
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
Di depan sebuah ruangan Refan terlihat mondar-mandir tidak jelas dengan perasaan berkecamuk. Ia sangat cemas dan rasa takut kehilangan gadisnya.
Gadis yang selama ini hanya di jadikan mainan olehnya dan tanpa sadar ternyata ia mencintainya. Ia benar-benar sangat takut sekarang.
"Argghhh!!!" teriaknya frustasi sambil mengacak-acak rambutnya dan mengusap wajahnya kasar.
"Dengan keluarga pasien?!" tanya Dokter yang baru saja keluar dari ruangan dimana Salsa berada.
"Iyah Dok, bagaimana keadaan Salsa? Dia baik-baik aja kan? Iyah kan? Jawab Dok!" tanya Refan tidak sabar ingin mengetahui keadaan gadisnya.
"Bapak tenang dulu, saat ini pasien kritis! Dia harus segera di operasi. Kita harus cepat-cepat mengeluarkan peluru yang menembus dadanya. Jika terlambat maka akan sangat berbahaya," ujar sang Dokter.
"Lakukan yang terbaik Dok! Saya akan bayar lima kali lipat asal kalian bisa menyelamatkannya!" pinta Refan.
"Kami akan berusaha!" ucap Dokter dan menyuruh suster untuk mengantar Refan menandatangi surat persetujuan keluarga. Setelah selesai Dokter dan para suster pun membawa Salsa ke ruang operasi.
***
Gibran berjalan menyusuri rorong rumah sakit berniat menuju ruangan Bundanya. Namun tidak sengaja ia melihat seseorang yang tak asing baginya sedang terduduk di depan ruang operasi sambil menundukkan kepalanya.
Karena penasaran Gibran mulai berjalan menghampirinya dan segera menepuk pundaknya. Pria itu menoleh, ya ternyata dia Refan. Ia menatap Gibran dengan mata sembabnya.
"Gi-Gibran?!"
"Lo ngapain di sini? Kenapa Lo nangis? Dan itu juga kenapa wajah Lo babak belur gitu?" tanya Gibran penasaran, "Dimana juga Kakak gue? Apa Lo udah berhasil nemuin dia?" lanjutnya yang membuat Refan terdiam sambil kembali menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Tidak terasa air matanya kembali menetes, "S-salsa ... Salsa hikss ... Maafin gue ..." Refan menjeda ucapannya sambil terisak. Ia benar-benar tidak bisa menahan tangisnya, rasanya sangat susah untuk mengatakan semuanya.
"Ada apa?! Ada apa dengan Kak Salsa?! JAWAB!!" bentak Gibran sambil menarik kerah baju Refan. Tidak peduli jika Pria di depannya lebih tua darinya.
Refan mendongakkan kepalanya, ia menatap Gibran dengan mata berkaca-kaca. Ingin sekali memberitahu semuanya, tapi ia takut. Takut Gibran marah dan benar-benar tidak akan membiarkannya dekat-dekat dengan Salsa lagi.
"Gue bilang jawab ya jawab!!!"
"Sa-salsa tertembak karena nolongin gue! Dia kritis dan sekarang sedang melakukan operasi!" jawab Refan cepat sambil memejamkan matanya mencoba menahan tangisnya.
"A-apa? K-kak Salsa ...?" tanya Gibran tidak percaya sambil melepaskan tangannya dari kerah baju Refan.
"Iyah, Lo mau marah sama gue karena gak becus jagain Salsa?! Marah aja! Pukul aja gue! Pukul! Lo boleh lakuin apapun sepuas Lo! Gue emang salah, gara-gara gue Salsa jadi seperti ini! Kalau mau Lo bunuh aja gue!"
Gibran tidak menggubris, ia masih terdiam tidak percaya. Namun beberapa detik kemudian, ia langsung berlari menuju sebuah ruangan sambil meneteskan air mata.
Cklek!
"Gibran kam--"
"Ayah! Hikss-hikss ... Kak Salsa Ayah! Hikss ..."
"Kakak kamu kenapa? Apa kamu sudah tahu keberadaannya?" tanya Jaka penasaran.
Gibran menundukkan kepalanya sambil meneteskan air mata. Ia memejamkan matanya sejenak dan kembali mendongakkan kepalanya, "K-kak Salsa ... Kak Salsa tertembak! Dia kritis dan sekarang sedang melakukan operasi!"
Prangg!
Jaka menjatuhkan piringnya yang sedang di pegangnya. Ia menutup mulutnya tidak percaya mendengar Putri satu-satunya yang selama dua Minggu ini hilang tanpa kabar dan sekarang setelah ada kabar. Ternyata malah kabar buruk.
"Apa?! Gak mungkin! Siapa yang ngelakuin itu?! Hikss ..." Gibran menoleh, ia baru sadar ternyata Bundanya sudah sadar dari komanya. Begitupun dengan Jaka, ia lupa jika istrinya baru sadar dari komanya.
__ADS_1
"Bu-bunda ...?" tanya Gibran gemetaran.
"Gibran, kamu bercanda kan?! Kamu pasti sedang berbohong dengan kita kan?! Iyah kan?! Ahkk!" Salma melepas infusannya dan mencoba untuk turun dari brankar.
"Bunda!"
"Sayang!"
Pekik Jaka dan Gibran bersamaan yang membuat mereka langsung menghampirinya. Mereka mencegah Salma agar tidak nekat karena ia baru saja sadar dari komanya.
"Lepasin!! Aku mau lihat Salsa!" berontak Salma.
Jaka memeluk tubuh istrinya mencoba untuk menenangkan, "Sayang kamu tenang dulu yah. Kamu baru sadar dari koma kamu, jadi jangan banyak gerak dulu. Aku yakin Salsa baik-baik aja," ucapnya sambil mengelus-elus punggungnya.
Salma memukul-mukul dada suaminya sambil terisak di dalam pelukannya, "Hikss-hikss ... Aku mau lihat Salsa! Dia sedang berjuang dari masa kritisnya, dia sangat membutuhkan kita. Hikss-hikss-hikss ... Pokoknya aku mau lihat Salsa," isak Salma semakin pelan memukul dada Jaka karena sudah kehabisan tenaga.
"Iyah aku tahu sayang, tapi kamu juga kan belum sembuh. Kamu jangan banyak gerak dulu, sebaiknya kamu istirahat biar cepat sembuh," ujar Jaka yang di balas gelengan kepala oleh istrinya.
Jaka memberi kode kepada Gibran untuk memanggilkan Dokter. Mengerti maksud Ayahnya ia pun mulai berjalan keluar ruangan untuk memanggilkan Dokter.
Tak lama Gibran kembali bersama dengan Dokter. Jaka langsung menyuruh Dokter untuk memberikan obat penenang kepada istrinya.
Salma yang menyadari itu langsung memberontak, "Gak mau!! Lepasin!! Aku mau lihat Salsa! Hikss ... Dia sangat membutuhkanku!!" teriaknya frustasi.
"Sayang kamu tenang dulu, kita berdoa aja. Kamu jangan seperti ini, inget kamu lagi sakit!"
Salma menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus memberontak. Ia teriak-teriak histeris, dan dengan terpaksa Dokter pun mulai menyuntikkan obat penenang kepada Salma.
Yang membuat itu langsung tertidur di pelukan suaminya. Jaka merapikan rambut istrinya, ia menatap wanita di hadapannya sendu. Dan tidak terasa air matanya menetes melihat keadaan istrinya, apalagi sekarang ia mendengar kabar buruk tentang Putrinya.
>Bersambung....
__ADS_1