Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 67


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


"Mamah, Papah, Oma? Dari tadi di sana?" tanya Jaka yang langsung merubah posisinya.


Mereka pun hanya tersenyum melihat tingkah Jaka dan memilih untuk ikut duduk di sofa seberang sepasang suami istri itu.


"Abis darimana?" tanya Pak Devan.


"Abis dari mall belanja pakaian dan barang-barang Bayi Pah. Kemarin gak sempet," jawab Jaka.


"Oh iyah usia kandungan kamu udah tujuh bulan lebih yah? Belum di USG?" tanya Oma ikut nimbrung.


"Belum Oma," jawab Salma.


"Kenapa?"


"Niatnya gak mau di USG Oma, biar jadi kejutan," sahut Jaka.


"Kalau memang itu mau kalian terserah deh," ucap Oma sambil tersenyum.


"Nak Jaka, kamu ajak istri kamu istirahat gih. Kayaknya kecapek'an tuh," ujar Bu Sazkia yang melihat Salma terlihat kelelahan.


Jaka menoleh ke sampingnya, "Ya udah kalau gitu kita permisi ke kamar dulu yah Mah, Pah, Oma!" pamitnya.


"Ayo Sal," ajak Jaka sambil membantu istrinya.


Mereka pun berlalu pergi menuju kamar, meninggalkan Mamah, Papah dan Omanya.


"Jak," panggil Salma setelah sampai di dalam kamar.


"Apa?"


"Mau mangga muda sama es cendol dong," ucap Salma sambil mendudukkan tubuhnya di sofa kamarnya.


"Sekarang?"


"Tahun depan! Ya sekarang lah, maunya juga sekarang! Gimana sih!" sahut Salma sewot.


"Iyah-iyah, aku kan tadi cuman tanya. Ya siapa tahu nanti sore, mau apalagi nih? Biar sekalian?" ujar Jaka.


"Udah itu aja, tapi beliin es cendolnya di dekat rumah sakit. Dan kalau mangga mudanya kamu yang ambil sendiri di belakang rumah," pinta Salma yang membuat Jaka melongo.

__ADS_1


"Gak ada yang lain apa? Tukang cendol di dekat tikungan kompleks ini juga ada. Mangganya juga biar Pak Mamat aja yang ambil yah?" tawar Jaka.


"Di suruh beli cendol sama ambil Mangga di belakang aja gak mau. Nanti Dedeknya ileran nih, mau kayak gini?" ujar Salma sambil mengeluarkan iler-nya.


"Jangan gitu ih, jorok banget," ucap Jaka sambil mengelap iler Salma.


"Ya udah cepet beliin, atau mau di tambah lagi? Tiga puluh menit harus udah ada! Aku mau tidur dulu," tutur Salma yang membuat Jaka panik. Beli cendol di dekat rumah sakit kan lumayan jauh dan apalagi ia harus ambil Mangga muda sendiri.


Tidak mau membuang-buang waktu Jaka pun memilih untuk segera pergi mencari apa yang istrinya mau.


***


Jaka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Berniat untuk membeli es cendol, eh ingat bukan ke rumah sakitnya yah. Tapi di dekatnya, rumah sakit mana ada jualan es cendol 😂


Jalanan macet, dan itu membuat Jaka kesal. Tetapi ia tetap sabar menunggu. Pria itu memilih sholawatan untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Dan tak terasa sudah sekitar dua puluh menit menunggu, akhirnya mobil yang ia kemudi pun sudah bisa melaju.


Hingga tak terasa ia sudah sampai di tempat yang di tuju. Pedagang es cendol di dekat rumah sakit. Jaka tersenyum manis lalu ia memilih untuk segera turun dari mobil.


"Permisi Kang, beli es cendolnya dua bungkus yah," ucap Jaka.


"Maaf Den, tapi es cendolnya sudah abis. Tadi ada yang borong, di bagiiin ke anak-anak yatim," mendengar itu membuat Jaka langsung sedih. Jauh-jauh dua ke sini dan yang di carinya malah gak ada. Mana waktunya sudah abis lagi, dan ia belum dapat satupun yang di minta istrinya.


"Gak ada sama sekali Kang? Soalnya ini istri saya yang minta, dia lagi ngidam," ujar Jaka sedih.


"Aduh maaf banget yah Den, tapi ini beneran udah abis. Cari di yang lain aja siapa tau ada."


Jaka kembali masuk ke dalam mobil dengan lesu. Namun tiba-tiba ia kepikiran dengan apa yang di katakan pedagang tadi, cari di yang lain aja. Ahah, dia baru ingat pedagang es cendol kan masih banyak. Kalau beli di yang lain juga toh gak bakal ketahuan.


