Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 69 (END)


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


Dua bulan telah berlalu. Kini terlihatlah keluarga Alexander dan keluarga Arsawijaya sedang menunggu di depan sebuah ruangan bersalin dengan wajah tegang.


Sedangkan di dalam sana, Jaka merasa kasihan melihat istrinya yang kesakitan. Saat ini ia sedang menemani istrinya melahirkan buah hatinya.


"Ayo Sal kamu harus kuat, kamu pasti bisa!" ucapnya menyemangati sambil mengelap keringat yang mengalir di kening manis istrinya.


"Aaaaa! A-aku udah gak kuat lagi," rilih Salma lemas.


"Kamu pasti bisa, ayo semangat!" sahut Jaka sambil menggenggam tangan istrinya erat dan mengelus-elus puncak kepalanya lembut, sesekali ia mengecupnya. Jaka merasa kasihan melihatnya, rasanya jika bisa di tukar ingin sekali ia menggantikan posisinya sekarang.


"Ayo Bu sedikit lagi! Ikuti saya yah, tarik nafas ... Buangkan ..." ujar Dokter kandungan yang membantu Salma untuk melahirkan.


Salma menuruti apa kata Dokter, lalu tak lama ia mengejen dan ...


"Oek ... Oek ... Oek ..." akhirnya bayi yang selama ini kami tunggu telah berhasil hadir ke dunia. Jaka melihat istrinya yang pingsan setelah berhasil melahirkan, ia mengecup keningnya lama dan tak terasa air mata bahagia lolos membasahi pipinya. Rasanya ia sangat terharu, merasa kasihan juga melihat perjuangan istrinya tadi.


***


"Nak Jaka? Gimana udah lahir? Bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya Bu Sazkia ketika melihat Jaka keluar dari ruangan.


"Alhamdulillah udah lahir Mah, kalau masalah itu Jaka belum tahu. Soalnya tadi langsung di bawa sama suster untuk di bersihkan," jawab Jaka.


"Syukur deh, iyah gapapa. Gimana keadaan istri kamu? Kita boleh masuk kan untuk melihatnya?"


"Salma pingsan karena kehabisan tenaga. Boleh kok, ayo masuk semuanya!"


ujar Jaka.


Mereka pun langsung masuk ke dalam berniat untuk melihat Salma. Yang ternyata Salma sudah sadar. Jaka tersenyum melihat wanita yang kini telah menjadi Ibu, lalu menghampirinya.


"Kamu udah siuman? Gimana keadaannya? Ada yang sakit?" tanya Jaka lembut sambil mengelus-elus puncak kepala istrinya.


Salma membalas senyuman lalu menggeleng pelan, "Aku gapapa kok, dimana baby kita?"


"Ba--"


"Permisi, Pak, Bu. Selamat yah bayinya perempuan, sangat cantik seperti Mamahnya," ucap suster sambil tersenyum ramah memberikan bayi yang sedang di gendongnya.


Bu Sazkia yang tidak sabaran langsung mengambil alih bayinya, "Sini biar saya aja yang gendong!"


"Ternyata bayinya perempuan? Ayo Pah, Rara kita pulang aja!" ujar Bu Ica datar sambil menarik lengan suami dan anak perempuannya. Sedangkan Reza dan Sherin tidak ada karena mereka sudah tinggal di Singapura.

__ADS_1


"Mamah kenapa sih?" tanya Rara heran.


Teringat dengan permintaan Bu Ica dulu yang ingin bayi laki-laki. Membuat wajah Jaka dan Salma yang tadinya senang berubah begitu saja.


"Mamah apa-apaan sih! Papah mau lihat cucu Papah dulu! Biarin aja bayinya laki-laki atau perempuan kita harus bersyukur!" bisik Pak Doni sambil mencoba melepaskan tangan istrinya.


