
Tok-tok-tok!
"Sayang buka pintunya! Aku minta maaf, aku tau aku salah karena bentak kamu! Plisss buka pintunya!" sudah hampir setengah jam lebih Sam terus berteriak sambil sesekali mengetuk pintu kamarnya yang di kunci di dalam oleh istrinya.
Sedangkan di dalam sana Salsa sedang menangis di pinggir ranjang sambil menelungkupkan wajahnya ke lututnya. Sakit? Ya hatinya sangat sakit. Baru kali ini suaminya membentaknya, apalagi gadis itu sangat tidak suka di bentak. Yang lebih sakit lagi juga karena suaminya sendiri tidak percaya dengannya dan malah menuduh dirinya sendiri yang tidak bersalah.
"Hikss jahat!" isaknya sambil mengusap air matanya.
"Bahkan kamu lebih percaya sama dia di bandingkan istrimu yang sudah jelas jadi tanggung jawabmu! Hikss kamu jahat tidak percaya sama aku lagi!" ucapnya pelan sambil sesekali terisak.
Di luar sana Sam terus mencari cara untuk membuka pintu. Ia takut istrinya melakukan hal yang tidak-tidak di dalam. Tidak bisa di bayangkan jika sampai gadis itu membahayakan dirinya sendiri. Sam pasti akan sangat menyesal jika terjadi apa-apa dengan wanita yang sangat di cintainya.
"****, aku lupa kalau ada kunci cadangan!" desisnya yang baru ingat jika ada kunci cadangan kamarnya.
Sam segera berlari menuju lantai bawah dan mencari sebuah kunci cadangan kamarnya di dalam laci. Setelah berhasil mendapatkannya, ia kembali berlari dan langsung membuka pintu kamarnya.
Terlihatlah istrinya yang sedang duduk di lantai pinggir ranjang sambil menelungkupkan wajahnya. Dengan rambut yang sangat acak-acakan.
Perlahan ia berjalan pelan menghampiri wanita itu. Bersimpuh di hadapannya dengan pelan agar wanita itu tidak mengetahuinya, "Sayang," panggilnya lembut.
Salsa mendongakkan wajahnya, Sam menatap sendu wajah istrinya yang sangat berantakan. Rambut berantakan, wajah mulusnya basah di penuhi air mata, hidung memerah dengan ingus kemana-mana dan mata yang sembab karena menangis.
Sam ingin tertawa, menurutnya terlihat sangat menggemaskan. Namun tidak tega ia melihat wanita yang di cintainya seperti itu.
"Mau ngapain kamu? Pergi! Hikss pergi!" usir Salsa yang kembali menangis.
__ADS_1
"Sayang tenang heii!" Sam langsung menarik tubuh istrinya berhambur ke pelukannya.
Salsa yang tidak ingin di peluk terus memberontak sambil memukul-mukul dada bidang Pria itu.
"Hikss jahat! Kamu jahat!" teriaknya sambil terus terisak.
Sam mencoba memegang kedua tangan istrinya dan di peluknya erat tubuh mungil itu. Salsa sudah sedikit lebih tenang, dia mulai terdiam sambil sesekali terdengar isakan tangisnya.
Perlahan Sam meregangkan pelukannya. Di tangkupnya lembut wajah istrinya. Di usapnya air mata yang terus mengalir di wajah cantik itu.
"Maafkan aku, aku tau aku salah. Harusnya tadi aku gak harus bentak kamu seperti itu, aku nyesel. Maaf tadi aku kebawa emosi," ucap Sam sendu.
"Hatiku lebih sakit karena kamu tidak mempercayaiku! Kamu tidak kasih aku kesempatan untuk menjelaskan dan kamu malah langsung memarahiku! Aku kamu sudah tidak percaya denganku lagi? Apa kamu sudah gak sayang sama aku?" rilihnya sambil mengalihkan pandangannya.
