
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
Setelah selesai mengantarkan mereka ke rumah sakit. Jaka dan Salma pun memilih untuk segera pulang karena hari sudah larut malam.
Salma yang merasa mengantuk membuatnya tidak fokus menyetir. Jaka yang melihat itu ingin sekali menggantikan posisi istrinya. Namun mau gimana lagi, ya memang dia tidak pandai mengemudi. Nanti kalau dia yang nyetir yang ada mobilnya malah nyusruk atau malah nabrak tiang listrik.
Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi malah berhenti begitu saja dan tidak bisa di lajukan lagi, "Lah kok gak bisa sih?" ucap Salma sambil terus berusaha untuk melajukannya kembali.
"Kenapa?" tanya Jaka sambil mengerutkan keningnya.
"Gak tau," jawab Salma yang langsung turun dari mobil berniat untuk mengeceknya.
Melihat istrinya turun Jaka pun memilih untuk mengikutinya, "Bensinnya abis kali," ujar Jaka tiba-tiba yang membuat Salma langsung menoleh ke arahnya sambil memberikan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Enak aja! Bensinnya masih banyak kali!" sahut Salma. Namun selang beberapa detik ia langsung terdiam mengingat sesuatu.
"Oh iyah gue lupa! Gue kan belum sempat isi bensin karena tadi buru-buru ke rumah sakit!" ujar Salma sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Nah kan benar kata saya juga. Pasti bensinnya abis," timpal Jaka.
"Ckk, iyah-iyah gue lupa ngisi bensin!" Salma berdecak kesal. Ia menyenderkan tubuhnya di mobil sambil melipat kedua tangannya di atas dada.
"Terus harus gimana dong? Mana jalanan sepi, gak ada yang jualan bensin lagi! Gue kan ngantuk pengen cepet-cepet pulang!" gerutu Salma kesal.
"Ya mau gimana lagi, saya juga gak tahu harus apa. Kalau jalan kaki masih jauh dari rumah," sahut Jaka. "Eh bentar-bentar, itu kok kayak Ujang yah?" ujarnya sambil menyipit-nyipitkan matanya mencoba memastikan benar atau tidak penglihatannya.
"Siapa sih? Ujang siapa? Orang yang ada cuman kita berdua aja kok di sini? Gak ada orang lagi selain kita," Salma memberikan banyak pertanyaan sambil menatap keselilingnya dan menautkan kedua alisnya bingung.
Jaka tidak menggubris pertanyaan istrinya, ia masih fokus melihat ke arah depan, "Iyah benar itu Ujang!" ujar Jaka yang sudah yakin motor butut yang ia lihat itu benar-benar Ujang, motornya yang hilang.
Tanpa berpikir panjang Jaka langsung bergegas menuju motor tersebut yang sedikit jauh dari tempatnya. Karena penasaran apa yang di maksud Jaka, Salma pun memilih untuk mengikutinya di belakang.
"Jaka, tungguin!"
__ADS_1
"Ujang? Ini benar kamu? Kamu kemana aja selama ini? Dan kenapa kamu malah ada di sini? Saya kangen!" ucap Jaka senang sambil melihat-lihat motornya apakah masih aman atau tidak. Lalu ia memeluknya yang membuat Salma bergidik geli.
'Gila apa nih orang? Masa cuman ketemu motor butut kayak gini aja kelihatannya seneng banget? Sampe di peluk-peluk segala. Gue aja yang istrinya gak pernah di peluk,' batin Salma.
'Ih Salma Lo apaan sih!"
"Jak, Lo kenapa sih? Gila yah?" tanya Salma kesal yang sedari tadi di cuekin oleh Jaka. Pria itu malah fokus mengecek motor bututnya yang bernama Ujang..
"Gapapa kok, saya lagi seneng aja akhirnya Ujang kembali," jawab Jaka sambil tersenyum.
"Hih, motor butut kayak gini itu seharusnya di buang aja. Gak layak lagi buat di pakai, paling nanti kalau Lo pakai juga malah berhenti di tengah jalan. Udahlah mending beli lagi aja yang baru, yang lebih keren. Kalau Lo mau gue pasti bakal beliin kok," ujar Salma.
"Gak perlu, kalau yang ada masih layak untuk di pakai. Buat apa beli yang baru? Buang-buang uang saja, mendingan pake di tabung. Lagian walaupun butut-butut kayak gini motor saya gak pernah mogok di tengah jalan, apalagi abis bensin seperti mobil kamu yang keren. Gak pernah tuh," sindir Jaka.
"Kan gue udah bilang, gue lupa beli bensin!" ucap Salma tidak terima.
"Ya sama aja, udah deh mending sekarang kamu naik aja. Kita pulang sekarang ini udah malam, tadi katanya ngantuk," ujar Jaka yang berniat ingin menaiki motor bututnya. Namun tidak jadi karena Salma malah mencegahnya.
"Eh tunggu-tunggu!"
"Ada apa?" tanya Jaka sambil menatap wajah istrinya bingung.
"Ya memangnya kenapa? Lagian mobil kamu kan mogok, gak bakal ada juga taksi yang lewat. Ini udah malam banget, apalagi jalanannya sepi. Hmmm kalau kamu gak mau juga gapapa sih, biarin aja saya tinggal di sini," ucap Jaka yang membuat Salma menghentakkan kakinya kesal.
"Iyah deh, gue juga udah ngantuk pengen cepat-cepat pulang. Jadi terpaksa deh gue ikut Lo, kalau bukan karena terpaksa ogah juga gue naik motor butut kek gini. Eh tapi mobil ..."
