
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
Lima bulan kemudian. Kini usia kandungan Salma seminggu lagi sudah memasuki enam bulan.
Salma terduduk termenung di ruang keluarga sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong. Hampa, hidupnya terasa hampa di masa-masa sedang mengandungnya tanpa seorang suami.
"Sayang kamu kenapa lagi sih?" tanya Mamanya yang baru saja datang.
Salma menoleh lalu tersenyum palsu, "Gapapa kok Mah, Salma masih gak percaya aja kalau dia sudah tiada. Salma selalu merasa dia itu masih ada lho Mah," ucapnya.
Bu Sazkia duduk di samping anaknya lalu mengelus rambutnya lembut, "Dia memang selalu ada di sisi kamu sayang. Tapi dia sudah beda alam."
"Maksud Salma gak gitu Mah, Salma benar-benar merasa kalau dia itu masih hidup," sahut Salma.
"Tapi kamu udah lihat sendirikan jasadnya? Dia benar-benar udah tiada sayang. Kamu harus mencoba untuk mengikhlaskannya, mulai lembaran baru. Masa depan kamu masih panjang. Kasihan baby nya kalau kamu terus-terus sedih kayak gini. Keep spirit, you strong sayang," ujar Bu Sazkia menyemangati anaknya.
Salma mengangguk sambil tersenyum lalu ia berhambur memeluk Mamanya, "Makasih Mah selama ini selalu sabar sama Salma. Maaf karena Salma selalu nyusahin."
Bu Sazkia membalas pelukan anaknya sambil mengelus punggungnya lembut, "Gak boleh ngomong gitu sayang, ini memang sudah tanggung jawab Mamah. Kamu itu putri satu-satunya yang Mamah punya, Mamah sayang banget sama kamu. Jadi kamu jangan merasa tidak enak karena sudah nyusahin, Mamah malah berterimakasih banget sama kamu karena udah mau kasih cucu buat Mamah."
"Oh iyah, sekarang kamu siap-siap gih sayang. Mamah mau ajak kamu jalan-jalan ke mall, kita shopping. Baju kamu juga udah pada gak muat kan?" ujar Bu Mamanya yang di angguki oleh Salma, "Ya udah ayo Mamah antar ke kamar."
"Ahkk!"
"Kenapa sayang?" tanya Bu Sazkia khawatir melihat anaknya meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Baby nya nendang Mah," jawab Salma yang membuat Mamanya langsung tersenyum.
"Cucu Oma udah pinter, udah bisa nendang yah sekarang? Nendangnya jangan kencang-kencang yah sayang, kasihan Mami kamu," ujarnya sambil mengelus-elus perut buncit Salma lembut.
"Oh iyah Mamah sampai lupa, hari ini kan jadwal kamu cek-up kandungan. Jadi nanti abis dari mall kita langsung ke rumah sakit aja yah? Udah gak nendang lagi kan?" Salma mengangguk kecil sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ya udah ayo sayang Mamah bantuin kamu siap-siap!" Bu Sazkia kembali mengajak anaknya untuk kembali ke kamar dan Salma pun hanya menurut.
*****
Saat ini Salma bersama Mamanya sedang berada di mall. Sedari tadi Bu Sazkia mengajaknya keliling-keliling tidak jelas mencari pakaian dan kebutuhan yang lain.
Karena usia kandungannya sudah lumayan besar membuatnya merasa lelah, padahal baru beberapa keliling. Merasa kasihan dan takut terjadi sesuatu dengan putri dan calon cucunya. Bu Sazkia pun memilih mengajaknya ke sebuah cafe yang berada di dalam mall untuk istirahat.
"Sayang kamu tunggu di sini dulu gapapa kan? Mamah masih mau cari make-up. Yang di rumah udah pada abis nih. Kalau Mamah ajak kamu keliling takutnya kamu lelah," ujar Bu Sazkia.
Salma mengangguk sambil tersenyum, "Iyah gapapa kok Mah. Salma mending nunggu di sini aja, daripada ikut keliling capek."
"Ya udah Mamah pergi dulu yah sayang, sebentar kok. Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungin Mamah aja," ucap Bu Sazkia mengecup kening anaknya lembut lalu berlalu pergi.
Setelah kepergian Mamanya Salma memilih untuk memainkan ponselnya. Tak lama ia merasa bosan, ia menaruh ponselnya lalu menyeruput minuman di depannya sambil menatap keselilingnya.