"Udah Pah ayo! Papah masih ingat kan janji Mamah dulu? Kalau bayinya perempuan, mereka jangan pernah bertemu keluarga kita lagi!" kekeh Bu Ica masih berusaha mengajak Rara dan suaminya untuk pergi dari sana.


"Ayo Pah, tenang aja kita bakal segera punya cucu kok dari Reza. Pasti bayinya laki-laki! Papah juga mau punya cucu laki-laki kan?"


"Oke kalau emang itu mau Mamah! Tapi izinin Papah bicara dulu sama mereka!" ucap Pak Doni pasrah.


"Lima menit! Mamah sama Rara tunggu di luar! Ayo Ra," Bu Ica menarik tangan putrinya pergi keluar dari ruangan.


Sedangkan Pak Doni menghela nafas kasar sambil memejamkan matanya sejenak. Lalu ia mulai berjalan mendekat ke arah mereka, "Nak Jaka, maafin Papah yah. Papah gak bisa berbuat apa-apa lagi, Istri Papah memang egois. Dia gak suka di bantah!"


Pak Doni langsung memeluk tubuh putra pertamanya, "Maafin Papah juga yang belum bisa bahagiakan kamu. Papah memang gak pantas jadi Papah kamu, bukannya membuat kamu bahagia justru Papah malah buat kamu menderita. Baik-baik yah di sini, semoga kamu selalu bahagia bersama keluarga kecil kamu. Sepertinya Papah bakal pergi dari sini, kita akan menyusul Reza dan menetap di sana. Seperti permintaan istri Papah dulu, kamu tahu kan?"


Jaka hanya mengangguk sambil terisak di pelukan Papahnya, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Rasanya baru sebentar bertemu dan bisa merasakan kasih sayang dari Papah kandungannya. Tapi kenapa sekarang Papahnya harus pergi lagi dari kehidupannya? Buat apa bertemu jika sudah merasa nyaman dia malah pergi.


"Jaka ngerti kok Pah, Papah juga baik-baik yah di sana. Jaga kesehatan, tapi kita masih bisa bertemu lagi kan?" balas Jaka sambil menatap Papahnya sendu.


"Kita pasti bertemu kok, kamu akan tetap jadi anak Papah! Kamu anak yang baik Nak, Papah yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaan. Jaka Istri dan anak kamu yah, sayangi dia dan jangan sampai kamu menyakiti mereka! Papah pamit," ujar Pak Doni sambil menepuk-nepuk pundak Jaka mencoba untuk menguatkan. Namun sebelum pergi ia menghampiri cucunya terlebih dahulu.


"Boleh saya menggendongnya?" tanya Pak Doni yang di balas anggukan kecil oleh Bu Sazkia yang langsung menyerahkan bayi tersebut.


Setelah puas mengajak ngobrol cucunya, Pak Doni pun kembali memberikan cucunya kepada Bu Sazkia.


"Papah pamit yah, jaga diri kamu baik-baik. Pak, Bu saya titip putra saya yah. Kalau gitu saya permisi, Assalammu'alaikum!" ucap Pak Doni lalu berlalu pergi keluar dari ruangan tersebut.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati!"


Salma menatap suaminya sendu, "Maaf," rilihnya yang membuat Jaka langsung menoleh.


"Maaf kenapa, hmm?" tanya Jaka sambil tersenyum menahan tangisnya.


"Karena aku gak bisa ngelahirin bayi laki-laki, kamu--"


"Sssttt ... Mau bayi kita laki-laki atau perempuan aku tetap bersyukur. Yang penting kamu dan anak kita baik-baik aja. Justru aku berterimakasih banget sama kamu karena telah berjuang demi ngelahirin anak kita. Sampe kamu pingsan tadi, aku sebenarnya kasihan banget sama kamu," ujar Jaka memotong pembicaraan istrinya.


Salma hanya tersenyum tipis, ia masih merasa sangat bersalah dan tidak tega melihat suaminya di tinggalkan lagi oleh Papahnya untuk kedua kalinya.


