Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 35


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


Sepasang suami istri berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan perasaan panik dan khawatir. Dan tak terasa air matanya telah mengalih sedari tadi.


"Gimana keadaan mereka Dok?" tanyanya cemas setelah sampai di depan sebuah ruangan.


Dokter tersebut malah terdiam menunduk, lalu ia kembali mendongak sambil menghela nafas. Matanya menatap sepasang suami istri itu sendu, "Pasien laki-laki saat ini ia masih belum sadar, tapi tidak ada yang serius. Namun pasien yang perempuan ..." Dokter itu menjeda ucapannya membuat kedua orang di hadapannya penasaran.


"Kenapa Dok? Ada apa dengan anak saya?"


"Saat ini dia kritis ..." jawab Dokter terpotong oleh Bu Sazkia.


"APA?! KRITIS?!" pekik Bu Sazkia, Mamanya Salma.


"Mah sabar Mah, Papah yakin Salma pasti baik-baik aja kok. Papah tau dia kuat," ujar Pak Devan mencoba menenangkan istrinya.


"Saya ingin berbicara dengan kalian, mari ikut ke ruangan saya," ucap Dokter Rangga.


Pak Devan dan Bu Sazkia hanya mengangguk, lalu mengikutinya.


"Ada apa Dok?"


"Saat ini pasien kritis dan ia sangat membutuhkan pendonor ginjal," jawab Dokter Rangga sambil menunduk kepalanya.


"Apa?! Kenapa bisa Dok?!" tanya Bu Sazkia khawatir.

__ADS_1


Dokter Rangga menghela nafas panjang lalu menghembuskan dengan kasar, "Memang sebelumnya salah satu ginjal Nona Salma sangat lemah, belakangan ini ia sering merasakan sakit namun tidak memperdulikan itu. Ia mengira itu hanya sakit biasa, dan pastinya tidak pernah mengatakan apa-apa kan dengan kalian?"


Pak Devan dan Bu Sazkia menggeleng lemah, "J-jadi selama ini dia menyembunyikan sakitnya sendirian? Tapi saya lihat anak saya baik-baik aja Dok, dia tidak pernah merasakan sakit atau apa di depan kita."


"Mungkin ia menyembunyikannya sendirian tidak mau kalian khawatir. Dan memang sakitnya juga tidak terlalu parah, namun karena kecelakaan membuat salah satu ginjalnya tidak berfungsi lagi. Saat ini ia sangat membutuhkan pendonor ginjal, kebetulan stok di rumah sakit ini habis. Jadi saya minta kepada kalian untuk segera mencari pendonornya, jika sampai telat akan terjadi hal yang buruk kepada pasien," ujar Dokter Rangga.


"Pah, anak kita? Hikss ..."


"Sabar Mah, Salma pasti sembuh kok. Papah yakin dia anak yang kuat," cuman kata itu yang bisa di ucapkan Pak Devan untuk menenangkan istrinya.


***


Di sebuah ruangan, terlihat seorang pria yang sedang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit. Tangannya mulai bergerak dan matanya mulai terbuka secara perlahan. Ia menatap keselilingnya sambil mengerutkan keningnya heran.


"Ma-mamah? P-papah?" pandangannya tertuju ke samping melihat mertuanya yang sedang terduduk di sebuah sofa.


"Nak, kamu udah siuman?" tanyanya senang, ia mulai mendekati ke arah menantunya.


"S-Salma mana Mah?" tanya Jaka yang membuat kedua mertuanya langsung terdiam sambil menundukkan kepalanya lemah. Ya mereka sangat lemah setelah melihat anak dan menantunya yang terbaring lemah di brankar rumah sakit. Apalagi kondisi anak perempuan satu-satunya yang saat ini sedang kritis.


"S-Salma ..." Bu Sazkia menjeda ucapannya, ia menatap suaminya serius. Pak Devan yang mengerti hanya mengangguk sambil mencoba menenangkan istrinya.


"Dia kritis, dan sangat membutuhkan pendonor ginjal. Jika kita terlambat mendapatkannya, akan terjadi sesuatu yang buruk sama istri kamu," jawab Bu Sazkia dan tidak terasa air matanya lolos.


"K-kritis? Donor ginjal? Sesuatu buruk?" tanya Jaka tidak percaya yang di balas anggukan kecil oleh mertuanya, mereka menceritakan semua apa yang di katakan Dokter tadi.


