Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 25


__ADS_3

Assalammu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


Beberapa menit kemudian, Jaka telah kembali dengan membawa Memet. Salma yang melihat itu merasa kesal dan ingin sekali memarahinya.


"Kenapa malah bawa-bawa ayam sih, L-- ... Hehehe, kamu kan mau kerja nanti bajunya kotor lho," ucap Salma yang tadinya sewot langsung lembut melihat tatapan Jaka yang memberi kode.


"Gapapa sayang, aku permisi dulu yah. Ada urusan," gurau Jaka sambil mengedipkan sebelah matanya dan langsung pergi begitu saja.


Sedangkan Salma yang mendengar Jaka menyebut kata 'Sayang' sambil memberikan senyuman genit malah bergidik geli, "Iw jijik gue!"


Sedangkan di sisi lain. Ternyata Jaka pergi membawa Memet untuk menghampiri Pak Mamat.


"Duh dimana sih Pak Mamat, tumben-tumbenan gak ada. Biasanya kan jam segini lagi nyapu halaman, lah ini malah gak ada. Apa ada di posnya yah? Hmmm, samperin aja deh siapa tau ada di sana," Jaka pun mulai melangkahkan kaki menuju pos satpam bersama Memet yang sedari tadi terlihat murung.


"Pak, Pak Mamat!" panggil Jaka.


"Lah malah ngerek," gumman Jaka yang melihat Pak Mamat sedang tertidur sambil ngorok.


"Hmmm, bangunin aja deh. Pak bangun udah pagi!" panggil Jaka sambil menepuk-nepuk pipinya pelan. Namun hasilnya nihil, Pak Mamat masih saja ngorok.


"Harus cari cara buat banguninnya ini mah," ucap Jaka sambil mikir, "Ahah ... Met kamu diem di sini dulu yah," ujarnya kemudian sambil menaruh Memet lalu mulai membuka sepatunya.


"Uhuk-uhuk ... Pasti mempan nih," ucap Jaka yang menjiwir kaos kakinya sambil menutup hidung. Lalu ia mulai mendekatkan ke hidung Pak Mamat secara perlahan.


Namun sayangnya Pak Mamat masih belum bangun juga, ia hanya mengucek-ngucek hidungnya. Jaka tidak pantang menyerah, ia terus mencoba membangunkan Pak Mamat dengan kaos kaki kesayangannya yang sudah sekitar satu tahun tidak di cuci 😂


Namun ternyata hasilnya masih sama, Pak Mamat masih belum bangun malah yang ada tidurnya malah semakin nyenyak.


"Ya ampun ni tidur kebo banget sih, masa di kasih kaos kaki udah satu tahun gak di cuci aja gak bangun-bangun. Harus pake cara apaan lagi nih biar bangun," ucap Jaka memakai kaos kakinya kembali sambil mikir.


"Ahah, yang ini di jamin langsung mempan!"


Jaka menghela nafasnya, "Ekhem ... Apa?! Bi Inez di tembak sama cowok ganteng?! OMG?! Terus Bibi terima gak?!" ucapnya sedikit teriak tepat di telinga Pak Mamat.


Mendengar itu membuat Pak Mamat langsung terbangun, "Siapa?! Siapa yang berani rebut Inez dari saya?! Hiyaaa ... Jangan maen-maen 🐍... Jangan maen-maen ...🐍" ucapnya sambil memperlihatkan jurusnya dengan mata yang masih terpejam.


"Hiyaaa ... Sini kamu kalau berani lawan saya!" ujar Pak Mamat masih kondisi yang sama. Ia masih menggerak-gerakkan tangannya ke arah Jaka. Melihat itu Jaka langsung menghindar dan tiba-tiba ...

__ADS_1


Dug!


"Aww! Aduh ..."


Tarang jenong Pak Mamat kembali beradu dengan tembok karena matanya yang masih merem membuatnya tidak melihat ternyata di depan ada tembok. Sedangkan Jaka yang melihat itu malah tertawa terbahak-bahak.


"Bwahahahahaa ... Bapak ngapain berantem sama tembok?" ledek Jaka.


"Aduh bukannya di bantuin kek, ini malah di ketawain. Bantuin dong Den, sakit nih," gerutu Pak Mamat yang masih terduduk di lantai. Karena terpental saat dahinya kejedot tadi.


"Iyah-iyah sini," ucap Jaka sambil mengulurkan tangannya. Pak Mamat pun mulai menerima uluran tangan Jaka. Namun tiba-tiba ...


"Aww!" ringis Pak Mamat yang kembali terjatuh.


"Upss ... Maaf Pak tangan saya licin," ujar Jaka dengan wajah tanpa dosa.


"Si Aden gimana sih? Niat gak nge bantuin?" gerutu Pak Mamat.


Iyah mangap Pak. Ya udah sini saya bantu," ucap Jaka yang kembali mengulurkan tangannya.


Akhirnya Pak Mamat pun berhasil berdiri. Ia mengusap-usap pantat dan dahinya sambil meringis kesakitan.


"Oh iyah Pak, saya mau minta tolong boleh gak?" tanya Jaka kali ini serius karena waktu sudah semakin siang.


