Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
S2~ Episode 154


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


"Hah?!"


"Kalian serius amat aku kan hanya bercanda. Haha, tapi serius kalau beneran juga biar kita jadi besanan," ucap David.


"Oh iyah sebenarnya Sam juga sering cerita jika dia suka sama Salsa. Tapi dia selalu sedih karena kesalahannya dulu karena tidak bisa di maafkan. Dan aku atas nama orang tuannya mewakili ingin minta maaf tentang kejadian beberapa tahun yang lalu. Aku tahu Sam memang salah, apa kalian sudah memaafkannya?" ucap David kali ini serius.


'Aku kira tadi Papahnya Kak Sam bilang beneran mau melamar aku. Ternyata cuman bercanda, tapi kenapa aku jadi sedih gini yah? Apa aku juga memang suka sama Kak Sam?' batin Salsa.


"Aku juga sebagai orang tuanya Salsa, sudah memaafkan kesalahan anakmu itu. Tidak tahu kalau Putriku," sahut Jaka.


"Baiklah terimakasih. Nak Salsa apa kamu juga memaafkan Sam?" tanya David yang tidak di balas oleh Salsa karena sedang sibuk dengan pikirannya.


"Sayang di tanya tuh, apa kamu sudah memaafkan Sam?" ucap Jaka mencoba menyadarkan Putrinya.


"Hah iyah, apa Om? Iyah-iyah aku sudah memaafkan Kak Sam kok. Lagian itu kan kejadian beberapa tahun yang lalu, tidak usah di ungkit lagi. Yang lalu biarlah berlalu," jawab Salsa sambil tersenyum.


"Baiklah, terimakasih banyak," ucap David sambil membalas senyumannya.


"Oh iyah tidak enak ngobrol di sini. Kita juga kan baru ketemu lagi, lebih enak ngobrol di cafe yuk?" ajak Jaka yang di angguki oleh David, Lia dan juga Salma.


"Ya udah, sayang kita ke cafe dulu yah. Kamu di sini sama Gibran gapapa kan?" tanya Jaka yang di angguki oleh Salsa.


"Gibran kamu jagain Kakak kamu yah, kalau ada apa-apa langsung hubungi Ayah saja. Kita gak jauh kok, cuman di cafe dekat sini," pinta Jaka pada Gibran.


"Baik Ayah," jawab Gibran yang sedari tadi diam saja.


"Ya udah kita duluan, assalamu'alaikum!"

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam!"


"Gibran, Kakak juga ingin keluar untuk mencari udara segar. Tolong antar Kakak," pinta Salsa kepada Adeknya.


"Tapi Kak, Kakak kan belum minum obatnya. Tadi gak jadi karena malah keburu datang temennya Ayah. Ini di minum dulu," ucap Gibran sambil mengambil beberapa obat di atas nakas, seperti obat penambah darah, vitamin dan obat lainnya.


"Biarkan saja, aku tidak mau minum obat bosen. Itu rasanya sangat pahit, lagian aku juga sudah sembuh kan? Aku tidak kenapa-napa, ayo kita keluar!" ujar Salsa sambil beranjak dari tempat tidurnya.


"Tapi Kak, kalau Ayah sama Bunda tahu aku bisa di marahin. Kakak minum obat dulu yah," bujuk Gibran.


"Gak Gibran, Kakak udah sembuh. Lihat deh Kakak udah sembuh kan? Kakak gak kenapa-napa," sahut Salsa sambil melihatkan tubuhnya yang berdiri dengan sok kuat, padahal ia merasa masih agak lemes.


Gibran menghela nafas kasar, "Hufff ... Kakak ini keras kepala sekali. Aku bisa di marahin kalau sampai terjadi apa-apa sama Kakak," ucapnya.


"Sudah kubilang aku tidak apa-apa," ucap Salsa sambil mengambil cairan infus untuk ia bawa. Gibran kembali menghela nafas, lalu ia membantu Kakaknya untuk keluar mencari udara segar.


