
Assalammu'alaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
Merasa tidak terima karena Salma yang telah menamparnya dan memakinya seperti itu. Jaka langsung mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras dan matanya memerah. Ia menatap wanita di hadapannya tajam. Melihat Salma yang ketakutan ia langsung menghela nafasnya kasar sambil menghempaskan tangannya sendiri yang sedang mengepal kuat dengan kasar.
'Nggak ... Nggak ... Jaka kamu harus sabar. Jangan sampai terbawa emosi, dia istri kamu. Jangan sampai kamu memarahinya dan sakiti hatinya. Sabar Jaka, ini hanyalah sebuah tamparan biasa. Dan kamu harus kuat dengan kata-katanya yang selalu menyakitkan.' ucap Jaka dalam hati sambil memejamkan matanya menahan amarah.
"Asal kamu tau yah, saya gak sebr*ngs*k yang kamu katakan! Walaupun kamu Istri saya, tapi saya tidak akan berani melakukan hal-hal seperti itu tanpa izin dari kamu. Dan coba kamu ingat-ingat lagi, semalam siapa yang menyuruh saya tidur di sini dan siapa yang pertama peluk-peluk?" ujar Jaka sambil beranjak dari ranjang dan langsung pergi begitu saja menuju kamar mandi.
Salma masih terdiam memaku sambil berusaha untuk mengingat apa yang di katakan oleh suaminya, "Maksud dia apa? Apa aku yang sudah menyuruhnya tidur di sini sambil peluk-peluk segala lagi? Tapi itu gak mungkin, mana ada seorang CEO muda yang cantik dan sukses seperti aku mau tidur sambil di peluk sama cowok kampung kayak dia. Hih ogah!" ucap Salma sambil memuji dirinya sendiri.
"Eh bentar, apa aku tadi udah keterlaluan yah sama dia? Aku udah tampar dia dan menuduh dia tanpa bukti. Tapi apa benar dia tidak macam-macam? Hmmm iyah juga sih, buktinya celanaku aja masih utuh. Cuman baju aja yang beda, kalau dia yang gantiin otomatiskan dia pasti lihat ... OMG! Kan kurang ajar tuh anak!" cerocos Salma.
Sedangkan di sisi lain. Setelah masuk ke dalam kamar mandi, Jaka langsung mengunci pintu dan menyenderkan tubuhnya di pintu tersebut. Dan tak terasa buliran bening lolos dari pelupuk matanya.
"Argghhh! Apa karena aku cowok kampung yang miskin, anak dari pembantu dan tidak punya apa-apa dia bisa seenaknya memakiku seperti itu? Apa dimata orang aku ini hanyalah sampah? Salah apa aku selama ini? Hikss ... Hikss ..." tanya Jaka kepada dirinya sendiri sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Ibu ... Bertahun-tahun ibu pergi meninggalkan Jaka ke Jakarta hanya untuk mendapatkan uang demi kebutuhan sehari-hari. Selama ibu pergi, Jaka hanya tinggal berdua bersama kakek. Tapi sayangnya sekarang dia sudah tiada. Setelah kepergian kakek Jaka merasa kesepian, ingin sekali Jaka menyusul ibu ke Jakarta. Dan ternyata itu terjadi, sekarang Jaka sudah ada di Jakarta. Tapi sayangnya ibu malah pergi meninggalkan Jaka untuk selamanya," rilih Jaka.
"Ingin sekali rasanya Jaka pergi menyusul kalian," ucap Jaka sambil menatap langit-langit kamar mandi dengan tatapan kosong.
"Astagfirullah hal adzim! Astagfirullah ... Jaka kamu mikir apaaan sih, kamu harus tenang. Ikutin saja alurnya, mungkin ini sudah takdir. Kamu harus bisa menghadapi semua ini, semangat! Masa baru gini aja udah menyerah sih, kamu laki-laki. Jadi gak usah cengeng!" Jaka tersadar dari lamunannya langsung istighfar sambil mengusap air matanya dan mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri.
Tidak mau jadi pikiran Jaka pun memilih untuk kembali ke niat awalnya yang ingin membersihkan dirinya sekalian mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat subuh.
Setelah selesai melakukan ritual mandinya. Jaka pun keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya saja karena tadi ia lupa membawa baju ganti.
Cklek!
"Lo lama ba--" ucapan Salma terhenti ketika melihat Jaka yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.
'Ya ampun ABS nya ...🤤' ucap Salma dalam hati yang terpana melihat tubuh six pack suaminya. Apalagi rambutnya yang basah menetes ke bagian tubuhnya yang membuatnya terlihat cool.
Jaka tidak menghiraukan Salma, ia berjalan melewatinya begitu saja tanpa menoleh ke arahnya. "Cepetan mandi, sholat subuh! Saya tungguin, jangan lama-lama!" ucapnya dingin.
