
Pagi hari Sam berpamitan kepada istrinya untuk berangkat kerja. Memang semenjak menikah Sam tidak memperbolehkan istrinya untuk kerja lagi. Dan sebenarnya sekarang ia tidak ingin meninggalkan istrinya sendirian di rumah.
"Sayang aku berangkat kerja dulu yah. Kamu baik-baik di rumah jangan kemana-mana. Kalau ada apa-apa hubungin aku aja," ucapnya kepada Salsa yang baru selesai membenarkan dasinya.
"Iyah kamu juga hati-hati yah. Bawa mobilnya jangan kencang-kencang," sahut Salsa sambil mencium punggung tangan suaminya.
Sam mengecup seluruh inci wajah istrinya, "Aku berangkat yah, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam." Salsa melambaikan tangannya ke arah suaminya yang sudah memasuki mobil.
Setelah beberapa menit kepergiannya entah kenapa tiba-tiba Salsa merasa ingin makan sesuatu. "Ah rasanya aku ingin sekali makan bubur ayam di pinggir jalan," gumamnya heran padahal dia baru selesai sarapan bersama suaminya tadi.
"Mendingan aku beli aja deh, rasanya sangat ingin sekali memakan itu."
Salsa masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasnya. Ia berjalan keluar rumah sambil menunggu taksi lewat. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya taksi pun datang.
Tak membutuhkan waktu lama Salsa sudah sampai di sebuah tukang Bubur ayam pinggir jalan. Ia segera turun dari taksi dan langsung memesannya.
"Eh Kak Salsa?" sapa Rere yang ternyata juga sedang berada di sana.
Salsa langsung menoleh dan ikut duduk di sampingnya, "Oh hai Rere, kamu di sini juga?" balasnya.
"Iyah Kak kebetulan aku lagi pengen banget Bubur ayam di sini padahal biasanya aku gak terlalu suka makan bubur ayam. Mungkin keinginan Debaynya. Oh iyah Kakak sendiri ke sini?" ucap Rere sambil tersenyum mengelus perutnya.
"Wah ternyata keinginan Dedeknya yah.Usianya udah berapa bulan? Iyah aku sendiri soalnya Kak Sam kerja. Gak tau ini juga pengen banget beli Bubur di pinggir jalan padahal aku tadi udah sarapan," tanya dan jawab Salsa.
"Nginjak Lima bulan Kak. Oh mungkin keinginan Debaynya juga kali Kak," ucap Rere yang membuat Salsa terdiam.
"Hmm aku belum hamil," rilihnya sambil menatap perutnya sendu.
"Eh maaf Kak, aku gak bermaksud buat Kak Salsa sedih. Kakak yang sabar yah moga Debay nya cepet tumbuh di perut Kakak," ucap Rere sambil mengelus perut rata Salsa lembut.
'Kok perutnya beda yah?'
__ADS_1
"Maaf nih apa Kakak udah coba tes kehamilan?" Salsa menggeleng cepat. Memang sampai sekarang dia belum pernah coba periksa ke dokter atau pake tes kehamilan.
"Oh iyah kebetulan aku masih ada dulu belinya lebih. Ini Kak nanti di coba aja siapa tau positif," Rere memberikan tespeck yang ia ambil di dalam tasnya.
"Makasih, nanti aku coba deh siapa tahu hasilnya memuaskan." rilihnya sambil menatap benda itu sendu.
"Semangat Kak!"
Salsa dan Rere akhirnya memakan bubur sambil mengobrol hingga tak terasa waktu sudah semakin siang.
Salsa sudah pulang ke rumahnya. Ia langsung bergegas menuju kamar mandi. Di ambilnya benda yang di berikan Rere tadi. Di tatapnya lama benda itu sendu.
Ia menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya, "Aku harus mencobanya."
Beberapa menit kemudian. Salsa sedang berdiri di depan wastafel sambil menatap benda kecil di hadapannya dengan keringat yang bercucuran. Tangannya yang bergetar perlahan mulai mengambil benda itu sambil memejamkan matanya. Hingga ...
Slash !
"Aaaaaa kecoak!" sebuah kecoak terbang hinggap di tangannya yang membuatnya refleks melempar tespeck yang di pegangnya.
"Huh ... Untung saja," hela nafasnya sambil menyenderkan kepalanya di senderan kasur.
Ting-tong! Ting-tong!
Suara bel rumah yang terus berbunyi membuatnya langsung beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar menuju lantai bawah.
"Iyah sebentar!!" teriaknya kepada orang di luar sana.
Cklek!
Terlihatlah suaminya yang terlihat pucat sedang di papah oleh OB. "Lho sayang kamu kenapa?" tanyanya khawatir langsung mengambil alih pria itu.
"Tuan Sam sedari tadi tak henti-hentinya bolak-balik kamar mandi karena mual mencium bau ruangan. Yang membuatnya jadi lemas seperti ini," jelasnya yang membuat Salsa semakin khawatir.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi kembali ke kantor, tuan Nona."
Salsa hanya mengangguk dan segera membawa suaminya yang sudah lemas masuk ke dalam.
"Kamu kenapa bisa gini sih, tadi perasaan baik-baik aja deh," heran Salsa sambil berusaha mendudukkan suaminya di sofa.
"Pusing, palaku pusing pijit-pijit." pintanya manja.
"Iyah-iyah sini aku pijitin," Salsa mulai memijit-mijit kepala suaminya yang membuatnya merasa nyaman.
Namun tiba-tiba, "Hwumm," Sam berlari menuju kamar mandi dan kembali memuntahkan isi perutnya.
"Huwekk ... Huwekk ..."
Salsa yang khawatir membantu miijit tengkuk suaminya agar pria itu merasa enakan.
"Huwekk ... Huwekk ..."
Setelah di rasa sudah tidak ingin muntah lagi Sam langsung membasuh mulutnya dan menyenderkan tubuhnya di dinding sambil memejamkan matanya.
"Udah mendingan?" tanya Salsa.
Sam hanya mengangguk lemah yang membuat wanita itu semakin khawatir. "Kita ke kamar yah, aku mau buatin air anget buat kamu biar merasa enakan."
Salsa memapah suaminya menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah membaringkan tubuh lemas Pria itu, ia langsung kembali keluar kamar menuju dapur berniat mengambil air anget.
Setelah beberapa menit akhirnya Salsa telah kembali dengan membawa segelas air hangat. "Ini minum dulu," pintanya sambil membantu untuk meminumnya.
Salsa menatap sendu suaminya yang memejamkan matanya karena sudah tidak kuat lagi membuka matanya. Pria itu terlihat sangat pucat, tidak biasanya ia sakit sampai seperti ini. Padahal jelas-jelas tadi pagi saja dia masih baik-baik saja.
"Kamu kenapa sih, kenapa bisa jadi seperti ini? Aku gak tega lihat kamu sakit kayak gini," rilihnya sambil mengelus surai nya lembut.
>Bersambung ....
__ADS_1
Sorry kalau banyak typo. Ngantuk banget soalnya 😪