
Assalamualaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
Di sebuah salon, terlihatlah Jaka yang baru saja selesai merubah gaya rambutnya. Lalu Pak Devan langsung membawa Jaka ke sebuah toko pakaian.
"Mbak, tolong bawain setelan jas yang cocok buat dia," titah Pak Devan sambil menunjuk Jaka kepada pelayan toko pakaian tersebut.
"Baik tuan, tunggu sebentar!" ucap pelayan itu sambil membungkukkan badannya dan berlalu pergi berniat untuk mengambil barang yang di pesan Pak Devan.
"Ini tuan setelah jas yang tuan pesan."
"Baiklah terimakasih, ayok Jaka kamu coba dulu!" ucap Pak Devan sambil memberikan setelan jas tersebut kepada Jaka yang sedari tadi terdiam.
"T-tapi Pah ..."
"Udah gak usah tapi-tapian, ayok di coba dulu. Ruang gantinnya ada di sana," ucapnya lagi sambil menunjuk sebuah ruangan.
Jaka hanya mengangguk pasrah dan dengan ragu ia mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan tersebut.
Sekitar lima belas menit kemudian, Jaka baru saja keluar dari ruangan tersebut dengan pakaian yang berbeda. Pak Devan membulatkan matanya tidak percaya melihat menantunya yang benar-benar sangat berbeda.
"Gi-gimana Pah? Jaka gak pantes yah pake baju kayak gini?" tanya Jaka ketika sudah sampai di tempat Papahnya yang sedang menunggu dirinya dan.
"Pa-pantes kok, kamu tampan banget! Benar-benar keren ..." puji Pak Devan sambil tersenyum.
"Ah Papah bisa aja," ucap Jaka malu-malu.
"Papah serius, kamu benar-benar sangat berbeda. Pasti dengan penampilan kamu kayak gini akan semakin mudah buat luluhin hati istri kamu," ujar Pak Devan.
"Ya udah yuk sekarang kita langsung ke kantor Salma aja. Oh iyah ini Papah tadi beliin beberapa setel pakaian buat kamu ganti," ucap Pak Devan sambil memberikan paper bag berisi baju ganti.
"Makasih Pah, Jaka bener-bener berterimakasih banget sama Papah. Jaka merasa tidak enak," ucap Jaka sungkan.
"Udah gapapa, ayok kita berangkat sekarang!" ajak Pak Devan yang di balas anggukkan kecil oleh Jaka.
__ADS_1
Mereka pun mulai pergi meninggalkan toko baju tersebut.
***
Sekitar satu jam kemudian. Mereka telah sampai di kantor Alexander group. Dengan segera Pak Devan mengajak Jaka untuk segera menuju ke ruangannya Salma yang berada di lantai sepuluh.
"P-pah, kita naik ini?" tanya Jaka terlihat takut sambil menunjuk ke arah pintu lift yang mulai terbuka.
"Iyah, emang kenapa? Kamu takut?" balas Pak Devan balik bertanya.
"Ke-kenapa gak naik tangga aja?" tanya Jaka lagi yang membuat Pak Devan tertawa kecil.
"Hahaha, ruangannya jauh lho di lantai sepuluh. Kalau kita naik tangga capek dan pastinya bakal membutuhkan waktu yang cukup lama, lebih baik naik lift aja cepat nyampe! Ayok gak usah takut, kalau kamu sering naik ini nanti juga terbiasa kok," ujar Pak Devan sambil menarik paksa tangan Jaka ntuk masuk ke dalam lift.
"Oh iyah kamu tau gak ini apa?" tanya Pak Devan sambil menunjuk tombol nomor yang ada di dalam lift. Sedangkan Jaka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia benar-benar terlihat ketakutan.
"Tombol ini di gunakan untuk memilih lantai tujuan. Jika kamu mau ke lantai lima atau sepuluh tinggal pencet aja tombol ini," jelas Pak Devan yang kebetulan di dalam lift hanya ada dirinya dan Jaka.
Pak Devan sengaja mengajak ngobrol Jaka agar ia tidak terlalu ketakutan.
Ting-tong!
"Ayo, kita udah sampai," ajak Pak Devan, mereka pun mulai berjalan menuju ruangan Salma.
"Kamu tunggu di sini yah biar Papah masuk duluan, Papah mau kasih kejutan sama dia! Jadi nanti kalau Papah suruh kamu masuk, kamu langsungl masuk aja yah," ujar Pak Devan yang di angguki oleh Jaka.