"Kenapa masih diam aja di situ? Cepetan!" ulang Jaka yang melihat Salma masih terdiam di tempat sambil menatap ke arahnya.
"E-eh iyah ini juga mau mandi," sahut Salma sambil beranjak dari ranjang.
***
Usai melaksanakan sholat subuh, Salma bersiap-siap memakai pakaian kantornya. Sedangkan Jaka? Dia malah memakai baju kampungannya itu yang membuat Salma kesal.
"Lo kenapa malah pake baju kayak gitu sih?! Lo lupa kalau sekarang Lo udah kerja di kantor gue?!" tanya Salma kesal.
"Hmmm," gumman Jaka cuek.
"Kalau orang lagi ngomong itu dengerin, jangan malah di cuekin kayak gitu!" gerutunya yang tidak di gubris oleh Jaka.
Tok-tok-tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamarnya. Salma yang males membuka malah menyuruh Jaka untuk membukakannya. Sedangkan Jaka hanya cuek dan tidak menghiraukannya.
"Bukain tuh pintu!" suruh Salma sambil melipat kedua tangannya di atas dada.
'Jangan mau Jaka, dia itu istri kamu. Seharusnya kamu yang nyuruh dia, mulai sekarang kamu harus berani. Jangan mau di injak-injak lagi,' Batin Jaka.
__ADS_1
"Gue bilang bukain pintunya, kenapa Lo malah diam aja sih?!" ucap Salma kesal.
Karena Jaka masih terdiam juga, dengan terpaksa Salma langsung melangkahkan kakinya menuju pintu.
Cklek!
Terlihatlah Bi Inez yang sedang berdiri di depan pintu dengan memegang paper bag di tangannya.
"Permisi Non, maaf ganggu," ucap Bi Inez sopan.
"Iyah ada apa Bi?" tanya Salma sedikit datar.
"Ini saya mau ngasih ini Non, kemarin Tuan Devan nitipin ke saya sebelum dia pergi. Katanya ini punya Den Jaka yang ketinggalan di dalam mobil," ucap Bi Inez sambil memberikan paper bag tersebut kepada Salma.
"Makasih Bi, oh iyah emangnya Papah kemana?"
"Katanya Omah Non lagi sakit, jadi mereka pergi ke sana," jawab Bu Inez.
"Jadi Omah sakit? Hmmm ya udah makasih infonya Bi," ucap Salma.
"Sama-sama Non, kalau gitu Bibi permisi dulu."
Setelah kepergian Bi Inez Salma kembali masuk ke dalam kamarnya, "Nih cepetan ganti baju Lo!" ucap Salma sambil memberikan paper bag yang sedang ia pegang kepada Jaka.
"Hmmm," lagi-lagi Jaka hanya cuek sambil menerima paper bag tersebut dan pergi begitu saja masuk ke dalam kamar mandi.
"Hih, ngeselin banget sih Lo! Bilang terimakasih kek," ucap Salma kesal.
"Eh bentar-bentar, kenapa sekarang dia jadi seperti itu yah? Aneh banget, apa gara-gara tadi?" tanya Salma yang bergulat dengan pikirannya, "Auk ah gak usah di pikirin!"
***
Di halaman rumah, saat Jaka ingin pergi ke kantor. Seperti biasa ia melihat Pak Mamat yang sedang menyapu halaman sambil bersenandung.
"Nyeri ... Nyeri ... Moal beunang di ubaran. Kuring nyeri hate di tinggal kawin pas lagi sayang-sayangnya ... Hikss ..." Pak Mamat menunjukkan wajah melasnya sambil berpura-pura sok sedih.
"Pagi Pak," sapa Jaka sambil tersenyum manis yang sebenarnya itu hanyalah senyuman palsu.
"Eh pagi juga Den, hikss ..." sahut Pak Mamat masih menunjukkan wajah sedihnya.
"Kenapa Pak? Kok mukanya kayak sedih gitu? Jelek tau Pak," gurau Jaka.
Mendengar itu Pak Mamat langsung berhenti menangis, "Iyahkah Den? Emang iyah muka saya jelek?"
"Mmm ... Malah jeleknya melebihi itu tuh hewan yang sering gugurantulan di tatangkalan, yang suka makan pisang itu lho Pak," jawab Jaka dengan bahasa khasnya Sunda dan indo.
"Ha-ha-ha ... Ya panteslah Den, setau saya kan hewan itu memang hewan paling ganteng sedunia. Ha-ha-ha ... Ya panteslah saya kalah," ucap Pak Mamat yang mau ngelucu, tapi gagal.
"Emang iyah ya monyet hewan paling ganteng sedunia?" gumman Jaka heran.
Pak Mamat berhenti menertawakan hal yang tidak lucu, "Eh ngemeng-ngemeng Aden mau kemana pake bawa-bawa si Ujang segala?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Mau kerja Pak."
