Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 46


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


"Halah udahlah, ternyata selain suka memainkan perasaan perempuan Lo licik juga yah! Lo jahat! Gue benci Lo, gara-gara Lo hidup gue hancur! Sekarang udah puaskan Lo hancurin hidup gue?! Jadi sebaiknya sekarang juga Lo pergi dari sini! Gue udah muak!!" bentak Salma.


"Sal, kamu salah paham. Ini semua bukan say--"


"PERGI!" teriak Salma histeris.


Tidak mau membuat istrinya tambah setres Jaka pun terpaksa meninggalkan kediaman keluarga Alexander dengan tangan kosong. Dan tak lama setelah Jaka pergi hujan pun turun dengan derasnya. Membuat api yang masih menyala menjadi padam.


*****


Matahari sudah terbenam bertanda bahwa hari mulai malam. Jaka berjalan sambil melamun di pinggir jalan. Matanya sembab, pikirannya kacau, hatinya sakit. Rasanya baru kemarin dia bisa merasakan kebahagiaan bersama istrinya, namun sekarang apa? Masalah muncul di antara mereka yang membuat Salma sangat membencinya. Sampai-sampai ia tega mengusirnya seperti ini.


Jaka melihat ke atas menatap awan yang hitam sama seperti hatinya. Lalu ia merogoh saku celananya mengambil fotonya bersama ibunya waktu ia masih kecil yang selalu ia bawa. Dia terus berjalan entah mau kemana.


Hujan deras yang sampai sekarang masih belum berhenti. Di saat bersamaan Jaka menangis, dia menangis bersama hujan. Merasa hujan memeluknya, mengerti apa yang dia rasakan.


Karena tidak tau mau kemana Jaka pun berniat untuk pergi ke makam ibunya. Namun tiba-tiba ia merasa kepalanya pusing, perut bawah bagian kirinya kembali sakit dan tanpa sadar hidungnya mengeluarkan darah.


Jaka berjalan dengan gontainya sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing dan mengelap darah yang keluar dari hidungnya. Jalanan yang sepi membuatnya susah untuk meminta tolong. Namun tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapannya.


Keluarlah seorang laki-laki paruh baya yang masih terlihat tampan berjalan ke arahnya dengan memakai payung.


"Kamu gapapa kan?" tanyanya khawatir membuat Jaka yang menunduk langsung mendongakkan kepalanya.


Deg!


'Dia kan orang yang Reza maksud, menantunya tuan Alexander. Kenapa wajahnya hampir mirip denganku? Kenapa melihatnya seperti ini malah membuatku sedih? Seharusnya senang karena rencana Reza telah berhasil membuatnya menderita seperti ini. Tapi mau gimana pun juga dia tidak salah, dia tidak tahu apa-apa. Reza memang sudah keterlaluan,& batinnya sambil menatap wajah Jaka dalam.


"S-saya gapapa kok Om," jawab Jaka berbohong padahal ia merasa kepalanya sakit.


Tiba-tiba foto yang Jaka pegang terjatuh yang membuat Pria paruh baya itu langsung mengambilnya karena penasaran.

__ADS_1


"W-wanita i-ini? S-siapa?" tanyannya gugup sambil menunjuk foto wanita tersebut, ya walaupun fotonya lembek karena kehujanan namun masih terlihat jelas.


"Itu Ibu saya Om," jawab Jaka pelan sambil masih memegangi kepalanya.


"I-ibu? Sekarang dia dimana?" tanyannya penasaran.


Jaka menundukkan kepalanya lalu tersenyum berusaha untuk tegar, "Di-dia sudah tiada sekitar dua bulan yang lalu Om."


"Innalilahi wainnailaihi Raji'un, maaf yah saya gak bermaksud buat kamu sedih. Dan kalau boleh tahu ayah kamu dimana?" tanyannya lagi semakin penasaran.


Jaka semakin menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya erat, "Saya gak punya Ayah Om, saya hanya punya Ibu. Ayah saya gak sayang sama saya dan Ibu, dia pergi meninggalkan kita pas saya masih di dalam kandungan. Dia gak mau bertanggung jawab setelah berbuat, dia memilih pergi meninggalkan kita dan sekarang ... Ibu saya juga malah ikut pergi meninggalkan saya sendirian."


Mendengar cerita Jaka membuat pria itu merasa sesak. Ia terdiam memaku sampai-sampai foto yang di pegangnya terjatuh, 'J-jadi d-dia anakku? Ipah benar-benar tidak menggugurkannya?' batinnya sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong.


"Maaf yah Om saya jadi curhat, kalau gitu saya permisi dulu," Jaka mengambil fotonya lalu berjalan meninggalkan Pria tersebut yang masih melamun tidak menyadari kepergiannya.


Baru saja beberapa langkah Jaka kembali merasa sakit. Namun ia tetap kuat dan terus berusaha melangkah dengan gontainya. Sampai di tikungan tanpa di sadari ada sebuah motor yang melaju sangat kencang karena hari yang gelap di tambah dengan hujan deras membuat sang pengemudi buru-buru dan tanpa melihat ada seseorang yang lewat.


