Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 24


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


Pagi menjelang, seperti biasa. Jaka terbangun dari tidurnya berniat untuk melaksanakan sholat subuh. Walaupun masih mengantuk, namun ia tidak mau menunda-nunda waktu. Dia sangat tidak ingin meninggalkan sholat lima waktunya.


Pria tampan itu beranjak dari sofa dan mulai berjalan menuju kamar mandi berniat untuk membersihkan dirinya. Sekalian ingin mengambil air wudhu.


Setelah selesai bersih-bersih dan sudah rapi dengan pakaian Kokonya. Jaka mulai berjalan menuju tempat tidur istrinya.


"Salma, bangun yuk. Sholat subuh," panggil Jaka lembut.


"Mmm ..."


"Salma, bangun. Kita sholat subuh dulu yuk," panggil Jaka lagi berusaha untuk membangunkan, kali ini ia semakin mendekatkan wajahnya ke telinga gadis cantik di hadapannya yang masih terlelap.


Namun tiba-tiba gadis itu malah menggeliat sambil menarik tangan Jaka. Dan akhirnya Jaka malah terjatuh di atas tubuhnya.


Mata Jaka membulat sempurna dan begitupun dengan Salma yang tiba-tiba membuka matanya. Kini tatapan mereka saling beradu, dan tanpa sadar Salma mulai mengangkat tangan kanannya dengan perlahan berniat untuk menyentuh wajah tampan Jaka.


Karena merasa risih Jaka mulai membuka suaranya sambil beranjak dari tubuh mungil istrinya, "Ah maaf tadi saya gak sengaja," ucapnya salah tingkah.


"Iyah gapapa," sahut Salma sambil tersenyum.


"Hmmm, ya udah sekarang kamu duluan mandi. Nanti setelah itu saya mau ambil air wudhu," suruh Jaka yang memang ia sudah batal karena tadi yang terjatuh di atas tubuh mungil Salma.


Salma pun hanya mengangguk, lalu ia mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mandi sambil tak henti-hentinya tersenyum.


"Hmmm, tumben-tumbenan dia tidak kasar lagi dan malah sekarang dia mau tersenyum sama saya," gumman Jaka.


"Ah Jaka kamu gak boleh baper, mungkin karena baru bangun tidur jadi dia masih belum sadar," ucap Jaka kepada dirinya sendiri.


Sekitar lima belas menit kemudian. Salma keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk kimono, Jaka yang tidak berani menatapnya hanya cuek dan berjalan begitu saja masuk ke dalam kamar mandi berniat untuk mengambil air wudhu.


Setelah selesai Jaka kembali masuk ke dalam kamarnya. Senyuman mengembang di sudut bibirnya melihat istrinya yang terlihat sangat cantik mengenakan mukena.


Jaka pun bergegas menghampiri istrinya yang sedari tadi sudah menunggunya.


"Kamu kenapa dari tadi lihatin aku sambil senyum-senyum?" tanya Salma canggung.


"Kamu cantik," puji Jaka sambil tak henti-hentinya tersenyum.


"Dih baru nyadar yah? Aku kan emang udah cantik dari lahir," ucap Salma memuji dirinya sendiri.


"Hmm iyah deh, tapi kalau lagi pakai mukena kayak gini beda aja. Di lihatnya adem, kamu jadi bukan seperti Salma yang saya kenal. Yang suka kasar, yang suka sakitin hati saya. Apalagi sekarang bahasanya lembut, saya merasa bersyukur sekali lihat kamu yang berubah seperti ini," ujar Jaka yang membuat Salma menundukkan kepalanya malu.


"Hmm, saya boleh minta sesuatu gak sama kamu?" tanya Jaka.


Salma mulai mendongakkan kepalanya, "Minta apa?" tanyanya sambil mengerutkan keningnya heran.

__ADS_1


"Saya hanya ingin kamu tetap seperti ini, bahasanya jangan di ubah jadi kasar lagi. Karena saya lebih seneng bahasa kamu yang lembut, tidak kasar lagi," jawab Jaka dengan ragu.


