
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
Jaka dan Salma terlihat sedang siap-siap. Hari ini mereka berniat untuk belanja barang-barang bayi sekalian belanja bahan-bahan untuk syukuran tujuh bulanan. Memang kini usia kandungan Salma sudah memasuki tujuh bulan.
"Salma udah belum?" gerutu Jaka kesal karena dari tadi istrinya tak kunjung keluar juga dari kamarnya.
"Astagfirullah, kamu belum siap juga?" tanya Jaka sambil menepuk jidatnya.
"Bajunya gak ada yang muat," ucap Salma kesal.
"Pake yang ada aja kali, yang masih muat aja di tubuh kamu. Emangnya gak ada sama sekali? Kamu gendutan sih," ujar Jaka yang membuat Salma cemberut.
"Kamu bilang aku gendut? Ini juga gara-gara kamu dulu yang buat aku kayak gini!" cibir Salma.
Jaka menghela nafas, "Iyah enggak, kamu gendutkan karena lagi hamil. Ya udah ayo cepat pake yang itu aja tuh kayaknya cukup. Kita kan mau ke mall, jadi sekalian beli pakaian kamu juga," ujarnya sambil menunjuk salah satu pakaian tertutup yang lumayan besar.
"Kegedean ini mah, nanti aku kayak ibu-ibu," gerutu Salma kesal.
"Udah pake aja atau aku yang pakein?" ancam Jaka.
"Ck ... Iyah-iyah ..." dercak Salma kesal sambil mengambil pakaian yang sempat ia lempar ke ranjang tadi.
Namun karena tidak melihat ke bawah membuatnya kesandung dan hampir terjatuh. Dengan cepat Jaka menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya.
Wajah mereka sangat dekat, pandangan saling beradu. Namun tiba-tiba Salma merasa perutnya sakit.
"Ahkk!"
"Sal? Kamu kenapa? Sini duduk dulu," tanya Jaka khawatir sambil membantu istrinya duduk.
"Bayinya kayaknya cegukan deh," ucap Salma sambil mendudukkan tubuhnya dengan hati-hati.
Jaka membuka tali bathrobe yang di pakai istrinya berniat untuk mengelus perutnya. Namun dengan sigap Salma mencegahnya, "Mau apa?"
__ADS_1
"Mau di elusin emang gak boleh?" Jaka balik bertanya.
"Gak usah nanti malah minta yang lebih lagi," ucap Salma yang tak di hiraukan oleh Jaka.
Pria itu tetap membuka tali bathrobe-nya, mengelus-elus perut istrinya dengan penuh kasih sayang. Lalu mengambil pakaian yang tadi mau di ambil Salma berniat untuk memakainya, "Biar aku aja yang pakein!"
"Hmmm, jangan macem-ma ... Ahkk! Tuh kan baru aja di bilangin!" desah Salma kaget karena tiba-tiba Jaka malah memainkan buah dadanya.
"Ya maaf, tapi ini enak lho Sal. Makin besar aja, dulu perasaan pas pertama kali mainin kecil," ucap Jaka dengan watadosnya.
"Ih ngelunjak banget yah sekarang! Mesum lagi, gak kayak Jaka yang dulu!" gerutu Salma sambil menepis tangan suaminya.
"Mesum sama istri sendiri gapapa kan? Emang aku berubah, tambah ganteng aja yah?" sahut Jaka dengan pedenya.
"Auk ah!" Salma meraih pakaian tersebut lalu beranjak menuju kamar mandi. Dari pada pusing ladenin suaminya yang super nyebelin sekarang mah, mending ia cepat-cepat ganti baju untuk segera berangkat ke mall.
*****
Kini sepasang suami-istri itu sudah berada di mall. Sedari tadi mereka keliling-keliling tidak jelas, bingung mau beli yang mana dulu. Dan karena kebetulan sekali ada toko baju Ibu hamil, Salma memilih untuk membeli bajunya terlebih dahulu.
