
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
"Siapa dek?" tanya Sam penasaran.
"Mmm sebenernya Kak Salsa donorin darahnya ke Abang," jawab Aqila yang membuat Sam terkejut.
"Apa?! Kenapa dia lakuin itu?! Aku harus lihat keadaannya sekarang!" Sam berniat turun dari brankar sambil menahan rasa sakit di perutnya.
"Ahkk, sssttt ... Sakit sekali."
"Abang! Abang baru selesai di operasi, lukanya belum kering jangan banyak gerak dulu!" pinta Aqila sambil membantu Abangnya agar berbaring kembali.
"Tapi Abang mau lihat keadaannya. Abang takut terjadi apa-apa sama dia," sahut Sam dengan wajah sendu.
"Abang kali ini aja nurut sama Qila. Abang juga harus mikirin kesehatan Abang," ujar Aqila yang hanya di angguki oleh Abangnya.
"Hmm, apa Mamah Papah tau soal ini?" tanya Sam serius.
"Aku udah telfon Papah tadi, tapi dia bilang katanya udah tahu dan mau ke sini. Sepertinya Papah nyuruh anak buahnya buat ngawasin kita," jawab Aqila yang memang pas menelfon tadi Papahnya bilang sudah tahu dan akan ke sana.
"Mamah gimana?" tanya Sam lagi.
"Aku bilang ke Papah tadi jangan kasih tahu dulu Mamah. Karena Abang tahu sendiri kan gimana kondisi Mamah sekarang? Apalagi kalau tahu Abang terluka pasti syok," ujar Aqila.
"Hmm, Abang tahu. Ini udah malam kamu pasti capek kan? Mending istirahat," pinta Sam kepada Adeknya.
"Tapi Bang--"
__ADS_1
"Sstttt ... Abang gapapa, kamu tidur yah ini udah malam. Gak baik buat kesehatan," ujar Sam.
"Baiklah, aku tidur di sini aja," ucap Aqila sambil menaruh kepalanya di bibir brankar.
Melihat Adeknya mulai memejamkan matanya, ia mengelus-elus rambut Adek satu-satunya dengan lembut.
"Kamu pasti abis nangis gara-gara khawatir sama Abang yah. Mata kamu sampe sembab gitu, maafin Abang yah udah buat kamu khawatir," gumman Sam sambil memperhatikan wajah Adeknya yang terlihat adem saat sedang tidur.
"Sepertinya sudah terlelap," gummannya lagi lalu berniat beranjak dari brankar dengan sangat hati-hati.
"Mau gimanapun juga aku harus segera menemui Aca. Aku takut dia kenapa-napa," ucapnya nekat.
Sam melepaskan selang oksigen dan infusannya. Lalu ia mulai berjalan keluar ruangan dengan perlahan. Dengan menahan rasa sakit di perutnya.
"Sssttt, tidak Sam kamu gak boleh lemah! Kamu harus kuat!" ucapnya menyemangati diri sendiri.
Sam terus berjalan tanpa mempedulikan rasa sakitnya. Dan setelah sampai di luar ruangan, ia menatap ke sekeliling sangat sepi. Kebetulan sekali ini sudah sangat malam.
"Aku harus mencarinya, pasti tidak jauh dari sini!"
Sam kembali melangkahkan kakinya berniat mencari ruangan Salsa. Ia mulai membuka pintu ruang inap yang ada di sampingnya satu persatu. Sudah dua ruangan ia lihat yang ternyata tidak ada Salsa di sana.
Karena penasaran melihat pintu ruang inap di depan ruangannya sedikit terbuka. Sam pun mulai menghampirinya. Ia membuka pintunya perlahan yang kebetulan tidak di kunci.
Cklek!
Dan benar saja ternyata ruangan Salsa tidak jauh. Buktinya itu berada di depan ruangannya. Sam mulai berjalan menghampiri orang tuanya Salsa.
"Nak ayo bangun, kamu jangan buat Bunda khawatir hikss ..." rilih Salma yang memang Salsa belum sadar juga.
"Om, Tante," panggil Sam pelan.
__ADS_1
Sontak membuat Jaka dan Salma langsung menoleh, "Samuel?! Kenapa kamu ke sini?! Kamu kan baru selesai di operasi?!" tanya Jaka.
Sam hanya tersenyum, "Tidak apa-apa Om, Sam ingin lihat keadaan Aca. Apa dia baik-baik saja?" ucapnya sambil menghampiri mereka dengan perlahan.
"Salsa masih belum sadar," Jaka membantu Sam untuk duduk di kursi seberang samping brankar, "Seharusnya kamu ini istirahat saja," gumamn Jaka.
"Om, Tante maafin Sam yah. Gara-gara donorin darahnya ke Sam Aca jadi kayak gini," ucap Sam sambil menunduk.
"Kamu gak salah kok, jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Salsa pasti baik-baik aja, apa kamu juga sudah baikan?" sahut Jaka. Salma hanya diam aja karena ia juga merasa lelah dan sangat mengantuk.
"Aku sudah baikan kok Om."
"Sayang kamu ngantuk yah? Tidur aja yah, ini udah malam kamu pasti capek juga. Biar aku yang jagain Salsa," ujar Jaka kepada istrinya.
Salma menggeleng, "Gibran mana? Apa dia tidak ke sini?"
"Pulang dari Keyra dia langsung pergi ke rumah Mamah. Katanya mau jagain Mamah, Papah kamu lagi ada urusan," jawab Jaka.
Sam tidak begitu memperdulikan obrolan sepasang suami-istri itu. Ia memilih terus memperhatikan wajah cantik gadis di hadapannya. Dengan perlahan ia mulai menyentuh tangannya.
'Panas sekali.'
Sam berniat ingin menyentuh kening Salsa untuk memastikan. Namun tiba-tiba gadis itu meracau tidak jelas.
"Ayah, Bunda aku takut hikss ..."
"Tolong, Ayah Bunda tolongin Aku takut!"
"Kak Sam hikss, tolong Aca!"
"Om, Tante, badan Aca panas sekali!"
__ADS_1
>Bersambung....