"Kamu kan punya anak buah, ya tinggal telfon aja mereka buat bawa mobil kamu pulang," ujar Jaka.
"Iyah sih, tapi kan gak enak ini udah malam," ucap Salma merasa tidak enak.
"Ya mau gimana lagi? Kalau gak suruh aja besok ambilnya," sahut Jaka.
Salma hanya mengangguk, lalu ia berjalan menuju mobil dan masuk ke dalamnya berniat untuk mengambil barangnya yang ketinggalan. Ya sekalian mengunci pintu mobilnya terlihat dahulu.
Setelah selesai, gadis itu kembali menghampiri Jaka dengan wajah yang terlihat kelelahan. Memang sedari tadi Salma merasa sangat lelah, makanya ia terpaksa mengiyakan ajakan Jaka untuk pulang memakai motor bututnya.
"Ya udah ayo! Asal kamu tahu yah, naik motor itu lebih seru dan menyenangkan di bandingkan kalau kita naik mobil," ucap Jaka yang membuat Salma mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Seru dari mananya?"
"Ya nanti kamu juga bakal ngerasain sendiri," ucap Jaka. "Ya udah ayo naik! Eh bentar ..." Pria itu membuka jasnya lalu dengan ragu memakainya ke tubuh mungil istrinya.
"Kamu harus pakai jas ini, cuacanya sangat dingin. Angin malam tidak baik untuk kesehatan, jadi sementara kamu pakai jas saya dulu yah?"
Salma masih terdiam memaku menatap wajah tampan suaminya yang sangat dekat. Ingin sekali ia menepis tangannya dan menolaknya untuk memakaikan jas. Namun tidak bisa, rasanya ia sangat ingin berucap tidak usah dan tidak perlu. Tapi tak tahu kenapa lidahnya tiba-tiba sangat susah untuk berucap dan tubuhnya pun sama sekali tidak dapat menolak saat Pria itu menyentuhnya.
Ya walaupun tidak menyentuh kulitnya secara langsung, tak tau kenapa itu malah membuat jantung Salma kembali maraton, "Hei, ayo!" kembali terdengar suara Jaka yang mengajaknya untuk segera naik ke motor dan pergi meninggalkan tempat itu.
"A-ah iyah," Salma yang tersadar dari lamunan langsung bergegas naik ke jok belakang.
"Udah? Pegangan yah," ujar Jaka yang langsung melajukan motornya.
Tidak lama setelah Jaka melajukan motornya membelah jalanan kota Jakarta. Tiba-tiba saja Salma mulai merasakan angin malam yang dingin menyusup ke kulitnya.
"Pegangan!" pinta Jaka yang melihat Salma sedari tadi tidak berpegangan.
Salma tidak menggubris permintaannya, ia malah asik mengusap-usap kedua telapak tangannya yang terasa sangat dingin. Jaka yang merasa kesal mencari cara agar Salma mau berpegangan. Ia pun memilih untuk menambahkan kecepatannya secara tiba-tiba yang membuat Salma refkles langsung memeluk tubuhnya.
Pria itu melirik ke pinggangnya yang terdapat tangan mungil istrinya sudah melingkar di sana. Bibirnya mengembang membentuk sebuah senyuman.
"Eh ma-maaf aku gak sengaja," ucap Salma gugup sambil mencoba untuk menjauhkan tangannya.
Namun dengan sigap Jaka langsung mencegahnya, ia mencekal lengan Salma lembut lalu kembali melingkarkan di pinggangnya, "Gapapa gini aja," ucap Jaka.
Lagi dan lagi Salma tidak bisa menolaknya. Mulutnya ingin sekali berucap Tidak mau. Tapi tidak tahu kenapa tubuh dan hatinya malah merasakan kenyamanan dan bahkan di dalam hati kecilnya ingin sekali ia mengatakan Sangat nyaman dan tidak mau lepas.
Bingung, dan bingung yang Salma pikirkan saat ini. Ia bingung dengan dirinya sendiri, mulutnya selalu berucap yang selalu membuat suaminya sakit hati. Tetapi ternyata hati kecilnya tidak tega dan tidak ingin mengatakan itu. Tanpa sadar Salma mengeratkan pelukannya sambil menyenderkan kepalanya di punggung Jaka.
'Ternyata benar naik motor itu seru dan menyenangkan. Buktinya sekarang, aku bisa merasakan pelukan yang membuatku merasa hangat dan nyaman.' ucap Salma dalam hati dan tidak lama ia mulai memejamkan matanya.
'Kadang saya suka bingung dengan sikap kamu yang selalu berubah-ubah sama saya Sal. Di saat kamu sangat baik dan lembut sama saya semakin yakin kalau saya bisa merjuangin pernikahan kita yang tanpa membawa cinta ini. Namun tiba-tiba kamu kembali kasar sama saya itu malah membuat saya kembali lemah dan putus harapan. Dan sampai sekarang pun saya masih bingung apa yang harus saya lakukan selanjutnya,' batin Jaka sambil mengelus lembut tangan mungil Salma yang masih melingkar di pinggangnya.
>Bersambung ....
Maaf yah kalau alur ceritanya lambat dan terlalu bertele-tele. Oke deh insyaallah bakal di percepat alurnya.
__ADS_1
Hmmm, Jan lupa sebelum/sesudah membaca biasakan pencet tombol LIKE karena LIKE itu gratis lho guys 🥰 Makasih, love you 😚
...See you guys ❤️...