Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 22


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


"Mmmm, A-aku ..." Salma menjeda ucapannya sambil memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Oke, gue bakal terima kalung ini. Tapi maaf, bukan berarti setelah gue menerimanya Lo bakal jadi pacar gue," ucap Salma sambil menahan tangisnya.


Reza yang mendengar itu merasa sedikit kecewa, "Kenapa Sal?"


"Sekali lagi gue minta maaf Za. Gue sebenernya juga suka sama Lo, tapi gue gak bisa terima Lo gitu aja. Gue tolak Lo karena ada alasannya Za, jadi sekarang kita tetap jadi sahabat aja yah. Dan kalung yang Lo berikan ke gue juga gue hanya menganggapnya hanya sebagai kalung persahabatan," ujar Salma sambil menunduk kepalanya masih menahan nangis.


Reza mulai berdiri dari jongkongnya, "Kenapa Sal? Apa alasannya Lo tolak gue kayak gini? Apa gue kurang ganteng? Kurang kaya? Atau kurang apa? Bilang aja sama gue!" tanya Reza sedikit kesal.


"Sekali lagi gue minta maaf Za, hikss ... Gue benar-benar gak bisa terima Lo," sahut Salma masih menundukkan kepalanya dan kali ini air matanya berhasil lolos.


"Oke kalau memang ini mau Lo, sekarang kita tetap masih jadi sahabat. Tapi, bukan berarti gue bakal menyerah begitu saja yah!" ucap Reza yang akhirnya ngalah juga.


"Makasih Za Lo udah mau ngertiin gue."


"Hmmm, ya udah sekarang Lo pakai kalung pemberian gue yang Lo anggap hanya kalung persahabatan," ucap Reza sambil mendekati Salma berniat untuk memakaikan kalungnya.


"Makasih Za, sekali lagi gue minta maaf yah karena udah nolak Lo," ucap Salma sambil tersenyum, ia benar-benar merasa tidak enak telah menolak Reza.


"Iyah gapapa, ya jujur sih awalnya gue memang kecewa. Tapi ya sudahlah, lagian gue juga bakal terus berusaha untuk dapatin Lo. Mau alasan Lo seberat apapun gue bakal tetap berusaha untuk mendapatkan Lo, sampai kapanpun Lo bakal jadi milik gue!" ujar Reza.


Salma hanya tersenyum palsu, saat ini ia sedang dilema. Ia ingin sekali menerima Reza sebagai pacarnya, namun di sisi lain ia kasihan kepada Jaka. Karena mau gimanapun juga Jaka sudah sah menjadi suaminya, walaupun tidak ia cintai.


"Oh iyah kali ini gue berubah pikiran. Gue bakal maafin Lo, tapi ada syaratnya," ucap Reza yang membuat Salma mengerutkan keningnya heran.


"Apa syaratnya?"


"Syaratnya, hari ini Lo harus mau habisin waktu bersama gue. Seharian, mau kan?" seru Reza, Salma terdiam sejenak lalu ia mulai menganggukkan kepalanya dengan ragu.


"Ya udah ayo!"


🍁🍁🍁


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Jaka baru selesai berkerja, karena pekerjaannya yang numpuk di tambah lagi Salma yang menyuruhnya untuk mengerjakan pekerjaannya membuat Jaka harus lembur.


Pria tampan itu terlihat sedang berjalan menuju tempat parkir berniat untuk mengambil motornya. Namun ternyata motornya tidak ada di sana.


"Lah? Kok gak ada? Tadi perasaan di taro di sini deh? Masa hilang sih?" tanya Jaka kepada dirinya sendiri.


"Duh aing mah, Ujang ... Ujang ... Kamana atuh sia teh," ucap Jaka sambil berkeliling mencari Ujang.


"Ujang! Kamu dimana!" teriak Jaka yang memang kebetulan di tempat parkir sudah sangat sepi.


"Ujang! U--" ucapan Jaka terhenti karena tiba-tiba ia merasa ada yang menoel pundaknya.


"S-siapa tuh?" tanya Jaka ketakutan, dengan perlahan ia mulai membalikkan tubuhnya. Dan ...


