
Assalamualaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
Pria itu masih menatapnya tajam, ia mulai mendekatkan wajahnya yang membuat Salma dengan perlahan memejamkan matanya. Dan ketika Jaka membuka mulut ingin mengatakan sesuatu. Tiba-tiba ...
Cklek!
Tiba-tiba pintu terbuka dan tampaklah sesosok wanita yang sedang terdiam memaku sambil menatap mereka salah tingkah. Sedangkan Salma dan Jaka yang mengetahui ada yang masuk langsung menoleh.
"Mmm-maaf Bu, saya benar-benar minta maaf karena telah lancang masuk ke ruangan ibu tanpa mengetuk pintu dulu," ucap seseorang itu sambil membungkuk-bungkukkan tubuhnya.
"I-ini ngg--" belum selesai Salma ngomong orang itu sudah memotongnya.
"Sekali lagi saya minta maaf karena telah mengganggu Bapak dan Ibu, saya hanya ingin menyampaikan bahwa dua puluh menit lagi meeting akan segera di mulai. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak, Buk," ujar seseorang itu yang ternyata salah satu karyawan yang ingin menyampaikan informasi kepada Salma. Tanpa mendengarkan apa yang ingin Salma katakan ia langsung pergi begitu saja meninggalkan sepasang suami istri itu dengan posisi yang masih sama seperti tadi.
Kini mereka saling memandang, "Ngapain Lo lihat-lihat? Cepetan minggir ih, ngapain juga sih tadi pake mau cium-cium segala! Kan udah gue bilangin. Lo jangan macam-macam sama gue!" ketus Salma kepedean sambil menyingkirkan tangan Jaka kasar.
"Heh, siapa juga yang mau cium kamu! Gak usah g'r deh, saya itu tadi bukan mau cium kamu tapi mau nasehatin kamu. Eh tapinya pas mau buka mulut gak jadi gara-gara ada yang datang," sahut Jaka tidak kalah ketusnya.
'OMG malu banget gue ... Gue kira dia mau cium gue, eh ternyata bukan. Huh ... Tenang Salma, tenang.' batin Salma menenangkan dirinya sendiri.
"Y-ya, gue kira Lo mau cium gue. Soalnya wajah Lo deket banget kek mau cium gitu," ucap Salma salting.
"Oh gitu yah? Hmm, sebenernya saya gak ada niatan sama sekali buat cium kamu, tapi karena kamu yang ingetin. Ya udah sini biar saya cium aja," ujar Jaka yang berniat ingin mencium bibir istrinya.
"Ih apaan sih Lo! Jijik tau gak!" ketus Salma.
"Tadi katanya mau di cium," goda Jaka.
"Siapa juga yang mau di cium sama Lo? Iw jijik banget! Nanti bibir gue yang polos ini ternodai lagi, gue kan gak mau," cibir Salma.
"Kalau gak mau kenapa tadi pas saya mepet kamu dan deketin wajah kamu diem aja? Terus kenapa juga kamu pejamkan mata kamu?" tanya Jaka yanht membuat Salma salting dan bingung mau jawab apa.
"Y-ya g-gue ..." ucap Salma gugup, "Udah ah gak usah di bahas! Sebentar lagi meeting di mulai, mending Lo siapain gih berkas-berkasnya!" elak Salma mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Hmm," Jaka pun memilih menyiapkan apa yang Salma katakan.
🍁🍁🍁
Sore hari pukul 17.00 waktu setempat. Jaka dan Salma masih berada di perusahaannya karena banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan.
"Jaka udah selesai belum? Ayo kita pulang," tanya Salma kepada Jaka yang masih fokus dengan pekerjaannya.
"Iyah ini udah selesai," jawab Jaka sambil membereskan berkas-berkasnya.
Setelah selesai membereskan, mereka pun keluar dari ruangannya. Kebetulan mereka satu ruangan karena Jaka sekretarisnya sekaligus asinten pribadinya dan Salma juga yang memintanya untuk satu ruangan agar lebih gampang jika Salma membutuhkan sesuatu.
Mereka turun ke lantai bawah menggunakan lift. Kini Jaka terlihat biasa saja saat menaiki lift bersama Salma, padahal yang sebenarnya dia sangat ketakutan sampai-sampai kakinya bergetar. Namun karena gak mau wanita itu menertawakannya ia memilih untuk berpura-pura sok cool.
Dan tidak lama kemudian mereka pun telah sampai di lantai paling bawah. Pintu lift terbuka, Jaka dan Salma mulai melangkahkan kakinya menuju keluar lift. Salma menatap sekelilingnya sambil mengernyitkan dahinya heran.
