
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
π£π£π£
Kini acara pernikahan Sam dan Salsa telah selesai. Keluarganya Sam dan juga Salsa sedang berkumpul di kediaman Alexander. Kebetulan kediaman Alexander lumayan dekat dengan gedung pernikahan. Karena sudah larut malam, jadi Jaka menyuruh besannya untuk menginap di rumah mertuanya.
Di ruang keluarga, usai makan bersama mereka sedang berkumpul. Termasuk Sam dan Salsa yang juga ikut mengumpul.
"Oh iyah, Aqila kemana yah? Kenapa sedari tadi dia tidak kelihatan?" tanya Lia yang baru engeh Putrinya sedari tadi tidak ada.
"Anakmu yang kedua?" tanya Salma yang di balas anggukan kecil.
"Tadi perasaan dia sama temannya," sahut David.
"Pah coba telfon! Mamah khawatir dia kenapa-napa! Ini sudah malam!" pinta Lia khawatir.
David pun hanya menurut, ia mencoba menghubungi Putrinya yang tak kunjung di angkat juga.
"Tidak di angkat Mah," ucap David yang membuat Lia semakin cemas.
"Coba telfon lagi Pah!" pintanya dan David hanya menurut, sudah ketiga kalinya ia menelfon Putrinya yang tak kunjung di angkat juga.
"Masih tidak di angkat!"
"Mungkin Qila pulang ke rumah dan dia udah tidur. Makannya telfonnya gak di angkat," ujar Sam mencoba menenangkan Mamahnya.
"Iyah bener kata Sam, mungkin udah tidur," ucap Salma.
"Tapi kenapa dia gak bilang dulu ke kita," tutur Lia.
"Ini udah malam, nanti kita lihat saja besok. Kalau begitu semuanya Sam ke kamar duluan yah. Sepertinya Aca sudah mengantuk," ujar Sam sambil melirik istrinya yang sedari tadi hanya diam sambil sesekali menguap.
"Ya sudah kalian pasti sangat capek. Sana istirahat," ucap Salma.
"Sam santai aja jangan langsung di sikat, kasihan istri kamu masih kecapean!" goda David yang membuat semuanya tersenyum. Begitupun dengan Salsa yang menundukkan wajahnya malu.
"Mainnya pelan aja jangan kasar-kasar kasihan istri kamu!" timpal Jaka.
"Ah Ayah, Papah ini ... Tenang aja Sam akan pelan-pelan kok," sahut Sam sambil tersenyum yang membuat wajah Salsa semakin memerah.
"Udah-udah kalian ini, lihat tuh wajah Salsa sampe merah gitu!" tutur Pak Devan Papahnya Salma.
__ADS_1
"Tau tuh kasihan Putriku wajahnya sudah seperti kepiting rebus gitu," ujar Salma ikut nimbrung.
"Hahaha, ya udah kalau gitu kita duluan yah. Ayo honey ..." Sam menggandeng tangan gadis yang kini jadi istrinya menuju kamar Salsa yang kini jadi kamar mereka berdua.
Sampai di kamar hanya ada keheningan di antara mereka. Salsa yang sedari tadi menundukkan wajahnya karena merasa malu. Begitupun dengan Sam yang hanya diam karena merasa canggung.
"A-ayo kita tidur honey kamu pasti capek," ujar Sam sambil membaringkan tubuhnya dan menepuk tempat di sampingnya agar Salsa ikut berbaring.
Salsa hanya terdiam dan dengan perlahan ia mulai membaringkan tubuhnya. Sam memiringkan tubuhnya menatap gadis itu sambil tersenyum manis, masih tidak menyangka ia sudah menikah dengan wanita yang di cintainya. Dan dengan perlahan tangannya mulai melingkar di pinggang ramping istrinya. Salsa yang mendapat perlakuan itu merasa gelisah.
"Tenang aja honey, aku gak bakal minta hakku sekarang kok. Aku tahu kamu pasti cepek, sekarang tidur yah. Biarkan posisinya seperti ini," ujar Sam mulai memejamkan matanya sambil mengeratkan pelukannya dan menggelamkan wajahnya di leher mulus istrinya.
Salsa yang merasa nyaman mulai memiringkan tubuhnya lalu membalas pelukan hangat suaminya. Yang kini gantian ia yang menggelamkan wajahnya di dada bidang Sam. Sam hanya tersenyum, ia mengelus lembut puncak kepala istrinya lalu mengecup keningnya lama dengan penuh kasih sayang.
'Aku masih tidak menyangka kalau aku sudah menikah dengan gadis kecil yang dulu ku anggap adikku. Tidak tahu kapan cinta ini tumbuh, yang pasti aku sangat mencintaimu dan menyayangimu dengan setulus hati. Aku janji bakal bahagiain kamu, aku bakal menebus semua kesalahanku dulu. I love honey ... Semoga pernikahan kita ini bertahan hingga maut memisahkan kita,' batin Sam lalu mengecup seluruh wajah istrinya.
Salsa sedari tadi sudah masuk ke alam mimpi. Sedangkan Sam ia masih belum puas memandangi wajah damai gadis itu saat sedang tertidur.
"Kamu sangat cantik," gumamnya sambil membelai lembut pipi tembem Salsa.
***
Keesokan harinya ... Pagi hari. Di sebuah kamar hotel, seorang gadis menggeliat kecil. Ia mulai membuka matanya perlahan, menatap sekelilingnya heran.
"A-aku dimana?" Aqila menatap ke sekelilingnya lalu pandangannya terhenti melihat seorang laki-laki yang tertidur di sampingnya dengan tubuh polos di balik selimut tanpa sehelai benangpun.