"Mah, aku pengen gendong. Boleh?" tanya Jaka kepada Mamah mertuanya.


"Boleh dong, ini kan anak kamu. Masa gak boleh sih," sahut Bu Sazkia sambil menyerahkan bayinya.


Jaka tersenyum menatap putri pertamanya. Dan tak mau berpikir panjang ia pun mulai melantukan adzan dengan merdunya di dekat telinga bayi yang sedang ia gendong.

__ADS_1


Tak terasa air matanya lolos membasahi pipi mulusnya. Terharu, ia sangat terharu. Tak menyangka jika sekarang dirinya sudah menjadi seorang Ayah. Namun di sisi lain juga ia sedih karena Papahnya kembali pergi. Dan tidak tahu kenapa tiba-tiba ia teringat almarhumah Ibunya. Ia berpikir pasti Ibunya bakal sangat bahagia memiliki cucu darinya.



"Jaka sini dong aku mau gendong," ucap Salma ketika melihat suaminya telah selesai mengadzani Putrinya.


Jaka tersenyum lalu menaruh baby tersebut di samping istrinya, "Cantik seperti kamu."


"Iyah dong aku kan emang cantik, dan cantiknya tak akan ada yang bisa mengalahkan!" ucap Salma kepedean.


"Pede banget sih kamu Sal!" sahut Pak Devan yang sedari tadi hanya menyimak.


"Eh Papah ada di sini juga? Kirain gak ada," gurau Salma.


"Kamu ini dari tadi anggap kita apa? Nyamuk," sewot Bu Sazkia.


"Gak gitu juga Mah, soalnya dari tadi diem aja gak ngomong-ngomong. Salma kan jadi gak nyadar," ucap Salma dengan watadosnya.


"Kamu ini ada-ada aja! Oh iyah selamat yah sayang, akhirnya cucu kesayangan Oma sekarang udah jadi Ibu. Ingat jangan manja lagi," ujar Oma ikut nimbrung.


"Iyah Oma makasih, Salma juga senang bisa turutin kemauan Oma yang menginginkan cicit dari Salma," sahut Salma.


Oma langsung memeluk cucu kesayangan sambil manangis terharu. Tak terasa rasanya baru kemarin dia menggendong Salma, memanjakannya dan sekarang udah jadi seorang Ibu aja.


'Ibu, Jaka sekarang udah punya anak yang cantik dan menggemaskan. Jika Ibu masih ada pasti ikut senang memiliki cucu dari Jaka. Anak satu-satunya Ibu yang dulu sering Ibu tinggalkan demi mendapatkan uang,' batin Jaka.


.


.


.


Setelah kelahiran Putri pertamanya. Akhirnya mereka pun bahagia bersama keluarga kecilnya. Ya walaupun rasanya masih ada yang mengganjal karena Ibu tirinya Jaka yang tidak mau menerimanya. Tapi ia tetap senang memiliki anak dan istrinya yang sekarang sudah bisa menerimanya apa adanya. Tidak seperti dulu yang sering ngehina dan meremehkannya.


Awalnya Jaka juga tidak menyangka karena perjodohan dia bisa sebahagia ini bersama keluarga kecilnya. Walau dulu sempat ada masalah yang menghadang hubungan mereka. Tapi ia juga sangat bersyukur dan berterimakasih banget kepada Ibunya karena telah menjodohkannya dulu.


Tamat ...


Holla guys, makasih banyak udah ikutin ceritaku sampe sejauh iniπŸ™ Maaf kalau end nya gaje, tapi tenang aja ini gak bener-bener end kok. Ceritanya masih berlanjut, masih ada ekstra part dan season 2 nya.


Di tunggu yah guys, jangan hapus dulu dari Fav kalian πŸ€— Sekali lagi aku ucapin terimakasih banyak πŸ™πŸ₯°


Jan lupa follow Ig author.


@risma_ayu315


...See you guys ❀️...

__ADS_1


__ADS_2