
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
"Kenapa kamu tega ninggalin Ibu saya di saat kondisinya lagi hamil?! Kenapa?!" teriak Jaka tidak bisa menahan emosinnya.
"Udah Jaka! udah! Maafin Mamah gue, kalau aja dia gak ada pasti Papah tidak akan tega ninggalin Mamah Lo!" ujar Reza sambil mencoba menenangkan Jaka, ia merangkul pundak yang kini ia anggap saudaranya lembut.
"Maafin gue juga yang dulu udah jahat ingin merusak hubungan Lo sama Salma. Gue benar-benar nyesel ngelakuin itu, gara-gara gue dulu Salma jadi benci sama Lo. Gue udah fitnah Lo sampe-sampe Lo di usir," lirih Reza sambil menunduk.
"Jadi kamu yang waktu itu fitnah saya?"
"Iyah, maaf. Sekali lagi gue minta maaf karena kesalahan gue dulu," sahut Reza.
Jaka menghela nafas lalu tersenyum tipis, "Oke saya maafin," ucapnya yang membuat Reza ikut tersenyum.
"Thanks, jadi sekarang kita saudaraan kan?" tanya Reza.
"Ya, kamu memang saudara saya," jawab Jaka. Dan akhirnya mereka pun saling merangkul. Senyuman mengembang di sudut bibir Pak Doni, ia senang melihat kedua putranya sudah damai.
'Setelah mendengar cerita Papah tadi, aku semakin yakin untuk bertanggung jawab semuanya atas apa yang telah ku lakukan dulu. Aku harus cari tahu siapa wanita itu, dan apakah dia sudah hamil atau tidak. Sepertinya aku harus ke Singapura mencari tahu semuanya. Siapa tahu ada Cctv di depan kamar itu dulu aku masuk bersama siapa.' batin Reza.
Namun tiba-tiba datanglah seorang lelaki dan seorang perempuan datang menghampiri mereka.
"Kebetulan sekali kamu dan Papah kamu ada di sini! Aku mau ngomong sama kalian!" ujar seorang perempuan yang membuat mereka mengerutkan keningnya heran, "Aku hamil Daniel, jadi kita harus cepat-cepat nikah!" ucapnya sambil menggenggam lengan Jaka yang ia kira Daniel tanpa memperdulikan keberadaan Reza.
"Kalau kamu hamil kenapa malah minta saya nikahin kamu? Anak siapa itu?" tanya Daniel alias Jaka.
"Heh! Ya anak Lo lah! Anak siapa lagi?! Lo gak mau bertanggung jawab setelah enak berbuat?! Dasar brengsek Lo!" ujar Abangnya ngegas. Ya memang ternyata Sherin sudah memberitahu abangnya jika ia sedang hamil dan mengaku jika Daniel yang menghamilinya. Yang sebenarnya ia juga tidak tahu siapa Ayah dari anak yang ada di dalam kandungannya.
__ADS_1
"Apa benar itu anak Saya? Apa kalian punya bukti?" tanya Jaka datar.
"Daniel, kamu ngomong apa sih? Ini memang anak kamu! Kamu gak ingat dulu kita pernah melakukannya?" ujar Sherin berbohong.
"Derajat kamu memang bagus seorang Dokter, tapi ternyata perlakuan kamu seperti ini yah? Tidak pantas di sebut Dokter. Saya sudah tahu semuanya, kamu juga dari dulu tahu kan kalau saya hilang ingatan. Dan kenapa kamu malah ikut-ikutan? Mengakui kalau kamu calon Istri saya, kenapa kamu gak menyembuhkan saya agar hilang ingatannya kembali? Kenapa kamu malah sengaja agar saya terus-terusan hilang ingatan. Dan sekarang kenapa kamu bilang kamu hamil dan menyuruh saya untuk segera menikahimu. Apa kamu tidak mikir? Kapan kita melakukannya? Saya hanya pernah melakukannya dengan istri saya, tidak dengan yang lain!" balas Jaka yang membuat semuanya langsung terdiam, termasuk Sherin.
Wanita itu malah menundukkan kepalanya dengan perasaan tak tenang. Ternyata Daniel sudah kembali mengingat semuanya, terus ia harus gimana? Apakah mengaku kalau dia memang bukan hamil anak Daniel? Tapi siapa ayah dari bayi yang sedang di kandungnya? Kemana dia harus mencari Pria itu.
"J-jadi yang menghamili kamu memang bukan dia?" tanya Abangnya sambil menunjuk ke arah Jaka dengan mengerutkan keningnya.