"Gak di tilang pake motor bodong kayak gitu?" tanya Pak Mamat.
"Tenang aja Pak, aman," Jaka mulai menaiki motornya dan menyalakannya, "Mau ikut Pak?" tanyanya yang membuat mata Pak Mamat langsung berbinar.
"Benera Den? Kalau gitu ikut dong sampai komplek depan aja, mau cobain gimana rasanya naik motor kayak gitu," ujar Pak Mamat.
__ADS_1
"Hahaha Bapak bisa aja, ya udah ayo naik!"
"Udah Pak?" tanya Jaka yang langsung melajukan motornya. Namun tiba-tiba terdengar suara ...
Bug!
"Ahkk!"
"Si Otong ... Hikss ... Gimana nasib Lo tong, kalau Lo sakit gak bisa buat anak dong. Hikss ..."
Bukannya naik motor Pak Mamat malah duduk di tanah dengan kaki yang terpanggang oleh gagang sapu lidi. Memang tadi karena kesenangan maun naik si Ujang, Pak Mamat sampe lupa menaruh sapunya. Ia malah terus memegangnya dan di saat Pak Mamat mengangkat sebelah kakinya berniat untuk naik ke motor tiba-tiba Jaka malah melajukan motornya.
Karena terkejut Pak Mamat malah kehilangan keseimbangan dan ia pun langsung terjatuh ke depan menimpa gagang sapu yang kebetulan sangat pas mengenai si otongnya.
"Enak gak Pak?" tanya Jaka yang kebetulan belum jauh dari kediaman keluarga Alexander, ia mengira Pak Mamat ada di belakangnya.
"Kok gak nyahut-nyahut sih? Pak? Pak Mamat?" karena penasaran Jaka pun menoleh ke belakang yang ternyata tidak ada siapa-siapa.
Pria itu menghentikan motornya, "Ya ampun Pak, Bapak kenapa malah duduk di tanah kayak gitu? Ha-ha-ha ... Bukannya tadi naik motor yah sama saya?" ujar Jaka ketika melihat Pak Mamat keberadaan Pak Mamat.
"Si Otong ... Hikss ... Bantuin napa Den," ucap Pak Mamat kepada Jaka yang sudah berada di hadapannya.
"Apanya yang sakit Pak?" tanya Jaka khawatir.
"Si Otong Den."
"Wah gawat harus di bawa ke rumah sakit ini mah Pak," ucap Jaka.
"Di suntik gak Den?" tanya Pak Mamat masih dengan posisi jatuhnya karena dari tadi Jaka tidak membantunya berdiri.
"Di suntik Pak, dulu saya pernah. Jarumnya juga panjang, sepanjang gini nih," ujar Jaka menakut-nakuti sambil menunjukkan jari tengahnya.
"Ngeri juga yah Den," ucap Pak Mamat sambil bergidik ngeri.
"Iyah Pak, tapi saya gak bisa bawa Bapak ke rumah sakit. Soalnya saya lagi buru-buru, jadi saya permisi dulu yah Pak. Assalamu'alaikum, kalau gak mau ke rumah sakit minta di obatin sama Bi Inez aja. Pasti langsung sembuh!" ucap Jaka yang langsung pergi meninggalkan Pak Mamat sendirian tanpa membantunya berdiri karena dia sedang buru-buru.
"Hah Den mau kemana?! Bantuin dulu berdiri! Aduh si Aden maen pergi gitu aja. Eh tapi bener juga yah kata si Aden, kalau Inez yang obatin pasti langsung sembuh," ucap Pak Mamat sambil senyum-senyum sendiri mengingat perintah Jaka yang nyuruh di obatin oleh Bi Inez.
Pak Mamat mulai memejamkan matanya perlahan sambil tersenyum-senyum sendiri sedang berkhayal si otongnya di obati Bi Inez.
"Iyah di situ Nez ... Ah ya enak ..."
Byur!
Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba Pak Mamat sudah basah kuyup. Karena terkejut Pak Mamat langsung membuka matanya, dan terlihatlah Mak lampir yang sudah berdiri di hadapannya dengan kedua tangan di pinggang dan mata melotot.
"I-inez?"
"Iyah, ngapain tadi sebut-sebut nama saya?! Pake bilang enak segala lagi?! Lagi mikirin apa?! Pasti mikirin yang macam-macam kan?!" tanya Bi Inez sambil melipat kedua tangannya di atas dada dan menatap Pak Mamat tajam.
"E-eng-nggak kok ..." jawab Pak Mamat gugup.
"Hmmm, permisi!" tiba-tiba Bi Inez langsung mengambil sapu lidi yang tadi melukai si otongnya tanpa pengetahuan Pak Mamat. Dan ...
"AHKKK!" pekik Pak Mamat kesakitan.
>Bersambung .....
Maaf kalau sikit gaje.
__ADS_1