"Hei tatap aku!" Sam mencoba menarik pelan wajah cantik itu agar menatapnya.
"Kalau aku ngomong yang sebenarnya apa kamu akan mempercayaiku?" tanya Salsa sambil menatap suaminya sendu.
"Iyah sayang, katakan saja yang sebenarnya!"
"Mmm sebenarnya ..." Salsa menggantung ucapannya yang membuat Sam penasaran.
'Kalau aku mengatakan yang sebenarnya aku takut hubungan mereka sebagai adik kakak malah renggang. Walau gimanapun juga dia masih adik iparku, aku gak mau karena aku hubungannya dengan Kak Sam malah renggang.' batin Salsa berpikir.
"Huh sebenernya pas ingin mengambil wortel tadi aku gak sengaja menyenggol Aqila yang membuatnya terjatuh. Maaf ... Aku sama sekali gak bermaksud buat melukainya," bohong Salsa sambil menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, aku juga minta maaf yah. Lain kali jangan di ulangi lagi dan kamu juga harus hati-hati," sahut Sam sambil membenarkan anak rambut istrinya.
"Ayo kita tidur siang, kamu pasti sangat lelah," Sam membantu istrinya berdiri dan menyuruhnya untuk berbaring.
Pria itu ikut berbaring di sebelahnya lalu menarik wanita itu masuk ke dalam dekapannya. Salsa menggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Pelukan hangat saat tidur yang selalu membuatnya nyaman.
****
Sedangkan di sisi lain, setelah pulang dari rumah Kakaknya tadi. Kini Aqila dan suaminya sedang berada di kamarnya. Refan sedari tadi sedang memijit-mijit perut buncit istrinya lembut. Wanita itu terus meringis sakit karena jatuh tadi.
"Masih sakit?" tanya Refan lembut.
"Sedikit, Kak Salsa dorongnya kenceng banget sampe sakit seperti ini. Untung saja bayiku gak kenapa-napa. Kalau saja terjadi sesuatu mungkin sekarang aku akan membencinya!" tutur Aqila.
"Kamu serius Kakak iparmu lakuin itu? Tapi aku masih gak percaya karena setauku Salsa gak seperti itu! Mungkin kamunya yang gak hati-hati atau kepleset atau apa gitu?" ujar Refan masih gak percaya kalau Salsa akan melakukan itu kepada istrinya, apalagi istrinya lagi hamil.
"Kamu kok belain dia?! Kamu juga nyalahin aku kalau aku gak hati-hati gitu? Kamu kan tahu sendiri selama ini aku lakuin apa-apa juga suka hati-hati karena gak mau anak kita kenapa-napa!" sahut Aqila tak terima.
"Bukan gitu maksudku, aku hanya masih gak percaya aja kalau Salsa lakuin itu. Aku tau dia itu perempuan baik-baik dan gak mungkin dia lukai adik iparnya sendiri yang sedang hamil!" Refan yang terus membelanya membuat Aqila merasa semakin kesal.
"Terus aja belain dia! Udah jelas istri dan calon anak kamu terluka karena dia! Oh apa kamu masih cinta sama dia gitu? Makanya kamu terus-terusan belain dia!"
"Kok kamu malah bahas soal perasaan sih! Aku memang dulu pernah mencintainya, tapi sekarang aku gak punya perasaan sama sekali! Lagian dia juga masih saudaraku, dan aku bukan belain dia! Aku hanya bilang masih gak percaya kalau dia bakal seperti itu ke kamu!" balas Refan.
"Terserah!! Aku tau kamu masih memiliki perasaan kepadanya, makanya kamu seperti itu!" Aqila merebahkan tubuhnya membelakangi suaminya dan segera menarik selimutnya sampe menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Refan yang melihat istrinya ngambek langsung menghela nafas panjang. Selalu saja begini, selalu berdebat dan tak pernah mau mengalah.
>Bersambung ...