Ia mencoba duduk dengan perlahan sambil meringis kesakitan karena merasa perih di bagian bawahnya.
"Sshttt ... Ahk!" ringisnya, ia kembali menyibakkan selimutnya untuk memastikan. Terlihatlah bagian bawahnya yang memerah dengan banyak bercak darah yang belepotan ke sprei.
Aqila mencoba mengingat kejadian semalam, semenit kemudian ia mulai terisak.
"Hikss aku tidak suci lagi hikss ... Aku kotor! Aku sudah tidak suci lagi!" isaknya yang membuat Refan terbangun karena terusik.
Pria itu mengucek-ngucek matanya sambil terduduk dan sesekali kali menguap. Ia menatap Aqila yang sedang terisak merasa sangat bersalah.
βοΈ Flashback OnβοΈ
Setelah sampai di dalam kamar hotel. Refan menurunkan Aqila yang masih dalam pengaruh obat di ranjang. Lalu ia berlalu pergi menuju kamar mandi berniat menyiapkan air dingin untuk meredakan efek obat perangsang yang di minum gadis itu.
Setelah selesai Refan kembali ke kamar dan terkejutnya ia ketika melihat gadis itu sudah membuka seluruh pakaiannya. Terlihat gadis itu yang gelisah dengan wajah yang semakin memerah.
Dengan perlahan Refan berjalan menghampiri Aqila untuk menolongnya. Sudah beberapa kali Refan menelan ludahnya kasar karena baru pertama kalinya ia melihat wanita telanjang bulat di hadapannya.
__ADS_1
"A-ayo ikut den--" belum sempat Refan berbicara Aqila langsung loncat memeluknya ala koala sambil mengalungkan tangannya ke leher Refan dan kembali mencium bibirnya dengan rakus.
Refan yang kewalahan tidak bisa mengimbanginya, namun karena terbuai ia mulai membalasnya. C*uman mereka semakin lama semakin menuntut.
Refan juga lelaki normal, mendapat serangan mendadak seperti itu di tambah tubuh Aqila yang telanjang bulat di gendongannya malah membuat hasratnya memuncak. Kebetulan sesuatu di balik celananya sedari tadi sudah memberontak yang membuatnya merasa sangat sesak.
Refan yang semakin hilang kesadarannya, ia mulai mengikuti permainan Aqila. Dan terjadilah malam yang panjang ....
βοΈ Flashback off βοΈ
"Maaf ... Aku janji bakal tanggung jawab. Aku akan menikahimu!" ucap Refan serius yang sontak membuat Aqila menoleh ke arahnya.
"Kamu jahat! Kenapa kamu ambil kesucianku hikss ... Kenapa?!!" teriak Aqila frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri dengan kuat.
Refan yang memilih itu mencoba menahannya, ia langsung menarik Aqila ke dalam pelukannya mencoba menenangkannya. Namun gadis itu terus memberontak meminta untuk di lepaskan.
"Lepasin!!" pintanya sambil memukul-mukuli dada bidang Refan.
"Maafkan aku, semalam aku hilang kendali karena kamu terus memaksaku," ucap Refan yang membuat Aqila langsung terdiam dan melepaskan pelukannya.
Ia menatap Refan sambil mengusap air matanya, "Jadi kamu menyalahkanku?!" tanya Aqila yang membuat Refan terdiam.
"B-bukan itu maksu--"
"Iyah memang aku yang salah! Memang seharusnya aku berhati-hati semalam! Seharusnya aku a-ku ... Sudahlah terserah kamu mau menyalahkanku apa! Aku
sudah tidak peduli, aku sudah tidak berguna hidup juga hikss ..." Aqila semakin terisak, ia menekuk lututnya yang di peluk dengan kedua tangannya sambil menggelamkan wajahnya di sana.
Memang ia ingat jika semalam ia seperti itu gara-gara meminum jus yang di berikan pelayan. Ia tahu jika ada yang menjebaknya dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya hingga akhirnya kesuciannya hilang di ambil orang yang tidak di cintainya.
Refan menghela nafas panjang lalu menghembuskannya kasar, "Aku tidak menyalahkanmu, memang semalam aku juga yang salah. Seharusnya aku tidak terbuai dengan sentuhanmu hingga akhirnya jadi seperti ini. Aku janji akan bertanggung jawab, aku akan menikahimu!" ujarnya.
"Tapi tetap saja, aku tidak mencintaimu! Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai!" ucap Aqila tegas.
Refan menarik Aqila pelan dan menangkup wajah gadis itu, "Aku juga tidak mencintaimu, tapi mau tidak mau kita harus menikah. Kita mulai semuanya dari awal, percayalah cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu jika kita selalu bersama ..." ucapnya sambil mengusap air mata Aqila lembut.
"Tap--"
"Mandilah, abis ini aku akan mengantarmu pulang. Sekalian aku akan mengatakan semuanya kepada orang tuamu," ucap Refan sambil tersenyum merapikan anak rambut Aqila.
"T-tapi aku takut, aku takut mereka marah dan kecewa denganku," rilih Aqila sambil menundukkan wajahnya.
"Kamu tenang aja, aku yang akan mengurus semuanya," ucap Refan lembut.
__ADS_1
Aqila pun hanya mengangguk dan mulai mandi bergantian dengan Refan. Kebetulan Pria itu sudah menyiapkan bajunya dan baju Aqila yang sudah di bawakan oleh anak buahnya tadi.
>Bersambung ....