
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
๐ฃ๐ฃ๐ฃ
"Om kenal sama Opa?" tanya Rere bingung.
Jaka mengangguk, "Dia Papah Om," jawabnya yang kembali melihat ke arah Papahnya.
"Papah pakabar?" tanya Jaka sambil menatap Papahnya.
"Seperti yang kamu lihat, kamu sendiri?" sahut Pak Doni balik bertanya.
"Jaka baik Pah!"
"Hmm, gak kangen sama Papah?" tanya Pak Doni sambil merentangkan kedua tangannya dan tersenyum ke arah anaknya.
Jaka langsung berhambur memeluk tubuh Papahnya. Rasanya sangat seneng bisa merasakan kembali pelukan hangat dari Papahnya. Walaupun dari dulu Pak Doni banyak salah kepadanya, tapi ia tetap menyayanginya.
"Jaka kangen banget sama Papah!" Jaka semakin mengeratkan pelukannya. Sedangkan Pak Doni hanya tersenyum senang sambil mengelus-elus lembut punggungnya.
"Sebenarnya ada apa sih? Kenapa Om manggil Opa, Papah?" tanya Rere masih terheran-heran.
Jaka dan Pak Doni yang menyadari keberadaan Gibran dengan Rere langsung melepaskan pelukannya.
"Sebenarnya dia ini anak Opa," jawab Pak Doni yang membuat Rere mengerutkan keningnya.
"Berarti aku sama Gibran masih saudara dong?" tanyanya.
"Nanti Opa jelaskan, mending sekarang kamu masuk gih. Nanti telat lho," ujar Pak Doni yang di angguki oleh cucunya.
"Gibran kamu juga masuk yah, Ayah mau ngobrol dulu sama Papah. Nanti biar Ayah aja yang nemuin kepala sekolah," pinta Jaka kepada Putranya.
__ADS_1
"Hmm, baiklah Gibran ke kelas dulu!" pamitnya sambil menyalami tangan Jaka dan Pak Doni. Begitupun sama seperti Rere.
Mereka langsung berlalu pergi meninggalkan Jaka bersama Opanya. Sepanjang perjalanan menuju kelas, hanya ada keheningan di antara mereka. Rere tidak berani bertanya karena sedari tadi Gibran hanya diam saja dengan muka datarnya.
"Rere, boleh ikut aku sebentar?" tanya Gibran tiba-tiba sambil menghentikan langkahnya.
Rere ikut berhenti, ia menoleh ke arah Gibran lalu mengangguk. Karena sudah dapat persetujuan dari Rere, Gibran pun langsung membawa gadis itu ke taman belakang sekolah.
"Kamu ingin berbicara apa?" tanya Rere kepada Gibran yang sedari tadi diam saja setelah mereka sampai di taman.
"Aku hanya ingin pamit kepadamu, aku akan pindah dari sini dan ikut orang tua keluar negeri. Maaf kalau selama ini aku selalu kasar dan suka bentak-bentak kamu. Terimakasih juga karena udah mau berteman denganku. Kamu memang baik, walaupun aku selalu jahat tapi kamu selalu baik kepadaku," ujar Gibran yang membuat Rere terdiam mendengar laki-laki di hadapannya akan pindah.
"Re? Rere!"
"Ah iyah, gapapa. Makasih juga karena udah mau berteman denganku, maaf kalau selama ini aku selalu mengganmu," sahut Rere yang tersadar dari lamunannya.
"Hmm, apa boleh aku minta nomormu? Walaupun begitu kita masih bisa berteman bukan?" tanya Rere dengan ragu.
"Boleh, iyah sini ponselmu!" Gibran mengambil ponsel yang di sodorkan Rere lalu mulai mengetik nomornya dan menyimpan di sana.
"Baiklah terimakasih," ucapnya.
"Ya udah yuk kita ke kelas!" ajak Gibran sambil beranjak dari tempat duduknya.
