Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 31


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


Usai melaksanakan sholat Magrib berjamaah dan setelah selesai makan malam. Jaka dan Salma pun pamit kepada kedua orang tuanya untuk segera pulang.


"Mah, Oma mana?" tanya Salma. Ya walaupun kesal kepada orang tuanya, tetapi Salma tidak bisa berlama-lama marah kepada Mamah dan Papahnya.


"Ada di kamar lagi istirahat," jawab Bu Sazkia.


"Oh ya udah titip salam aja buat Oma. Kalau gitu kita pulang dulu yah Mah, Pah," ucap Salma sambil menciumi punggung tangan Mamah Papahnya yang di ikuti oleh Jaka.


"Gak mau nginep? Ini udah malam lho," ujar Pak Devan ikut nimbrung.


"Gak deh Pah kita pulang aja, besok harus kerja," sahut Salma.


"Iyah Pah, kalau kita nginep di sini yang ada Pak Mamat malah keenakan bisa berduaan sama Bi Inez," gurau Jaka.


"Hahaha, iyah juga yah. Ya udah kalian cepetan pergi gih," ucap Pak Devan.


"Ngusir nih ceritanya?"


"Iyah-iyah, cepet pulang sana. Jangan lupa bikinin cucu buat kita," goda Pak Devan.


"Ih Papah ngeselin! Ya udah kita pamit, Assalammu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam, hati-hati yah."


***


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka. Jaka yang terus menatap ke arah jalanan yang terlihat indah di malam hari. Sedangkan Salma hanya fokus menyetir.


"Jak, Lo kenapa gak belajar mobil aja sih? Biar kalau gue capek itu ada Lo yang nyetirin," ujar Salma tiba-tiba memecahkan keheningan di antara mereka.


"Hmm, di ajarin siapa? Emang kamu mau ajarin saya?" sahut Jaka sambil menautkan kedua alisnya.


"Mmm ... B--"


"Eh tunggu-tunggu Sal, berhenti dulu!" pinta Jaka yang membuat Salma langsung menghentikan mobilnya. Kebetulan mereka sedang berada di pinggir jalan yang sangat sepi.


"Ada apa sih?" tanya Salma kesal.


Bukannya menjawab Jaka malah membuka Seatbelt nya dan bergegas turun. Pria itu menghampiri seorang laki-laki dan seorang perempuan yang terlihat sedang mengandung besar, mereka terlihat sedang berantem.

__ADS_1


"Mas, aku mohon jangan pergi Mas! Aku sedang hamil anak kamu! Jadi aku mohon jangan pergi!" teriak seorang wanita hamil itu sambil terisak menarik-narik tangan suaminya.


"Lepasin! Gue gak peduli mau Lo lagi hamil kek, walaupun itu anak gue. Tapi tetep aja gue gak peduli!" ucap pria itu sambil menghempaskan tangannya.


"Maaf Mas, Mbak ini ada apa ya?" tanya Jaka canggung.


"Bukan urusan Lo!" jawab laki-laki itu yang berniat ingin melangkahkan kakinya. Namun dengan cepat wanita hamil itu langsung menarik tangannya.


"Mas, anak kita sebentar lagi lahir! Jadi aku mohon jangan pergi! Hikss-hikss-hikss ..."


"UDAH GUE BILANG GUE GAK PEDULI!" bentaknya.


"Mas jangan kasar dong sama perempuan. Apalagi dia lagi mengandung anak Mas, seharusnya Mas kasih perhatian ke dia!" ucap Jaka yang mulai kesal melihat perlakuan laki-laki tersebut kepada istrinya yang sedang hamil besar.


"Siapa Lo ikut campur urusan rumah tangga gue?!"


"Mas bukannya saya mau ikut campur. Tapi saya kasihan sama istri Mas, dia lagi hamil anak Mas juga kan? Kalau Mas malah ninggalin dia gitu aja, buat apa Mas menikahinya dan menghamilinya kalau sekarang Mas gak mau bertanggung jawab?! Mas malah pergi begitu saja di saat dia lagi membutuhkan Mas?! Mas harus sadar, istri Mas sebentar lagi akan melahirkan. Jangan malah meninggalkannya, memangnya Mas tega membiarkan dia berjuang mati-matian demi ngelahirin anak Mas?" ujar Jaka.


"Ya memang dulu sebelum menikah gue melihat dia itu begitu indah. Tapi setelah gue menikahinya, gue malah merasa semua wanita itu lebih menarik daripada istri gue sendiri!" sahutnya.


Jaka tercengang mendengar ucapan Pria tersebut, ia menarik nafas kasar lalu berkata. "Apakah kamu tau ada yang jauh lebih parah dari kamu alami saat ini?" tanya Jaka yang kali ini tidak memanggil Mas.


"Tidak," jawabnya santai.


"Seandainya kamu menikahi semua wanita di dunia ini tanpa terkecuali, maka kamu akan merasa bahwa anjing-anjing yang berkeliaran di jalan jauh lebih menarik bagimu daripada wanita manapun!" ujar Jaka.


