
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
"Gimana Dok? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Bu Sazkia kepada Dokter Rangga.
"Tidak ada yang serius, Nona Salma hanya kecapek'an dan terlalu banyak pikiran. Sebaiknya untuk sementara jangan biarkan dia terlalu banyak beraktivitas dan jangan kecapek'an dulu. Karena itu akan sangat berbahaya dengan janin yang sedang di kandungnya," jelas Dokter Nita yang membuat semuanya terkejut.
"A-apa Dok? Maksudnya anak saya hamil?" tanya Bu Sazkia yang di balas anggukkan kecil.
"Jadi saya bakal punya cicit? Alhamdulillah," sahut Oma ikut senang. Saat ini mereka sedang berada di kamarnya Salma, Pak Devan sengaja memanggil Dokter Rangga ke sini karena kebetulan mempunyai nomornya dan sudah kenal juga. Dan juga ini masih sangat pagi, pasti klinik belum pada buka.
"Ya, kemungkinan begitu. Agar lebih jelas sebaiknya nanti kita tanya dulu kepada Nona Salma kalau udah siuman. Karena saya bukan Dokter spesialisnya jadi belum pasti dia beneran hamil atau tidak," ujarnya.
Tidak lama jari-jemari Salma pun bergerak, ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali lalu menatap keselilingnya heran.
"A-aku kenapa?" tanya Salma sambil berusaha mendudukkan dirinya.
"Sayang kamu jangan banyak gerak dulu yah. Oma gak mau cicit Oma kenapa-napa," ujar Oma Ratu antusias.
Salma mengernyitkan keningnya heran, "Cicit?"
"Iyah sayang sebentar lagi Oma bakal punya cicit dari kamu," mendengar perkataan Omanya membuat Salma terkejut.
"J-jadi Aku hamil?" tanya Salma tidak percaya sambil menatap satu persatu orang yang ada di kamarnya. Dari Oma Ratu, Bu Sazkia, Pak Devan lalu menatap Dokter Rangga yang masih ada di sana.
"Maaf nih sebelumnya, apakah Nona Salma pernah melakukan hubungan intim dengan suami Anda sebelum dia meninggal?" tanya Dokter Rangga dengan ragu.
Salma terdiam lalu ia mengangguk malu, "Pernah sih."
"Kalau begitu kapan terakhir haid?" tanyanya lagi.
Salma terdiam sambil berpikir, "Mmm gak tahu sih Dok. Yang saya ingat bulan kemarin dan sepertinya bulan sekarang saya telat," ucapnya.
"Hmmm oke-oke sepertinya Anda memang hamil. Tapi supaya tahu benar atau tidaknya sebaiknya Anda coba test pack. Saya memang memang bukan Dokter spesialisnya jadi gak tahu apa-apa. Mohon maaf."
__ADS_1
*****
Salma sedang berdiri di dekat wastafel sambil menatap benda kecil di hadapannya dengan perasaan cemas. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sambil sekali-kali menghela nafas kasar.
"Huftt ... Tenang Salma, kamu harus tenang," ucapnya menenangkan diri sendiri dan dengan perlahan mengambil benda kecil di hadapannya.
Salma membuka matanya perlahan lalu menatap benda kecil yang kini sudah berada di tangannya, "J-jadi Aku beneran hamil?" tanyannya tidak percaya sambil menutup mulutnya yang sedikit terbuka.
Salma menatap perutnya yang masih sendu. Kemudian mengelusnya lembut, "Kasihan anak ini, pasti dia bakal sedih setelah lahir nanti karena tanpa seorang Papah," rilihnya dan tak terasa air matanya kembali menetes.
Salma kembali terisak di dalam kamar mandi kamarnya hingga ia kembali merasa mual lagi.
"Huwekkk ... Huwekkk ..."
"Kamu kenapa lagi sayang?" tanya Bu Sazkia khawatir yang baru saja datang.
"Mah," Salma langsung berhambur masuk ke dalam pelukannya Mamanya sambil terisak.
"A-aku beneran hamil Mah, hikss-hikss ..." rilihnya.
"Ya Alhamdulillah dong sayang. Kamu kenapa nangis? Gak mau hamil?" tanya Mamanya serius.
Bu Sazkia meregangkan pelukannya lalu menangkup wajah cantik Putri satu-satunya, "Kamu gak boleh ngomong gitu. Kan ada Mamah, Oma, Papah, Bi Sisil, Mang Jangkrik, Mang Kodok, sama Pak Mamat juga ada di sini. Pasti bakal bantuin kamu kok. Malah sepertinya di rumah ini nanti ramai ada kecil, pasti mereka senang banget," ucap Mamahnya sambil tersenyum mengelus-elus lembut rambut anaknya.
Salma mengangguk lalu tersenyum tipis, "Semangat Sayang kamu harus kuat. Jangan putus asa karena kehilangan suami kamu, inget masa depan kamu masih panjang. Bangkitlah, jangan terus-terusan sedih seperti ini. Suami kamu juga pasti bakal sedih lihat kamu nangis tiap hari tiap malam sampe mata kamu bengkak gitu tuh."