"Insyaallah aku akan mencobanya," ucap Salma sambil tersenyum.


Jaka membalas senyuman senang, "Ya udah yuk kita sholat, nanti keburu kesiangan."


Salma hanya mengangguk dan mereka pun mulai melaksanakan sholat subuh berjamaah. Dan usai melaksanakan sholat seperti biasa Salma mencium punggung tangan suaminya.


Karena masih ada waktu Jaka pun memilih untuk membaca Qur'an. Terlihat dengan lantangnya Jaka mulai melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu.


Salma hanya tersenyum sambil menatap suaminya tidak percaya, 'Subnallah suaranya indah banget, bikin adem. Ternyata selama ini aku sudah salah menilainya. Saat ini aku jadi bener-bener merasa bersalah, aku seharusnya sangat bersyukur memiliki suami yang baik, Sholeh dan pengertian seperti dia,' batin Salma.


"Suara kamu merdu banget," puji Salma sambil tersenyum ketika Jaka sudah selesai ngajinya.


"Alhamdulillah, makasih. Ya udah sekarang ganti baju dulu, abis itu kita sarapan," ucap Jaka yang di balas anggukan kecil oleh Salma.


"Eh tunggu," cegah Salma yang melihat Jaka ingin beranjak dari tempat duduknya.


Jaka mengerutkan keningnya heran, "Kenapa?"


"Kamu gak marah sama aku soal semalam?" tanya Salma.


"Kenapa harus marah? Saya sih cuman kesel aja sama kamu, kamu nyuruh saya ngerjain pekerjaan kamu saat di kantor. Saya turutin sampe-sampe saya pulang malam, saya biasa saja. Namun saat sampai di rumah saya benar-benar kecewa pas tau kamu masih belum pulang keluyuran sama cowok lain. Walaupun kita menikah karena terpaksa, tapi menurut hukum kita udah sah menjadi suami istri. Seharusnya sebagai istri kamu bisa ngehargai saya," ujar Jaka yang membuat Salma langsung menundukkan kepalanya.


"Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku janji mulai sekarang bakal mencoba menjadi istri yang baik buat kamu," ucap Salma.


"Saya gak butuh janji kamu, tapi buktikan," sahut Jaka.


Mereka pun bergantian ke kamar mandi untuk mengganti bajunya menjadi baju kerja.


"Eh tunggu itu kamu pake dasi gimana sih, kok berantakan gitu," ucap Salma yang melihat dasi Jaka berantakan.


"Sini aku rapiin," Salma pun mulai merapikan dasi suaminya. Sedangkan Jaka hanya terdiam sambil memandangi wajah cantik istrinya.


'Coba aja kamu bersikap seperti ini terus sama saya, gak marah-marah lagi, gak hina saya lagi dan mau nganggap saya sebagai suami kamu. Saya udah senang banget, apalagi bikin kamu bahagia.' batin Jaka.


"Udah selesai," ucap Salma yang baru saja selesai merapikan dasi suaminya.


Gadis itu mendongakkan kepalanya melihat Jaka yang malah bengong sambil memandangi wajah cantiknya, "Hei Jaka, napa malah bengong?"


"Ah enggak, gapapa. Ya udah ayo kita sarapan," ucap Jaka yang langsung mengalihkan pandangannya dan pergi begitu saja menuju meja makan karena merasa malu. Sedangkan Salma memilih untuk mengikutinya.


Dan setelah sampai, namun sayangnya ternyata di meja makan masih kosong tidak ada makanan. Salma yang melihat itu merasa kesal, "Aduh kok kosong sih? Bibi kemana, masa jam segini belum masak sih?" gerutu Salma.


"Udah jangan marah-marah, mungkin Bibi kesiangan kali makanya belum masak. Ya udah sekarang biar saya aja yang masak yah," ucap Jaka.


