Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 52


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


Pagi menjelang siang, Salma sedang berjalan di taman kompleks sendirian sambil memegangi dua buket bunga. Ia tersenyum menatap bunga tersebut lalu menciumnya.


Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Kaca mobil terbuka perlahan dan menampakkan sesosok Pria yang tersenyum lembut ke arahnya.


"Hai, Salma kan?" sapanya yang membuat Salma langsung menoleh.


"Oh hai, iyah Aku Salma!" sahut Salma sambil tersenyum.


"Kamu mau kemana sendirian aja?" tanya Pria tersebut yang tak lain adalah Daniel.


"A-aku lagi jalan-jalan aja sih, kebetulan rumahku dekat dari sini. Ini juga sekalian cari taksi, mau ziarah ke makam suamiku," jawab Salma.


"Ya udah ayo naik aja, aku bakal anterin kamu. Nunggu taksi lama lho," ujar Daniel sambil membuka pintu mobil di sampingnya.


"Makasih tapi gak perlu, takutnya ngerepotin. Aku jalan-jalan aja dulu sambil nunggu taksi," tolak Salma lembut.


"Gak ada penolakan! Ayo cepetan naik, gak baik lho bumil jalan-jalan sendirian!" paksanya yang membuat Salma menghela nafas.


"Ya udah deh, tapi ini beneran gak ngerepotin nih? Takutnya aku ganggu waktu kamu, calon istri kamu gak marah kan?" tanya Salma merasa tidak enak.


"Gak kok, ayo cepet kamu masuk aja!" Salma kembali menghela nafas lalu dengan ragu ia masuk ke dalam mobil.


Baru saja Salma mendudukkan tubuhnya tiba-tiba saja Daniel mendekat, semakin mendekat yang membuat Salma ketakutan. Dan ternyata ia hanya membantu Salma memasangkan seatbelt nya.


Wajah mereka sangat dekat sekarang. Jantung Salma kembali dag-dig-dug saat dekat dengan cowok setelah berbulan-bulan semenjak kematian suaminya.


Sedangkan Daniel hanya cuek lalu ia kembali menatap ke depan dan mulai melajukan mobilnya, "Tempat pemakaman umumnya ada dimana?" tanyanya yang tidak di jawab oleh Salma karena masih bengong menatap wajah tampannya.


"Hei, kamu kenapa malah bengong? Jangan di banyakin melamun entar kesambet lho," ujarnya membuyarkan lamunan Salma.


"A-ah iyah kenapa?" tanya Salma salah tingkah.

__ADS_1


"Tempat pemakaman umumnya ada dimana?" ulangannya.


"Oh nanti pertigaan belok kanan terus lurus aja, dekat kok dari sini," jawab Salma.


"Oh oke, eh bay the way usia kandungan kamu udah berapa bulan?" tanyanya lagi basa-basi.


"Seminggu lagi jalan enam bulan," sahut Salma sambil tersenyum mengelus-elus perut buncitnya.


"B-bo-boleh Aku mengelusnya?" tanya Daniel gugup.


"Oh boleh kok, malah aku seneng banget!" jawab Salma spontan.


Daniel hanya tersenyum lalu ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan, "Maaf ya," ucapnya ketika tangannya hampir menempel di atas perut buncit Salma.


Wanita cantik itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Karena sudah mendapatkan izin Daniel pun mulai mengelusnya lembut, "Hai baby ini uncle Daniel temannya Mamah kamu. Kamu baik-baik yah di dalam sana, jangan nakal kasihan Mamah kamu."


Bibir mungil Salma mengembang membentuk senyuman manis. Baru kali ini senyuman manisnya kembali lagi setelah kepergian suaminya, hanya karena sebuah elusan di perutnya dari orang yang baru saja ia kenal. Dan tak terasa air matanya menetes membasahi pipi mulusnya.


'Padahal hanya elusan dari orang yang baru di kenal. Tapi Mamah merasa elusan ini sangat berharga sayang. Mamah merasa nyaman dengan elusan ini. Apakah kamu juga merasakannya?' batin Salma yang juga ikut-ikutan mengelus perutnya.


"Kalau udah besar nanti jangan nyusahin Mamah kamu yah. Bahagiain dia dan jangan buat dia terus-terusan sedih karena Papah kamu. Kalau gak suruh aja dia nikah lagi biar bisa move on dari Papah kamu," sindir Daniel sambil bergurau karena tidak tega melihat Salma yang kelihatannya selalu sedih karena kematian suaminya.