"Ih Mamah, aku kan sedih dan merasa bersalah juga. Apalagi aku belum sempet bilang makasih dan maaf sama dia," rilih Salma sambil menunduk.
Bu Sazkia kembali mengelus rambut putrinya sambil menyelipkan anak rambutnya yang menutupi mata, "Udah sayang kamu gak usah sedih gitu kasihan babynya Mending kamu do'ain aja dia semoga tenang di alam sana. Oh iyah cucu Oma mau apa hhmm? Gak mau minta sesuatu?" tanyanya sambil mengelus lembut perut Salma yang masih datar.
"Mau buat sup Ayam aja deh buat makan. Terus nanti cemilannya sama cake. Tapi Salma yang bikin terus nanti Mamah bantuin, boleh kan?" tanyannya.
"Boleh dong sayang, eh tapi emangnya kamu bisa bikin sup sama cake?" tanya Mamanya sambil menautkan kedua alisnya.
"Mamah ngeremehin aku, ya bisa dong. Dulu Jaka pernah ajarin," sahut Salma yang kembali sedih mengingat nama suaminya.
"Ya udah sayang, ayo kita buat sekarang!" ajak Bu Sazkia sambil menggandeng tangan anaknya berjalan menuju dapur.
__ADS_1
"Papah mana Mah? Kok gak kelihatan dari tadi setelah kepergian Dokter Rangga?" tanya Salma sambil celingak-celinguk mencari Papahnya.
"Kamu lupa yah sayang? Papah kan harus kerja. Dia kembali turun tangan karena gak mungkin juga kan biarin kamu yang lanjutin perusahaan Papah dengan kondisi kamu seperti ini. Apalagi sekarang kamu sedang berbadan dua," ujar Mamahnya.
Oh iyah jadi perusahaan keluarga Alexander sudah kembali bangkit karena Pak Devan sudah mengurus semua masalahnya. Dan kalau soal rumah Salma yang dulu sudah hangus terbakar. Jadi Pak Mamat di suruh bekerja di rumah kediaman utama keluarga Alexander, kasihan juga kan kalau di pecat. Kalau soal Bi Inez gak gak balik lagi.
"Kamu potongin wortel aja yah, ingat jangan terlalu banyak beraktivitas dulu yah. Itu wortelnya di cuci dulu," ucap Mamahnya yang di balas anggukkan kecil.
Salma pun mulai mencuci wortelnya, membersihkan kulitnya dan memotongnya seperti apa yang dulu pernah Jaka ajarin. Kini pikirannya kembali terlintas memori tentang dirinya dan suaminya saat-saat sedang di dapur waktu pertama kali ia bikin sup dulu. Hingga ...
"Aww!"
"Kamu kenapa sayang?" tanya Mamanya khawatir.
"Shitt! Gapapa kok Mah ini cuman ke iris aja tadi."
"Mana coba Mamah lihat? Itu berdarah cuci dulu sayang, nanti kasih plester aja biar gak ribet," ujar Bu Sazkia sambil mencuci luka anaknya, mengambil plester dan menempelkan pada lukanya.
"Makannya jangan melamun mulu jadi berdarah gini kan," sindirnya.
"Salma cuman teringat dia aja Mah, betapa sabarnya dia dulu pas ajarin Salma masak. Padahal Salma udah beberapa kali gagal buat sup, tapi dia tidak marah dan menyerah. Dia tetap mengajari Salma sampe bisa," rilih Salma kembali sedih.
"Sabar yah sayang, ya udah kamu duduk aja yah. Biar Mamah aja yang buat sup sama cake nya."
"Gak Mah Salma di sini aja lihatin Mamah masak," sahut Salma.
Bu Sazkia menghela nafas lalu ia pun memilih untuk segera bergulat dengan alat dapurnya. Salma hanya menatap sendu Mamanya yang sedang memasak. Bayangan bersamanya kini selalu terlintas dalam pikirannya.
Melihat Mamanya yang sedang mengaduk-aduk sup ia jadi teringat Jaka yang juga dulu pernah mengajari sambil modus memegangi tangannya dan memeluknya. Ia tersenyum tipis lalu tak lama senyuman itu hilang ketika melihat Mamanya yang baru saja selesai membuat sup dan berniat membuat cake.
Bu Sazkia membuka tepung membuatnya juga teringat dengannya dulu pas saat tidak bisa membuka tepung membuat mereka akhirnya malah main coret-coret tepung ke pipi dan akhirnya malah main kejar-kejaran. Sambil tertawa lepas main gelitikin.
"Sayang hei, kenapa melamun?" tanya Bu Sazkia yang melihat anaknya malah melamun sambil menangis.
Salma tersadar dari lamunannya, ia mengusap air matanya lalu tersenyum, "Gapapa kok Mah."
"Ya udah mending sekarang kamu makan sup nya dulu yah sambil nunggu Mamah bikin cake," ujar Mamahnya yang di angguki oleh Salma.
__ADS_1
>Bersambung....