Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 12


__ADS_3

Assalamualaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


"WHAT'S?! JAKA?! SI COWOK KAMPUNG ITU?!" teriak Salma tak percaya.


"Hahaha, mana mungkin dia Jaka. Papah pasti lagi bercanda kan? Iyah kan?" Salma malah tertawa yang membuat Jaka dan Papahnya heran.


"Papah gak lagi bercanda, dia beneran Jaka. Suami kamu," ucap Pak Devan.


"Iyah Papah bener saya teh memang Jaka," sahut Jaka yang membuat Salma langsung menghentikan tawanya.


"Ka-kamu serius?" tanya Salma lagi, namun kali ini ia memutar-mutar tubuh Jaka.


"Eh-eh, kamu teh kenapa?" tanya Jaka heran.


"Salma udah stop! Kamu ngapain sih puter-puter badan Jaka?" pinta Pak Devan yang menghentikan aksi Salma.


"Yah Salma gak percaya aja kalau dia Jaka," ucap Salma pelan.


"Emangnya kenapa kamu sampai gak percaya kalau dia itu Jaka, suami kamu sendiri?" tanya Pak Devan bingung.


"Ya ... Hmm dia beda aja, setahuku Jaka yang aku kenal itu kan penampilannya kucel, bau. Lah ini kelihatan beda banget," jawab Salma yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Papahnya.


"Sssttt ... Udah gak usah di bahas, kembali ke niat awal aja. Papah ke sini mau minta kamu berikan pekerjaan untuk Jaka, mau jadi sekretaris kek, asisten pribadi kek. Dia pasti mau asal halal," ujar Pak Devan.


"Oh iyah kalau mau jadi sekretaris Salma aja, kebetulan kan Salma lagi butuh banget sekretaris," sahut Salma yang langsung serius kalau masalah pekerjaan.

__ADS_1


"Kamu mau kan Jaka? Ah pasti mau dong," tanya Pak Devan yang di jawab oleh dirinya sendiri. Dan di saat Jaka sudah membuka mulut ingin mengatakan sesuatu ia malah memotongnya lagi.


"A--"


"Oh iyah Papah duluan yah, lagi buru-buru nih. Kalian semangat kerjanya, jangan berantem Mulu! Assalamu'alaikum," ucap Pak Devan yang langsung pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.


Kini Jaka dan Salma saling tatap, "Apa lo lihat-lihat," ketus Salma.


Jaka langsung mengalihkan pandangannya, "Nggak, saya teh gak lagi ngelihatin kamu," elak Jaka salah tingkah.


"Ya udah sekarang Lo cepetan kerjain berkas-berkas itu! Gue ada urusan dulu sebentar, pokoknya jangan kemana-mana dan gue minta kalau gue balik ke sini itu berkas udah selesai semua. Harus! Titik gak pake koma! Udah ah, bye ..." pinta Salma yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Jaka sendirian di ruangannya.


Jaka hanya menatapnya kepergian Salma dengan perasaan kesal, lalu ia pun beralih melirik berkas-berkas yang menumpuk di meja kerja milik istrinya.


Tanpa berpikir panjang Pria kampung yang sekarang bersetelan jas pun mulai menghampiri berkas-berkas tersebut dan mulai mengeceknya, "Aduh kumaha atuh, ini teh meni banyak kie. Udah tahu saya teh baru kerja di sini udah di kasih perkejaan meni saabreg-abreg. Mana kagak ngerti lagi," ucap Jaka dengan bahasa khasnya yang selalu di campur, Sunda dan Indonesia.


Sekitar satu jam kemudian. Salma telah kembali ke ruangannya dengan wajah yang terlihat kecapek'an, "Udah selesai belum?!" tanyanya kepada Jaka langsung to the poin.


Jaka sama sekali tidak menoleh ke arah Salma, "Iyah bentar lagi juga selesai kok," ucapnya yang masih fokus ke pekerjaannya.


"Lama banget sih! OMG gue lupa! Lo kan cowok kampung, ya mana bisa ngerjain berkas-berkas kantor kayak gini! Nanti yang ada malah berantakan, astagfirullah ... Mana sekretaris gak ada, pekerjaan numpuk. Ini lagi berkas-berkas penting di kerjain sama cowok kampung kayak Lo! Nggak ... Nggak ... Gue gak bisa bayangin," cerocos Salma sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sedangkan Jaka yang sedari tadi fokus sama pekerjaannya sama sekali tidak menghiraukan ocehan Salma, "Hah ... Akhirnya selesai juga," ia menghela nafas lega karena pekerjaannya yang baru saja selesai. Lalu menatap wanita di hadapannya yang terlihat sedang memijit-mijit pelipisnya sambil memejamkan matanya.


