Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
S2~ Episode 118


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


Setelah sampai di parkiran Gibran langsung mengambil motornya. Dan ia menyuruh Rere untuk naik. Namun bukannya naik, gadis itu malah diam saja.


"Ayo naik, kenapa diam aja?" ujar Gibran sambil menatap gadis di hadapannya yang masih bengong.


"Takut," ucap Rere pelan. Memang Gibran memakai motor sport kesayangannya hadiah dari Ayahnya. Kebetulan sekali Rere tidak pernah naik motor seperti itu sebelumnya.


Gibran mengerutkan keningnya heran, pikirannya tiba-tiba loading. Namun tak lama ia mengerti, Gibran hanya tersenyum tipis lalu berkata.


"Mau ku bantu?" tanyannya yang membuat Rere menatapnya dengan wajah serius.


"Kayaknya gak usah deh, aku pulang naik Bus aja. Makasih sebelumnya karena udah nawarin untuk pulang bareng dan soal traktiran kapan-kapan aja yah," ujar Rere.


"Nunggu Bus lama lho. Ayo naik aja!" Gibran mengulurkan tangannya ke arah Rere. Dan setelah lama berpikir dengan terpaksa ia pun menerima uluran tangan Gibran dan mulai menaiki motornya dengan sangat hati-hati.


"Huftt ..." Rere menghela nafas lega. Bukannya norak, ini memang baru pertama kalinya ia naik motor seperti itu.


"Apakah sudah?" tanya Gibran yang di angguki oleh Rere. Pria itu pun mulai menyalakan motornya dan menancapkan gas tanpa aba-aba yang membuat Rere kaget. Dengan tidak sengaja gadis itu memeluk tubuh Gibran.


"Eh, m-maaf g-gak sengaja," ucap Rere gugup dan langsung melepaskan pelukannya.


Gibran hanya menatap wajah saltingnya dari kaca spion. Dan tanpa sadar ia tersenyum, 'Kalau di lihat-lihat dia lucu juga,' batinnya.


Gibran kembali menancapkan gas yang membuat Rere kali ini langsung memegangi kedua pundaknya erat.

__ADS_1


"Pelan-pelan dong aku takut!" pintanya semakin mengeratkan pegangannya karena Gibran semakin kencang melajukan motornya.


Merasa kasihan Gibran pun mulai memelankan lajunya, "Pegangannya jangan di situ nanti jatuh!" ucapnya yang langsung meraih tangan Rere untuk kembali memeluknya. Gak tahu kenapa ia malah merasa nyaman, baru kali ini ia bisa sedekat ini dengan cewek.


"Eh, gak usah!" Rere ingin melepaskan pelukannya namun di tahan oleh Gibran.


Ia pun hanya pasrah, padahal di dalam hatinya merasa sangat senang. Hening, mereka sama-sama diam karena merasa canggung.


"Kita mau kemana?" tanya Rere tiba-tiba memecahkan keheningannya.


"Hmm, mampir ke resto dulu bentar mau traktir kamu makan. Abis itu langsung anterin kamu pulang," sahut Gibran.


"Eh gak usah aku gak laper! Mending beli es krim aja," pinta Rere.


"Serius cuman es krim aja?"


Rere mengangguk, "Iyah, tapi belinya jangan di supermarket. Yang di pinggir jalan aja," ucapnya.


"Di sini juga ada tukang es krim. Ayo turun," ujar Gibran sambil membuka helmnya, ia mengulurkan tangannya ke belakang untuk membantu gadis yang di boncengnya untuk turun.


Setelah turun Gibran menyuruh Rere untuk menunggu di kursi taman. Ia berlalu pergi dan kembali lagi ke sana dengan membawa dua es krim.


"Ini buat kamu," Gibran menyodorkan satu es krim yang langsung di terima oleh Rere.


"Makasih," ucap Rere sambil tersenyum.


"Iyah sama-sama," Pria itu ikut mendudukkan dirinya di samping Rere, "Oh iyah nama kamu siapa?" tanyannya yang membuat Rere langsung berhenti melahap es krimnya. Ia menoleh ke samping dan menatap wajah Gibran tidak percaya.


"Jadi selama ini kamu teman sekelas aku, duduk sebangku pula. Tidak tahu namaku? Masa sih? Bukankah aku selalu mengganggumu dan mengajakmu berteman?" tanyanya tidak percaya.

__ADS_1


Gibran mengernyitkan dahinya sambil mengangkat kedua bahunya, "Aku bukan tipe orang yang selalu mengingat nama orang yang tidak penting!"


Deg!!!


Perkataan Gibran membuat Rere terdiam. Bak di sambar petir hatinya benar-benar sakit sekali. Jadi selama ini orang yang membuatnya berhasil jatuh cinta pada pandangan pertama tidak pernah menganggapnya sama sekali. Bahkan dia mengatakan jika dirinya tidak penting dan sekarang? Dia bisa dekat dengannya hanya karena merasa bersalah?


Rere masih terdiam, sesak dadanya benar-benar sesak. Jangankan bisa mengambil hatinya, ternyata membuatnya agar mau berteman dengannya aja sangat susah. Harus terluka dulu, baru mau.


"Hei, kamu kenapa?" tanya Gibran dengan watadosnya sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajah Rere yang masih melamun.


"Ah tidak apa-apa!"


Tiba-tiba saja Gibran menyentuh sudut bibir gadis itu yang membuat Rere langsung terdiam memaku. Menatap wajah Gibran yang semakin dekat. Pandangan mereka saling beradu. Membuat mereka sama-sama terdiam dengan posisi seperti itu.


"Ah, kamu ini makan es krim gimana sih. Sampe belepotan kayak gini," ujar Gibran sambil mengalihkan pandangan dan kembali ke niat awalnya membersihkan es krim yang belepotan di sudut bibir Rere.


Drrtt-drrtt-drttt!


Tiba-tiba ponsel Gibran berdering menandakan ada panggilan masuk. Pria itu langsung merongoh saku celananya dan segera mengangkat telfon.


Call on.


"....."


"Gibran sudah pulang sekolah, dan sekarang lagi di taman."


"....."


"Baiklah Gibran ke sana sekarang!"

__ADS_1


>Bersambung ....


__ADS_2