"Aaaaaa! Setannnnn! Pergi kamu!" teriak Jaka sambil menutup matanya.


"Eh setan! Eh mantan! Mana setannya? Eh dimana mantannya!" latah orang yang di kira setan oleh Jaka.


Mendengar suaranya seperti orang, Jaka pun mulai membuka matanya, "Huftt ... Ternyata orang. Saya kira setan," ucapnya sambil menghela nafas lega.


"Jadi Bapak kira saya setan?" tanya orang tersebut.


"Hehehe, maaf Pak. Abisnya tadi saya kaget, pas ngeliat wajah Bapak pake di senterin segala. Kan jadi serem," ujar Jaka sambil nyengir.


"Iyah maaf, tadi saya nyalain senter karena gelap. Sekalian mau cek juga, Bapak ngapain masih di sini? Pake teriak-teriak segala lagi? Nyari siapa?" ucap orang tersebut yang ternyata Pak satpam.


"Panggil aja Jaka Pak. Oh iyah saya teh baru selesai kerja, dan sekarang mau pulang. Tapi si Ujangnya gak ada," jawab Jaka.


"Oh kenalin saya Jajang, satpam di sini. Eh bentar perasaan saya teh baru liat Aden Jaka di sini? Dan Ujang siapa? Ciri-cirinya gimana? Siapa tau saya tadi lihat kan," ujar Pak Jajang.

__ADS_1


"Iyah Pak, saya baru dua hari kerja di sini. Ujang itu motor saya Pak, motor kesayangan saya. Ciri-cirinya ... Pokoknya beda deh dari motor yang lain," ucap Jaka.


"Beda dari yang lain? Apa yah ..." Pak Jajang mengetukkan jari telunjuknya di dagu sambil berpikir, "Masih motor kan?" tanyanya tiba-tiba yang di balas nggukan oleh Jaka.


"Ada ban nya?" tanyanya lagi dan Jaka masih tetap mengangguk.


"Ada Joknya?" lagi-lagi Jaka hanya menganggukkan kepalanya.


"Ada setangnya?" tanyanya lagi.


"Iyah Pak," jawab Jaka sambil mengangguk.


"Bisa di taikin?"


"Bisa jalan kalau di pajuin?"


"Ada rem nya?"


"Ada gasnya?"


Dari semua pertanyaan itu Jaka hanya mengangguk. Sedangkan Pak Jajang masih saja berpikir. Namun tiba-tiba ...


"Oh .... Saya tahu!" serunya yang membuat Jaka penasaran.


"Apa Pak?" tanya Jaka sambil mengerutkan keningnya.


"Enggak, saya cuman mau bilang saya gak tahu," jawab Pak Jajang santuy.


"Hmm, kirain Bapak tau. Ya udah kalau gitu biar saya aja yang cari, permisi Pak. Assalamu'alaikum," ucap Jaka terlihat kecewa.


"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Jajang yang masih memikirkan sesuatu karena ia merasa ada yang mengganjal, "Eh bentar-bentar, tadi kan memang ada motor yang beda sendiri? Dan sekarang ..."


"Aden tunggu!" teriak Pak Jajang langsung berlari mengejar Jaka yang lumayan sudah jauh.


"Hossh ... Hossh ..." Pak Jajang sudah sampai di hadapan Jaka dengan terengah-engah.


"Itu Den, tadi saya memang lihat motor yang beda dari yang lain. Motor butut itu kan? Yang kampungan?" ujar Pak Jajang.


"Iyah Pak, itu si Ujang. Memang banyak yang bilang motornya butut, tapi menurut saya itu sangat berharga. Motor kesayangan saya satu-satunya, sekarang ada dimana Pak?" ucap Jaka dan bertanya.


"Tadi saya lihat di bawa mobil pengangkut rongsokan Den, awalnya saya mau cegah. Tapi gak jadi karena motornya memang sudah butut sih, hehehe ..." jawab Pak Jajang sambil nyengir.


"APA?! BENERAN PAK?!" teriak Jaka tidak percaya.


"Iyah Den."


"Ujang! Hikss ... Hikss ... Kamu kenapa bisa tinggalin saya secepat ini sih? Hikss ... Hikss ... Ujang ..." ucap Jaka sambil menangis.


