
"assalamualaikum yah" ucap Vino masuk ke dalam ruangan Rere
"waalaikumsalam. kenapa kamu kesini?" ucap Reno berdiri dari tempat duduknya
"kan Vino dokternya Rere..jadi terserah vino dong mau masuk kapan saja" ucap Vino terkekeh
"gimana? apa tak ada perubahan dari kondisinya?" sambung vino kemudian
"ayah sudah berusaha buat dia pulih. ayah selalu bicara sendirian hingga menceritakan kisah masa kecilnya, supaya dia membuka mata dan bisa merespon ucapan ayah. tapi seperti tak ada perkembangan" ucap Reno menjelaskan
Vino berjalan menuju Brankar Rere dan mulai memeriksa detak jantungnya "kondisinya sudah mulai stabil..detak jantungnya juga sudah mulai normal. insyaallah tak lama lagi Rere akan sadar kembali" ucap Vino tersenyum kepada Reno
"kalau seperti ini, anak ayah benar benar terlihat seperti seorang dokter" ucap Reno menepuk pundak Vino pelan
tak lama kemudian, Ririn masuk dan membawa papper bag berisi beberapa baju yang ia pilih tadi.
"assalamualaikum ayah..Abang..Ririn pulaangg" ucap Ririn mencium punggung tangan ayah dan kakaknya
"kamu nggak bareng Sofyan?" ucap Vino
"oh itu tadi ustadz nganterin Ririn sampai depan pintu..terus bilang mau beli makan katanya" ucap Ririn sembari berjalan ke arah sofa dan meletakkan papper bag yang ia bawa
"kok ada tiga papper bag. kamu bawa untuk siapa?" ucap Reno heran setelah melihat ketiga papper bag yang ada di atas meja
"punya dokter Johan dua,,punya ustadz Sofyan satu,,dan punya Ririn dua hehe" ucap Ririn terkekeh di ujung kalimatnya
"kok untuk Sofyan hanya satu? sedangkan kamu dan dokter Johan ada dua" ucap Reno duduk di samping Ririn
"punya Ririn dua karena yang satu punya Ririn dan yang satunya lagi punya Rere" ucap Ririn minum air yang ada di atas meja
"lalu untuk Abang?" ucap vino duduk di samping Ririn
__ADS_1
"punya Abang, dah Ririn beliin dari Jerman..tapi masih ada di koper, jadi Abang tunggu aja punya sampai Ririn bongkar koper ya" ucap Ririn terkekeh
"hm. kapan sih Abang nggak pernah sabar sama Ririn" ucap Vino dengan memutar bola matanya jengah
"hehe.. oh iya bang, gimana keadaan Rere?" ucap Ririn menatap abangnya
"secara ilmu kedokteran,,bisa di bilang kondisi Rere sudah stabil. hanya saja dia enggan untuk membuka matanya karena,,mungkin masih lelah" ucap Vino tersenyum lembut
Ririn mengangguk paham "hmm syukurlah kalau gitu" ucapnya
tak lama kemudian Gus Sofyan masuk ke dalam ruangan dengan membawa kantong kresek yang sudah berisi makanan untuk keluarga Ririn yang ada di dalam ruangan tersebut
"assalamualaikum" ucap Gus Sofyan
"waalaikumsalam" ucap Ririn,,vino,, dan Reno bersamaan
"mari makan. saya sudah beli beberapa bungkus nasi goreng di depan rumah sakit ini" ucap Gus Sofyan kemudian duduk di kursi sebelah Vino
"kalian makan lah. ayah masih kenyang" ucap Reno kemudian beranjak bangun dari duduknya
"ayah masih kenyang Rin" ucap Reno tersenyum tipis
"Ririn tau ayah pasti sedih karena kondisi Rere yang sekarang. sama kok yah, kami semua juga sedih. tapi ayah harus makan ya,,nanti ayah sakit kalau nggak makan" ucap Ririn tersenyum lembut
Reno mengangguk dan duduk di samping Ririn. mereka semua makan dengan lahap tanpa ada gangguan dari siapapun. setelah makan, mereka berbincang sedikit sembari menunggu keadaan Rere membaik
"apa tak ada cara lain untuk membuat Rere lekas sadar dan membuka matanya?" ucap Reno menatap Vino
"bukan tak ada yah, tapi jika kita menggunakan cara itu, khawatirnya nanti akan berimbas lebih parah terhadap kondisi Rere" ucap Vino
"mungkin memang harusnya kita bersabar dulu om" ucap Gus Sofyan
__ADS_1
"iya Sofyan, om tau. tapi om nggak tenang kalau melihat kondisi Rere yang seperti sekarang" ucap Reno berkaca kaca
"sudah ya yah, ayah nggak perlu mikirin hal itu. gimana kalau ayah sekarang pulang aja dengan ustadz Sofyan. biar Ririn yang jagain Rere di sini. lagian kan di sini ada Abang dan banyak dokter lainnya juga" ucap Ririn memegang tangan ayahnya
"ayah nggak mau pulang. ayah di sini aja ya" bantah Reno
"nggak yah. Ririn aja yang di sini. kan ayah sudah dari tadi jagain Rere. sekarang gantian biar Ririn yang jaga Rere ya" ucap Ririn tersenyum manis
"kamu yakin?" ucap Reno khawatir
"iya yah, Ririn yakin banget. udah ya ayah pulang duluan aja nggak papa kok" ucap Ririn tenang
"ya sudah kalau begitu ayah pulang ya. ayah naik taksi aja pulangnya. biar Sofyan jaga kamu di sini" ucap Reno
"tidak om. biar saya saja yang mengantar om sampai rumah. lagian saya juga mau pulang kok" ucap Gus Sofyan
"pulang? kamu nggak mau temenin anak om?" ucap Reno menatap tajam ke arah Gus Sofyan
"iya om. kan masih belum sah. saya takut terjadi sesuatu yang nggak di inginkan" ucap Gus Sofyan lembut
"oh iya benar, om hampir lupa kalau kalian masih belum ada hubungan. ya sudah ayo pulang bareng" ucap Reno berjalan ke arah pintu
"Ririn jaga diri baik baik ya nak. kalau ada sesuatu yang aneh, langsung telfon orang yang ada di rumah. oke?" ucap Reno mengelus lengan Ririn di depan ruangan Rere
"iya iya ayah Iya. hati hati ya ustadz" ucap Ririn tersenyum
"ayah tenang aja. selama ada vino di sini,,nggak akan ada hal aneh kok yang menyertai princess princess nya Vino" ucap vino yang mampu membuat hati Reno sedikit tenang
"ya udah ayah pulang ya. assalamualaikum" ucap Reno
"assalamualaikum" sambung Gus Sofyan
__ADS_1
"waalaikumsalam" ucap vino dan Ririn bersamaan
"vino antar ya ayah" ucap Vino kembali ke dalam ruangan untuk mengambil pakaian dokter Johan dan kemudian berlari mengejar ayahnya yang sudah berada jauh di depan.