"Kamu teh kenapa?" tanyanya yang membuat Salma mulai membuka matanya perlahan dan menoleh ke arah Jaka yang terlihat biasa saja.


"Lo gak lihat? Gue itu lagi capek banget abis ngurusin pekerjaan yang lain, dan kini sekarang malah pusing gara-gara Lo. Gue kira dengan menyuruh Lo kerjain berkas-berkas itu bakal ngebantu gue meringankan pekerjaan, tapi ternyata gue salah. Kini malah sebaliknya, aduh ... Kenapa gue gak inget dari awal sih kalau Lo itu kan cowok kampung, pasti gak bisa kerjain kayak gitu! Mana sebentar lagi mau meeting lagi! Argghhh!" cerocos Salma lagi sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.


Mendengar ocehan Salma yang selalu meremehkan dirinya, ia pun langsung memberikan berkas-berkas tersebut dan menyuruh Salma untuk mengeceknya, "Sebelum ngoceh sebaiknya di cek dulu berkas-berkasnya, dan gimana pekerjaan saya? Apakah seperti yang Ibu katakan? Atau tidak?" ujar Jaka dengan bahasa formal.

__ADS_1


Salma menatapnya sinis, "Ngapain Lo panggil gue Ibu?!"


"Ya ibukan bos saya, jadi saya harus sopan dong!" jawab Jaka, "Ibu beneran gak mau di cek dulu nih?" tanyanya kemudian.


"Iyah-iyah saya cek, sini cepetan! Awas saja kalau pekerjaan Lo gak bener! Jangan harap gue mau nerima Lo di sini!" ketus Salma sambil mengambil berkas tersebut.


Dan ia mulai mengeceknya, di satu sisi Salma sedikit ragu. Tapi di sisi lain ia juga penasaran. Wanita itu mengeceknya dengan sangat teliti dan seketika matanya membulat sempurna.


"I-ini be-benar Lo yang kerjain?" tanyanya tidak percaya setelah selesai mengecek berkas-berkas tersebut.


"Iyah, gimana Bu?" sahut Jaka.


"Hmmm, ternyata Lo boleh juga yah. Tapi ... kali ini gue benar-benar gak yakin kalau Lo Jaka," ucap Salma.


"Gak yakin kenapa emangnya? Saya teh benar-benar Jaka. Cowok kampung yang sering Ibu ledekin," sahut Jaka.


"Gue gak yakin aja karena ... Jaka yang saya kenal itu penampilannya gak kayak gini. Dan dia kan cowok kampung, mana bisa dia kerjain berkas-berkas kayak gini. Oh gue tahu, Lo pasti orang yang mirip dengannya yah kan?" ujar Salma masih tidak percaya.


Jaka yang merasa kesal karena Salma yang terus saja meremehkannya langsung berdiri, ia melipat kedua tangannya di dada.


"Saya memang cowok kampung seperti yang anda katakan. Tapi bukan berarti cowok kampung itu tidak bisa apa-apa yah, saya ngerti kok pekerjaan kayak gitu. Karena saya juga kuliah, ya walaupun itu hanya dapat beasiswa dan tidak sebanding dengan Anda.Tapi saya bersyukur kok bisa terusin pendidikan saya," tutur Jaka.


"Bukan seperti anda yang berpendidikan tinggi, pengusaha sukses. Tapi berperilaku tidak sopan dan selalu meremehkan orang, apakah pantas seperti itu?" Jaka mulai melangkahkan kakinya dengan tatapan tajam yang membuat Salma mundur ketakutan.


Pria itu semakin melangkah maju yang membuat Salma semakin mundur, mundur dan sampai akhirnya punggung gadis itu sudah menyentuh tembok. Dan kini mereka sangat dekat karena Jaka yang langsung memepetkannya dan mengunci tubuhnya agar tidak kabur.


Pria itu masih menatapnya tajam, ia mulai mendekatkan wajahnya yang membuat Salma dengan perlahan memejamkan matanya. Dan ketika Jaka membuka mulut ingin mengatakan sesuatu. Tiba-tiba ...


>Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2