Rere masih terdiam di tempat sambil kepergian mantap kepergian Gibran, 'Walaupun kamu pergi dari negara ini, aku akan tetap menunggumu. Tidak peduli kamu saudaraku atau bukan, aku akan tetep menantimu. Aku sudah terlanjur sayang kepadamu Gibran,' batin Rere.
Lalu ia beranjak dan berjalan menyusul Gibran menuju kelasnya.
๐น๐น๐น
Sedangkan di sisi lain, di sebuah restoran deket sekolah. Jaka dan Papahnya terlihat sedang mengobrol. Jaka telah menceritakan semuanya kepada Papahnya.
Mulai dari istri dan anaknya di rawat karena apa. Ia juga menceritakan jika Salsa seperti ini karena menyelamatkan Refan dan begitupun ia menceritakan tentang Mamah tirinya yang telah membuat tangan Salsa lumpuh waktu Salsa masih kecil.
__ADS_1
Pak Doni benar-benar marah sekarang, ia tidak menyangka jika istrinya masih menggangu keluarga Putranya. Awalnya Jaka memang tidak ingin menceritakan semuanya karena takut terjadi pertengkaran antara Papah dan Mamah tirinya. Namun karena Papahnya yang memaksanya ia pun terpaksa menceritakan semuanya.
"Papah gak nyangka jika Mamah kamu akan setega ini. Biar Papah beri pelajaran saja nanti kalau pulang!"
"Pah jangan! Ini yang Jaka takutkan jika Jaka cerita semuanya. Papah sebaiknya jangan marahin Mamah. Lagian sudah lama terjadinya, yang lalu biarlah berlalu!" ujar Jaka sambil tersenyum tipis.
Drrtt-drrtt-drttt!
Tiba-tiba ponsel Pak Doni berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Ia langsung merongoh ponselnya dan melihat siapa yang menelpon.
"Mamah? Kebetulan sekali dia menelpon," gumman Pak Doni dan langsung mengangkat telfonnya.
Call on.
"Hallo! Papah dimana?! Tolongin Mamah Pah, Mamah takut! Cepet jemput Mamah ke sini!" ujar seseorang di sebrang sana dengan paniknya.
Mendengar istrinya yang panik membuat Pak Doni mengurungkan niatnya untuk memarahinya, "Mamah kenapa?!"
"Mamah tadinya mau ke rumah Reza naik taksi. Tapi ternyata supir taksi itu jahat, dia turunin Mamah di mana ini gak tau. Dia juga rampok Mamah, untung ponselnya masih aman!" jawabnya.
"Kenapa gak suruh supir kita aja buat nganterin sih? Mamah dimana sekarang?!"
"Pak Jamal kan lagi pulang kampung! Udah gak usah banyak omong, cepetan jemput Mamah ke sini! Mamah takut, pokoknya tempatnya sepi banget. Serem juga, kayak di dekat hutan gitu! Nanti Mamah sharlok!" ujarnya langsung memutuskan telfonnya.
"Hallo?! Mah?!"
"Kenapa Pah?" tanya Jaka penasaran.
"Mamah kamu nyasar, dia ketakutan. Papah duluan yah, mau jemput Mamah! Nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi!" pamit Pak Doni yang langsung berlalu pergi.
Sedangkan Jaka hanya menatap kepergian Papahnya. Rasanya baru sebentar ia bertemu Papahnya, ia sedih karena tidak tahu kapan lagi mereka akan bertemu. Beberapa hari lagi ia akan pindah ke Jepang dan pastinya akan sangat susah untuk bertemu. Sedangkan satu negara saja mereka jarang bertemu, apalagi beda negara.
>Bersambung ....
__ADS_1
Dahlah, cuman mau bilang mampus aja buat Mak lampir! Gak usah kembali juga gak ape" dah ikhlas. Biarin aja, biar tau rasa dia di tinggal sendirian di hutan. Di makan binatang buas baru aman๐๐
Canda deh๐คธ