak di inginkan terhadap Ririn


*******


-di ruangan Rere

__ADS_1


"saya tak menyangka bahwa pasien adalah adik dokter vino dok" ucap salah satu perawat yang ada di dalam ruangan Rere


dokter Riko menarik nafasnya panjang "ya begitulah sus. takdir tak ada yang bisa merubahnya. mungkin ini yang sudah di tuliskan untuk pasien" ucap dokter Riko


"cabut semua alat yang ada di tubuhnya" perintah dokter Riko


"baik dok" ucap perawat tersebut


saat para perawat hendak mencabut semua alat yang ada di tubuh Rere,,Ririn masuk ruangan tanpa salam dan membuat semua yang berada di dalam ruangan terkejut


"dia masih belum meninggal dokter..saya mohon jangan lepaskan alat alat itu" ucap Ririn menyeka air matanya


"maaf,,tapi ini adalah prosedur yang harus kami ikuti" ucap seorang perawat


para perawat itu mulai melepas alat yang ada di tubuh Rere


"kalian lepas alat alat itu,,akan saya lepas juga pekerjaan kalian!" ucap Ririn berteriak kemudian berjalan menuju Brankar Rere


"tapi ini sudah prosedur dari rumah sakit" ucap dokter anestesi di ruangan itu


para dokter dan suster yang ada di samping Brankar Rere mundur menjauh. semua orang yang berada di dalam ruangan Rere tak dapat berkata apa apa selain diam dan melihat apa yang akan di lakukan oleh Ririn selanjutnya.


"Re..Kakak datang" ucap Ririn mulai meneteskan air mata


"Kakak sekarang di sini bareng Rere. Rere bangun yok kita liat Drakor bersama. Rere bilang Rere punya drakor terbaru" ucap Ririn menyeka air matanya


"eh iya Rere tau nggak? kakak bawa oleh oleh loh untuk Rere..hayuk ambil koper kakak di luar" ucap Ririn namun tak ada jawaban dari siapapun


"Rere ayo bangun sekaraaangg hiks hiks" ucap Ririn menangis dengan menggenggam tangan Rere


vino menghampiri Ririn dan merangkulnya "sudah ya Rin. sudah saatnya dia beristirahat dengan tenang di sana" ucap Vino


"apaan sih bang. nggak jelas deh" ucap Ririn membantah

__ADS_1


"Re..bangun re bangun" ucap Ririn dengan menggoyangkan tubuh Rere di atas Brankar


"bangun Rereee" ucapnya tetap berusaha membuat Rere terbangun


"sudah Rin sudah" ucap vino yang berusaha menghentikan aksi Ririn yang sudah tak terduga


"nggak bang. dia masih hidup!" ucap Ririn tak mau kalah


vino memegang kedua tangan Ririn supaya tak berbuat lebih jauh. namun tangan Ririn dengan mudah keluar dari genggaman vino dan meraih sebuah suntikan yang ada di meja dekat Brankar Rere.


Ririn tak mengerti cairan apa yang ada di dalam suntikan tersebut. ia meraih suntikan itu dan menusukkannya di dada Rere bagian kiri. ia menusuknya sembarangan tanpa melihat pembuluh darahnya terlebih dahulu.


"Rin!" sontak Lia dan Vreya teriak karena melihat kelakuan Ririn


titt..


titt..


titt..


"jantungnya berdetak dok!" ucap dokter anestesi kemudian berjalan mendekat ke arah monitor jantung


monitor jantung kembali bekerja setelah Ririn memasukkan cairan ke dalam tubuh Rere. bunyi monitor tersebut mampu membuat dokter yang ada di dalam ruangan terkejut dan segera mengambil tindakan lebih lanjut. tak hanya dokter dan perawat,,bahkan semua orang Yang ada di dalam ruangan terkejut.


setelah mendengar bahwa monitornya berbunyi kembali,,Ririn terduduk di lantai dan terus menangis. ia bersyukur karena saudari kembarnya kini memiliki detak jantung, walaupun masih lemah


"Ririn keluar ya,,biar Abang dan para perawat lainnya yang mengurusnya" ucap vino kepada Ririn yang terduduk di lantai


"tolong..tolong selamatnya Rere bang" ucap Ririn dengan menatap wajah abangnya dalam


"Iya. Abang pasti akan melakukan yang terbaik. Ririn keluar dulu ya" ucap vino membantu Ririn berdiri dan menuntunnya menuju sekumpulan orang di ruangan itu


"tolong bawa dia keluar. biarkan tim medis yang melakukannya. doakan saja yang terbaik" ucap Vino tersenyum tipis

__ADS_1


semua orang keluar menuruti ucapan Vino dan membiarkan tim medis menangani keadaan Rere yang tak stabil.


__ADS_2