
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
π£π£π£
Mata Jaka membulat sempurna, mulut di tutup menggunakan sebelah tangannya. Dan tak terasa air matanya lolos membasahi wajah tampannya, "J-jadi ..."
"Jadi ... Jaka anak haram? Hikss ... Kenapa Ibu gak bilang? Kenapa Ibu malah selalu bilang kalau Ayah pergi gak tau kemana pas Jaka masih kecil. Namun ternyata Jaka adalah anak haram dan Ayah kandung Jaka? Orang yang telah menghamili Ibu tidak mau bertanggung jawab, dia malah pergi meninggalkan Ibu pas Jaka masih dalam kandungan? Gitu? Jadi selama ini Ibu memendam masalah ini sendirian? Kenapa selama ini Ibu diam aja? Kenapa gak ngomong sama Jaka?!" Jaka mengacak-acak rambutnya frustasi sambil memejamkan matanya yang sedari tadi terus saja mengeluarkan air mata.
"Bilang sama Jaka Bu, siapa baj*ng*n yang tidak mau bertanggung jawab itu?! Siapa Bu?! Kenapa dia mau berbuat, tetapi tidak mau bertanggung jawab?! Dan Ibu juga kenapa mau aja?! Argghhh!" teriak Jaka sambil menendang meja yang ada di hadapannya. Ia terisak sambil mendudukkan tubuhnya di lantai dekat ranjang.
Cklek!
"Jaka?!" ternyata yang datang adalah Salma.
Gadis itu berjalan dengan susahnya menuju suaminya yang sedang mengacak-acak rambutnya frustasi sambil menaruh wajahnya di kedua lututnya yang ia tekuk.
"Kamu kenapa?" tanya Salma khawatir.
Jaka yang masih belum sadar dengan keberadaan istrinya langsung mendongakkan wajahnya, "Salma, kamu kenapa ada di sini? Kenapa gak istirahat aja, kamu kan lagi sakit."
Salma tersenyum melihat suaminya, "Aku tadi niatnya mau ambil minum karena haus banget. Eh tadi pas lewat gak sengaja ada suara, kamu kenapa? Kok nangis? Ada masalah yah?"
Mendengar pertanyaan dari istrinya membuat Jaka langsung menundukkan kepalanya, "Apakah kamu masih mau sama saya? S-saya ini anak haram!" ujar Jaka.
Salma tercengang mendengar ucapan suaminya, "M-maksudnya?" tanyanya lagi untuk memastikan.
Jaka hanya terdiam sambil memberikan sebuah buku diary milik ibunya yang sempat ia baca tadi dengan tangan bergetar. Sedangkan Salma malah mengernyitkan dahinya heran lalu dengan ragu ia mengambil buku tersebut dan mulai membacanya.
"J-jadi, k-kamu ..."
"Iyah saya anak haram! Saya kotor, pasti kamu benci kan sama saya?" ucap Jaka sambil terisak, bukannya menjawab Salma malah berhambur memeluk tubuh suaminya yang bergetar.
"Kamu jangan ngomong kayak gitu," hanya itu yang bisa Salma katakan. Ia semakin erat memeluk Jaka sambil mengelus-elus punggungnya lembut menyemangatinya agar tetap kuat, tidak lemah seperti ini.
Salma meregangkan pelukannya, lalu menatap wajah tampan di hadapannya sambil tersenyum, "Jangan nangis lagi dong, cengeng banget sih. Malu udah nikah juga, umur udah tua seharusnya udah punya anak," ucapnya tanpa sadar sambil mengusap air mata suaminya.
Sedangkan Jaka terdiam memaku mendapatkan perlakuan manis dari istrinya, apalagi wanita di hadapannya mengucapkan kata 'anak'. Apakah dia udah siap mempunyai anak? Kenapa dia berkata seperti itu?
"Eh, m-maksudnya ..." Salma salah tingkah, untuk kedua kalinya ia mempermalukan dirinya sendiri di hadapan suaminya.
__ADS_1
Jaka hanya tersenyum melihat wajah gadisnya yang sudah merona, "Udah pengen cepet-cepet punya anak yah? Makanya pake bilang kalau saya udah tua?" godanya.
"Ih apaan sih!" cibir Salma sambil memukul pelan dada bidang suaminya, "Udah ah aku mau minum," ia beranjak dari tempat duduknya.
"Eh tunggu!"
"Kenapa?" tanya Salma sambil membalikkan badannya.
"Kamu kan baru keluar dari rumah sakit, jadi jangan banyak gerak dulu yah. Jangan kecapek'an nanti sakit lagi," ujar Jaka yang langsung berdiri dan tanpa meminta ia memapah istrinya.
"Ih kamu ngapain sih?" tanya Salma yang terkejut.
"Mapah kamu lah, kamu kan baru sembuh," jawab Jaka.
