Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
S2~ Episode 161


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


Cklek!


Sam membuka pintu kamarnya dengan keadaan dirinya sangat acak-acakan. Rambut berantakan, serta mata yang sembab karena menangis. Tidak peduli lagi dirinya adalah seorang Mafia atau apa. Yang pasti saat ini dirinya sangat sedih. Apakah seorang Mafia tidak boleh menangis? Yang pastinya semua orang juga boleh menangis bukan?


Bi Inem menatapnya sangat terkejut sambil menutup mulutnya yang menganga. Ia ingin sekali menanyakan ada apa dengan tuannya, tapi dia tidak berani.


"Ada apa?!" tanya Sam dingin.


"A-anu Den ... Di bawah ada Non Salsa," ucap Bi inem sambil menundukkan kepalanya.


"Bilang saja aku tidak ada!" ucapnya singkat lalu menutup pintu kamarnya dengan sedikit kencang.


"T-tapi De---"


Brakk!


Karena merasa Sam sedang terlihat tidak baik-baik saja. Bi Inem pun memilih untuk kembali ke bawah dan mengatakan yang di katakan Sam tadi.


"Bi, bagaimana? Apa Bibi sudah bilang ke Sam?" tanya Lia yang membuat Bi Inem menundukkan wajahnya.


"A-anu Nyonya ... Aden Sam gak ada di kamarnya," ucapnya bohong.


"Apa dia belum pulang? Tapi perasaan tadi aku lihat dia lewat," pikir Lia bingung.


"Ah Tante mungkin Kak Sam nya belum pulang. Kalau begitu Salsa pamit pulang yah," menyalami tangan Mamahnya Sam. Sedangkan Bi inem sudah kembali ke dapur.


"Kamu tidak mau main dulu gitu? Duduk aja dulu kita ngobrol sambil nunggu Sam pulang," tawar Tante Lia.


"Ah maaf Tante, kapan-kapan aja yah. Soalnya Salsa lagi buru-buru, Salsa pamit. Assalamu'alaikum!" ucap Salsa sambil tersenyum dan membungkuk hormat lalu berlalu pergi.


"Wa'alaikumsalam."


Salsa berjalan keluar, di halaman rumah Sam ia menghentikan langkahnya. Menatap jendela kamar Sam sendu yang ada di lantai atas.


"Padahal aku ingin bertemu Kak Sam dan menceritakan semuanya," gummannya lalu mengusap wajahnya sedikit kasar dan berlalu pergi.

__ADS_1


Tanpa Salsa sadari ternyata Sam di atas sana sedang memperhatikannya. Melihat gadis itu yang sudah pergi dari kediamannya dengan menggunakan taksi. Sam pun turun ke bawah dengan pakaian yang sudah rapi serta membawa koper kecil berisi sedikit pakaian dan juga barang-barang penting miliknya.


"Sayang, tadi kata Bibi kamu gak ada?" tanya Lia kini pandangannya beralih ke koper kecil yang di bawa Putranya, "Kamu mau kemana?!"


"Sam mau pamit Mah, Sam ingin kembali ke Jepang," ucapnya lalu menyalami tangan Mamahnya.


"Kamu kan masih belum pulih, luka jahitanmu belum kering sepenuhnya!"


"Sam bisa jaga diri Mah."


Namun tiba-tiba terdengar suara Papahnya yang baru datang berteriak-teriak memanggil nama Sam.


"Sam! Sam!" David menghampiri mereka dengan terengah-engah.


"Ada apa?" tanya Sam sedikit dingin.


"Kamu mau kemana?!" David malah balik bertanya.


"Sam mau pamit, ingin kembali ke Jepang," ucap Sam lalu menghampiri Papahnya dan menyalaminya.


"Tunggu dulu, Papah ingin memberitahu sesuatu!" ucap David menghentikan Putranya yang berniat ingin berlalu pergi.


"Sam, ini penting! Soal Salsa!"


"Sam sudah tidak peduli lagi!" ucapnya dingin.


"Tapi kamu akan menyesal jika tidak mendengarnya!!" David sedikit meninggikan suaranya melihat Sam yang berlalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan Papahnya yang sedang berbicara.


"Aish anak itu!"


*****


Malam hari di kediaman Alexander. Salsa terlihat sedang merebahkan tubuhnya di kasur sambil memejamkan matanya sejenak mencoba menenangkan pikiran.


"Aish sangat bosan rasanya! Huftt ... Ingin hubungin Kak Sam tapi gak ada handphone nya," gumamn Salsa, memang ponselnya ia banting beberapa hari yang lalu dan sekarang belum sempet beli yang baru lagi.


Gadis itu beranjak dari kasur lalu mengambil tas selempang kecil miliknya. Ia berniat ke supermarket karena merasa sangat bosan, kebetulan ia ingin membeli sesuatu.


"Ayah, Bunda, Salsa pamit ke supermarket yah sebentar," pamit Salsa sambil menyalami tangan orang tuanya yang kebetulan sedang berada di ruang keluarga.


"Mau Ayah antar?" tawar Jaka.

__ADS_1


"Tidak usah Ayah, Salsa bawa mobil sendiri aja. Kebetulan dekat," tolak Salsa lembut, "Ya udah Salsa pamit, assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam, hati-hati!"


Salsa pun pergi sendirian ke supermarket dengan membawa mobil. Sampai di sana ia asyik memilih-milih sesuatu yang berniat ia beli.


Hingga setelah selesai, Salsa keluar dari supermarket sambil tidak fokus melihat ke depan. Ia sedang melihat barang belanjaannya.


"Ah aku lupa membeli---" belum sempet Salsa melanjutkan perkataannya tiba-tiba ada dua orang Pria memegangi tangannya hingga plastik belanjaannya terjatuh.


"S-siapa kalian?!" tanyannya ketakutan.


"Tidak usah banyak tanya, ayo ikut!!" kedua Pria tersebut menyeret Salsa ke sebuah mobil yang tidak jauh dari sana.


"Ahk! Lepasin!! Tolong!! Tolong!! Lepasin ih!!" teriak Salsa namun tidak ada satu orang pun menolongnya. Karena kebetulan di sana sangat sepi tidak seperti biasanya.


Tepat sekali terlihat seorang Pria menggunakan motor sport baru saja datang berniat membeli sesuatu di supermarket.


"S-salsa?" Pria itu membuka helm lalu turun dari motornya.


"Lepasin gadis itu!!"


Mereka langsung menoleh.


"R-refan?! Tolong! Tolongin a-ahk ..." Salsa tiba-tiba pingsan karena salah satu Pria itu menusuk tengkuk lehernya menggunakan kedua jari.


Salah satu dari kedua Pria itu langsung menyerang Refan dan terjadilah baku hantam. Sedangkan temannya membawa Salsa ke sebuah mobil.


"Bos, ini gadis yang Bos minta."


"Apa kalian sudah menyiapkan semuanya?!" tanya Bosnya dingin.


"Sudah Bos, ini kunci dan nomor kamarnya ada di lantai 20," memberikan sebuah kunci dan kartu kamar hotel.


"Bagus, kalian urus Pria itu!" ucapnya, "cepet jalan!" pintanya ke sopir.


Pria itu memutar-mutari kunci kamar sambil menatap nomor kamar yang ia pegang, "Lantai 20 kamar nomor 315," gumamnya sambil tersenyum smrik lalu menoleh ke arah Salsa yang masih pingsan berada di sampingnya.


>Bersambung ....


Sorry kalau ceritanya kurang menarik hmm;)

__ADS_1


__ADS_2