
Bubur sumsum dalam gelas
Assalamu'alaikum guys ...
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
"Dia Rere, masa gak inget sih? Katanya sering bilang ke Oma pengen ketemu sama dia. Sekarang sudah ada di sini malah gak kenal," ujar Omanya.
"Rere? Gadis kecilku yang cengeng itu?" tanyanya tidak percaya.
"Sama sepupu sendiri masa lupa," gumman Rere sambil cemberut melipat kedua tangannya di atas dada.
"Ya maaf Abang gak tau, abisnya kan terakhir kita ketemu. Kamu masih bocil, sering nangis lagi. Apa-apa Abang, di jahilin dikit nangis. Jarang ketemu eh taunya udah besar, cantik lagi," ledek Refan sambil mengacak-acak rambut sepupunya. Ya Rere memang pindah ke London sejak usianya masih lima tahunan yang sekarang kira-kira sudah lima belas tahun. Maka dari itu Refan tidak mengenal Rere. Namun tidak dengan Rere, ia mengenal wajah Abangnya yang sekarang karena memang sebelumnya sudah di tunjukkan fotonya oleh Omanya.
"Ih Abang masih sama yah kayak dulu! Ngeselin!" ucap Rere sambil memanyunkan bibirnya.
"Kenapa tuh bibir? Minta di cium?" godanya lagi sambil mengedipkan sebelah matanya. Yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Rere dan Omanya. Namun dengan cepat Refan segera kabur.
"Abangggg! Awas aja kalau ketangkap! Rere tabok nih!" teriak Rere sambil mengejar Abangnya.
"Kejar aja kalau bisa! Wlee ..." ledek Refan sambil terus berlari menghindar dari sepupunya. Ya begitulah, mereka pun jadi bermain kejar-kejaran yang membuat Omanya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan cucu-cucunya.
"Ada apa sih ini berisik banget?!" tanya seseorang yang tiba-tiba datang yang membuat Refan dan Rere langsung menghentikan langkahnya.
"Eh Bibi, pakabar?" tanya Refan sambil menyalami tangan Bibinya.
"Baik, kamu sendiri gimana? Udah besar aja yah sekarang. Makin ganteng lagi," sahut Bibinya.
"Alhamdulillah baik juga Bi, kalau itu mah udah pasti atuh Bi. Kegantengan Refan mah gak akan ada yang mengalahkan," ucap Refan dengan pedenya.
"Aww!" tiba-tiba saja Rere memukul lengannya yang membuat Refan meringis kesakitan.
"Pede banget sih!"
__ADS_1
"Anak Bibi kenapa sih? Perasaan sekarang jadi sensian deh," sindir Refan sambil melirik wajah Rere.
"Apa lihat-lihat?!" tanya Rere ngegas sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Udah-udah jangan ribut lagi. Refan mending kamu mandi dulu gih, nanti abis itu kita makan," pinta Bibinya yang di angguki oleh Refan.
"Hushh-hussh ... Mandi yang bersih yah tampan, biar wangi gak bau lagi!" ledek Rere yang tidak di hiraukan oleh Abangnya.
🍁🍁🍁
Malam hari, di sebuah ruang makan terlihatlah sebuah keluarga kecil yang sedang makan malam bersama. Sedari tadi hanya ada keheningan di antara mereka. Hanya terdengar suara piring dan sendok yang saling beradu.
"Gibran Ayah denger kata Bunda tadi kamu katanya gak sopan sama temen Kakak kamu. Kenapa? Ayah sama Bunda gak pernah lho ajarin kamu seperti itu," tanya Jaka yang membuat Gibran mengehentikan sesendok nasi yang ingin masuk ke mulutnya.
"Gak suka aja!" jawab Gibran dingin dan datar.
"Gibran udah kenyang, Gibran ke kamar duluan," pamitnya yang langsung beranjak menuju kamarnya.
"Gibran! Huftt ... anak itu kenapa semakin ngelunjak," gumman Jaka.
Jaka hanya mengangguk dan memilih melanjutkan makannya. Setelah selesai makan dan mencuci piring, Salsa langsung bergegas menuju kamar Adeknya. Namun di saat ingin mengetuk pintu tidak sengaja ia mendengar perkataan Gibran di dalam sana.
