
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
Salma berjalan menyusuri koridor rumah sakit bersama orang tuanya sambil terisak. Pikirannya kacau, hatinya sakit seperti di tusuk-tusuk. Rasanya baru saja tadi dia bertemu suaminya dan memarahinya, kini ia mendengar kabar bahwa dia sudah tiada.
Ia berjalan memasuki sebuah ruangan, seketika langkahnya langsung terhenti. Lidahnya terasa kelu untuk berucap, Salma terdiam memaku di ambang pintu sambil menatap Pria yang kini masih berstatus suaminya terbaring lemah di atas brankar dengan di tutupi kain putih.
Tubuhnya bergetar hebat, tidak bisa menahannya lagi tangisnya pun pecah. Ia berlari kecil menghampiri suaminya yang kini sudah menjadi mayat, "Jaka ... Kenapa kamu pergi secepat ini? Hikss ... Maafin aku soal yang tadi, aku terbawa emosi. Aku mohon bangun ... Aku suruh kamu pergi dari rumah aku. Bukan pergi untuk selamanya, hikss ..." rilih Salma sambil berusaha membuka kain putih yang menutupi wajah suaminya.
Tangannya semakin bergetar, rasanya sangat susah untuk membuka kain tersebut. Ia memejamkan matanya mencoba untuk tenang, dan tidak lama kain pun terbuka menampakkan wajah Jaka yang sangat pucat dengan mata yang sudah terpejam untuk selamanya. Tangisnya semakin pecah, ia langsung berhambur memeluk jasad suaminya.
"Jaka hikss-hikss-hikss ..."
"Kamu harus sabar sayang, mungkin Allah lebih sayang sama suami kamu," ujar Bu Sazkia sambil mengelus-elus punggung putrinya mencoba untuk menenangkan.
"Dengan Nona Salma? Boleh kita berbicara sebentar?" tanya Dokter Rangga yang baru saja datang.
Mendengar namanya di panggil Salma langsung menoleh, "Iyah kenapa Dok?" tanyanya sambil menghapus air mata yang sudah membasahi pipi mulusnya.
"Ikut saya sebentar! Kalian juga boleh ikut," ujar Dokter Rangga kepada Salma dan juga orang tuanya lalu ia berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
Salma menatap orang tuanya sambil mengerutkan keningnya bingung. Begitupun dengan Pak Devan dan Bu Sazkia. Tidak mau pusing mereka pun memilih untuk segera pergi menyusul Dokter Rangga.
"Silahkan duduk," ucap Dokter Rangga setelah sampai di dalam ruangannya.
__ADS_1
"Ada apa yah Dok?" tanya Salma penasaran.
Bukannya menjawab justru ia malah menundukkan kepalanya. Ia menghela nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan kasar, "Sepertinya sudah sebaiknya saya memberitahu kalian. Jadi sebenarnya ..."
"Sebenarnya apa Dok?" tanya Salma tidak sabar.
"S-sebenarnya dulu yang mendonorkan ginjal untuk Nona Salma adalah tuan Jaka. Dia menyuruh saya untuk diam, melarang saya untuk tidak memberitahu kalian. Katanya dia ikhlas mendonorkan ginjalnya demi kebahagiaan Nyonya Salma. Dia tidak ingin diberikan imbalan apapun, dia bilang sangat menyayangi Nyonya Salma walaupun belum tahu sudah mencintainya atau tidak."
"J-jadi yang udah nyelamatin aku pas sekarat itu Jaka?" tanya Salma tidak bisa berkata-kata lagi.
Ia mengacak-acak rambutnya frustasi, "Bodoh! Aku benar-benar bodoh! Hikss ... Ternyata dia memang cowok baik-baik. Nyesel aku telah memarahinya dan mengatainya tadi tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Gak mungkin dia tega hancurin hidup Aku, pasti ini memang ada yang menjebaknya. Jaka, hikss-hikss ... Aku belum sempat bilang terima kasih dan maaf sama kamu ..." rilihnya dengan bibir bergetar.
Melihat putrinya rapuh seperti itu membuat Pak Devan dan Bu Sazkia merasa tidak tega. Bu Sazkia langsung memeluk erat putri satu-satunya mencoba untuk menyemangati agar tetap kuat, "Penyesalan memang selalu datang di akhir Sayang."