Mendengar itu membuat Jaka langsung mendudukkan dirinya, "Nggak, nggak mungkin! Salma seperti itu pasti gara-gara Jaka! Jaka memang gak becus jadi suami! Jaka udah merusak kepercayaan Papah! Jaka gak bisa jaga istri!" teriaknya sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Ini bukan salah kamu Jaka, kamu sudah berusaha menjaga Salma. Namun takdir berkata lain, kalian murni kecelakaan. Kita yakin Salma pasti baik-baik aja kok, kita tahu dia perempuan yang kuat," ujar mertuanya mencoba untuk menenangkan.

__ADS_1


Tok-tok-tok!


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu ruangan dan dengan perlahan pintu pun terbuka. Terlihatlah Dokter raga yang mulai berjalan menuju ke arah mereka sambil tersenyum ramah, "Permisi!"


"Tuan Jaka udah siuman? Gimana keadaannya?"


"Sudah baikan kok Dok," jawab Jaka.


"Saya periksa dulu yah," ucap Dokter Rangga sambil tersenyum, lalu mulai meriksa keadaan Jaka.


"Oh iyah Dok, bagaimana keadaan istri saya? Apakah dia baik-baik saja? Dimana dia sekarang? Saya mau ketemu sama dia," tanya Jaka memberikan banyak pertanyaan setelah Dokter Rangga selesai memeriksa keadaannya.


Bukannya menjawab Dokter itu malah menundukkan kepalanya, ia menghela nafas kasar. Lalu kembali menatap ketiga sosok tersebut yang terlihat tegang menunggu jawaban darinya, "Setelah tadi saya cek keadaannya malah semakin buruk. Dan saat ini pasien mengalami koma, kita harus cepat-cepat mendapatkan pendonor ginjal. Jika di biarkan saya tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya. Karena setelah mengalami kecelakaan yang sepertinya lebih dari satu kali, membuat salah satu ginjal yang lainnya juga malah ikut lemah. Mau tidak mau kita harus segera melakukan operasi, dan saya do'akan semoga kita bisa cepat-cepat mendapatkan orang yang baik yang mau mendonorkan ginjalnya."


"Istri saya koma?! Sekarang dia dimana Dok?! Saya mau lihat dia!" Jaka terlihat frustasi, dan tak terasa buliran bening mulai lolos dari pelupuk matanya. Rasanya dadanya sangat sesak, mendengar kenyataan itu membuat dada seperti terhantam batu besar.


"Kamu tenang dulu yah Nak. Kamu masih sakit, jadi lebih baik kamu istirahat dulu aja yah. Atau mau makan dulu?" ujar Bu Sazkia berusaha menenangkan sambil mengelus-elus rambut menantunya lembut.


Jaka mengepalkan kedua tangannya erat, lalu ia mulai memejamkan matanya secara perlahan sambil menghela nafas mencoba untuk membuat hatinya tenang. 'Ternyata benar, ada orang yang pura-pura kuat dan bahagia. Ternyata ia punya beban hidup yang berat. Pantes saja belakang ini saya sering lihat Salma yang kesakitan, tapi ia selalu menyembunyikan itu di saat saya menanyakan kondisinya.' batin Jaka


'Ya Allah apapun yang terjadi saya mohon tolong selamatkan Istri saya, saya tidak mau kehilangannya. Sekarang saya sudah merasa nyaman berada di sampingnya, jadi tolong sembuhkan dia saya mohon ... Saya janji setelah dia sembuh saya akan menjadi suami yang baik dan mencoba untuk membahagiakannya. Kabulkan do'a saya ya Allah ...' lanjutnya sambil menghela nafas panjang.


Jaka membuka matanya secara perlahan, ia menatap sendu kedua mertuanya. Lalu beralih ke arah Dokter Rangga, pikirannya sekarang berkecamuk. Ia benar-benar khawatir, cemas dan sangat tidak ingin kehilangan istrinya yang sudah mulai meluluhkan hatinya.


"Mah, Pah, Jaka mau ambil wudhu. Mau sholat Magrib," ujar Jaka yang kebetulan ini sudah Maghrib.


"Ya udah kita sholat berjamaah aja yah. Pah bantuin Jaka ke kamar mandi," sahut Bu Sazkia sambil tersenyum.


Jaka pun hanya mengangguk, ia mulai beranjak dari brankar menuju kamar dengan di bantu Papah mertuanya. Sedangkan Dokter Rangga memilih untuk segera pergi dari ruang rawat Jaka menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


>Bersambung....


__ADS_2