Mereka pun berlalu pergi menuju dapur berniat untuk mengambil air dengan canda dan tawa. Memang sedari tadi Jaka terus saja menggoda istrinya.
"Mmm soal yang tadi beneran?" tanya Jaka ragu-ragu.
"Ekhem, yang mana?" Salma malah bertanya balik.
"Yang tadi ngode mau punya anak," jawab Jaka.
Blush!
"Beneran juga gapapa kok," ucap Salma kemudian sambil mengalihkan pandangan, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Hmm, kamu mau minum apa?" tanya Jaka mengalihkan pembicaraan setelah mereka sampai di dapur.
"Air putih aja."
***
Pagi hari pukul setengah tujuh. Kini selesai melaksanakan sholat subuh, Jaka menyiapkan makanan untuk sarapan dirinya, istrinya dan juga Pak Mamat.
Saat ini terlihatlah Jaka yang sedang sibuk membersihkan piring kotor bekas sarapan tadi. Sedangkan Salma yang lagi-lagi hanya bisa memperhatikannya saja karena memang Jaka melarangnya untuk beraktivitas dulu.
"Jaka sini aku bantuin yah," bujuk Salma karena merasa tidak enak sambil berusaha mengambil alih piring dan pembersihnya.
"Gak usah ka--"
"Udah gapapa, sini biar aku aja," sahut Salma sambil berusaha mengambil piringnya yang sedari tadi di cegah oleh Jaka. Namun tiba-tiba ...
__ADS_1
Prang!
"Yah piringnya pecah," gumman Salma merasa bersalah dan langsung berjongkok berniat untuk membersihkan pecahan piring tersebut.
"Aww!"
"Salma? Kan tadi saya udah bilang gak usah, keras kepala banget sih," ucap Jaka yang langsung menarik lembut tangan istrinya untuk duduk di kursi yang ada di meja makan. Lalu ia berlalu untuk mengambil kotak P3k.
"Sini tangannya saya obatin dulu," pinta Jaka.
"Shit! Pelan-pelan," ucap Salma meringis kesakitan sambil menatap wajah suaminya yang masih asyik meniup-niup lukanya.
"Iyah, makanya kalau suami ngomong itu jangan bandel. Di bilangin ngeyel sih," tutur Jaka.
"Ckkk ... Iyah maaf," sahut Salma.
"Udah selesai, mending kamu duduk aja yah di sini. Saya mau bersihin dulu pecahan piringnya," ujar Jaka.
"Yah masa duduk aja sih? Bosen dong," cibir Salma yang di balas kekehan oleh Jaka dan berlalu meninggalkannya sendirian.
Usai membersihkan pecahan piring dan melanjutkan mencuci piring yang belum sempat selesai. Kini Jaka beralih ke semua ruangan berniat untuk bersih-bersih, seperti mengelap, menyapu dan mengepel. Yang sedari tadi terus di buntuti oleh istrinya.
Bukanya semakin ringan, kini pekerjaannya malah semakin bertambah karena Salma yang selalu saja rusuh. Buktinya tadi pas cuci piring malah pecah, terus pas bersihin meja-meja malah mecahin vas bunga, pas nyapu debunya sampe ke atas sofa segala karena nyapunya gak benar. Mungkin jika di biarin bukannya bersih yang ada rumah ini malah semakin ambyarr. Dan kini Jaka sedang mengepel, ia memaksa istrinya untuk duduk.
"Aku bantuin yah," pinta Salma.
"Gak usah, kamu duduk aja," lagi-lagi itu yang Jaka ucapkan yang membuat Salma kesel.
"Pelit banget! Iyah aku tahu aku gak bisa apa-apa! Makanya ajarin!" tutur Salma sambil merebut kain pel dari tangan suaminya.
Jaka menghela nafas kasar, "Eh, Salma Aw--" belum selesai Jaka ngomong Salma udah hampir terjatuh.
Dengan sigap ia menarik pinggang istrinya dan membawanya ke dalam pelukannya agar gadis itu tidak terjatuh. Karena tadi memang Salma tidak benar memeras kain pel nya yang membuat lantainya jadi licin karena genangan air dan membuatnya hampir terjatuh saat melangkahkan kakinya berniat untuk mengepel.
Posisi mereka sangat dekat sekarang, bukan pertama kalinya Jaka menolong Salma yang selalu saja ceroboh. Gadis itu menatap intens mata teduh milik suaminya yang selalu membuatnya nyaman, dan tanpa sadar tangannya ia kalungkan ke leher pria tampan di hadapannya. Wajahnya mulai mendekat, semakin mendekat dan ...
>Bersambung ....
Masih adem" aja yah guys, soal konflik tenang aja. Nanti otw beberapa bab lagiπ
Jan lupa sebelum/sesudah membaca biasakan pencet tombol LIKE karena LIKE itu gratis lho π₯° Makasih
__ADS_1
...See you guys β€οΈ...