
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
Hari cepat berlalu, tak terasa sudah seminggu setelah kejadian mencari es cendol dan jatuh dari pohon Mangga dulu Kini menandakan bahwa hari ini adalah hari pernikahan Reza dan Sherin yang dulu sempat di undur.
Saat ini Jaka dan Salma terlihat sudah rapi berniat untuk datang ke acara pernikahannya.
"Kalian duluan aja yah, Mamah sama Papah nanti nyusul," ujar Bu Sazkia.
Jaka dan Salma hanya mengangguk, lalu mereka pun memilih untuk segera pergi sebelum acaranya di mulai.
Tak terasa ternyata mobil yang di kemudi Jaka telah sampai di tempat yang di tuju. Pria itu bergegas turun dan membantu istrinya juga untuk turun.
"Bener kan ini tempatnya?" gummannya sambil menatap keselilingnya. Acaranya tidak begitu megah, terlihat dekorasi sederhana dan juga sepertinya yang di undang juga hanya keluarga dan para kerabat dekat seperti pernikahan Jaka dan Salma dulu.
"Mau apa kamu ke sini?!" baru saja ingin masuk, tiba-tiba di kejutkan oleh Bu Ica yang datang menghampiri mereka sambil melipat kedua tangannya di atas dada.
"M---"
"Saya kan sudah bilang, jangan temui keluarga saya lagi. Termasuk suami dan anak-anak saya!" ujarnya yang membuat Jaka terdiam.
"Mah udahlah, Mamah kenapa sih? Mau gimana pun juga dia tetap anak Papah!"
Jaka mendongak melihat Papahnya yang baru saja datang, "P-papah? Papah udah sembuh? Maaf yah Jaka gak bisa jenguk Papah waktu itu."
"Alhamdulillah Papah udah sembuh. Gak apa-apa Papah ngerti kok, ayo masuk! Ajak istri kamu," sahut Papahnya.
"Papah apa-apaan sih?! Siapa yang izinin mereka datang ke acara pernikahan anak kita?! Nanti yang ada mereka malah buat rusuh!" cerocos Bu Ica.
"Udahlah Mah, malu tuh di lihatin tamu. Lagian kenapa sih Mamah gak suka sama Jaka? Mau gimana pun juga dia anak Papah! Saudara Reza juga, jadi biarin dia lihat saudaranya nikah!" ucap Pak Doni.
Bu Ica terdiam memikirkan sesuatu, lalu ia manggut-manggutkan kepalanya sambil berkata, "Oke, Mamah sekarang sadar. Mamah bakal biarin dia ketemu sama Papah dan juga Mamah bakal anggap dia sebagai anak tiri Mamah. Tapi ada syaratnya," ujarnya yang membuat semuanya bingung.
"Apa syaratnya?"
"Istri kamu berapa bulan?" tanya Bu Ica kepada Jaka.
"Tujuh bulan lebih."
"Udah di USG?" tanyanya lagi.
"Belum, niatnya gak mau di USG biar jadi kejutan," jawab Jaka.
"Bagus deh kalau gitu, saya tunggu kelahiran anak kamu. Jika anak kamu lahir bayi kembar laki-laki, tidak kembar juga gapapa asal laki-laki. Saya akan biarin kamu ketemu suami saya dan anggap kamu sebagai anak saya. Seperti yang tadi saya katakan, tapi jika anak kamu perempuan. Jangan harap kamu bisa ketemu dengan keluarga saya lagi! Ingat itu!" tuturnya.
"Mah, kenapa harus begitu?" tanya Pak Doni.
"Biarin aja Pah, lagian Mamah pengen banget punya cucu laki-laki," jawab Bu Ica.
"Tapi laki-laki sama perempuan kan sama aja. Sa--"
"Keputusan Mamah udah bulat! Ya udah ayo kalian masuk, kamu lagi hamil gak baik lama-lama berdiri!" ujar Bu Ica sambil mengajak Salma dan Jaka untuk masuk.
Acara pernikahan pun berjalan dengan lancar. Bu Ica juga semakin bisa menghargai mereka, yang membuat Jaka dan Salma senang. Namun masih kepikiran juga dengan permintaannya tadi, yang ingin memiliki cucu laki-laki.
"Sekali lagi selamat yah Za, Sherin semoga kalian langgeng terus. Kalau gitu kita pamit pulang yah," ujar Jaka kepada Reza dan Sherin.
"Makasih Mas Bro, amin. Iyah kasihan tuh istri Lo kelelahan, hati-hati di jalan yah," sahut Reza.
Setelah berpamitan kepada semuanya. Salma dan Jaka pun akhirnya memilih untuk segera pulang. Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka. Jaka yang fokus menyetir, sedangkan Salma yang sedari tadi melamun tak tau kenapa. Biasanya juga bawel.