Pandangannya terhenti tepat di sebuah meja pojok yang tidak jauh darinya. Terlihat seorang Pria yang tidak asing baginya sedang terduduk sendirian sambil memainkan ponselnya.
"Uhuk-uhuk ... Jaka?!" Salma tersedak karena terkejut melihat wajahnya yang sangat mirip dengan almarhum suaminya.
Tanpa basa-basi Salma langsung berhambur memeluknya yang membuat Pria itu terkejut dan mengerutkan keningnya heran.
'Pelukan ini? Aku kangen banget dengan pelukan hangat ini. Aku selalu merasa nyaman jika berada dalam pelukannya,' batin Salma.
"Jaka ... Ternyata benar dugaanku kamu masih hidup. Aku kangen banget sama kamu, hikss ..." rilih Salma sambil terisak.
Pria itu merenggang pelukannya pelan karena tahu wanita yang ada di hadapannya sedang mengandung. Karena tidak mau terjadi apa-apa ia mencoba melepaskan pelukannya lembut.
Ia menatap ke arah Salma bingung, lalu mulai membuka suaranya, "Sorry, who are you? Apakah kita sudah bertemu sebelumnya?"
Deg!
'Apa? Dia tidak mengenaliku? Bahkan ia berbicara pake bahasa Inggris?' batin Salma bertanya-tanya.
Salma terdiam seketika mendengar pertanyaan orang di hadapannya yang tidak mengenalinya. Tapi tubuhnya terasa lemas, ia menatap dari atas sampai bawah tubuh Pria itu. Ya wajahnya memang sangat mirip, tapi penampilannya sangat berbeda.
__ADS_1
Rambutnya sedikit pirang dengan pony menutupi matanya. Ia memakai celana jeans hitam kebesaran dengan sobekan di lutut. Baju putih polos serta di baluti dengan kemeja hitam putih yang sengaja tidak di kancing, lengannya ia gulung sampai siku yang menampilkan kulit putihnya. Anting titanium hitam di sebelah kupingnya, kalung emas putih panjang tanpa gantungan. Arloji melingkar di lengannya, serta sepatu sneakers putih hitam sedikit tinggi yang membuatnya semakin terlihat keren.
"Hai, Daniel! Maaf lama yah?" tiba-tiba ada seorang perempuan menghampiri mereka sambil memanggil orang yang Salma kira itu Jaka dengan nama Daniel.
"Oh hai, gak kok. Kamu udah selesai belanjanya?" tanya cowok yang bernama Daniel itu sambil tersenyum.
"Udah, d-dia siapa?" tanyanya sambil menunjuk Salma yang masih terdiam memaku.
Daniel menakutkan kedua alisnya sambil mengangkat kedua bahunya, "Gak tau aku juga."
Deg!
'*Ternyata dia memang bukan Jaka, dia sama sekali tidak mengenaliku. Dari penampilan dan bahasanya pun beda.' batin Salma.
'Salma kamu harus sadar, suami kamu itu sudah tiada. Mungkin dia hanya kebetulan mirip, tapi kenapa aku merasa nyaman memeluknya yah*?'
Karena banyak pikiran dan juga kelelahan karena abis berkeliling tadi membuat kepala Salma terasa pusing. Ia memegangi kepalanya dengan sebelah tangannya ia pegang di perut. Pandangannya buram ia hampir saja terjatuh ke lantai.
Namun dengan cepat Daniel menariknya masuk ke dalam pelukannya, "Hei, bangun! Kamu kenapa, hei?" itulah yang terakhir Salma dengar setelah matanya benar-benar terpejam.
"Daniel dia kenapa?"
"Gak tau, mungkin dia kelelahan kali," jawab Daniel juga bingung.
"Ya udah mending sekarang cepetan kamu bawa dia ke rumah sakit. Sepertinya dia sedang hamil, takutnya terjadi sesuatu dengan kandungannya!" ujar Wanita yang tadi datang menghampiri mereka.
Daniel pun menggangguk lalu ia menggendong Salma ala bridal style keluar dari cafe tersebut dan segera membawanya keluar mall menuju parkiran.
>Bersambung ....
Oh iyah sambil menunggu aku up, mampir yuk di cerita kakak onlineku. Siapa tahu kalian suka 🥰 Ceritanya keren banget lho, di jamin bikin baper 🤗
Emekama_ After Marriage : Kabut Menjelang Pernikahan
__ADS_1