Motor itu tiba-tiba menyerempet Jaka dengan kencangnya hingga terpental. Karena tidak kuat lagi dengan pusing di kepalanya membuat Jaka tidak menyadari keberadaan motor tersebut.


Brukk!


Tidak jauh dari tempat itu, Pak Doni yang masih berdiri sambil melamun tiba-tiba tersadar mendengar suara. Ia celingak-celinguk mencari keberadaan anak muda yang tadi berdiri di hadapannya. Karena khawatir ia langsung berlari ke arah sumber suara yang tadi ia dengar.


Terkejutnya ia ketika melihat Jaka yang tergeletak tak sadarkan diri dengan darah segar berlumuran di mana-mana. Sedangkan pengemudi motor yang menabrak tadi sudah lari entah kemana.


"Nak, ini Papah Nak. Papah mohon bangun ... Maafin Papah karena udah ninggalin kamu! Maaf juga karena udah ikut-ikutan buat kamu menderita seperti ini. Papah mohon bangun, kasih Papah kesempatan buat bahagian kamu! Kasih Papah kesempatan buat menebus kesalahannya Papah selama ini. Maafin Papah Nak, hikss-hikss ... Kamu anak yang baik, kamu berhak bahagia ..." rilihnya sambil terisak memeluk tubuh Jaka yang terbaring lemah.


Tidak mau membuang-buang waktu ia langsung menggendong tubuh Jaka masuk ke dalam mobil dan segera membawanya ke rumah sakit. Ia menancapkan pedal gas agar cepat sampai di tempat yang di tuju.


Sepanjang perjalanan ia terus menangis histeris sambil menatap wajah anaknya sendu, "Maaf, hanya kata maaf yang bisa Papah ucapkan. Papah emang br*ngs*k! Gak punya hati! Udah tega ninggalin kamu pas masih di dalam kandungan, dan sekarang malah membuat kamu menderita seperti ini. Papah menyesal, benar-benar menyesal," lirihnya sambil memukul-mukul setir mobil.


🍁🍁🍁


Di kediaman utama keluarga Alexander. Terlihatlah Salma, Pak Devan, Bu Sazkia


yang sedang berkumpul di ruang keluarga mencoba menenangkan Salma yang sedari tadi menangis.

__ADS_1


"Udahlah sayang mungkin kamu hanya salah paham aja. Mamah sama Papah yakin kalau Jaka itu anak baik-baik, dia gak seperti itu," ujar Bu Sazkia.


"Baik darimananya Mah? Udah jelas-jelas dia itu seperti itu! Dia udah buat perusahaan kita terancam bangkrut, udah selingkuh suka mainin cewek. Dan lebih parahnya dia malah bakar rumah Salma juga," sahut Salma.


"Mungkin ada yang menuduhnya."


Drrtt-drrtt-drttt!


Tiba-tiba terdengar suara handphone Pak Devan berdering menandakan ada panggilan masuk dari nomor tidak di kenal. Dengan segera Pak Devan mengangkatnya karena takut penting.


Call on.


"Hallo selamat malam, apakah benar ini dengan tuan Alexander?" sapa seseorang di seberang sana.


"Ya saya sendiri, dengan siapa yah?" sahut Pak Devan.


"Dengan pihak rumah sakit, saya ingin menyampaikan bahwa menantu Anda atas nama Jaka Purnomo telah meninggal dunia!" ucapnya yang membuat Pak Devan langsung terdiam tak percaya.


"Innalilahi wainnailaihi Raji'un, apakah ada bukti? Foto atau video mayitnya, takutnya salah," ujar Pak Devan.


"Ya sebentar, nanti saya bakal mengirimnya lewat no yang lain."


Call of.


Panggilan pun berakhir, Pak Devan masih terdiam tidak berkata-kata. Dan tidak lama ada notif pesan masuk dari nomor tidak di kenal mengirimi foto dan juga Vidio.


Pak Devan membulatkan matanya sempurna sambil menutup mulutnya menggunakan tangan yang sedikit menganga.


"Kenapa Pah?" tanya Salma penasaran melihat ekspresi wajah Papahnya.


"J-jaka ... Jaka meninggal dunia," jawabnya sambil menyodorkan foto dan Vidio tersebut yang menampilkan Jaka sedang terbaring lemah di brankar rumah sakit dengan di tutupi kain.


"APA?!" dengan cepat Salma langsung merebut ponsel Papahnya.


Begitupun dengan Salma yang sangat terkejut menatap layar ponsel tersebut, tangannya bergetar hebat yang membuat ponsel yang di pegangnya terjatuh. Dan tak terasa air matanya juga ikut terjatuh membasahi pipi mulusnya, "J-jaka? Ini beneran Jaka? Nggak ... Nggak mungkin! Ini pasti bukan Jaka?!" teriak Salma histeris.


"Sayang kamu tenang dulu, mendingan kita segera ke rumah sakit aja untuk memastikan!" ujar Bu Sazkia.

__ADS_1


"Ya udah ayo Mah, Ayo! Pah, ayo kita ke rumah sakit!" pinta Salma sambil terisak. Walaupun ia sedang marah kepada suaminya, tapi gak tau kenapa mendengar kabar bahwa dia sudah tiada membuat dadanya terasa sesak.


>Bersambung ....


__ADS_2