Saat keluar dari ruangan, tepat sekali Sam juga yang baru keluar menggunakan kursi roda dengan di dorong oleh Aqila di belakangnya.


"Kak Sam? Apa Kakak sudah baikan? Kakak ingin kemana?" tanya Salsa sambil tersenyum.


'Aku baik-baik saja, tapi hatiku yang tidak baik. Melihatmu bersama laki-laki rasanya hatiku sangat sakit. Entah sejak kapan perasaan ini muncul, aku sangat mencintaimu,' batin Sam merasa sakit hati.


'Kenapa Kak Sam cuek gitu sama aku? Apa aku salah bicara? Atau punya salah lain yang membuatnya marah?' batin Salsa bertanya-tanya.


"Kebetulan sekali aku juga ingin mencari udara segar. Ayo kita bareng," ucap Salsa.


"Hmm, terimakasih tapi aku duluan saja. Ayo Qila!" ucap Sam dan Aqila pun hanya menurut mulai mendorong kursi rodanya dengan sangat pelan.


"Mari Kak," ucap Aqila kepada Salsa sambil tersenyum.


Melihat itu membuat Salsa merasa sedikit sakit karena di cuekin. Ia langsung mengajak Gibran untuk menyusul Sam berniat menanyakan apa ia punya salah.


"Gibran ayo kita juga ke sana," ajak Salsa.

__ADS_1


"Tapi Kak apa tidak apa-apa? Wajah Kakak pucat sekali lho. Gibran takut malah terjadi apa-apa sama Kakak. Kita istirahat saja yah di dalam?" ujar Gibran khawatir.


"Sudah ku bilang aku tidak papa, ayo!" Salsa berjalan beberapa langkah berniat menyusul Sam. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena tiba-tiba merasa kepalanya sangat pusing.


'Sssttt, kenapa kepalaku tiba-tiba pusing dan tubuhku juga agak lemes gini? Tadi perasaan tidak apa-apa. Apa karena udah hampir siang aku belum minum obat?' batin Salsa sambil memegangi kepalanya.


"Kak? Kakak kenapa?" tanya Gibran melihat Kakaknya khawatir.


"A-aku tidak apa-ap---" belum selesai ngomong Salsa sudah kehilangan kesadarannya. Ia pingsan dan dengan cepat Gibran langsung menangkap tubuhnya.


Brukk!


"Kak?! Kakak bangun!!" Gibran menepuk-nepuk pipi Salsa pelan mencoba membangunkan.


"SUSTER!! DOKTER!!" teriak Gibran yang membuat Sam dan Aqila yang belum jauh dari sana langsung menoleh. Mereka melihat Gibran sedang kesusahan dengan Salsa yang pingsan membuat Sam khawatir dan langsung menyuruh Aqila untuk menghampirinya.


"Aduhh darahnya naik lagi," gumamn Gibran cemas sambil membenarkan selang infus Kakaknya agar darahnya tidak naik.


"Dokter mana sih, lama sekali ckk! Kak bangun Kak! Kakak dari tadi di bilangin ngeyel banget sih, nah kan sekarang malah kayak gini!" oceh Gibran yang sangat cemas.


"SUSTER!! DOKTER!!" teriaknya lagi karena suster dan Dokter tak kunjung datang juga.


"Aca!! Kenapa?!" tanya Gibran yang tiba-tiba datang.


Sontak Gibran mendongak, "Kak? Kak Salsa pingsan!" jawabnya.


"Aqila, cepat panggilkan Dokter!!"


"Baik Bang!" Aqila pun berlalu untuk memanggil Dokter.


>Bersambung .....


Mon maaf jika banyak typo bertebaran;)

__ADS_1


Ini up tengah malam banget guys, karena gak bisa tidur kebangun;) Besok pasti gak akan sempet karena banyak tugas. Tugas author segudang hikss


Dahlah see you .... mau lanjut tidur lagi😴


__ADS_2