"Hah? Emangnya kamu bisa masak? Hahaha ... Em--"


"Tuh kan mulai, katanya tadi udah janji. Sekarang mulai remehin saya lagi," sahut Jaka yang memotong pembicaraan Salma.


"Hehehe iyah deh maaf, abisnya aku belum terbiasa," ucap Salma sambil nyengir.

__ADS_1


"Ya udah sekarang kamu tunggu di sini aja, saya mau masak dulu," pinta Jaka.


"Eh tunggu, aku ikut yah. Mau lihat kamu masak," ucap Salma.


"Ya udah ayo!"


Jaka pun mulai sibuk berkutat dengan bahan makanan dan alat-alat dapur. Sedangkan Salma hanya bisa memperhatikan suaminya memasak sambil terus tersenyum.


"Akhirnya selesai juga," ucap Jaka setelah selesai memasak.


Jaka memilih untuk membawa makanan yang baru saja ia masak ke meja makan. Ia menatapnya dengan sangat rapi, "Ayo cobain," suruh Jaka kepada Salma.


Dengan sangat ragu Salma mulai menyendok nasi goreng yang di buat Jaka dan memasukkan ke dalam mulutnya secara perlahan.


'Mmmm, gila ini enak banget. Ternyata dia pintar masak juga, sedangkan aku? Aku aja yang perempuan gak bisa masak. Boro-boro masak pegang alat dapur aja gak pernah,' ucap Salma dalam hati.


"Salma, gimana masakan saya?" tanya Jaka.


"E-enak kok, lain kali bikinin lagi yah," jawab Salma.


"Alhamdulillah, syukur deh kalau kamu suka."


Selesai sarapan, Jaka membereskan piring dan mencucinya terlebih dahulu sebelum mereka berangkat ke kantor. Sedangkan Salma lagi-lagi ia merasa bersalah karena belum bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya.


'Ya ampun Jaka, seharusnya aku yang melakukan itu sekarang. Dengan sikap kamu yang selalu baik, perhatian membuatku semakin merasa sangat bersalah selalu menghina kamu selama ini. Namun saat ini aku benar-benar tidak tau harus gimana, di satu sisi aku ingin hidup bahagia bersama orang yang aku sayangi dan cintai, tapi di sisi lain aku kasihan sama kamu. Apalagi dengan sikap kamu seperti ini malah semakin membuatku merasa nyaman,' batin Salma.


"Non, Aden maaf. Bibi benar-benar minta maaf, Bibi gak sempet buat sarapan buat kalian," ucap Bi Inez tiba-tiba keluar dari kamarnya.


Jaka dan Salma yang berniat ingin berangkat bekerja langsung menghentikan langkahnya, "Udah telat Bi, kita udah makan," sahut Salma.


"Hehehe, maaf Non Bibi kesiangan. Jadi gak sempet bikin sarapan buat Non sama Aden," ucap Bu Inez lagi sambil nyengir.


"Iyah gapapa Bi," ucap Jaka sambil tersenyum.


"Lagian Bibi kenapa sih sampe kesiangan segala. Oh Salma tahu, pasti Bibi bergadang kan?" ujar Salma.


"Kok Non tahu sih kalau saya bergadang?" tanya Bi Inez.


"Ya cuman nebak aja sih, lagian Bibi bergadang ngapain aja sih?" sahut Salma.


"Biasa Non, abis nonton si Andin langsung nonton Drakor," jawab Bu Inez.


"Ah Bibi kaya anak muda aja nonton Drakor," ledek Salma.


"Abisnya seru sih Non," ucap Bi Inez.


"Iyah sih, nanti kapan-kapan nobar yah. Ya udah kalau gitu kita berangkat dulu yah," ucap Salma. Sedangkan Jaka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Oke siap Non, ya udah kalian hati-hati yah," sahut Bi Inez sambil menatap kepergian majikannya.


Setelah sampai di halaman rumah tiba-tiba Jaka teringat sesuatu. Ia langsung pergi meninggalkan Salma begitu saja.

__ADS_1


>Bersambung....


__ADS_2