Sherin menghela nafas sambil memejamkan matanya. Pokoknya mau tidak mau ia harus berbicara, siapa tahu mereka akan membantunya mencari orang yang telah menghamilinya itu. Ia tidak mungkin sanggup jika harus mengurus anaknya sendirian.
"S-sebebarnya iyah Bang, anak yang aku kandung memang bukan Daniel. A-aku juga gak tau siapa orang itu, waktu itu pas masih di Singapura. Aku mabuk karena pusing mikirin pekerjaan. Sampe-sampe aku mau-maunya di ajak seorang cowok yang juga sedang mabuk sepertinya. Hingga aku juga gak tau apa yang terjadi setelahnya, aku gak ingat apa-apa. Aku juga gak tau cowok itu siapa ..." jawab Sherin sambil menunduk.
"Jadi kamu gak tahu cowok itu siapa?! Gitu? Ya gimana mau minta tanggung jawabnya kalau kamu aja gak tau siapa dia!" ujar Abangnya geram.
"Maaf Bang, hikss ... Maaf udah kecewain kalian. Sherin memang selalu nyusahin!" rilih Sherin dan tak terasa air matanya menetes.
Wanita itu mengerutkan keningnya heran sambil menghapus air matanya, "Ada apa? Dan siapa kamu?"
"Gak usah banyak tanya, ayo ikut aku sebentar!" ajak Reza sambil membawa Sherin pergi meninggalkan mereka masuk ke dalam mobilnya yang kebetulan tidak jauh dari sana.
Pak Doni, Jaka dan abangnya Sherin saling menatap sambil mengerutkan keningnya heran. Namun tiba-tiba mereka di kagetkan lagi dengan seorang gadis yang baru saja datang langsung berhambur masuk ke dalam pelukan Papahnya.
"Papah! Rara cariin ternyata ada di sini? Lagi apa hmm?" tanyannya sambil bergelayut manja di lengan Papahnya tanpa memperdulikan dua orang Pria yang sedang menatapnya.
"Jadi Upil kuda ini anak Bapak?"
Pak Doni menoleh sambil mengangguk, "Iyah, dia anak perempuan saya satu-satunya. Kenapa emangnya?"
Rara yang mendengar dirinya di panggil upil kuda langsung menoleh dan melihat siapa orang tersebut, "Heh, jadi kamu?! Yang tadi nabrak Rara?!"
__ADS_1
"Dih kamu kali tadi yang nabrak, jalan gak lihat-lihat. Makanya kalau jalan itu pake mata!" balas orang tersebut yang tak lain adalah Rafael, abangnya Sherin.
"Heh, siapa bilang jalan pake mata?! Jalan itu pake kaki tahu! Dasar bodoh! Kalau jalan pake mata gimana jalannya?!" sahut Rara ngegas.
"Berani kamu bilang saya bodoh, dasar Upil kuda!" ledek Rafael yang membuat Rara geram.
"Berani sekali kamu ngatain saya Upil kuda! Dasar kecebong!" balas Rara tak mau kalah.
"Mau saya baku hantam?" ancam Rafael. Bukannya takut Rara malas menentangnya.
"Ayo siapa takut! Sini kamu!" tantang Rara sambil menggulung lengan bajunya.
"Oh menantang yah kamu," Rafael ikut-ikutan menggulung lengannya lalu mendekat ke arah Rara. "Gimana kalau kita ributnya di ranjang aja? Biar ada matap-mantapnya!" ucapnya yang membuat Rara terdiam mencoba untuk mencerna perkataannya. Namun ...
1 Detik ... 2 Detik ... 3 Detik ...
"DASAR KECEBONG MESUMMMMM!" teriak Rara seperti toa yang membuat semuanya menutup telinga. Ia memukul-mukuli Rafael yang membuat Pria itu kewalahan.
Bug! Bug! Bug!
"Dasar kecebong mesum! Berani-beraninya kamu ngomong seperti itu sama anak kecil!"
"Ah ampun! Iyah aku minta maaf, ampun!" mohon Rafael sambil mencoba menghindari serangan Rara.
"Rara udah-udah! Sini Papah mau kenalin seseorang sama kamu," Rara langsung menghentikan aksinya mendengar perkataan Papahnya. Ia mengerutkan keningnya heran yang tidak di jawab oleh Papahnya, ia malah langsung di tarik mendekati seorang Pria yang tak lain adalah Jaka.
"Kenalin dia Abang kamu yang pertama, namanya Jaka!" ujar Pak Doni yang membuat Rara terdiam menatap wajah tampan Jaka.
" What's? OMG!" teriak Rara sambil membuka mulutnya terkejut.
>Bersambung ....
__ADS_1