"Ada apa?" tanya Jaka penasaran melihat istrinya yang kebingungan.
"Tumben udah sepi," jawab Salma sambil melirik jam yang ada di tangannya ternyata sudah menunjukkan pukul 17.20 WIB.
"Hmmm pantes aja udah jam setengah enam toh, pasti mereka udah pulang dari tadi," gumman Salma.
"Abis Ashar," jawab Salma singkat.
"Berarti kita telat dong, sebentar lagi juga magrib," ujar Jaka.
"Udah gak usah banyak omong, cepetan masuk! Lo yang nyetir yah, gue lagi males!" tutur Salma ketika mereka telah sampai di parkiran.
Jaka menatap wajah Salma tidak percaya, "Lah saya?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya siapa lagi kalau bukan Lo?! Cepetan, Lo kan sekarang udah jadi sekretaris sekaligus asisten pribadi gue!" ucap Salma ketus.
"T-tapi ..."
"Oh iyah gue lupa!" Salma menepuk jidatnya sendiri, "Lo pasti gak bisa bawa mobil kan? Hmmm terpaksa deh harus gue yang nyetir, cepetan naik!" ucap sambil sambil memasuki mobilnya.
Sedangkan Jaka malah diam mematung, "Ayo cepet, kalau enggak gue tinggal nih!" teriak Salma dari dalam.
__ADS_1
"Iyah-iyah bawel," dengan terpaksa Jaka pun membuka pintu mobil dan memasukinya.
"Pake seatbelt Lo!" pinta Salma.
Jaka mengerutkan keningnya heran, "Seatbelt itu apa?" tanyanya yang membuat Salma langsung melototkan matanya.
"Ya ampun, cuman seatbelt aja masa gak tahu sih! Nasib ... Nasib punya suami kampungan," tutur Salma kesal.
Karena males ngeladenin Salma pun mulai menarik seatbelt Jaka dan mulai memasangnya, "Ini nih seatbelt itu sabuk pengaman!" oceh sambil yang masih fokus memasangkan seatbelt Jaka.
Setelah selesai, gadis itu pun mulai mendongak karena merasa penasaran dengan Jaka yang sedari tadi diam saja. Namun kini Salma malah mendapatkan wajah suaminya yang sangat dekat.
Deg!
Jantung mereka berdebar tak karuan dengan posisi yang masih saling menatap satu sama lain.
'Lagi-lagi jantungku berdebar tak karuan saat dekat dengannya. Aku kenapa sih? Apa aku punya rasa sama dia? Ah gak mungkin. Lo apa-apaan sih Salma,' batin Salma masih yang masih menatap wajah tampan Jaka dengan sangat dekat.
Karena merasa risih, Jaka langsung mengalihkan pandangan yang membuat Salma tersadar dan langsung kembali duduk seperti semula.
Tanpa berpikir panjang Salma mulai melajukan mobilnya dengan perlahan. Namun tiba-tiba ia meninggikan kecepatannya yang membuat Jaka ketakutan.
"Salma pelan-pelan atuh, saya teh takut!" pinta Jaka yang tidak di hiraukan oleh Salma.
"Udah diem Lo tenang aja, gue udah terbiasa kok. Kita akan baik-baik saja," sahut Salma yang masih fokus menatap ke depan. Ia menambahkan kecepatannya sambil menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depannya.
Jaka yang ketakutan dan tidak biasa menaiki mobil merasa mual, "Salma pelan-pelan! Saya mual pengen muntah! Bawanya pelan, kalau nggak saya muntah di sini nih," ucapnya sambil mengancam.
Salma yang mendengar itu langsung menoleh, "Heh jangan sampai Lo muntah di mobil gue! Gue gak mau mobil gue kotor gara-gara Lo muntah di sini!" ujar Salma yang tidak fokus menyetir karena sesekali melirik Jaka.
"Iyah-iyah, makannya bawa mobilnya jangan kencang-kencang. Kamu fokus nyetir aja jangan khawatirin saya, saya gak bakal muntah di sini kok. Huwekkk ..." sahut Jaka sambil menutup mulutnya menggunakan tangan karena mual.
"Jangan, jangan sampai Lo muntah di mobil gue! Gue gak mau! Gue gak mau itu terjadi!" oceh Salma sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak fokus ke depan yang membuat mobilnya melaju tidak benar-benar.
Sedangkan Jaka tidak menghiraukan ocehannya Salma, ia memilih menatap ke depan. Dan ...
"SALMA AWAS DI DEPAN ..!" teriak Jaka yang membuat Salma langsung mengalihkan pandangannya menatap ke depan.
__ADS_1
"Aaaaaaa!"
>Bersambung ...