
Assalamualaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
Keesokan harinya, kini keluarga Alexander sedang sarapan bersama. Jaka yang baru pertamakali makan bersama mereka merasa canggung. Karena memang sejak Jaka tinggal di sana ia tidak pernah makan bersama. Dan Jaka juga merasa risih karena biasanya yang makan sering menggunakan tangan. Kini dia harus menggunakan sendok dan garpu yang membuatnya kesusahan.
Dan tanpa di sengaja daging yang sedari tadi tidak berhasil-hasil Jaka potong pun malah terbang hampir mengenai wajah Salma. Namun tidak jadi karena gadis itu berhasil menghindar. Pak Devan, Bu Sazkia dan Salma langsung menatap Jaka.
"Lo jorok banget sih! Untung jatuhnya ke lantai bukan ke muka gue!" ucap Salma kesal.
"Maaf Mah, Pah, Salma. Saya teh gak terbiasa makan daging pakai sendok dan garpu kayak gini. Sekali lagi saya minta maaf karena saya sudah mengganggu makan kalian," ujar Jaka sambil menundukkan kepalanya.
Mamah dan Papanya hanya tersenyum, sedangkan Salma terlihat masih kesal, "Oh gue lupa, Lo kan orang kampung. Jadi gak bisa makan pake sendok dan seharusnya Lo itu makanya di dapur, bukan di sini!" hina Salma.
"Salma udah!! Jaga omongan kamu! Kamu kenapa sih?! Walaupun gimana pun juga dia tetap suami Sah kamu! Dan dia juga tetap manusia biasa seperti kita! Dia punya hati. Papah benar-benar kecewa yah sama kamu, selama ini papah gak pernah mengajari kamu merendahkan orang lain! Karena setiap makhluk hidup itu sama saja, gak ada yang sempurna! Kamu sekarang lagi di atas, banyak uang. Dan seharusnya kamu bisa menghargai orang-orang yang di bawah kamu!" bentak Pak Devan.
"Papah bentak aku?" tanya Salma tidak percaya.
"Iyah, Papah kecewa sama kamu. Sama suami sendiri aja kamu berani menghinanya, apalagi sama orang lain. Apa kata orang nanti kalau anak dari keluarga Alexander suka menghina orang seperti itu? Bahkan suaminya sendiri juga di hina. Papah malu, Nak. Papah gak mau kamu seperti itu," ujar Pak Devan.
"Hah ... Gak nyangka yah, Papah berani bentak aku karena dia? Cowok kampung itu?" ledek Salma.
"Salma, dia suami kamu. Kamu harus menghargainya!!!"
"Suami di atas kertas maksudnya? Ah udahlah ini udah siang, aku berangkat kerja dulu," ucap Salma cuek dan berlalu begitu saja meninggalkan mereka.
"SALMA! GAK SOPAN BANGET KAMU!" teriak Pak Devan yang tidak di hiraukan oleh anaknya.
Pak Devan menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Huftt ... Anak itu memang keras kepala."
"Udah Pah gapapa, biarin aja. Nanti biar Jaka coba nasehatin Salma," ujar Jaka.
"Makasih Nak, Papah mau minta sesuatu sama kamu. Kamu tolong didik Salma jadi istri yang baik yah, Nak. Cuman itu yang kita mau," ucap Pak Devan.
"Insyaallah Jaka usahain Mah, Pah," sahut Jaka.
"Oh iyah Nak, kamu lagi butuh pekerjaan kan di sini?" tanya Pak Devan.
__ADS_1
"Iyah Pah Jaka lagi butuh banget, kerja apa aja gapapa. Yang penting halal," jawab Jaka.
"Ha udah kalau gitu kamu jadi asinten pribadinya Salma aja di kantor, dia kan gak punya asinten pribadi. Kamu mau kan? Tapi ... Kamu harus ubah tampilan kamu agar terlihat lebih keren, gapapa kan?" tawar Pak Devan.
Jaka hanya mengangguk, "Boleh Pah, makasih banyak udah mau bantu Jaka. Kalian memang sangat baik, Jaka gak tau harus balas kebaikan kalian dengan apa," ucap Jaka sambil menunduk.
"Sama-sama, gak usah sungkan. Kamu kan sekarang udah bagian dari keluarga kita, iyah kan Mah?" ujar Pak Devan yang di angguki oleh Bu Sazkia.
"Iyah gak usah sungkan," sahutnya.
"Ya udah sekarang abisin makanannya, nanti setelah sarapan kita langsung aja ke mall buat ubah penampilan kamu," ucap Pak Devan.
"Tap--"
"Udah gapapa, ayo di habisin!" ucap Pak Devan yang memotong ucapan Jaka.
Dan Jaka pun hanya pasrah, lalu mereka memilih untuk melanjutkan makannya.
Setelah selesai sarapan Pak Devan bersama Jaka berniat untuk pergi ke salon. Di saat mereka keluar dari rumah tidak sengaja melihat Pak Mamat yang bukannya kerja, kini malah menggombali Bi Inez yang sedang menyiram tanaman.
"Inez, sayang ... Kamu tau gak bedanya kamu sama Bunga tahi kotok?" tanya Pak Mamat yang tidak di gubris oleh Bi Inez.
