
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
"Sudahlah Bang, ayo kita pulang. Mamah pasti sudah nungguin!" ajak Aqila mengalihkan pembicaraan. Ia langsung berlalu mendahului Abangnya, jika tidak begini pasti ia akan di interogasi.
"Ckk, bocah itu selalu saja!" decak Sam kesal lalu menyusul Adeknya.
🌹🌹🌹
Sedangkan di sisi lain. Tepatnya di sebuah ruangan rumah sakit Tokyo, di negara Japan. Terlihatlah beberapa orang yang sedang mengobrol.
"Sayang Bunda mau tanya, apa selama kamu di culik. Dia selalu menyakitimu?" tanya Salma serius sambil menatap lekat wajah Putrinya.
"T-tidak Bunda," jawab Salsa gugup.
"Tidak usah berbohong sayang, jujur saja. Sudah jelas terlihat dari wajahmu kalau kamu sedang berbohong," ujar Salma yang membuat Salsa menundukkan wajahnya.
Sebenarnya ia selalu sedih jika mengingat tentang perlakuan Sam yang selama menyakitinya. Ia hanya diam karena tidak ingin orang tuannya tau dan akan membenci Sam.
__ADS_1
"Bunda tahu dia selalu menyakitimu, bahkan dia juga sampe tega membuatmu seperti ini. Hmm, apa kamu akan membencinya sayang? Atau akan tetap menganggapnya seperti dulu?" tanya Salma lagi yang kali ini membuat Salsa langsung mendongakkan wajahnya dan menatapnya bingung.
"M-maksud B-bunda?"
"Bunda sudah tahu semuanya, yang selama ini menculik dan menyakiti kamu adalah Sam kan?" ujarnya membuat Salsa langsung terdiam. Sambil menatap Bundanya dan kini beralih ke Ayahnya dengan penuh tanda tanya.
"D-darimana Bunda tahu?" tanyanya kemudian.
"Dia sendiri yang datang menemui Ayah dan Bunda untuk minta maaf," jawab Salma yang membuat Salsa semakin bingung.
Ia mengerutkan keningnya heran, 'Apa dia sudah tidak hilang ingatan? Bagaimana bisa ingat Ayah dan Bunda?' batinnya bertanya-tanya.
"Sudahlah tidak usah di pikirin! Oh iyah sayang, kamu tahu gak?" tanya Salma mengalihkan pembicaraan.
"Adek kamu sudah berani kenalin cewek ke Ayah sama Bunda lho," ujar Salma yang sontak membuat Gibran sedari tadi hanya diam saja sambil menyimak langsung menatap Bundanya ketika mendengar ia menjadi topik pembicaraan.
"Benarkah? Seperti apa orangnya Bun? Apakah cantik?" sahut Salsa ikut heboh sambil tersenyum melihat wajah kesal Adeknya.
"Iyah namanya Rere, bahkan cantik banget. Tapi masih cantikan Bunda sih," ucap Salma dengan pedenya yang membuat Salsa dan Gibran memutar bola matanya malas, "Hehe, orangnya gemesin sayang. Imut lagi, Bunda aja suka apalagi Gibran," lanjutnya yang membuat Gibran semakin kesal.
"Wah benarkah? Jadi gak sabar pengen ketemu, seperti apa sih orangnya sampe-sampe Gibran mau ngenalin dia ke Ayah sama Bunda?" sahut Salsa mengkompori.
__ADS_1
"Kakak! Bunda! Udah cukup ih!" pinta Gibran sambil cemberut.
"Ada yang marah karena gak mau ceweknya di omongin nih," sindir Salma.
Sedangkan Jaka sedari tadi hanya terdiam memikirkan sesuatu sambil menatap ke arah istrinya yang terlihat senang ketika membicarakan Rere.
'Baru ketemu sekali saja kamu sudah memuji-mujinya seperti itu. Bagaimana jika kamu tahu kalau dia adalah anak dari Adek tiriku sendiri? Apa kamu juga akan membencinya' ujar Jaka dalam hati sambil mengusap wajahnya sedikit kasar.
'Ya Allah hamba mohon, jika suatu hari nanti semuanya akan kebongkar. Tolong luluhkan hati istri dan keluarga tiri hamba. Hamba sangat ingin sekali jika kita berdamai, tidak ada lagi yang namanya dendam. Hamba ingin hidup bahagia dengan tentram.' batinnya.
"Mas! Kamu kenapa dari tadi diam aja?" tanya Salma memecahkan lamunannya.
"Ah iyah, kenapa sayang? A-aku gapapa kok, hoam ... Cuman ngantuk aja," sahut Jaka pura-pura menguap. Yang memang benar sih iyah merasa mengantuk.
"Ya udah kamu istirahat aja dulu, tidur gih biar aku sama Gibran yang jagain Salsa," pinta Salma.
"Tap--"
"Bener kata Bunda, mendingan Ayah istirahat aja!" ujar Salsa dan Gibran bersamaan.
"Baiklah-baiklah, Ayah tidur dulu yah sebentar," ucap Jaka sambil tersenyum lalu berlalu menuju sofa berniat untuk tidur.
__ADS_1
>Bersambung ....