"Kamu kenapa?" tanya Jaka khawatir.
__ADS_1
"Kalau bayi kita lahir perempuan gimana? Kamu masih mau terima?" tanya Salma sambil menunduk.
Mendengar itu membuat Jaka langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia membalikkan badannya dan menyuruh istrinya untuk mendongak.
"Soal yang tadi jangan di pikirin! Mau anak kita laki-laki atau perempuan, aku masih terima itu. Kita harus tetap bersyukur," ucap Jaka sambil menangkup wajah istrinya.
"Tapi nanti kalau bayinya perempuan kamu gak bakal bisa ketemu sama Papah kamu lagi karena Bu Ica melarangnya," kekeh Salma.
"Udah gapapa, aku bilang jangan di pikirin. Kita lihat kedepannya seperti apa, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Kamu kenapa seperti yakin kalau bayi kita perempuan sih?"
"Dulu pas sebulan kepergian kamu, aku pernah mimpiin kamu datang bawa anak kecil perempuan cantik. Sangat mirip dengan kita, dan setelahnya aku sering merasa mual, pusing. Dokter bilang aku hamil, itulah yang membuatku semakin yakin kalau calon bayi kita adalah perempuan," jelas Salma.
"Tapi itu kan hanya mimpi," ucap Jaka.
"Tapi seperti nyata, anak itu sangat mirip dengan kita! Dan aneh juga kan kalau aku tiba-tiba mimpiin anak kecil yang tak tahu anak siapa. Belum pernah ketemu lagi sebelumnya," sahut Salma.
"Udah jangan di bahas lagi yah, aku gak mau ini jadi beban buat kamu. Aku gak mau kamu dan anak kita kenapa-napa karena terlalu banyak pikiran," ujar Jaka lalu beralih mengelus dan sesekali menciumi perut buncit Salma, "Mau kamu laki-laki atau perempuan. Papih akan tetap sayang sama kamu. Cepet hadir yah sayang, Papih udah gak sabar pengen main sama kamu."
Setelah puas mengajak ngobrol calon anaknya, Jaka pun kembali mendongak menatap wajah cantik istrinya.
"Gak usah di pikirin lagi yah, mending tidur gih nanti kalau udah sampai aku bangunin," ucapnya lalu mengecup keningnya lembut.
💞💞💞
"Hei Upil kuda!" panggil Rafael kepada Rara, saat ini mereka sedang bersantai di ruang tamu rumah keluarga Mahastama.
"Apaaan sih?" sahut Rara kesal karena dari tadi Rafael terus saja meganggunya yang sedang main handphone.
"Bosen nih, kita kerjain yang lagi malam pertama yuk!" ujar Rafael sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar kecebong mesum, gak ada kerjaan banget!"
"Udah ayo ikut aja!" Rafael langsung menarik lengan Rara.
"Oke deh, kayaknya seru juga tuh. Mau lihat reaksi Abang gimana, pasti lucu. Hahaha ..." ucap Rara sambil senyum-senyum membayangkan ekspresi kesal Abangnya.
Sedangkan di sisi lain, setelah selesai acara. Reza dan Sherin langsung masuk ke kamar berniat untuk istirahat. Namun sedari tadi setelah selesai membersihkan dirinya masing-masing hanya ada keheningan di antara mereka, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka. Rasanya canggung, sangat canggung hingga tak lama mereka pun mulai berbicara.
"Sher!"
"Za!"
Serunya bersamaan, yang membuat mereka saling tatap dan salah tingkah.
"Duluan aja," ujar Sherin sambil tersenyum tipis.
"Hmmm, aku cuman mau bilang. Maafin aku yah, karena kejadian waktu itu kamu jadi terpaksa menikah denganku," ucap Reza sambil menundukkan kepalanya.
Dengan ragu Sherin menggenggam tangan Pria yang kini telah menjadi suaminya, "Gak usah ngomong gitu, mungkin ini memang sudah takdirku menikah dengan kamu. Lagian aku juga sekarang udah bisa terima kamu," ujarnya yang membuat senyuman mengembang di sudut bibir Reza.
"Ekhem ... Makasih udah mau terima aku. Oh iyah ini kan mmm ... Malam pertama kita, jadi b-boleh?" tanya Reza ragu yang di balas anggukan kecil oleh istrinya.
"Kamu kan sekarang udah jadi suami aku, jadi itu memang sudah kewajiban aku melayani kamu. Tapi ingat jangan kasar aku lagi hamil," ucap Sherin.
Reza menganggukkan kepalanya senang, "Tenang aja aku bakal pelan-pelan kok," ucapnya yang tanpa aba-aba langsung memagut bibir ranum istrinya.