"JAKA!" tiba-tiba terdengar suara Salma memanggil Jaka.


"Haduh gawat nih, Pak saya gak bisa lama-lama. Saya cuman mau minta tolong bikinin kandang Ayam buat Memet. Kecil juga gapapa, tapi harus bagus. Itu Memetnya jangan lupa di kasih makan yah dan ini uangnya. Kalau kurang nanti saya kasih lagi, makasih Pak. Saya duluan, Assalammu'alaikum!" pinta Jaka sambil memberikan beberapa lembar uang kepada Pak Mamat dan langsung bergegas pergi begitu saja.


"Yeh si Aden, saya juga belum bilang mau. Udah tau saya teh lagi males malah di suruh bikin kandang Ayam," gerutu Pak Mamat. "Tapi gapapa deh, ada duitnya juga kan lumayan buat pergi jalan-jalan sama Inez. Yuhuu ..." Pak Mamat merapikan rambutnya sambil bersiul-siul senang.


"Ternyata lu menguntungkan juga Met," ucap Pak Mamat kepada Memet yang sedari tadi diam saja.


"Yuk ikut gue dulu, kita buat kandang baru buat lu!" ketika Pak Mamat ingin menangkap Memet. Tiba-tiba Ayam itu malah terbang yang membuat Pak Mamat terjatuh mencium lantai.


Sedangkan Memet malah terbang ke punggungnya. Pak Mamat tak menyerah, ia langsung berdiri dan mencoba untuk menangkapnya lagi.


Kali ini Memet sedang berdiri di sebuah salon musik lumayan tinggi yang ada dekat tembok, "Ah kali ini lu gak bakal lolos Met," ucap Pak Mamat sambil berjalan perlahan menuju Memet.


Dan di saat ingin menangkapnya tiba-tiba Memet malah terbang kembali yang membuat Pak Mamat malah ke jedot tembok


Dug!

__ADS_1


"Aduh! Sial, gak bisa di biarin harus di kasih pelajaran ini mah," ujar Pak Mamat kembali mengejar Memet yang malah lari ke luar dari pos satpam tempat Pak Mamat tinggal.


***


Sedangkan di sisi lain. Setelah selesai menyuruh Pak Mamat untuk membuatkan kandang Ayam buat Memet. Jaka kembali menghampiri istrinya yang terlihat sedang kesal menunggunya.


"Hai," sapa Jaka sambil tersenyum.


"Darimana aja sih lama banget!" gerutu Salma.


"Iyah-iyah maaf, hehehe" sahut Jaka sambil nyengir seperti kuda.



Kira-kira seperti itu 👆😌


"Hih, ya udah ayo kita berangkat! Kita bareng aja, kamu tunggu di sini aja aku mau keluarin mobil dulu," ujar Salma.


"Kan mobil kamu udah kebakar?" tanya Jaka sambil mengerutkan keningnya.


"Gak inget aku siapa?" Salma malah bertanya balik.


"Oh iyah lupa, ya udah sana!"


Salma pun mulai berjalan menuju garasi untuk mengeluarkan mobilnya. Sedangkan Jaka memilih untuk menunggu di depan gerbang, sekalian membukakan gerbangnya.


Tin-tin-tin!


"Ayo naik!" pinta Salma yang langsung di turuti oleh Jaka.


"Bawa mobilnya jangan kencang-kencang yah," pinta Jaka setelah masuk ke dalam mobil.


"Iyah gak bakal, lagian aku juga gak mau kamu muntah di sini," sahut Salma yang mulai menjalankan mobilnya.


'Kalau di pikir-pikir geli juga yah gue ngomong aku kamu ke Jaka. Berasa lebay banget, hmm tapi kan gue udah janji sama dia. Eh iyah emangnya siapa dia? Kita kan menikah hanya di atas kertas, lagian ngapain juga sih gue mau turutin permintaannya. Berasa kayak apa aja gue mau nurutin permintaannya, nanti malah semakin ngelunjak lagi.' batin Salma.


'Ah tapi mau tidak mau kan gue harus turutin kemauannya. Gue kan memang istri sahnya, seharusnya gue mau belajar jadi istri yang baik buatnya. Tapi di satu sisi gue juga masih merasa gak ikhlas jadi istrinya, gue sebenernya pengen bahagia bersama orang yang gue sayang dan cintai. Sekarang gue harus gimana? Reza sudah menembak gue, tapi gue tolak dan dia malah bilang bakal kejar gue terus, udah tau gue udah nikah. Tapi kan ... Auk ah pusing gue.'


"Salma, kamu teh kenapa dari tadi melamun terus?" tanya Jaka yang membuyarkan lamunan Salma.


"Ah enggak, gue gapapa," ucap Salma tanpa sadar.

__ADS_1


'Hmmm, tuh kan udah seneng-seneng dia ngomongnya lembut dan juga udah mulai baik sama saya. Sekarang ngomongnya kasar lagi. Hmm seperti kamu jangan terlalu berharap Jak.' ucap Jaka sambil menatap ke luar jendela sendu.


>Bersambung....


__ADS_2