Akhirnya Jaka pun memilih untuk keliling mencari pedagang es cendol yang ternyata sangat susah. Dan ternyata ia dapatnya di dekat tikungan kompleks juga.


Jika ujung-ujungnya yang di beli di sana, buat apa jauh-jauh pergi ke dekat rumah sakit. Mana macet, panas lagi dan ternyata yang di carinya gak ada.


Sampai rumah Jaka manaruh es cendolnya terlebih dahulu di dalam kulkas. Ia berjalan menuju ke belakang rumah berniat untuk mengambil Mangga dulu, biar sekalian nanti ngasih ke Salmanya.


"Gimana ambilnya yah? Mana tinggi banget lagi," gummannya ketika sudah sampai di belakang rumah yang ternyata Mangganya pada tinggi.


"Hmm, terpaksa deh harus manjat. Semangat Jaka demi istri sama calon anak kamu!" Jaka menyemangati dirinya sendiri lalu tanpa berpikir panjang ia pun mulai manjat ke atas pohon Mangga tersebut.


"Hei siapa kamu?!! Mau maling yah?!" teriak Pak Mamat yang kebetulan lewat. Ia melihat seseorang yang sedang naik pohon Mangga, yang ia kira itu adalah maling.


"Hei, maling!!! Turun kamu!!!" teriak Pak Mamat sambil melempari batu-batu kecil.


Jaka yang sudah sampai di tangkai paling ujung, berniat untuk menggapai Mangga muda di atasnya. Ia terkejut ketika Pak Mamat melemparinya dengan batu-batu kecil, dan karena kehilangan keseimbangan membuatnya ...


Bugg!

__ADS_1


"Aww!"


"Aden? Pffftttt ... Ngapain manjat-manjat pohon? Kirain saya maling!"


"Aduh ... Bukannya di bantuin malah di ketawain!" ringis Jaka sambil memegangi bokongnya.


"Ha-ha-ha ... Ya maaf Den. Lagian Aden mau ngapain sih pake manjat-manjat pohon segala?" ujar Pak Mamat sambil membantunya berdiri.


"Ya mau cari Mangga lah, mau ngapain lagi!" sahut Jaka.


"Kan bisa minta tolong ke saya atau ke Mang kembar ke Den."


"Istri saya maunya saya yang ngambil, biasa lagi ngidam dia!" ucap Jaka.


"Ya udahlah Den dia gak bakal tau ini siapa yang ambi Mangganya. Saya bantuin yah, bentar mau ambil galah dulu. Biar gampang," ujar Pak Mamat.


"Oh iyah kan ada galah, kenapa gak kepikiran sih," ucap Jaka sambil menepuk jidatnya.


Akhirnya Pak Mamat pun membantu Jaka mengambil Mangganya menggunakan galah.


"Makasih yah Pak," ucap Jaka setelah berhasil mendapatkan tiga buah Mangga muda.


"Sama-sama Den. Oh iyah, Aden udah lupa sama Memet?"


Jaka mengernyitkan dahinya heran, "Memet? Siapa? Pak Mamat juga punya kembaran sama kayak Mang Kodok dan Mang Jangkrik?" tanyannya bingung.


"Aden beneran lupa? Itu lho Memet, Ayam kampung punya Aden yang waktu itu di titipin ke saya," ujar Pak Mamat.


"Ya ampun Memet? Saya sampe lupa, kemana dia sekarang Pak?" tanya Jaka baru ingat.


"D-dia ... Dia meninggal Den! Huwaaa .... Saya gak sempet tolongin dia pas kebakaran waktu itu! Maafin saya yah Den! Saya gak bisa jagain dia!"


"Me-meninggal? Jadi Memet udah gak ada?" tanya Jaka tak percaya yang di angguki oleh Pak Mamat.


"Huwaaa ... Iyah Den, maafin saya yah. Hikss-hikss ..."


"Hei, ada apa ini? Nangis gak ngajak-ngajak?" ujar si kembar yang baru saja datang.


"Memet, Memet meninggal ..."


"Meninggal? Siapa yang meninggal? Hikss ... Kita turut berdukacita yah," Mang Jangkrik dan Mang Kodok ikutan sedih.


"Huwaaaa ... Hikss-hikss-hikss ..." halaman belakang kini ramai dengan suara tangisan mereka. Namun tiba-tiba berhenti karena Pak Mamat mengatakan sesuatu yang membuat mereka kesel.


"Hehehe, maaf yah sebenarnya Memet. Ayam kampung punya Aden meninggal karena saya makan. Dan ini dia sekarang dia sudah ada dalam perut saya!" ujar Pak Mamat yang langsung kabur setelah mengatakan itu.

__ADS_1


"PAK MAMAT!!!!!"


>Bersambung ....


__ADS_2