"Ternyata ada juga yah GGG," gumman Pak Jajang yang masih terdengar oleh Jaka.


"GGG apa Pak?" tanya Jaka yang langsung berhenti menangis.


"Eh i-itu Den, Ganteng-Ganteng Gila!" jawab Pak Jajang.


"Bukannya GGS yah?" ujar Jaka.


"Apa tuh GGS?" tanya Pak Jajang.


"Ganteng-Ganteng Setres!" sahut Jaka yang membuat Pak Jajang langsung tertawa.


"Bwahahahahaa ... Itu mah sama aja Den! Kirain saya Ganteng-Ganteng Somplak!"


"Emang Somplak apa Pak?" tanya Jaka.


"Sosial, Media, Plakor," jawab Pak Jajang tidak nyambung.


"Maksudnya? Kok gak nyambung sih?"


"Maksudnya, di sosial media banyak plakor. Nah zaman sekarang harus hati-hati lho Den, pernah denger gak lagu yang kayak gini ..."

__ADS_1


"PELAKOR ADA DIMANA-MANA ...


IBU-IBU HARUS WASPADA ...


SUAMI DI GEMBOK, RUMAH DI GEMBOK ..."


"Stopp! Pak ini udah malam lho, bersisik!" ucap Jaka sambil menutup telinganya karena Pak Jajang yang menyanyi sambil berteriak-teriak.


"Berisik Den, berisik! Bukan bersisik!" sahut Pak Jajang yang sudah berhenti bernyanyi.


"Iyah-iyah, Pabak ngapain sih malam-malam malah teriak-teriak?" ucap Jaka kesal.


"Bapak Den, Bapak. Bukan Pabak," sahut Pak Jajang membenarkan kata-kata Jaka yang salah.


"Iyah-iyah mangap Pak, abisnya Pabak ngeselin sih malam-malam malah teriak-teriak!" ujar Jaka.


"Hadeh, udah deh daripada mulutnya keseleo terus mending dengerin saya nyanyi. Janji deh kali ini bikin nagih, gak bakal bikin budeg," ucap Pak Jajang.


"Gak ah Pak, saya gak mau denger Bapak nyanyi lagi. Sakit nih kuping saya," tolak Jaka yang tidak di gubris oleh Pak Jajang.


Ia mulai mengeluarkan suara emasnya.


"Oh nana oh nana ...


Pelakor ganas ada di mana-mana ...


Pelakunya, cabe kekurangan dana ...


Laki orang di luar sana, jangan sampai merana ...


Oh nana nana na ...


Ke mana-mana pakai barang mahal (Oh masa sih?)


Itu hasil harga diri dijual (Oh pantes sih)


Dasar cewek binal dan nakal (Ih malu ih)


Caper mulu sama laki orang ...


Janganlah begitu uuu uuu ...


Ingatlah nasib situ ...


Karma tetap berlaku ..."


Jaka yang mendengar itu malah ikut bernyanyi sambil berjoget-joget tidak jelas. Dan begitupun dengan Pak Jajang yang ikut-ikutan joget seperti orang gila.


"Hobah ... Tarik sissssss ... " teriak Pak Jajang.


"Cau ambon!" seru Jaka yang masih berjoget-joget.


"Eh bentar-bentar ..." ucap Pak Jajang menghentikan jogetnya.


"Kenapa Pak?" tanya Jaka yang juga ikut-ikutan berhenti.


"Kok tadi Aden bilangnya cau Ambon sih? Bukannya seharusnya semongko?"


"Oh itu, ya karena menurut saya enakan cau ambon daripada semangka," jawab Jaka.


"Emang cau ambon itu apa Den?" tanya Pak Jajang lagi.


Di saat Jaka ingin menjawab tiba-tiba ia teringat sesuatu, "Astagfirullah hal adzim!"


"Ada apa Den?"


"Pak maaf saya duluan yah, saya lagi-lagi buru-buru. Nanti aja saya jawabnya! Besok juga ketemu lagi kok, assalammu'alaikum!" ucap Jaka yang langsung bergegas pergi meninggalkan Pak Jajang sendirian.


>Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2