"Hmmm, kalau bunga tahi kotok cantik tapi bau. Kalau kamu cantik tapi ..." Pak Mamat menjeda ucapannya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Bi Inez.
"Gak, tapi ... Baunya melebihi mulut saya kalau abis makan jengkol! Hahahaha ..." jawab Pak Mamat yang langsung tertawa berbahak-bahak tidak tau menertawakan apa, padahal tidak lucu. Ya ga?^_^
"PAK MAMAT! Kurang ajar ya kamu!" teriak Inez kesal yang langsung menyiram wajah Pak Mamat dengan air yang sudah di kasih obat tanaman.
"Iyah-iyah ampun, saya minta maaf!" mohon Pak Mamat sambil berusaha menghentikan Bi Inez yang terus saja menyiram wajahnya.
Sedangkan Jaka dan Pak Devan yang sedari tadi memperhatikannya hanya tertawa kecil, karena kasihan dengan Pak Mamat mereka pun memilih untuk mengakhirinya.
"Udah-udah Bi, kasihan tuh Pak Mamatnya!" ucap Pak Devan kepada Bi Inez.
"Biarin aja tuan, abisnya dia nyebelin banget sih!" sahut Bi Inez yang terlihat kesal.
"Udah gapapa, Pak Mamat orangnya memang gitu. Jadi sabar aja hadapin dia mah," ujar Pak Devan.
Bi Inez langsung menghentikan asiknya yang menyiram wajah Pak Mamat, "Iyah tuan maaf! Abisnya tadi saya kesel banget sih," ucapnya sambil membungkukkan badan.
__ADS_1
"Iyah gapapa, mending Bibi lanjutin kerja aja. Dan Pak Mamat juga cepet ganti baju dulu basah tuh, tapi ingat kalau udah selesai kembali kerja lagi. Saya sama Jaka mau Pergi ke mall dulu," ucap Pak Devan yang di angguki oleh Bi Inez dan langsung pergi meninggalkan mereka.
"Siappp tuan, jangan lupa ..." Pak Mamat memberi hormat sambil menaik turunkan alisnya memberi kode kepada majikannya. Sedangkan Jaka yang tidak mengerti apa yang di maksud Pak Mamat hanya diam saja sambil mengerutkan keningnya heran.
"Ah Pak Mamat ini, oke nanti saya cariin," sahut Pak Devan.
"Yang bulat yah tuan," ujar Pak Mamat.
"Pasti," balas Pak Devan.
"Yang montok juga kalau ada," ujar Pak Mamat lagi yang di balas acungan jempol oleh Pak Devan.
"Satu lagi tuan. Pastinya yang berisi biar tambah enak dan biar kenyang juga."
"Oke deh, nanti saya bawain yang pastinya lebih nikmat dari pesenan Pak Mamat," sahut Pak Devan.
"Emangnya Pak Mamat pesen apa sih? Kok sampe mau yang bulat, montok dan berisi lagi? Apa itu?" tanya Jaka sambil menatap Pak Mamat dan Pak Devan secara bergantian karena penasaran.
"Kenapa? Kamu mau juga?" tanya Pak Devan yang membuat Jaka semakin bingung.
"Tapi itu namanya apa, Pah?" tanyanya yang masih penasaran.
"Bakso," jawab Pak Devan santai.
"Hah? Bakso?" tanya Jaka malah semakin bingung dengan jawaban Pak Devan.
"Iyah, Pak Mamat tadi pesen Bakso ke papah. Dia pesen yang bulat, ya Bakso pastinya kan bulat. Dia juga pesen yang montok maksudnya Baksonya yang besar. Dan satu lagi dia pesan yang berisi, maksud Pak Mamat Baksonya itu ada isinya. Kamu tau kan bakso yang lagi ngetrend itu? Yang banyak isinya, nah itu enak dan bikin perut kenyang," jelas Pak Devan yang membuat Jaka mulai mengerti.
"Oh ... Kirain Jaka apa, ternyata Bakso toh," ucap Jaka sambil manggut-manggut kepala.
"Lah iyah Bakso, emang Aden ngiranya apa?" sahut Pak Mamat, "Oh saya tahu, pasti Aden mikirnya yang macam-macam yah? Ayok ngaku," goda Pak Mamat yang membuat Jaka salah tingkah.
"A-ah eng-enggak kok, saya gak mikirin apa-apa. Oh iyah Pah, kita berangkat sekarang yuk, udah siang nih," ucap Jaka mengalihkan pembicaraan yang langsung mengajak Papahnya untuk segera pergi.
"Iyah-iyah ayok! Pak kalau gitu kita berangkat dulu yah, nanti saya bawain deh pesenannya. Assalamu'alaikum," ucap Pak Devan. Mereka pun langsung pergi meninggalkan Pak Mamat sendirian.
"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Mamat sambil menatap kepergian majikannya, "Si Aden ada-ada aja mikir yang macam-macam. Pake gak mau ngaku segala lagi. Hahaha," ucap Pak Mamat sambil menggelengkan-gelengkan kepala, ia pun mulai melangkahkan kaki berniat untuk segera mengganti bajunya.
"Blakutak blakutik ... Der ... Der ...
__ADS_1
Ada kodok, ada kodok!" Pak Mamat berjalan sambil bernyanyi dan berjoget-joget tidak jelas meniru laga paman gading koneng yang di film kian Santang.
>Bersambung ....