Pak Devan pun mulai membuka pintu ruangan dengan sangat perlahan. Dan ...
Cklek!
Terlihatlah Putri semata wayangnya yang sedang sibuk berkutat dengan leftop dan berkas-berkas kerjanya. Sampai-sampai ia tidak menyadari dengan kedatangan Papahnya.
"Assalamu'alaikum, Putri Papah yang cantik!" ucap Pak Devan yang membuat Salma langsung mendongakkan kepalanya.
"Wa'alaikumsalam, eh Papah kapan datangnya? Kok ke sini? Ada apa yah Pah?" jawab Salma sambil bertanya.
Ia mulai berdiri dan berjalan untuk menghampiri Papahnya, tidak lupa Salma mencium punggung tangan Papahnya sopan. Walaupun tadi pagi ia marah pada Papahnya, tapi Salma sudah melupakannya karena sibuk dengan pekerjaan.
__ADS_1
"Papah cuman mau cek aja sih, gimana perkembangan perusahaan ini tanpa Papah. Dan kamu kelihatannya lagi sibuk banget, Papah masuk ke ruangan kamu aja sampai gak tau," jawab Pak Devan yang memang perusahaannya sudah ia serahkan kepada Salma, Putri semata wayangnya.
"Iyah Pah Salma lagi sibuk banget gara-gara kemarin cuti selama satu Minggu lebih kan. Terus lagi masalahnya sekretaris Salma ngundurin diri karena dia baru saja menikah kan, katanya mau ikut pindah sama suaminya. Ya Salma gak bisa apa-apa, cuman ya kesel aja. Pas lagi sibuk-sibuknya dia malah undurin diri!" gerutu Salma yang merasa pusing dengan pekerjaannya.
"Terus Salma harus gimana nih Pah? Salma gak tau harus ngapain, karena cari sekretaris dalam waktu singkat itu gak gampang! Mana sekarang ada meeting penting lagi, dan berkas-berkasnya juga belum beres," tanya Salma bingung.
"Oh tenang aja, kebetulan Papah bawa seseorang ke sini buat ngelamar pekerjaan," ujar Pak Devan sambil tersenyum.
Salma mengerutkan keningnya heran, "Siapa Pah?" tanyanya penasaran.
"Kamu yang di luar, cepet masuk!" panggil Pak Devan dan tidak lama pintu terbuka dengan cara perlahan. Salma yang merasa penasaran langsung menoleh ke arah pintu.
Tampaklah Jaka yang sedang berjalan menuju mereka dengan gaya coolnya. Mata Salma membulat sempurna, tangannya menutup mulutnya yang menganga melihat cowok tampan yang sedang berjalan menuju ke arahnya.
'OMG, ganteng banget ... Andai aku punya suami kayak dia. Aaaa, udah klepek-klepek aku,' Batin Salma yang masih menatap laki-laki di hadapannya sampai tidak berkedip.
"Hei, Salma! Malah bengong. Itu lagi hidung kamu kenapa sampai mimisan kayak gitu?" tanya Pak Devan yang melihat anaknya bengong dengan mata tidak berkedip, mulut di tutup karena menganga dan lebih parahnya lagi hidungnya sampai mimisan.
"Ah iyah Pah Salma gak apa-apa kok," jawab Salma yang baru tersadar dari lamunannya. Dengan mata yang masih fokus menatap Jaka, ia mengambil tisu yang ada di meja untuk membersihkan darah yang ada di hidungnya.
"Kamu kenapa sih sebenarnya, Nak?" tanyanya Papahnya lagi karena khawatir.
"Aku benaran gapapa kok, eh bay the way Papah sama siapa ke sini?" tanya Salma penasaran.
"Ya Papah sama dia," jawab Pak Devan sambil menunjuk Jaka.
"Iyah dia siapa?" tanya Salma yang masih belum sadar ternyata dia Jaka, suaminya sendiri.
Pak Devan menatap anaknya tidak percaya, "Kamu beneran gak kenal dia?" tanyanya sambil mengerutkan keningnya.
Salma mengangguk pelan sambil menatap Papahnya penuh tanda tanya, "Siapa Pah?"
"Dia Jaka suami kamu! Masa sama suami sendiri gak kenal sih," jawab Pak Devan.
Salma hanya manggut-manggutkan kepalanya, "Oh ... Jaka toh," gummannya yang masih belum sadar. Dan ...
1 Detik, 2 Detik, 3 Detik ...
__ADS_1
"WHAT'S?! JAKA?! SI COWOK KAMPUNG ITU?!"
>Bersambung ....