"Kalau bisa mah kamu berhijab Sal, aku gak mau aurat kamu di lihat orang lain. Kecuali aku, tapi aku juga gak maksa. Itu sesuai niat kamu, jika kamu belum siap. Jangan lakukan itu karena terpaksa aku yang nyuruh. Tapi jika kamu sudah siap dan mau berhijab dengan niat kamu, ya alhamdulilah," ujar Jaka serius.
"Alhamdulillah, ya udah ayo kita makan dulu nanti di lanjut lagi. Kamu pasti capek kan dari tadi keliling-keliling?" ajak Jaka sambil menggandeng tangan istrinya.
Salma hanya mengangguk dan mereka pun memilih untuk ke kafe dulu. Sepanjang perjalanan Salma terus saja bergelayut manja di lengan suaminya. Hingga tak sengaja di jalan mereka bertemu dengan sepasang kekasih yang tak asing bagi mereka.
"Salma? Jaka? Kalian di sini juga?" sapanya yang tak lain adalah Reza.
"Oh hai, iyah kita lagi belanja barang-barang baby untuk persiapan. Sekalian juga mau belanja untuk syukuran tujuh bulanan. Kalian sendiri ngapain? Kapan nikah nih?" sahut Jaka sambil bertanya.
"Minggu depan Mas Bro, jan lupa datang yah!" ujar Reza sambil bergurau.
"Pasti dong, masa adiknya nikah gak datang sih," sahut Jaka.
"Abangnya gak jadi, Adeknya pun jadi," gumman Salma pelan.
"Bisa aja kamu," ucap Jaka sambil mencubit hidung Salma gemas.
__ADS_1
"Ahk, sakit ih ..."
Ya memang Jaka dan Reza sekarang menjadi lebih akrab dan sering bercanda jika bertemu. Walaupun masih agak canggung. Sherin juga sudah mulai pasrah, semakin ke sini ia semakin bisa menerima Reza.
"Oh iyah maaf yah atas kelakuan Mamah gue yang udah marah-marah sam--"
"Gapapa, gak usah di bahas. Oh iyah Rara mana? Tumben gak ikut biasanya ngintilin mulu?" ucap Jaka mengalihkan pembicaraan.
"Gak tau tuh," sahut Reza.
"Hmm, kalian udah cek ke Dokter? Usia kandungannya udah berapa bulan?" tanya Jaka mengalihkan pembicaraan lagi.
"Jalan dua bulan," jawab Sherin sambil mengelus-elus perutnya.
"Cepetan nikah nanti keburu besar lho perutnya."
"Tenang aja, seminggu lagi Mas Bro. Nanti abis nikah kita langsung ke Singapura. Pasti akan jarang ketemu, kalian baik-baik yah di sini," ujar Reza.
"Kan kalau kangen bisa main, kalian juga baik-baik yah di sana. Langgeng terus, kalau ada masalah selesaikan dengan kepala dingin," ucap Jaka menaheseti, "Oh iyah kita mau makan nih, mau ikut biar sekalian? Kasihan bumil udah laper nih."
"Ya udah ayo bareng aja, itung-itung double date. Kapan lagi kita kayak gini yah," sahut Reza.
Mereka pun akhirnya memilih untuk segera ke kafe. Karena kasihan jika para bumil lama-lama berdiri di sana. Namun dalam perjalanan tak sengaja Jaka di tabrak seorang gadis yang sedang berlari kecil sambil menangis.
Brakk!
"Aww!"
"Maaf Kak gak seng-- Abang?! Hikss ..." ternyata gadis itu adalah Rara, ia langsung berhambur memeluk Reza yang kebetulan tidak jauh dari sana.
"Rara kamu kok ada di sini? Kenapa nangis?" tanya Reza heran.
"Hikss-hikss ... Papah Bang ..." rilih Rara sambil terisak di pelukan Reza.
"Papah kenapa?" sahut Jaka khawatir.
"Papah ..."
__ADS_1
>Bersambung ....