
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
"Mamah benar-benar kecewa sama kamu Sam!! Sudah berapa orang yang kamu bunuh dan sakiti?!!!" tanya Mamahnya sedikit membentak.
"Apa karena satu cewek yeang telah mengkhianatimu, kamu jadi seperti ini?!! Jadi seorang Mafia kejam yang benci sama wanita dan sangat suka membunuh atau menyakiti orang?!! Apa iyah?!! Kalau iyah kenapa?!! Mana Sam yang dulu?!! Sam yang Mamah kenal pendiam, baik dan penyayang?!! Hikss ... Mamah sangat-sangat kecewa sama kamu. Salah apa aku sampai-sampai punya Putra sepertimu?" bentak Mamahnya sambil menangis, lalu ia menundukkan kepalanya sambil bergumam.
"Maafin Sam, Mah ... Sam tau Sam salah. Sam janji bakal berubah menjadi orang yang lebih baik lagi. Sam janji akan membahagiakan Mamah dan Papah," mohon Sam yang masih terisak sambil berlutut di kaki Mamahnya.
"Bangun!" pinta Mamahnya sambil menarik lengan Putranya agar berhenti berlutut di kakinya, "Lihat Mamah!"
Sam mendongakkan wajahnya, ia menatap Mamahnya dengan mata sembab.
"Lupakan dendammu dan mulai hidup yang baru! Ingat, tidak semua cewek yang sebejat mantanmu itu! Banyak cewek yang lebih baik lagi! Berhenti jadi seorang Mafia, dan kembali dengan Sam yang dulu! Perbaiki lagi diri kamu agar menjadi lebih baik!" pinta Mamahnya sambil mengusap air mata Putranya.
"Baik Mah, Sam akan memulai hidup baru. Sam akan mencoba memperbaiki diri Sam agar lebih baik lagi. Terimakasih Mah selalu ada buat Sam," sahut Sam sambil memeluk tubuh Mamahnya.
__ADS_1
"Hmm, apa kamu sudah lihat keadaan Salsa dan minta maaf kepada orang tuanya?" mendengar pertanyaan itu membuat Sam langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap Mamahnya sendu.
"Aca masih koma Mah, Sam ke sana dan malah di usir sama Tante Salma dan Om Jaka. Mereka sangat kecewa sama Sam Mah, Sam takut gak bakal ketemu sama Aca lagi. Hikss ..."
"Gak usah nangis, kamu terima saja akibatnya. Sekarang ambil wudhu terus Sholat! Dekatkan dirimu kepada Allah, sudah lama kamu menjauh darinya!" pinta Mamahnya yang membuat Sam langsung menunduk. Memang benar ia sudah sangat lama meninggal kewajibannya sebagai umat muslim. Melaksanakan sholat lima waktu, yang selalu ia tinggalkan hanya karena waktu tidak penting.
Sam pun hanya menurut, ia mulai melakukan apa yang seharusnya di lakukan.
.
.
.
Keesokan harinya ....
Gibran sudah rapi dengan pakaian sekolah. Sedari tadi ia murung, karena ini adalah terakhir ia sekolah di sekolahnya itu. Rasanya ia tidak rela meninggalkan sekolah dan temen-temennya. Walaupun tidak dekat dengan teman sekelasnya, tapi ia sudah betah di sana. Karena semuanya sangat baik, dan jarang ada yang berani mengganggu ketenangan kecuali Rere.
"Gibran sudah belum? Ayo Ayah antar!" teriak Jaka yang memang sudah pulang pagi tadi.
__ADS_1
Ia sengaja mengantarkan Gibran karena sekalian mengurus surat pindah. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan istri dan Putrinya di rumah sakit. Namun karena istrinya yang meminta agar Putrinya ia yang jaga. Sekalian biar cepet-cepet beres dan segera pindah dari sana, terpaksa Jaka pun mau.
Selesai sarapan, Jaka dan Gibran segera berangkat ke sekolah. Dan setelah sampai di parkiran sekolah, Gibran langsung turun dari mobil yang di ikuti oleh Jaka.
Dan tidak sengaja mereka berpapasan dengan Rere yang juga baru turun dari mobilnya.
"Gibran? Om?"
"Eh Rere kan?" sahut Jaka.
"Iyah Om, hehe. Gibran tumben gak bawa motor?" tanya Rere.
"Eng--"
"Siapa sayang?!" tanya seorang laki-laki paruh baya, tapi masih kelihatan gagah. Yang baru saja keluar dari mobil yang Rere tumpangi.
"Papah?!" pekik Jaka yang membuatnya langsung menoleh.
"Jaka?!" balasnya terkejut, begitupun dengan Rere dan Gibran yang sama terkejutnya mendengar Jaka memanggil Papah.
__ADS_1
>Bersambung ....