
Assalamualaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
"JAKAAAAA!" teriak Salma tiba-tiba yang sedari tadi diam saja bingung manatap Jaka. Namun setelah pria itu menyemburkan sesuatu ia langsung berteriak.
"Wah-wah si jurig na kalah ngamuk, bahaya ini mah. Sssttt ... Jangan teriak-teriak yah ini Magrib. Bentar ..." ucap Jaka dan tidak lama ia kembali memejamkan matanya sambil mengusap wajah cantik Salma dengan perlahan dan komat kamit membaca mantra.
Sedangkan Salma yang merasa risih langsung menyingkirkan tangan pria itu dari wajahnya dengan kasar, "Ih apa-apaan sih! Ngeselin banget sih Lo! Baru aja tadi di puji, sekarang udah buat gue kesel lagi!" oceh Salma kesal sambil melipat kedua tangannya di dada.
Sedangkan Jaka langsung membuka matanya, ia menatap wajah Salma dengan heran, "Kalau boleh tahu kapan yah kamu muji saya?" tanyanya.
Salma melirik sekilas lalu ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Lo tadi apa-apaan sih pake nyembur gue segala, jijik tahu!" ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Ya saya teh kan mau ngusir jurig yang ada di tubuh kamu, lagian saya ngebura nya juga cuman bohongan. Gak mungkin lah saya beneran, dan seharusnya kamu itu berterimakasih ke saya karena udah ngusir jurig itu. Kalau nggak, emangnya kamu mau nanti dia diem terus di tubuh kamu?" ujar Jaka mengadi-ngadi.
Salma mendelik tajam sambil masih melipat kedua tangannya di atas dada, "Heh orang aneh, jangan ngadi-ngadi deh Lo! Gue itu gak kerasukan atau apa lah! Oh ... gue tahu, apa jangan-jangan Lo sendiri yah yang kerasukan setan di sini. Hih serem ..." ucapnya sambil bergidik takut.
"Enak saja kamu, saya itu gak kerasukan tahu gak!" balas Jaka tidak terima, "Eh udahlah daripada ribut di sini mendingan kita ke mesjid shalat Magrib. Nanti telat lagi," ujarnya kemudian.
"Ya udah ayo, eh tapi bentar ..." ucap Salma sambil mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi seseorang.
Gadis itu berniat untuk menelepon anak buahnya untuk mengurus mobilnya yang terbakar di sana.
"Telepon siapa?" tanya Jaka setelah Salma selesai menelpon.
"Anak buah gue, gue suruh dia ke sini untuk ngurusin mobil itu. Ah udah ah ayo kita pergi, jangan lama-lama di sini nanti kesambet lagi. Dan katanya yah di tempat kayak gini itu suka ada yang namanya Tante Kun, dia suka ada di pepohonan. Ya gue sih percaya aja, lagian gak takut juga," ujar Salma yang sok tidak takut padahal aslinya ...
"Beneran gak takut nih?" tanya Jaka tidak percaya.
"Iyah, emangnya kenapa?" jawab Salma sambil bertanya balik.
"Sekarang bisa bilang gak takut, nanti pas ada malah nangis lagi," ledek Jaka dan benar saja tiba-tiba ...
"Hi-hi-hi-hi ... Hi-hi-hi-hi ..."
"S-suara apaan tuh?" tanya Salma ketakutan sambil menoleh ke kanan-kiri untuk mencari dari mana asal suara tersebut.
Dan tatapannya tertuju pada sebuah pohon besar yang terdapat Tante Kun sedang mengayun-ayunkan kakinya sambil tertawa, Salma sepontan langsung naik ke atas punggung Jaka dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Jaka ayo cepetan kita pergi dari sini!" ucap Salma menyembunyikan wajahnya di punggung Jaka.
"Gak mau ah saya teh masih mau di sini. Tadi katanya kamu gak takut sama Tante Kun, kok sekarang pas ketemu malah ketakutan kayak gitu," ucap Jaka sedikit meledek.