Reza sangat asyik dengan aktivitasnya, tak memperdulikan istrinya yang tersengal-sengal karena kehabisan oksigen. Tangannya sudah nakal mulai berkeliaran kemana-mana. Hingga terdengar suara ketukan pintu pun ia tak memperdulikan itu.
Tok-tok-tok!
"Huftt ... Reza ih, buka dulu pintunya! Lihat siapa yang datang!" ujar Sherin sambil mendorong pelan tubuh suaminya.
"Ckk ... Siapa sih ganggu aja!" decak Reza kesal dengan terpaksa ia berjalan menuju pintu kamar berniat untuk melihat siapa yang datang.
Cklek!
__ADS_1
"Gak ada siapa-siapa juga," gummannya sambil menatap ke sekelilingnya. Memang benar, tidak ada siapa-siapa di sana.
Dengan kesal Reza pun kembali menutup pintu dan berjalan menghampiri istrinya. Berniat untuk melanjutkan aktivitasnya yang tertunda tadi.
"Gak ada siapa-siapa, ayo lanjutkan!" ucap Reza yang baru saja mendekatkan wajahnya berniat untuk kembali memagut bibir istrinya, tiba-tiba tertahan karena sebuah ketukan pintu.
Tok-tok-tok!
"Siapa sih, iseng banget!" gerutu Reza kesal.
"Buka dulu aja," sahut Sherin.
"Udah biarin aja," ucap Reza tidak peduli yang berniat ingin segera menerkam istrinya. Namun jika dibiarkan ketukan pintu itu malah semakin kencang.
Tok-tok-tok!
Tok-tok-tok!
"Lihat aja dulu siapa tahu penting," ujar Sherin yang dengan terpaksa Reza kembali berjalan menuju pintu dengan wajah terlihat memerah karena kesal.
Cklek!
Masih sama seperti yang tadi, tidak ada siapa-siapa, "Ckk ... Siapa sih iseng banget! Udah tahu orang lagi malam pertama, pake di gangguin!" gerutu Reza kembali menutup pintu dengan kasar.
Karena sudah tidak tahan, Reza pun memilih untuk segera menerkam istrinya tanpa memperdulikan orang yang iseng itu. Jika ada yang mengetuk pintu lagi, kali ini ia tidak akan memperdulikannya.
Kini Pria itu kembali memagut bibir ranum istrinya. Tangannya sudah berkeliaran kemana-mana, hingga suara aneh berhasil lolos dari mulut Sherin di sela-sela c*um*nnya.
Ternyata kali ini tidak ada lagi yang meganggu aktivitas mereka. Tidak terdengar lagi suara ketukan pintu yang membuat Reza senang dan lebih leluasa menerkam istrinya. Namun tiba-tiba ...
"Abangggggggggg!"
"Aww!" ringis Reza sambil memegangi bibirnya yang berdarah karena tak sengaja tergigit oleh Sherin.
"Aduh maaf yah, aku gak sengaja. Soalnya kaget tadi," ucap Sherin merasa tidak enak.
Reza berusaha menutupi kemarahannya di depan istrinya. Ia tetap tersenyum walaupun dalam hati kesel, 'Awas aja kamu Rara!' batinnya.
"Gapapa, cuman luka kecil doang nanti juga sembuh kok," sahut Reza sambil tersenyum tipis.
"Tapi itu pasti sakit banget yah," ucap Sherin.
"Gapapa, oh iyah emang di sini gak ada kamar yang kedap suara?" tanya Reza.
"Ada sih, cuman kamar aku doang yang gak pake. Biar gampang aja kalau ada apa-apa," jawab Sherin.
Tok-tok-tok!
Tiba-tiba kembali terdengar suara ketukan pintu. Dengan cepat Reza langsung beranjak dari ranjang, "Bentar yah aku lihat dulu siapa yang datang," pamit Reza.
'Awas kamu Rara, habis kamu Abang hukum,' Batinnya sambil tersenyum menyeringai.
Cklek!
"Buat apa begitu?! Ganggu Abang lag-- Eh Mamih? Ada apa Mih? Hehehe ..." ucap Reza salah tingkah yang ternyata yang datang adalah mertuanya.
"Mamih cuman mau suruh kalian makan malam dulu," sahut Mamihnya.
"I-iyah Mih, nanti kita nyusul," balas Reza.
"Ya udah kalau gitu Mamih duluan yah," ucap mertuanya yang berlalu pergi.
'Apes-apes ... Gue kira si Rara, eh ternyata Mamih mertua. Untung aja belum lanjut tadi marah-marahnya. Hmm, awas aja kamu Ra!' oceh Reza dalam hati.
>Bersambung....
__ADS_1
Cerita baru author, cooming soon yah. Tanggal 5 April rilisnya 😄 Jan lupa nanti mampir juga ke sana yah, siapa tahu kalian suka🥰 Makasih 🤗