"Asal Kakak tau yah, aku gak suka lihat Kakak deket-deket sama Pria tadi ya karena aku iri. Aku iri dengan dia, dia beruntung bisa dekat dan di perhatikan oleh Kakak. Sedangkan aku sendiri yang Adeknya? Sama sekali gak pernah tuh Kakak perhatikan. Selama ini aku punya saudara, tapi seperti tidak punya. Aku selalu kesepian, tidak seperti orang lain yang terlihat bahagia dengan saudaranya. Bisa main bareng, becanda bareng, dan suka berantem. Apa Kakak masih benci sama aku karena kehadiranku dulu merusak semuanya?"
Salsa terdiam mendengar semuanya, dan tak terasa air matanya menetes begitu saja. Dengan perlahan wanita itu membuka pintu yang ternyata tidak di kunci.
Terlihat Gibran yang sedang memandangi sebuah foto sambil meneteskan air matanya. Ia masih belum menyadari kedatangan Kakaknya.
"G-gibran?" rilih Salsa yang membuat Gibran langsung menoleh. Pria itu menyembunyikan fotonya dan langsung mengusap air matanya.
"Ngapain di sini?" tanyannya dingin.
"Kamu marah sama Kakak?" tanya Salsa sambil menatap Adeknya sendu.
"Hmmm."
__ADS_1
"Gib--"
"Mending Kakak pergi deh, Gibran mau tidur!" pintanya yang langsung merebahkan tubuhnya dan menutup matanya.
"Huftt ... Ya udah deh Kakak ke kamar dulu yah. Selamat malam, tidur yang nyenyak yah. Kakak sayang sama kamu," ucap Salsa sambil mematikan lampu dan menyalakan lampu tidurnya, lalu ia menyelimuti tubuh Gibran dan mengecup keningnya sekilas.
Setelah selesai Salsa langsung pergi meninggalkan kamar Adeknya. Yang membuat Gibran yang tadi berpura-pura tidur langsung membuka matanya.
"I-itu beneran Kak Salsa kan?" gumamnya bingung dan karena tidak ingin buang-buang waktu ia pun memilih untuk kembali tidur karena memang sudah mengantuk.
*****
Keesokan harinya, karena tertidur nyenyak membuat Gibran bangun kesiangan. Ia bergegas berangkat sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu.
"Bunda Gibran berangkat dulu yah, Assalammu'alaikum!" teriaknya kepada Salma yang masih ada di dalam.
"Wa'alaikumsalam, gak sa--" sahut Salma sambil menghampiri Putranya. Namun belum sempat Salma menyelesaikan ucapannya, dia sudah tidak ada di sana.
Gibran sudah berangkat menggunakan motornya. Tidak butuh waktu lima belas menit ia sudah sampai di sekolahnya. Dengan cepat ia bergegas berjalan menuju kelasnya karena sekitar lima menitan lagi bell masuk berbunyi. Gibran anaknya rajin yah, jadi ia tidak mau terlambat apalagi sampai tertinggal pelajaran.
Karena terburu-buru dan tidak melihat ke depan karena sibuk dengan tasnya. Membuatnya tidak sengaja menabrak seseorang.
Brukkk!
"Aww! Gimana sih?! Kalau jalan lihat-lihat do--"
'Ya ampun ganteng banget,' batin seseorang yang tadi ingin marah namun tidak jadi karena terpesona dengan ketampanan Pria di hadapannya.
Gibran langsung berdiri tanpa menghiraukannya. Yang juga di ikuti oleh wanita yang tertabrak olehnya.
"Eh maaf tadi aku yang salah, gak lihat-lihat jalannya," ucap wanita tersebut sambil tersenyum.
"Hmmm, gue yang salah!" sahut Gibran dingin lalu ingin berlalu pergi meninggalkan wanita tersebut.
"Eh tunggu!" Gibran menoleh, "Mmm nama kamu siapa? Kenalin aku Rena--" belum sempat ia menyelesaikan omongannya Gibran sudah berlalu pergi tanpa memperdulikannya yang membuat gadis itu merasa kesal.
__ADS_1
>Bersambung ....