Dengan masih menyembunyikan wajahnya ia memukul-mukul pundak Pria yang sedang menggendongnya untuk segera pergi meninggalkan tempat itu, "Jaka ih cepetan pergi gue takut!"
__ADS_1
"Biarin aja, tadi bilangnya gak takut! Eh sebenarnya Tante Kun lagi ngajakin kamu berkenalan lho, masa kamu nya gak mau dan malah mau pergi gitu aja. Itu namanya gak sopan," ujar Jaka dan tidak lama suara itu kembali terdengar lagi.
"Hi-hi-hi-hi ... Hi-hi-hi-hi ..."
Mendengar itu Salma langsung mengeratkan kakinya yang melingkar di pinggang Jaka dan begitupun tangannya yang tidak kalah melingkar di leher Jaka dengan erat yang membuat Jaka sedikit sesak.
"Jaka ayo cepetan pergi dari sini, plisss ... Gue mohon sama Lo! Katanya tadi Lo ngajakin shalat Magrib, ini udah jam berapa nanti kita telat lho," ujar Salma yang masih menyembunyikan wajahnya.
"Iyah tapi ini tangan kamunya dulu jangan kencang-kencang, saya sesak nih," ucap Jaka yang langsung di turuti oleh Salma.
'Lumayan juga yah di peluk sama istri walaupun dari belakang, tapi udah bersyukur banget. Makasih Tante Kun, berkat kamu istri saya jadi mau peluk saya tanpa ngoceh gak jelas lagi kayak tadi pas kakinya sakit.' ucap Jaka dalam hati sambil senyam-senyum sendiri.
Pria itu pun mulai melangkahkan kakinya membawa istrinya pergi dari tempat yang dimana Tante Kun berada menuju mesjid. Dan tidak lama mereka pun telah sampai di sebuah masjid yang memang kebetulan tidak jauh dari tempat Tante Kun tadi.
Jaka pun langsung menurunkan Salma dan terlihat mereka sama-sama sedang mengatur nafasnya yang memburu. Jaka mengatur nafas karena capek telah menggendong istrinya, sedangkan Salma karena masih syok melihat Tante Kun tadi. Tubuhnya pun masih bergetar hebat.
"Ayo kita masuk, mumpung ada waktu sebentar lagi!" ajak Jaka yang di angguki oleh Salma.
Mereka pun mulai berjalan masuk ke dalam mesjid untuk melaksanakan shalat. Dan setelah selesai melaksanakan shalat Magrib sekalian dengan shalat isya. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Namun karena mobilnya yang terbakar terpaksa mereka harus naik taksi.
"Mana sih taksinya lama banget," gerutu Salma kesal. Mereka sedang menunggu taksi di pinggir jalan dan Salma tidak kepikiran untuk memesan taksol.
"Karena taksinya lama gimana kalau kita naik bus aja?" tanya Jaka yang membuat Salma langsung memutar bola matanya dengan malas.
"Hih ogah!" ketus Salma.
Tiba-tiba terdengar suara dari perut Salma yang membuat Jaka langsung menatapnya sambil tersenyum, "Kamu lapar?"
"E-enggak," jawab Salma berbohong sambil mengalihkan pandangannya.
"Udah gak usah bohong, ayo mendingan kita makan dulu. Tuh kebetulan ada warung makan di sana," ujar Jaka sambil menunjuk sebuah warung makan.
Salma menatapnya tidak percaya, "Hah, di sana? Gak salah Lo? Nanti pasti makanannya gak higienis, dan pastinya juga gak enak! Iw jijik," ucap Salma lagi-lagi selalu meremehkan.
"Salma, jangan meremehkan! Kalau ngomong itu di pikir dulu, emangnya kamu udah pernah cobain makan di warung seperti itu?! Apa benar makanannya gak higienis?! Apa benar juga makanannya gak enak?!" tanya Jaka yang di balas gelengan kepala oleh Salma.