"Kamu nangis?" tanyanya khawatir.


Salma langsung mengelap air matanya lalu tersenyum, "Aku cuman terharu aja."


"Maaf yah gara-gara aku kamu malah jadi sedih gini. Karena aku juga kamu semakin susah untuk melupakannya ya?" ujarnya merasa bersalah.


"Gapapa kok, sampai kapan pun aku tidak akan melupakannya. Aku masih merasa bersalah sama dia. Aku belum sempat mengatakan maaf dan terimakasih. Aku benar-benar menyesal, dia juga meninggal karena aku," sahut Salma sambil menundukkan kepalanya mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.


"Yang sabar yah, kamu gak usah menyalahkan diri kamu seperti itu. Kamu harus tetap kuat, semangat demi anak yang ada di dalam kandungan kamu. Dia juga pasti bakal sedih kalau lihat kamu terus-terusan seperti ini," ucap Daniel mencoba untuk menyemangati.


Salma mendongak sambil tersenyum tipis, "Makasih yah, padahal kita baru ketemu. Tapi ternyata kamu baik juga yah."


"It's okay sama-sama," Daniel kembali melajukan mobilnya menuju tempat pemakaman umum.


"Kalau boleh tau suami kamu meninggalnya kapan?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Sekitar enam bulan yang lalu," jawab Salma yang di balas kerutan kening.


"Hmm, seminggu setelah kepergiannya ternyata aku sudah hamil. Tapi aku tidak mengetahui itu, baru ketahuan juga setelah sebulanan yang ternyata usia kandungannya sudah tiga Minggu," ujar Salma seakan mengerti jika Daniel sedang kebingungan.


Daniel hanya mengangguk lalu memilih untuk fokus menyetir. Dan tidak lama mobil yang ia kemudi telah terparkir di tempat pemakaman umum.


Daniel turun dari mobil lalu memutari mobilnya berniat untuk membukakan pintu mobil untuk Salma, "Silahkan bumil cantik!"


Salma hanya tersenyum di perlakukan seperti itu. Tapi hatinya juga tidak tenang jika terus di perlakukan manis seperti itu, ia takut sewaktu-waktu calon istrinya Daniel melihatnya dan bakal terjadi kesalah pahaman yang pasti bakal membuatnya pusing karena banyak pikiran.


Tidak mau membuang-buang waktu Salma pun mulai berjalan menuju makam suaminya dan juga ibu mertuanya yang kebetulan sebelahan. Daniel hanya mengikuti sambil menatap keselilingnya bingung, seperti tidak asing baginya.


'Assalamu'alaikum, aku mampir lagi nih. Kamu apakabar? Aku kangen banget sama kamu tau. Oh iyah usia kandungan anak kita udah enam bulan nih yang sepertinya tiga bulanan lagi bakal lahir. Aku sangat berharap lahiran nanti di temani kamu. Tapi apa boleh buat jika takdir berkata lain, kamu sudah tiada dan pasti tidak bakal bisa mendampingi aku berjuang untuk melahirkan anak kita,' rilih Salma dalam hati sambil menaruh sebuket bunga di makam suaminya.


Ia pun mulai membacakan do'a di untuk almarhum suaminya. Dan setelah selesai kini ia beralih ke makam ibu mertuanya yang ada di sebelahnya.


Sedangkan Daniel pun ikut mendo'akan sambil menatap kedua makam yang satunya seperti tidak asing baginya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Ia merongoh saku celananya lalu menjauh berniat untuk mengangkat telfonnya.


Call on.


"Kamu dimana? Jemput aku dong, anterin aku ke mall!" ujar orang di seberang sana.


"Maaf yah aku gak bisa, lagi ada urusan. Nanti besok aja yah, kan kemarin juga udah ke mall. Belum puas?" sahut Daniel.


"Tapi aku mau shopping lagi, ayo dong anterin aku Yang. Kamu lagi ada urusan apa sih sampe gak mau anterin aku?"


"Hmm tapi aku beneran gak bisa, maaf yah. Besok aja nanti aku jemput kamu, oke?" ujar Daniel.


"Gak mau, pokoknya harus sekarang! Ada barang yang harus aku beli nih, ak--"


"AHKK!"


Tut-tut-tut!


Daniel membalikkan badannya dan langsung berlari kecil menghampiri Salma. Karena panik tidak sengaja ia mematikan panggilannya tanpa memperdulikan calon istrinya yang sedang berbicara di seberang sana.


>Bersambung....

__ADS_1


😴😴😴😴😴


__ADS_2