"Kalau boleh tau dia meninggal karena apa yah?" tanya Pak Devan.
"Mah, ini semua gara-gara Salma! Jaka meninggal karena Salma! Hikss ... Jika saja dia tidak mendonorkan ginjalnya pasti sekarang dia masih hidup bahagia. Dan seharusnya Salma yang ada di posisinya sekarang. Seharusnya Salma yang saat ini sudah tiada," ujar Salma semakin menangis histeris.
"Gak sayang ini bukan salah kamu. Mungkin ini sudah takdir dan kamu harus terima takdir yang telah Allah berikan. Ingat, setiap makhluk yang hidup pasti akan mengalami yang namanya mati. Begitupun dengan kita, suatu hari nanti kita juga pasti bakal mati," ujar Bu Sazkia.
"Tapi Mah ... Salma benar-benar udah jahat sama dia! Salma malah menuduhnya yang tidak-tidak, tapi ternyata sebenarnya dia cowok yang baik! Dia tidak ingin melihat perempuannya menderita, tapi apa? Malah Salma yang tega membuatnya menderita sampai tiada seperti ini ..." sahut Salma menyalahkan dirinya sendiri.
"Udah sayang jangan menyalahkan diri sendiri. Jadikan kejadian ini menjadi pelajaran. Ingat, jika ada masalah itu bicarakan dengan cara baik-baik jangan malah selalu bawa emosi!"
Salma hanya menundukkan kepalanya masih terisak. Namun tiba-tiba kepalanya merasa pusing karena terlalu lama menangis, sudah pusing dengan perusahaan, rumahnya yang terbakar dan kini malah bertambah dengan kematian suaminya. Tatapan Salma tiba-tiba kabur dan ia pun ambruk di pelukan Mamahnya.
"Sal, Salma! Sayang, bangun!" samar-samar ia mendengar suara Mamahnya berteriak khawatir sebelum akhirnya matanya terpejam.
__ADS_1
*****
Salma membuka matanya secara perlahan, menatap ke sekelilingnya bingung. Ia merubah posisinya menjadi duduk, lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Jaka?!" serunya sedikit berteriak yang membuat Mamahnya langsung terbangun. Saat ini mereka masih di rumah sakit, di dalam ruangan Salma yang tadi pingsan gara-gara kecapek'an dan terlalu banyak pikiran.
"Sayang kamu udah sadar?" tanya Bu Sazkia.
"Mah Jaka dimana Mah? Salma mau ketemu sama dia!"
"J-jaka masih di urusi mayatnya sayang, karena sudah malam jadi terpaksa besok di kuburkannya. Dan itu juga oleh pihak rumah sakit," ujar Bu Sazkia.
"J-jadi Salma gak mimpi Mah? Jaka beneran meninggal?" tanyanya tidak percaya yang di angguki oleh Mamahnya.
"Salma mau lihat jasadnya Mah! Salma mau ketemu dia lagi untuk terakhir kalinya," pinta Salma sambil beranjak dari brankar.
"Gak sayang ini udah malam mending kamu istirahat aja yah. Lagian Dokter bilang juga tidak boleh ada yang melihat jasadnya lagi karena sedang mereka urus dan mereka juga meminta kita untuk diam saja. Mamah sudah memintanya untuk di kubur oleh pihak keluarga, tapi mereka tetap melarangnya," ujar Bu Sazkia yang membuat Salma mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa Mah?" tanyannya.
"Mamah juga gak tau. Ya udah kamu sekarang tidur yah, kamu harus banyak istirahat. Kamu juga kan baru sembuh jadi jangan kecapek'an."
"Tapi Mah, Salma gak bisa tidur. Salma ingin ketemu Jaka, Salma masih belum terima dia meninggal. I-ini semua juga kan gara-gara Salma," sahut Salma menundukkan kepalanya masih merasa bersalah.
"Udah sayang, Jaka bakal sedih lihat kamu seperti ini. Kamu harus kuat, coba untuk bisa mengikhlaskannya. Sekarang kamu ambil air wudhu terus sholat dulu yah biar lebih tenang," ujar Mamahnya yang di angguki oleh Salma.
>Bersambung....
__ADS_1
Oh Iyah buat yg udah baca eps 36 pas awal banget aku up pas Salma di operasi itu ada perubahannya dikit yah. Makasih 🙏