"Apakah kamu ingat istrimu kembali seperti dulu, menjadi wanita terindah di dunia ini?" tanya Jaka yang tidak di jawab oleh lelaki tersebut. Ia masih terdiam memaku.


"AHHKK! Mas sakit ..." tiba-tiba terdengar suara rintihan istrinya yang merasakan sakit pada perutnya.


Jaka yang khawatir langsung menghampirinya, "Mbak, Mbak gapapa kan?"


"Ahkk! Sakit! Hikss-hikss ..."


"Kamu kenapa malah diam saja cepat bawa dia ke rumah sakit! Sepertinya dia akan melahirkan," pinta Jaka yang melihat suaminya malah terdiam.


"Asal kamu tahu, lelaki yang baik itu tidak akan pernah tega melihat wanitanya kesakitan dan malah membiarkannya seperti ini!" ucap Jaka yang membuat lelaki itu dengan ragu langsung menghampiri istrinya.


"K-kamu gak papa kan?" tanyanya terlihat sedikit cemas.


"Sakit Mas ..."


"Cepat bawa dia ke rumah sakit! Biar saya dan istri saya saja yang antar kalian!" suruh Jaka yang membuat pria itu tanpa aba-aba langsung menggendong istrinya masuk ke dalam mobil Salma.


Jaka membalikkan badannya berniat untuk mengikutinya masuk ke dalam mobil. Namun langkahnya terhenti melihat istrinya yang malah terdiam di depan mobilnya. Dengan perlahan Jaka mulai berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Sal, plisss ... Kali ini saja bantu mereka yah. Kasihan si Mbaknya mau melahirkan," pinta Jaka sambil menggenggam tangan istrinya.


Salma tidak menjawab, ia masih terdiam menatap wajah tampan Jaka. "Saya mohon ... Kali ini saja!" pinta Jaka lagi.


'Seharusnya aku bersyukur mempunyai suami seperti Jaka. Ternyata di luaran sana banyak laki-laki br*ngs*k yang tega menyakiti wanitanya. Dan kini malah terbalik, aku yang beruntung memiliki lelaki sebaik dia justru aku yang br*ngs*k selalu menyakiti perasaannya.' batin Salma sambil menatap Jaka sendu.


"Sal, plisss ..." pinta Jaka lagi yang membuat Salma tersadar akan lamunannya.


"Ah iyah ayo!"


Mereka pun kembali masuk ke dalam mobil dan dengan cepat Salma mulai melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan wanita yang akan melahirkan itu terus merintih kesakitan yang membuat semuanya cemas.


"Mas sakit"


"Sabar sayang, kamu harus kuat!" ucap suaminya menyemangati.


"Aku udah gak kuat. Mas, jika anak ini lahir aku titip dia yah. Tolong jaga dia dan sayangi dia, jangan sampai kamu menyakitinya. Aku akan sedih jika kamu menyakiti atau memarahinya! Aku benar-benar udah gak kuat Mas," rilihnya.


"Gak kamu gak boleh ngomong kayak gitu! Aku yakin kamu pasti kuat, kamu gak boleh lemah! Maafin aku yang selama ini selalu menyakiti kamu ... Sekarang aku sadar dan aku janji tidak akan menyakiti kamu lagi. Aku janji akan membahagiakan kamu bersama anak kita nanti. Aku benar-benar menyesal telah menyakiti kamu, jadi aku mohon. Izinkan aku menebus semua kesalahanku dengan cara membahagiakanmu dan anak kita nanti setelah dia lahir!"


"Udah sampai!" ucap Salma yang kebetulan mobil yang ia kemudi baru saja sampai di parkiran rumah sakit.


Pria itu bergegas turun membawa istrinya ke dalam rumah sakit yang di ikuti Salma dan Jaka. Ia berteriak memanggil nama suster dan dokter yang tidak lama datang dengan membawa sebuah brankar. Setelah meletakkan wanitanya di brankar suster dan Dokter langsung membawanya ke tempat bersalin.


Salma dan Jaka memilih untuk duduk di kursi ruang tunggu, "Apakah sesakit itu?" gumman Salma.


Jaka yang mendengar istrinya bergumam langsung menoleh, "Kamu kenapa?"


"Apakah melahirkan sesakit itu? Kelihatannya wanita itu sangat kesakitan," ujar Salma sambil menatap wajah Jaka.


"Katanya sih iyah."


"Hah? Kalau tahu gitu aku gak mau hamil aja deh," gumman Salma.


"Kamu ngomong apa sih? Gak usah ngomong kayak gitu!" ucap Jaka kesal.


"Kenapa mukanya kayak kesal gitu?" tanya Salma watados (Wajah Tanpa Dosa).


"Emangnya kamu gak mau punya anak apa?" tanya Jaka.


"Ya mau sih, tapi aku hanya takut ..."


"Gak usah di pikirin, kan nanti ada saya yang mendampingi kamu melahirkan," ujar Jaka.


"Hmm," Salma yang tidak sadar hanya bergumam, "Ih siapa juga yang mau punya anak dari Lo!" ucap Salma sewot.

__ADS_1


>Bersambung ....


__ADS_2