"Enggak kan? Jadi mendingan sekarang kita ke sana, kita cobain dulu gimana rasanya. Apakah benar seperti yang kamu maksud, tapi malah setahuku makanan di warung seperti itu malah jauh lebih enak lho," ucap Jaka.
"Buktiin aja, pasti rasanya jauh berbeda dengan yang di restoran! Selagi kan yang di restoran itu mahal, higienis dan tempatnya mewah lagi," sahut Salma.
Sedangkan Jaka yang males meladeni langsung pergi begitu saja meninggalkan Salma sendirian menuju warung makan tersebut.
"Heh Jaka tungguin!" teriak Salma sambil mengejar Jaka.
"Assalamu'alaikum," ucap Jaka setelah sampai di warung makan.
"Wa'alaikumsalam," jawab ibu-ibu berparuh baya.
__ADS_1
"Bu saya teh ke sini mau pesen makan, bikinin dua porsi yah Bu. Di makan di sini," ucap Jaka sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, oke den saya buatin. Makanya sama apa yah?" Ibu itu terlihat senang karena memang sedari tadi dagangnya tidak ada yang beli.
"Semur jengkol ada gak Bu?" ucap Jaka balik bertanya.
"Ada den."
"Ya udah sama semur jengkol aja, yang lainnya apa aja deh Bu masukin asal bikin perut kenyang," ujar Jaka.
"Oke tuan, tunggu sebentar yah!" sahut ibu pedagang itu, ia langsung menyiapkan apa yang Jaka pesen. Dan tidak lama kemudian makanan yang Jaka pesen pun telah siap untuk di santap.
"Silahkan tuan di makan!"
"Ahay, pasti enak ini mah. Semur jengkol ... Bismillahirrahmanirrahim," ucap Jaka dan ketika ingin menyantapnya tiba-tiba ...
"Hoss ...Hoss ... Lo kenapa malah ninggalin gue sih! Capek nih gue harus lari-lari buat ngejar Lo!" ucap Salma yang baru saja datang dengan terengah-engah.
"Minum-minum, gue minta minum!" ucap Salma yang langsung mengambil air yang ada di meja. Yang ternyata itu adalah air kobokan.
"It--" di saat Jaka dan ibu pedagang itu ingin memberitahu, Salma sudah meneguknya.
Byur!
"Huwekkk ... Ini air apaan sih rasanya gini amat!" tutur Salma sambil menatap wajah kedua orang yang ada di hadapannya dengan penuh tanda tanya.
"Maaf non, tapi yang anda minum itu air kobokan."
"APA?! Hikss-hikss-hikss ... Seumur-umur gue baru pertama kalinya minum air kobokan, Mamah ... Papah ..." ucap Salma lebay.
"Udah-udah lebay banget sih, mendingan sekarang cepetan makan," ujar Jaka yang tidak di gubris oleh Salma. Ia langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya, karena benar-benar sudah lapar ia sampai tidak sadar ternyata ia makan semur jengkol yang menurutnya enak-enak aja.
"Ahhh akhirnya kenyang juga," ucap Salma yang baru saja menghabiskan semua makanannya.
"K-kamu suka semur jengkol? Gimana? Enak kan makanan di sini?" tanya Jaka yang masih bengong menatap Salma tidak percaya.
"What's?! Semur jengkol?! Lo kenapa gak bilang sih?!"
"Ya abis tadi kamu maen langsung santap aja, emangnya kenapa kalau semur jengkol?" jawab Jaka sambil menyantap makanannya.
"G-gue kan gak suka semur jengkol, karena rasanya aneh dan bau lagi. Tapi kenapa yang ini enak yah," oceh Salma sambil berpikir.
"Kan udah saya bilang, makanan di warung seperti ini jauh lebih enak daripada di restoran."
"Auk ah, cepet makanannya gue pengen cepet-cepet balik! Capek mau istirahat!" ucap Salma ketus.
"Hmmm," Jaka hanya bergumam dan memilih melanjutkan makannya. Namun tiba-tiba ...
__ADS_1
>Bersambung ...