
Bubur sumsum dalam gelas
Assalamu'alaikum, guys ...
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
Malam harinya, Salsa terlihat gelisah karena masih merasa bersalah kepada Adiknya. Memang Gibran masih marah, buktinya tadi pas saat makan malam juga dia hanya cuek saja.
"Apa aku ke kamarnya aja yah untuk minta maaf?" gumman Salsa sambil beranjak dari ranjang. Namun, baru saja melangkahkan sebelah kakinya ke lantai tiba-tiba hujan turun. Dan tepat berbarengan dengan turunnya hujan ada geledek dengan kilatan petir yang membuat Salsa langsung teriak ketakutan.
JEDER!⛈️
"Aaaaaa!"
Ia menutup matanya dan langsung bersembunyi di balik selimut. Tidak lama kemudian lampu pun mati yang membuat Salsa semakin ketakutan.
"Ayah! Bundaa! Salsa takut, hikss ..." rilihnya sambil terisak.
Tok-tok-tok!
Terdengar suara ketukan pintu malah membuat tubuh Salsa semakin bergetar ketakutan.
"Kak?! Kakak gapapa kan?!" panggil Gibran di luar kamar. Karena tidak ada sahutan juga dari Kakaknya, Gibran pun memilih untuk masuk karena kebetulan pintunya tidak di kunci.
"Kak?! Kak Salsa?! Kakak dimana?!" panggil Gibran lagi sambil menyenteri sekeliling kamar berniat mencari Kakaknya.
"Gibran?!" Salsa langsung berhambur masuk ke dalam pelukan Adiknya dengan tubuh yang masih bergetar.
"Kakak kenapa?" tanya Gibran khawatir sambil membalas pelukannya.
"Kakak takut, hikss ..."
Gibran mengelus punggung Kakaknya lembut sambil tersenyum senang. Baru kali ini ia bisa merasakan pelukan hangat dari Kakaknya. Memang dari kecil hingga sekarang usianya sudah lima belas tahun, ia tidak pernah merasakan pelukan hangat dari Kakaknya. Jangankan memeluk, mengajak ngobrol pun jarang. Jika ia ulang tahun saja hanya sepatah dua patah kata yang di ucapkan kepadanya.
__ADS_1
"Udah ah jangan nangis lagi, kan ada aku di sini. Cengeng banget sih, mending Kakak tidur aja yah ini udah malam. Oh iyah kata Bunda gengset nya rusak. Jadi Kakak tidur pake senter aja dulu yah, gapapa kan??" ujar Gibran sambil menghapus air mata Kakaknya.
"Temenin," pinta Salsa.
"Tapi kan udah terang ini, ada senter," ucap Gibran.
"Gak mau, pokoknya harus di temenin!" pinta Salsa semakin mengeratkan pelukannya. Memang sejak kejadian masa kecilnya, ia sedikit trauma dengan kegelapan. Bahkan kalau tidur malam pun ia beda dengan keluarganya, ia selalu tidur dengan lampu menyala.
Gibran menghela nafas lalu mengangguk, "Oke, aku temenin sampe Kakak tidur. Ya udah sekarang cepat tidur gih," ujarnya sambil menyuruh Salsa merebahkan tubuhnya. Ia menyelimuti tubuh mungil Salsa, lalu mulai bersholawatan hingga Kakaknya tertidur.
"Shalatullah Salamullah
Alla Toha Rasullilah
Shalattullah Sallamullah
Alla Yasin Habibillah
Tawassalna Bibismillah
Wabil Hadi Rasulillah
Bi Ahlil Badri Ya Allah
Shalatullah Salamullah
Alla Toha Rasullilah
Shalattullah Sallamullah
Alla Yasin Habibillah."
"Udah tidur ternyata," gumman Gibran sambil mengelus-elus puncak kepala Kakaknya.
Cup!
__ADS_1
"Aku sayang banget sama Kakak. Tidak akan ku biarkan jika ada orang lain yang menyakiti Kakak," ucapnya sambil mengecup kening Kakaknya lembut.
"Selamat malam Kak, mimpi indah yah," Gibran beranjak dari ranjang, lalu keluar dari kamar Kakaknya.
"Gibran? Kok kamu ada di kamar Kakak kamu? Abis ngapain?"
"Eh Bunda, itu tadi Kakak teriak-teriak terus pas Gibran samperin lagi nangis ketakutan. Ya udah Gibran tenangin aja sampe dia tidur," jawab Gibran.
"Oh iyah Bunda lupa, Kakak kamu kan Fobia gelap. Sekarang udah tidur?"
"Iyah, udah Bunda," sahut Gibran.
"Ya udah sekarang kamu tidur yah. Kayaknya bentar lagi lampunya nyala," ucap Salma.
"Iyah Bunda juga yah, selamat Malam Bun. Semoga aja," sahut Gibran.
*****
Keesokan harinya di universitas Garuda. Refan terus saja mendekati Salsa tanpa kata menyerah, walaupun sering di cuekin.
"Hmmm, Hai ... Boleh minta tolong gak?" sapa Refan kepada Salsa. Seperti biasa yang sedang asyik membaca buku jika jam istirahat.
"Apa lagi sih?! Udah di bilangin jangan ganggu saya?!" sahut Salsa kesal.
"Cuman minta tolong, denger-denger sih katanya kamu pintar. Jadi bolehlah ajarin ak--"
"Ajarin apa? Kita kan beda jurusan!" seru Salsa yang memang mereka beda jurusan. Salsa jurusan perkantoran, sedangkan Refan kedokteran. Ya karena satu universitas masih bisa bertemu ya kan.
"Saya ingatkan sekali lagi kepada Anda. Jangan pernah ganggu saya lagi! Kita tidak saling kenal!" pinta Salsa dan langsung berlalu pergi meninggalkan Refan.
"Ckkk, terpaksa sepertinya harus dengan cara lain. Lihat aja nanti kalau Lo udah jatuh cinta sama gue, gak bakal gue biarin. Bakal gue balas perbuatan Lo sekarang sama gue," Refan menatap kepergian Salsa sambil tersenyum menyeringai.
Pria itu merongoh ponsel di saku celananya. Lalu mulai menghubungi seseorang.
>Bersambung....
__ADS_1
Guys, mau tau gak Refan itu sapa? Sebenarnya dia itu ... pastinya anak dari sepasang suami-istri 🤣 M*s*h S*u*a*a s*m* Salsa. Upss keceplosan 🙊
Dahlah, babayyy guys